Optimisme, Efisiensi, dan Krisis Global 2009

Krisis global menjadi momok yang menakutkan bagi penduduk planet ini. Pasalnya, beberapa perusahaan besar di berbagai negara kapitalis sudah gulung tikar. Padahal akhir tahun 2008 baru merupakan awal dari krisis yang diperkirakan lebih parah daripada krisis moneter 1997. Logikanya, apabila negara Eropa Barat dan Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif, bagaimana dengan Indonesia, negara dunia ketiga yang perekonomiannya masih carut-marut.

Gejala krisis global tampaknya telah menular ke Indonesia. Hal ini dimulai dengan naiknya harga bahan bakar minyak, yang disusul dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok rakyat. Kehidupan rakyat makin merana manakala berbagai perusahaan yang mereka mengais rezeki terancam ditutup. Hal ini disebabkan karena menurunnya permintaan akan produksi barang. Hal ini membuat mau tidak mau perusahaan melakukan rasionalisasi dengan merumahkan dan memecat para buruh.

Optimisme

Usaha pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang diharapkan dapat meringankan beban rakyat tidak dapat menolong banyak. Penurunan harga BBM minyak yang dijadikan pemicu untuk menurunkan harga-harga barang lain tidak berjalan mulus. Sebaliknya, kelangkaan terjadi berbagai tempat, tingkat konsumerisme masyarakat meningkat, dan terjadi gejolak berbagai tempat. Para ekonom tampaknya gagal mengaplikasikan ilmunya, para politikus terlalu sibuk dengan persiapan pemilu 2009, lalu siapa yang menolong rakyat?

Dalam sejarah bangsa ini, berbagai krisis dalam taraf yang sangat parah pernah terjadi di Indonesia, akan tetapi tidak pernah benar-benar mematikan perekonomian masyarakatnya. Apa rahasia dari hal tersebut. Saya kira kebijakan pemerintah hanya sedikit menolong di level makro. Dalam perekonomian sehari-hari, rakyat sebenarnya menolong dirinya sendiri. Di tengah meningkatnya harga barang-barang kebutuhan pokok, rakyat kemudian menyesuaikan diri. Ketika terjadi PHK dari berbagai perusahaan besar, rakyat menjalankan usaha-usaha kecil. Contoh yang terakhir inilah yang menjadi rahasia sukses pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca krisis 1997.

Lalu dalam menghadapi krisis global 2008,apakah yang harus dilakukan oleh rakyat, apakah mereka akan tetap mengemis kepada pemerintah, yang agaknya tidak akan terlalu merespon karena mereka harus memperjuangkan kekuasannya dalam pesta demokrasi 2008. Tampaknya rakyat harus berpikir untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.

Efisiensi

Kehidupan masyarakat sekarang ini, dapat dikatakan tidak efisein. Sebagai contoh, hampir sebagian besar penduduk miskin mempunyai anak lebih dari dua, namun tidak memiliki penghasilan yang cukup. Akibatnya, bukan dirasakan pada oleh orang tua, tetapi juga anak-anaknya yang tidak terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Dari contoh di atas, sebenarnya dapat diambil sebuah pelajaran bahwa budaya harus menyesuaikan keadaan. Artinya, harus ada adaptasi yang positif dalam menghadapi realitas kehidupan. Dari contoh di atas, misalnya, istilah banyak anak banyak rezeki menjadi tidak valid di perkotaan, karena bukan sektor agraris yang mendominasi, tetapi bidang-bidang pekerjaan yang profesional yang membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus.

Efisiensi sangat dibutuhkan dalam menghadapi realitas kehidupan, apalagi di wilayah perkotaan. Dalam pengelolaan penghasilan misalnya, masyarakat dituntut untuk mengatur kebutuhan konsumtif, tabungan, investasi, dan lain sebagainya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, mengonsumsi berbagai kebutuhan tersier untuk kepuasan belaka. Akhirnya harus mengali lubang dan menutup lubang setiap bulannya.

Hidup selalu penuh tantangan. Ketika manusia tidak lagi perlu berusaha, maka ia tidak mempunyai alas an untuk hidup. Begitu pula dengan krisis global, harus ada usaha yang penuh dengan optimisme disertai dengan efisiensi. Hanya itu yang dapat menolong hidup anda.

Natal, antara Perayaan dan Peringatan

Menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, banyak teman hampir selalu mengatakan, “Hari Natal dan Tahun Baru nanti mau liburan ke mana?” Setiap saya menjawab “akan berkumpul bersama keluarga di rumah”, pasti mereka kaget.

Reaksi ini mungkin mengambarkan pandangan saudara-saudara non-Kristen terhadap perayaan natal yang serba glamour dan mewah. Hal ini sebenarnya tidak mutlak benar karena sebenarnya latar sejarah kelahiran Yesus Kristus kontradiktif dengan peringatannya pada masa sekarang.

Sepanjang pengetahuan saya, Yesus Kristus lahir dalam keadaan yang tragis. Ketika itu, Israel dianeksasi Romawi, bayi laki-laki dibunuh karena Kaisar Agustus telah mendengar akan ada raja besar yang lahir. Lebih dari itu, Maria dituding mengadung di luar menikah karena hubungannya dengan Yusuf hanya sebatas tunangan. Apalagi kebijakan Kaisar Agustus untuk mendata semua penduduk semakin memberatkan beban Maria yang kala itu sedang hamil tua. Dalam suasana yang serba kalut itu, Maria dan Yusuf tidak dapat menemukan tempat penginapan yang layak, dan akhirnya hanya kandang domba yang tersisa untuk tempat ia bermalam dan bersamaan dengan itu Yesus pun lahir di tempat tersebut.

Natal sebagai Peringatan

Berkaca dari proses kelahiran Yesus Kristus, seharusnya umat Kristiani sekarang harus dapat memaknai Natal tersebut secara mendalam. Artinya, bukan kemewahan, penghambur-hamburan uang, dan segala hal yang glamour. Makna Natal yang sesungguhnya hanya dapat dirasakan manakala setiap orang Kristen mencoba mendekonstruksi proses kelahiran Yesus itu sendiri dan penderitaan Maria dan Yusuf. Bagaimana penderitaan Maria dan Yusuf yang harus berjalan jauh dalam kondisi hamil tua dan tidak ada satu orang pun yang mau menerima mereka di rumahnya, dan hanya satu orang yang akhirnya mempersilahkan mereka untuk menginap, itu pun di kandang domba. Anehnya, Yesus yang “dianggap” raja itu lahir di tempat yang tidak semestinya.

Kalaupun agak sulit untuk membayangkan proses kelahiran Yesus itu sendiri, dalam menghadapi Natal, seorang Kristen paling tidak harus mempunyai hati yang bersih untuk memperingati hari Natal ini. Harus ada niat tulus, misalnya, pergi ke gereja bukan semata-mata agenda tahunan, selain Hari Paskah, tetapi ada keinginan untuk menyambut Yesus sebagai juru selamat manusia.

Lebih indah rasanya apabila setiap orang Kristen dapat merayakan Natal dengan penuh kesederhanaan. Bukan dengan baju baru, pohon natal, hidangan yang mewah, dan lain sebagainya, tetapi sebuah kesahajaan dan tidak berpusat kepada spiritualitas. Hal ini bias diwujudkan, misalnya, dengan pergi ke suatu tempat yang sunyi, tanpa segala hal yang berlebihan, berdoa, merenung, dan merefleksikan diri tentang makna kelahiran Yesus itu sendiri. Dengan begitu, diharapkan kehangatan Natal akan lebih berarti dan berkesan bagi kehidupan umat manusia.

Natal sebagai Perayaan

Yesus merupakan suatu pribadi yang luar biasa. Dalam Alkitab diceritakan bahwa misi kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk mneghapuskan dosa manusia. Akan tetapi, seperti yang dikemukakan di atas, awal kehidupan kehidupannya selalu dilingkupi oleh penderitaan. Hal ini bahkan terjadi pada saat ia dewasa, bahkan sampai proses penyalibannya. Namun begitu, ia tetap menjadi pribadi yang sederhana, mau melayani, dan tidak mau menimpakan beban hidupnya kepada orang lain.

Walaupun dalam latar historis yang tidak mengenakkan, namun Yesus sendiri tidak ingin mengajak umatnya untuk merasakan penderitaannya dalam setiap peringatan kelahirannya. Sebaliknya, Natal menjadi perayaan, sebuah titik balik kehidupan manusia ketika sang mesias lahir ke dunia ini untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.

Itulah sebabnya, dalam setiap perayaan Natal, umat Kristiani selalu mengedepankan sukacita, selain damai, baik dalam kebaktian di gereja maupun segala kegiatan di luar gereja. Hal yang menjadi masalah adalah ketika makna sukacita ini diterjemahkan dengan cara menghambur-hamburkan uang, yang sebenarnya jauh tidak penting daripada memaknai natal dengan cara menebarkan sukacita natal itu melalui ucap kata, gerak-gerik, dan pikiran kepada seluruh umat manusia. Bukankah Yesus pernah mengatakan “Jadilah garam dan terang dunia”.

Perayaan Natal dengan penuh kesukacitaan merupakan makna Natal yang terindah. Akan tetapi hendaknya rasa sukacita ini tidak disalahartikan sehingga menciptakan streotip di lingkungan masyarakat non-Kristiani bahwa inti dari perayaan Natal itu harus serba mewah dan glamour. Hal ini bukan saja berpotensi menciptakan kesenjangan sosial di tengah masyarakat, tetapi juga telah mencederai makna Natal itu sendiri. Rayakan Natal dengan sukacita, yaitu dengan cara menebarkan benih kedamaian ke seluruh dunia.

Selamat Natal dan Tahun Baru. Jadikan Natal sebagai peringatan dan perayaan yang tidak mengedepankan unsure materi tetapi spritualitas sehingga pesan universal Natal dapat sampai dan diterima seluruh manusia di bumi ini.

Phobia Komunis, Mengapa Terjadi ?

Pada penghujung tahun 2008 ini, berbagai protes menentang bahaya laten komunis marak terjadi. Biang keladinya adalah pembuatan film Lestari, yang menurut sutradaranya adalah genre film percintaan yang mengambil latar tahun 1965. Berbagai demonstrasi terjadi di Solo, Bandung, Bogor, dan kota-kota lainnya. Para aktor yang mengatasnamakan rakyat ini muncul dari kalangan ormas sampai mahasiswa. Aparat keamanan yang pada awalnya mengizinkan pengambilan gambar ikut-ikutan terpengaruh, padahal aksi mendukung pengambilan gambar film Lestari bukannya tidak ada.

Pertanyaan besar yang perlu diungkapkan, meminjam istilah Orde Baru, adalah apakah bahaya laten Komunis menjadi masalah yang begitu esensial di tengah bertunasnya krisis global yang berdampak pada menurunya tingkat kesejateraan rakyat? Apakah permasalahan mengenai pangan, ekonomi, pendidikan, PHK, dan lain sebagainya kurang penting daripada potensi imajiner komunis yang harus dienyahkan terlebih dahulu dan menyampingkan berbagai persoalan nyata yang terjadi di masyarakat?

Phobia Komunis

Dalam konteks historis bangsa ini, komunis selalu ditempatkan sebagai kelompok pembangkang yang menjadi api dalam sekam perjalanan sejarah Indonesia. Historiografi gerakan komunis selalu dieksplanasikan secara tunggal. Sebelum kemerdekaan Indonesia, pemberontakan PKI 1926 dkonstruksikan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemberontakan yang masuk kategori berbahaya sehingga memengaruhi perkembangan politik pribumi, padahal PKI merupakan organisasi pertama yang secara teratur dapat melakukan gerakan subversif di berbagai daerah sekaligus untuk menentang kolonialisme Belanda. Memasuki periode kemerdekaan, Gerakan PKI 1948 dikatakan pemerintah melakukan makar dengan mendirikan Republik Soviet Indonesia di Madiun dan tindakan yang menusuk dari belakang karena terjadi berdekatan dengan Agresi Militer II. Padahal, berbagai saksi mengatakan bahwa gerakaan itu merupakan reaksi dari kebijakan Re-Ra Hatta yang mengakibatkan berbagai kesatuan militer daerah merasa tidak puas dan akhirnya memberontak. Puncaknya, Gerakan 30S 1965, yang dikatakan sebagai kristalisasi dari usaha PKI untuk mengubah ideologi Pancasila menjadi komunis. Dalam berbagai fakta yang tidak terungkap menunjukkan bahwa gerakan ini merupakan sentimen para perwira menengah yang kebetulan anggota dan simpatisan PKI terhadap para perwira tua yang duduk sebagai pucuk pimpinan PKI.

Gerakan 30S 1965 seolah menjadi dosa yang tidak termaafkan yang didakwakan kepada PKI tanpa pernah memperoleh hak untuk membela diri. Segera setelah itu, diadakan pembersihan di berbagai daerah bahkan sampai pelosok pedesaan untuk membersihkan para anggota dan simpatisan PKI. Tercatat lebih dari dua juta orang meninggal dan sisanya yang hidup mendapat sangsi sosial yang sangat tragis. Namun demikian, hal yang terpenting terjadi setelah itu. Orde Baru di bawah Soeharto kemudian menciptakan suatu ingatan yang melekat kuat dan mendarah daging melalui berbagai instrumen historis yang tampaknya cukup berhasil untuk menciptakan phobia komunis di tengah masyarakat awam negeri ini.

Dalam penelitian Katharine E. McGregor (2008), Ketika Sejarah Berseragam ; Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia, secara gamblang dijelaskan bagaimana Orde Baru melestarikan ingatan G30S 1965 sebagai bahaya laten. Berbagai instrumen artefak, sosiofak, dan meantifak kemudian diciptakan. Dari pembuatan historiografi tunggal yang dikomandoi oleh Nugroho Notosusanto, pembuatan berbagai museum, pembuatan Film, dan yang terpenting penanaman sikap phobia komunis melalui mata pelajaran PSPB dan Penataran P4 bagi pelajar.

Tampaknya usaha rezim Orde Baru ini cukup berhasil. Ketika isu komunis bukan lagi menjadi senjata yang ampuh untuk menciptakan keamanan negara, dan Orde Baru mulai mendekati Islam, yang termasuk kelompok yang dikalahkan, sampai runtuhnya rezim ini pada Mei 1998, toh mentalitas bangsa ini untuk menerima komunis tak kunjung datang.

Dosa yang Tak Termaafkan

Ketika Gus Dur menjadi presiden dan mulai mengagas usaha rekonsiliasi kembali bangsa ini, termasuk merangkul orang-orang komunis dukungan datang dari berbagai pihak. Salah satu usaha yang pantas dipuji adalah inisiatif Gerakan Pemuda Ansor, yang termasuk kelompok yang ikut melakukan pembantaian terhadapa anggota dan simpatisan komunis, atas inisiatifnya untuk melakukan konsolidasi, bahkan meminta maaf akan kekhilafan mereka. Namun demikian, usaha yang dirintis ini tidak dilanjutkan bahkan dipetieskan pada masa pemerintahan Megawati. Hal ini bukan saja terlihat pada dibekukannya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), tetapi juga pembakaran buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI dalam Gerakan 30 S.

Usaha Orde Baru tampaknya berhasil untuk membutakan masyarakat awam. Usaha untuk merangkul kaum yang termaginalkan menyurut kembali, namun tidak boleh berhenti. Setahap demi setahap, seiring dengan perubahan dalam masyarakat, usaha tersebut harus disemai, dipupuk, dan mudah-mudahan dapat dipanen dikemudian hari. Semoga dosa sejarah tidak menjadikan suatu kelompok masyarakat menjadi liyan di bumi Indonesia ini.

Bangkitnya Feodalisme di Indonesia

Sejarawan Prof. Dr. Djoko Suryo, dalam sebuah kesempatan di salah satu acara televisi mengatakan, “Dulu seorang sultan memang memiliki kekuatan politik untuk mengatur kesultanannya, tetapi sekarang seorang sultan sekarang sekarang adalah pemimpin kultural bukan politis. Akan tetapi, kontras sekali peryataan ini apabila kita menyaksikan pula kesediaan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu 2009.

Pertanda apakah ini? Ketika seorang pemimpin tradisional kharismatis di mata masyarakat Yogjakarta dan menjadi simbol eksistensi budaya Jawa yang telah merintis karier politiknya dan sekarang memutuskan untuk mengajukan diri menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Sikap Politik

Bila kita runut sedikit ke belakang, ada sebuah kenyataan yang muncul bahwa hampir sebagian besar kerajaan yang dibiarkan hidup oleh Pemerintah Kolonial Belanda adalah sekutu para penjajah itu sendiri. Sikap politik mereka menunjukkan bahwa keturunan Raja Mataram ini termasuk golongan oportunis. Ketika pemerintah kolonial Belanda mulai mengambilalih kekuasaan di seluruh Pulau Jawa, kesultanan ini memilih untuk bekerjasama dengan masyarakat demi kemapanan hidup mereka dan mengorbankan penderitaan masyarakat pada saat itu. Keberlangsungan otoritas politik dan kepentingan ekonomi menjadi alasan utama mereka untuk memilih hal tersebut.

Pun ketika Kolonialisme Belanda runtuh, sikap politik Mataram berubah lagi. Ada sebuah asumsi yang berkembang, bahwa Mataram berusaha menarik simpati elit politik pada saat itu. Kesempatan itu menjadi terbuka ketika Jakarta dirasakan tidak menjadi tempat yang aman bagi elit politik Indonesia pada saat itu. Melihat kenyataan tersebut, lalu sultan menyediakan diri menampung mereka di Kota Jogjakarta. Pamor sultan yang sempat menyurut kemudian kembali merekah terutama setelah terlibat dalam berbagai pertempuran. Dalam berbagai pertempuran misalnya, Agresi Militer Belanda I dan II, serta Serangan Umum 1 Maret, sultan dianggap orang sipil yang mempunyai kewenangan hampir sama dengan pemimpin tertinggi pada saat itu, Sudirman.

Selama periode Orde Lama, sultan dikesankan sebagai sosok yang loyal terhadap Soekarno. Ia dipandang sebagai orang yang sangat dekat dengan presiden pertama RI ini. Namun demikian, ketika Sokarno jatuh, akibat isu komunis, toh oportunisme sultan muncul kembali dengan dalih menyelamatkan kesultanannya. Ia pun kemudian bertransformasi menjadi bagian dari Orde Baru. Jalan yang diplomatis membuatnya tidak menjadi sasaran pendukung Soekarnoisme dan bahkan sebaliknya ia menjadi pendudukung pemerintah dengan memasuki Golkar sebagai wadah politiknya yang baru.

Soeharto runtuh, reformasi bangkit, sultan memikirkan strategi yang baru lagi. Setelah berusaha mengesankan sebagai pemimpin yang bijaksana di Yogjakarta. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia tidak puas hanya menjadi Gubernur Propinsi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY), suatu daerah yang memang diistimewakan karena kesultanannya itu. Gelagat ini mulai terlihat ketika ia tidak bersedia lagi dicalonkan menjadi Gubernur DIY, tetapi sangat berhasarat untuk menjadi presiden. Berbagai desakan kemudian memaksanya untuk mengungkapkan isi hatinya yang terpendam itu. Dalam sebuah upacara yang cukup megah, sultan dengan hormat mengumumkan dirinya akan maju sebagai calon presiden di Pemilu 2009 mendatang.

Fungsi Politik vs Fungsi Budaya

Melihat kecendrungan seperti itu, urgensi mempertahankan Jogjakarta sebagai pusat budaya Jawa denga Keraton sebagai simbolnya patut dipertanyakan kembali. Sultan yang dipandang sebagain besar masyarakat sebagai tokoh Raja-Dewa sebenarnya hanya mempunyai fungsi sebagai pemimpin kebudayaan Jawa. Namun demikian, ambisinya ternyata tidak terbatas pada titik itu. Ia ingin membangkitkan kembali kesultanan yang dipimpinnya melalui jalur eksekutif. Sikap ini sebenarnya sangat prematur karena lebih berpotensi menghasilkan berbagai hal yang negatif.

Setidaknya ada dua hal yang perlu digarisbawahi dalam tulisan ini. Pertama, berseminya kembali feodalisme. Dalam sejarah bangsa ini, feodalisme merupakan bentuk penghisapan yang dibungkus oleh nila kultural dalam bentuk konsep patron-klien, raja berkewajiban melindungi rakyat, sedangkan rakyat berkewajiban melayani raja. Dalam aplikasi yang lebih moderen, feodalime belum sepenuhnya hilang di negara ini. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana Soeharto menerjemahkan kapitalisme barat dalam bentuk feodalime moderen Jawa yang sangat menyengsarakan rakyat. Pertanyaannya sekarang apakah feodalisme yang sedang mengalami proses pengikisan mau diterima lagi dalam wujud feodalisme gaya baru? Apakah masyarakat bersedia menanggung konsekuensi dari praktek feodalisme tersebut?

Kedua, dalam kepentingan mempertahankan budaya Jawa, saya pikir bukan suatu kebijakan yang bijaksana apabila sultan sebaga seorang pemimpin budaya Jawa tertinggi meninggalkan wewnangnya hanya untuk mendapatkan gengsi politik yang telah terkubur. Menurut saya, budaya Jawa lebih penting untuk dipertahankan, karena memang telah mengalami perubahan ke arah yang negatif sehingga jati diri Jawa semakin terkikis dan berpotensi akan menghasilkan generasi penerus yang tanpa budaya dikemudian hari.

Manusia memang mahluk politik. Artinya, ia akan selalu haus untuk memenuhi kepentingannya dalam menguasai sesuatu. Akan tetapi kepentingan politiknya itu tidak kaku, melainkan dapat diatur sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan keluaran yang lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang di sekitarnya.

Sejarah Total ?

Dalam tradisi penulisan sejarah dunia, saya menyukai Moliere, seorang borjuis, yang berbicara tentang objek sejarah tanpa mengetahuinya. Setelah sering membaca karya Marshall G.S. Hodgson, Alfred Crosby, André Gunder, dan Immanuel Wallerstein, saya menjadi sadar tentang kenyataan bahwa, seperti M. Jourdain, saya telah menghormati mempelajari sejarah tanpa tahu apa itu. Saya percaya bahwa hal berpotensi menjadi hal yang penting bagi siapa saja yang ingin menulis sejarah Kuba, sejak pemusatan perspektif dari nasional-lokal tidak saja membuktikan sebuah kebutuhan akan metodologi, tetapi sebuah tafisiran umum premis dalam hubungannya untuk mencatat banyak kejadian­­­—yang disebut sejarah nasional. Bagaimana sebuah sejarah pertumbuhan ekonomi, dimensi yang multinasional dari revolusi kemerdekaan (1868-1898), serangan dari modal asing di pulau ini antara tahun 1898-1920, pembangunan kapitalis, dan revolusi sosial tanpa memulainya dari pandangan dunia? Bagaimana menceritakan sejarah Kuba tanpa menggunakan catatan tentang peran serta tentara Kuba dalam revolusi Amerika Utara atau kehadiran orang Kuba dalam Perang Sipil Spanyol ; tanpa pengetahuan tentang aneksasi Havana oleh Inggris (1762) atau krisis misil (1962) ? Bagaimana menceritakan Sejarah Kuba tanpa sebuah catatan tanpa melibatkan gerakan komunis di Amerika Latin dan Kepulauan Karibiasebelum tahun 1959, tanpa pengetahuan tentang agama Afrika-Kuba dan pengaruh ritme musik Kuba di seluruh dunia. Atau, dalam contoh kasus, bagaimana memberikan sebuah penjelasan tentang peningkatan konflik antara Kuba dan Amerika Serikat tanpa menujukkan gerakan gerelia di Kongo, Bolivia, Venezuela, atau Republik Dominika, perang di barat daya Afrika, atau aliansi dengan USSR? Apakah Che Guevara dan Fidel Castro hanya menjadi tokoh sejarah lokal? Dengan kata lain, sangat tidak mungkin membahas Sejarah Kuba tanpa perspektif sejarah dunia.

Tidak pernah terjadi, terutama di kalangan sarjana, baik bidang migrasi, keamanan internasional, dan kebijakan luar negeri Amerika Utara atau Sosialisme mengklaim hal yang samapaling tidak menurut pengalaman saya dalam menyelidiki topik ini. Nyatanya, dalam tujuan untuk mendeskripsikan pengalaman saya, akan lebih mudah bagi saya untuk melakukan dan merancang riset dalam pengertian narasi bagaimana saya membangun interpretasi. Sebelumnya, saya akan memperkenalkan diri saya lebih jauh dalam rangka memahami sebuah proses perolehan budaya. Saya belajar di Sastra dan Filsafat Perancis pada Universitas Havana pada tahun 1960-an, dan kemudian Ilmu Politik dan Masalah-masalah Amerika Latin di Mexico pada pertengahan tahun 1970-an. Saya mencari berbagai permasalahan orang Kuba­­­­­­untuk itu saya belajar di Amerika Serikat. Saya sekarang merasa membangun pemahaman tentang konflik antara Kuba dan tetangga-tetangganya di utara dalam rangka mencari penjelasan untuk para mahasiswa dari Columbia University dan University of Nehru, kepada kadet muda di Royal Canadian Institute of Kingston, para peneliti di United Services Institution of India, melalui penjelasan dari Andrei Gromyko dan Sergo Miyokan di Moskow, kesempatan berdiskusi dengan Robert MacNamara dan Arthur Schlesinger di sebuah pantai di Antigua, dan menguji itu semua kepada anggota dari Central Committee of the Hungarian Socialist Workers’ Party pada saat Perang Dingin. Saya tidak dapat menilai peran Kuba di Amerika sebelum seorang pekerja Guniea di Hetahrow Airport di London memberikan argumentasi kepada saya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana pentingnya peran dalam pandangan Karibia terhadap Kuba sebelum saya menghabiskan waktu selama tiga jam dalam sebuah acara radio di North American Virgin Island of Saint Croix. Saya mengakui bahwa tidak akan dapat mengerti peran signifikan Fidel Castro sebelum saya bertemu sebuah kelompok pemuda di Chandigarh, di daerah Punjab.

Pengalaman-pengalaman itu menolong saya untuk membentuk pemahaman saya tentang konflik, yang dengan kata lain, mereka membantu saya untuk membentuk konstruksi logis dari analisis yang menampakkan konflik tersebut menurut sebuah rasio yang tidak memihak Kuba ataupun Amerika Utara. Mereka juga membawa saya menuju batas rasional yang ketat dari geopolitik yang konsisten dengan ide realisme barat. Hal ini tidak saja karena skenario penyebaran geografis, mengarisbawahi yang di atas, yang membuka sisi historis dari sebuah konflik, yang disebabkan ketrlibatan beberapa aktor dari dunia internasional, yang menyebabkan pula mendalamnya fokus yang disebabkan oleh pertimbangan permasalah dunia.

Pertanyaan dari fokus tersebut memainnkan sebuah peran penting dalam kemajuan studi saya— dan juga kelanjutannya. Penerapan Ilmu Sosial sebagai sebuah latihan teknis— sama seperti seorang insinyur yang membangun jembatan— bukan merupakan suatu yang menarik. Kebanyakan dapat mempelajari konstruksi jembatan itu dengan sangat baik. Apa yang sesungguhnya sangat menarik dari Ilmu Sosial, atau tentang ilmu pengetahuan secara umum, adalah pada momen seseorang dapat mempercayai apa yang kita dapatkan melebihi pengetahuan umum yang telah ada— dengan kata lain, bentuk pembelajaran— dari pengamatan tentang suatu fenomena.. Saya mengimplementasikan bahwa awal mula pemahaman saya tentang aspek-aspek pokok dari Negara Kuba adalah ketika setelah mengunjungi Desa Tzotzil dan Tzeltal di Gunung Chiapas dan berbicara dengan para kepada dari Lacandones lima puluh tahun sebelum kemunculan Zapatista. Bagi masyarakat Kuba, sangat tidak mungkin untuk mengalami keadaa masyarakat pribumi—pemisahan yang berakar dengan budaya lain, negara lain, pemikiran lain. (secara paradoks, orang Kuba dipandang sebagai negara Barat yang tunggal dibandingkan Negara Amerika Latin lainnya dan beberapa orang-orang Eropa_. Kesempatan untuk berpikir tentang Negara Kuba dari perspektif budaya lain membuktikan sesuatu yang mendesak bagi saya. Tanpa pengetahuan ini, saya tidak akan pernah dapat membangun sebuah perspektif kultural dari relasi antara Kuba dan Maerika Serikat. Sebuah pemahaman dari apa yang memisahkan kita membutuhkan pengetahuan tentang apa yang mengikat kita bersama.

Selama beberapa dekade terdahulu, beberapa golongan postmodernis merumuskan akhir dari nasionalisme, yang malahan menguji hal tersebut sebagai sebuah eksponen dari persamaan global. Dikotomi ini dihasilkan dalam debat di Bizantium. Mengantikan pendekatan negara provinsial denga sebuah paham Utarasentris global yang memfokuskan tidak membawa kita menjadi sangat dekat. Sekarang, hal ini cukup tegas menuntut dominasi Utarasentris dari sejarah (dan segala hal yang berhubungan dengan itu). Atau, ini dirasakan baik untuk menekan bagian dan mengombinasikan kategori-kategori dalam analisis, tidak saja mereinterpertasi sejarah dunia dari sebuah perspektif selatan, tetapi juga sebuah perspektif historisasi ulang budaya dari utara? Saya tidak hanya menunjukkan pada segi sosial atau sejarah kebudayaan, sebuah sejarah kelompok sublatern, atau sebuah “masyarakat tanpa sejarah”, yang dengan itu sesuai dengan istilah sejarawan Kuba Juan Pérez de la Riva. Berkaca dari makna Ilmu Sosial— bukan saja Sejarah— yang memfokuskan dekade terakhir dan pertengahan. Saya tidak mengetahui banyak pendekatan lainnya yang menuju indentifikasi objek-objek dunia— sebagai penanda dari akumulasi kapital, pasar dunia, masyarakat transisi, dan mobilitas manusia, dan penyebaran ideologi dan teknologi.

Saya berbicara tentang sejarah total. Penggunaan istilah ini dilakukan dengan hati-hati, karena sejauh pengetahuan saya tidak ada sebuah kata yang memaknai fenomena ini: sebuah jenis pengertian yang merekonstruksi secara kritis represtasi historis menggunakan tanda-tanda budaya yang memperbaiki banyak makna, baik sinkronis dan diakronis. Saya berbicara tentang kemampuan sejarah mengintegrasikan narasi dari yang mengalahkan dan menaklukkan analisis diskursus yang termasuk perbedaan yang pantas, religius, dan nilai politik. Saya berbicara tentang sebuah sejarah yang terintegrasi dalam rasa kebebasan dan keadilan ; pencitraan waktu, manusia, setelah hidup, dan semua itu, dari makna peristiwa dalam pertanyaan ke masing-masing masyarakat yang berbeda. Seseorang tidak harus pergi ke China dan India dalam orientasi untuk merekonstruksi fokus tipe dalam istilah historis yang signifikan.

Akhirnya, sebuah sejarah total dapat secara tidak terbatas untuk pengabungan sumber-sumber dan weltanschauung antropologi dan sosial psikologi— dari pandangan subjektif dari satu kelompok atau suatu tradisi sosio-kultural. Secara alami, ini akan menjadi mungkin untuk mengeksplorasi informasi dari pengetahuan tradisional dan pengalaman kolektif, dari mitos dan konstruksi kultural dari kelompok masyarakat. Satu hal yang perlu dialakukan, seperti apa yang Marvin Harris lakukan ketika ia memulai studi tentang masyarakat Amerika dengan menggunakan penemuan instrumen intelektual dalam tujuan untuk mempelajari komunitas primitif. Immanuel Wallenstein mengatakan tentang sebuah “sosiologi sejarah” atau “sejarah yang bersifat sosiologi”. Bagi saya, rekonstruksi epistemologi mendekati antar atau transdisiplin, ini menjadi mungkin untuk mendefinisikan ulang pengetahuan akademik, mengubah kebiasaan lama, dan penggunaan disiplin yang tepat, tidak dengan melempar mereka keluar, tetap dengan sejarah yang kritis. Sebuah perspektif dunia dapat membuktikan strategi yang jika kita mengerti jalannya—dan tidak berdasarkan asumsi dari pandangan kedaerahan atau aggregate kelas dari pengetahuan

Pada catatan awal, saya mengakui tindakan yang tidak pantas pada saat pemenuhan atas permintaan dari analisis analisis kritis yang kurang dalam sejarah dunia. Saya berpikir dalam lingkup yang umum, Ilmu Sosial memiliki banyak pertimbangan dalam tujuan untuk mencapai sebuah pandangan dunia. Beberapa minggu yang lalu, seorang Profesor Ilmu Politik di India utara menanyakan kepada saya apa yang mendominasi agama kaum elit Kuba dan bagaimana banyaknya bahasa yang berbeda yang digunakan di Negara saya. Penyususnan jawaban sesuai prediksi pertanyaan kalangan Barat (seperti “ Apa yang terjadi ketika Fidel Castro menghilang?). Saya menemukan dalam diri saya sendiri kebingungan dalam beberapa detik. Dari poin itu, saya memulai untuk memepercayai bahwa hal ini akan menjadi dapat menjadi sebuah skandal dari seorang Kuba ynag tidak tahu banyak tentang Indoa, China, dan semua negara kaya yang mengubah dunia yang sebenarnya— sebuah dunia yang perspektifnya kita gunakan untuk mengadopsi dari sejarah untuk kemunculannya.

Diterjemahkan dari Rafael Hernández, A Total History?, Radical History Review Issue 91 (Winter 2005): 94–97.

Unsur Konflik dalam Agama-agama Besar di Dunia

Bagi sebagian besar orang, agama seringkali dipandang sebagai media penghubung antara Tuhan dan manusia. Ia memiliki suatu perangkat hukum tertentu yang diklaim berasal dari Tuhan dan berfungsi untuk mengatur hidup manusia untuk bertaqwa kepadanya, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Akan tetapi, hampir tidak pernah orang berpikir apakah agama itu diciptakan Tuhan atau manusia itu sendiri? Memang, dapat diterima sebuah asumsi bahwa agama diciptakan untuk menertibkan pemeluknya dalam kehidupan spiritual masyarakat. Agama melalui pemimpin spiritualnya berusaha menafsirkan ajaran-ajaran Tuhan untuk kepentingan pemeluknya. Namun apakah tidak ada orientasi subjektif dalam penciptaan lembaga agama ini? Pada kenyataanya, agama bukan saja menunjukkan fungsi positif, tetapi juga menunjukkan adanya ekses-ekses negatif, yang tentunya dipengaruhi oleh orientasi subjektif dari manusia yang menjadi pencipta agama tersebut.

Sumber Konflik

Dalam perjalannya sejarah, sejak kepercayaan animisme dan dinamisme sampai monotheisme menjadi agama yang paling banyak dianut di muka bumi ini agama hampir selalu menciptakan perpecahan. Sebagai contoh, dalam agama India, khususnya Hindu-Budha, agama yang dibawa Sidharta Gautama ini merupakan rekasi dari ekses negative yang di bawa oleh agama Hindu. Walaupun agama Budha disebarkan dengan damai namun dapat dengan jelas terlihat bahwa masalah pembagian kasta dalam bingkai caturvarna menjadi masalah utama. Pada awalnya memang pembagian kasta ini merupakan spesialisasi pekerjaan, ada yang menjadi pemimpin agama, penguasa dan prajurit, dan rakyat biasa. Namun, dalam perjalannya terjadi penghisapan terutama dari pemimpin agama, prajurit, dan penguasa terhadap rakyat jelata. Implementasi yang salah dari caturvarna inilah yang diprotes dengan halus oleh Budha yang pada awalnya tidak menyebut diri mereka sebagai agama, tetapi berfungsi menebarkan cinta kasih terhadap sesama mahluk hidup, bukan saja manusia, tetapi juga hewan, dan tumbuhan. Sebagai reaksi dari meluasnya pengaruh Budha, Otoritas Hindu kemudian mengadakan pembersihan terhadap pengaruh Budha ini. Namun demikian, karena ajaran Budha lebih bersifat egaliter, usaha otoritas hindu ini menemui jalan buntu, bahkan agama Bundha sendiri dapat berkembang jauh lebih pesat dari pada agama Hindu, dan mendapat banyak pemeluk di Negara Tiongkok di kemudian hari.

Selain itu unsur konflik yang terbesar terjadi pula pada pengikut agama terbesar di dunia yaitu Abraham Religions, atau agama yang diturungkan oleh Abraham, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Tulisan ini hanya membatasi pada penggambaran konflik di antara ketiga agama tersebut, bukan pada konflik intern dalam masing-masing agama tersebut. Inti dari agama-agama Abraham ini adalah akan datang nabi terakhir yang akan menyelamatkan dunia ini. Hal yang menjadi masalah utama adalah tidak ada kesepakatan diantara ketiga agama tersebut tentang siapa nabi yang akan datang tersebut. Pihak Yahudi menyatakan belum datang nabi terakhir itu, sedangkan pihak Nasrani mengatakan Nabi Isa (Yesus Kristus) adalah nabi terakhir, lalu Islam mengklaim Nabi Muhhamad sebagai nabi terakhir. Keadaan ini kemudian semakin diperparah ketika tidak ada pengakuan dari masing-masing agam yang masih bersaudara tersebut. Ketika berbagai unsure non-theologis, khususnya politik, ekonomi, dan budaya, menyusup ke dalam masalah ini, konflik memang tidak dapat dielakkan. Berbagai konflik diantara agama-agama ini akan dipaparkan secara khusus.

Pertama, konflik antara Yahudi dan Nasrani. Walaupun sumber konflik ini didasarkan atas kitab suci namun justru unsur dogmatis agama ini sangat mendukung pengambaran konflik yang terjadi. Menurut versi Yahudi, Nasrani adalah agama yang sesat karena menganggap Yesus sebagai mesias (juru selamat). Dalam pandangan Yahudi sendiri Yesus adalah penista agama yang paling berbahaya karena menganggap dirinya adalah anak Allah, sampai akhirnya otoritas Yahudi sendiri menghukum mati Yesus dengan cara disalibkan, sebuah jenis hukuman bagi penjahat kelas kakap pada waktu itu. Sedangkan menurut pandangan Kristen, umat Yahudi adalah umat pilihan Allah yang justru menghianati Allah itu sendiri. Untuk itu Yesus datang ke dunia demi menyelamatkan umat tersebut dari murka Allah. Dalam beberapa kesempatan, misalnya, ketika Yesus mengamuk di bait Allah karena dipakai sebagai tempat berjualan, atau dalam kasus lain yaitu penolakan orang Israel terhadap ajaran Yesus.

Kedua, konflik Islam-Kristen. Konflik ini pada awalnya diilhami oleh kepercayaan bahwa Islam memandang Nasrani sebagai agama kafir karena mempercayai Yesus sebagai anak Allah, padahal dalam ajaran Islam Nabi Isa (Yesus) merupakan nabi biasa yang pamornya kalah dari nabi utama mereka Muhammad S.A.W. Konflik ini pada awalnya hanya pada tataran kepercayaan saja, namun ketika unsur politis, ekonomi, dan budaya masuk, maka konflik yang bermuara pada pecahnya Perang Salib selama beberapa abad menegaskan rivalitas Islam-Kristen sampai sekarang. Konflik itu sendiri muncul ketika Agama Kristen dan Islam mencapai puncak kejayaannya berusaha menunjukkan dominasinya. Ketika itu Islam yang berusaha meluaskan pengaruhnya ke Eropa, mendapat tantangan dari Nasrani yang terlebih dahulu ada dan telah mapan. Puncak pertempuran itu sebenarnya terjadi ketika perebutan Kota Suci Jerusalem yang akhirnya dimenangkan tentara salib. Sebagai balasan, Islam kemudian berhasil merebut Konstatinopel yang merupakan poros dagang Eropa-Asia pada saat itu.

Ketiga, konflik antara Yahudi-Islam yang masih hangat dalam ingatan kita. Konflik ini berawal dari kepercayaan orang Yahudi akan tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka yang dipercayai terletak di daerah Israel, termasuk Yerusalem, sekarang. Pasca perbudakan Mesir, ketika orang Yahudi melakukan eksodus ke Mesir namun kemudian malah diperbudak sampai akhirnya diselamatkan oleh Musa, orang Yahudi kemudian kembali ke tanah mereka yang lama, yaitu Israel. Akan tetapi, pada saat itu orang Arab telah bermukim di daerah itu. Didasarkan atas kepercayaan itu, kemudian orang Yahudi mulai mengusir Orang Arab yang beragama Islam itu. Inilah sebenarnya yang menjadi akar konflik Israel dan Palestina dalam rangka memperebutkan Jerusalem. Konflik ini semakin panas ketika unsure politis mulai masuk. Israel yang dibentengi oleh AS kemudian menganiaya Palestina yang kedudukannya sangat lemah dan hanya mendapat dukungan moral dari negara-negara Islam. Walaupun beberapa jalan damai berusaha dicapai namun konflik ini belum dapat diakhiri.

Ketika agama telah dimanfaatkan sebagian orang demi kepentingan di luar ranah theologis, apakah kita masih memercayai agama. Ataukah kita dapat bertaqwa kepada Tuhan tanpa media agama? Bertuhan Tanpa Agama jauh lebih baik daripa menggunakan agama untuk kepentingan tertentu.

Cerita Tentang Tempe

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang bersantap di kota Medan saya menemukan kejanggalan dalam hidup saya. Malam itu di suatu restoran Sunda yang cukup ramai dikunjungi keluarga saya dan keluarga adik bapak saya yang paling bungsu bersantap bersama. Lalu kami memesan, ada yang memesan ayam, ikan, sate, dan lain sebagainya, tetapi tidak seperti biasanya tidak ada yang memesan tempe.

Bagi sebagian besar orang, kacang kedelai merupakan sumber protein vital, yang dapat mengantikan daging ataupun ikan sebagai sumber protein utama bagi manusia. Kacang kedelai dipandang sebagai sumber protein murah yang dapat dijangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam catatan historis bangsa ini, berbagai olahan kacang kedelai, terutama tahu dan tempe, merupakan lauk-pauk yang dapat dijangkau di tengah-tengah kemiskinan masyarakat pada saat itu. Pun begitu pada zaman Soekarno. Walupun Soekarno pernah mengkritik bangsa Indonesia mempunyai mental tempe, bukan berarti tempe tidak lagi menjadi makanan populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pada masa Orde Baru, ketenaran tempe mencapai puncaknya, sehingga kurang lengkap rasanya jika setiap bersantap tidak ada makanan yang diolah dari tempe di atas meja makan.

Kini, tempe menjadi makanan yang keberadaannya terancam absen di atas meja makan. Seperti tahu, yang sudah dipatenkan oleh Jepang, tempe pun rencannya akan dipatenkan oleh Negara lainnya. Sehingga jika ingin memproduksi tempe, maka harus ada lisensi dari negara yang akan mematenkan tempe tersebut. Memang produksi tempe di dalam negeri tidak dapat dilepaskan dari luar negeri. Hal ini dikarenakan bahan baku pembuat tempe, yaitu kacang kedelai, adalah hasil impor dari luar negeri. Produksi kacang kedelai dalam negeri tidak dapat menciptakan tempe yang baik.

Orang Batak Tidak Suka Tempe

Di tengah kekhawatiran untuk mengkonsumsi protein nabati yang murah, beberapa kalangan tampaknya tidak mempunyai masalah berkaitan dengan masalah yang disebut di atas. Ada sebagian kalangan yang memang tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi tempe, sedangkan sebagian yang lain memandang tempe sebagai makanan kelas rendah. Orang Batak adalah kalangan yang menganut dua alasan di atas. Di dalam budaya masakannya, memang tidak pernah ditemukan adanya makanan olahan dari kacang kedelai ini. Seperti yang diketahui, orang Batak adalah salah satu suku yang menjadikan ikan dan daging sebagai sumber protein utamanya. Ketika seorang migran Batak datang ke pulau Jawa dan mereka disuguhi tempe, mereka akan bertanya makanan apa ini? Setelah mereka tahu itu tempe saya jamin mereka tidak akan menyentuhnya.

Menurut pengalaman saya ada beberapa contoh yang dapat saya tarik ke permukaan berkaitan dengan ketidaksukaan orang Batak terhadap makanan yang bernama tempe. Pertama, seringkali ketika saudara saya datang dari Tanah Batak dan mereka diajak makan di suatu restoran Sunda, mereka agak tersendat menyantap masakan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tempe. Mungkin, kebiasaan memakan daging yang empuk membuat lidah mereka terasa aneh ketika memakan sebongkah kacang kedelai yang dipadatkan. Sebaliknya, apabila saya mengajak mereka makan di Restoran Tionghoa, selera makan mereka meningkat berkali-kali lipat, atau kembali ke tabiat aslinya. Kedua, saya mengenal beberap orang migrant Batak yang telah berpuluh-puluh tahun hidup di Jawa, namun tidak tertular sama sekali untuk menyentuh tempe setiap kali bersantap. Padahal di atas meja makan tersebut hampir setiap hari tersedia tempe yang menurut saya dimasak cukup variatif, namun tidak pernah terbesit sekalipun apalagi mewujudkannya untuk menyantap tempe tersebut.

Bagi saya, seorang Batak yang lahir di tana perantauan Jawa, tampaknya keenganan untuk mengonsumsi tempe telah luntur. Hampir setiap hari saya mengonsumsi tempe. Bahkan ketika masih kuliah, menu makanan saya, baik siang dan malam, tidak akan pernah lepas dari kelezatan tempe. Memang, ada perbedaan antara orang Batak yang lahir di Tanah Batak dan tanah perantauan. Ketika bersantap di rumah pun, tempe telah menjadi bagian integral dari menu hidangan saya.

Pertanyaan yang perlu dimunculkan adalah mengapa orang Batak tidak menyukai tempe. Pertama, hal yang perlu dijelaskan disini adalah orang Batak hampir tidak mengenal makana olahan dari kacang kedelai ini. Jadi tradisi bersantap mereka tidak mengenal tempe sebagai sumber protein. Hal ini telah saya buktikan dalam beberapa kesempatan pulang kampung ke Tanah Batak. Menurut pengalaman saya tidak pernah dalam satu kesempatan bersantap ada makanan yang bernaman tempe. Satu-satunya makanan olahan kacang kedelai yang sering dihidangkan adalah taucho, itupun hanya sebagai campuran dalam sayuran jenis tertentu. Kedua, mereka memandang rendah tempe sebagai makanan para kuli kontrak Jawa yang datang ke Sumatera Timur. Seperti yang telah diketahui, pada saat pemerintah kolonial membuka perkebunan di Sumatera Timur, para kuli kontrak yang didatangkan sebagian besar dari pulau Jawa. Menurut perkiraan saya, kebiasaan makan tempe pun di bawa ke daerah sumatera Timur tersebut. Ketika dua etnis yang berbeda kebudayaan ini bertemu, orang Batak melihat kebiasaan orang Jawa untuk menyatap tempe, baik sebagai lauk pauk utama maupun pendamping, porses untuk memarginalisasi tempe dimulai. Pada saat itu memang orang Jawa merupakan kelompok masyarakat paling dasar, walaupun dari segi jumlah mereka cukup besar, sedangkan orang Batak termasuk golongan menengah ke atas yang walaupun jumlahnya tidak banyak namun kedudukannya cukup signifikan. Pada saat itu timbullah pemikiran bahwa masa makanan saya sama dengan para kuli kontrak itu. Ketika mereka pulang kampung ke Tanah Batak, mereka menceritakan kepada sanak keluarganya dan kemudian meluas ke seluruh kampung, antar kampung dan Tanah Batak secara keseluruhan bahwa konotasi tempe adalah masakan kelas bawah. Pakem inilah yang berhasil dipertahankan dan diwariskan hampir ke setiap orang yang lahir dan besar di Tanah Batak. Ketiga, menurut saya, sumber protein orang Batak yang utama adalah daging (baik ikan, sapi, babi, dan ayam) yang memeiliki tekstur yang lembut, berlemak dan basah. Ketika orang Batak menemukan tempe dengan tekstur yang kasar, berbutir-butir, dan kering, mereka memutuskan untuk tidak memakannya.

Mudah-mudahan penjelasan saya mengenai asal-usul orang Batak tidak gemar makan tempe, sesuai dengan perintah eyang Soeharto, dapat diterima dan tidak menyakitkan berbagai pihak yang membacanya.

Kenaikan Harga BBM dan Budaya Konsumtif Masyarakat

Sejak tanggal 1 Desember 2008, harga premium, jenis bahan bakar minyak yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, diturunkan harganya oleh pemerintah sebesar Rp 500,00 dari Rp 6.000,00 menjadi Rp 5.500,00. Pro-kontra mengenai kebijakan yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah negeri ini kemudian berkembang luas. Mulai dari isu-isu politik menjelang pemilu 2009, sampai realitas krisis global yang menjatuhkan harga minyak dunia. Namun demikian, yang luput dalam pembahasan adalah bagaimana sikap masyarakat menghadapi fenomena ini.

Resesi Dunia dan Politik Pemilu

Kenaikan harga BBM, khususnya pertamax, premium, solar, dan minyak tanah secara bertahap disebabkan terutama oleh meningkatnya harga minyak dunia. Pada sisi lain, segala jenis BBM yang diperjualbelikan di Indonesia disubsidi oleh pemerintah. Hal inilah yang kemudian memberatkan pemerintah, apalagi masih banyak sector yang dapat dikembangkan apbila subsidi harga BBM dapat dikurangi secara bertahap. Oleh karena itulah secara bertahap harga BBM mulai dinaikan oleh pemerintah melalui perusahaannya Pertamina.

Di tengah naiknya permintaan akan minyak dunia yang menyebabkan meningkatnya harga minya dunia per barelnya, tiba-tiba muncul krisis global yang ditengarai karena memburuknya perekonomian AS, sebuah Negara adikuasa yang hampir menguasai bumi ini. Indikatornya tunggal, pemilihan presiden Amerika Serikat yang menghadapkan Barrack Obama, seorang Afrika-Amerika pertama yang menawarkan perubahan melawan McCain, veteran perang Vietnam yang mungkin saja teman seperjuangan John Rambo. Munculnya wakil kaum terpinggirkan dan sangat berpotensi memengangi pemilu kemudian mengoncang perekonomian AS. Lagi-lagi isu yang diangkat bersifat determinis, yaitu kredit macet dari usaha perumahan-perumahan di AS. Hal inilah yang katanya melesukan perekonomian di AS.

Sebagai jantung perekonomian dunia, kelesuan perekonomian Amerika Serikat memengaruhi pereknomian dunia. Salah satunya berdampak pada menurunnya angka permintaan minyak dunia yang menyebabkan penurunan harga minyak tersebut. Suasana ini sangat revolutif, baru pada pertengahan tahun 2008 harga minyak dunia mengalami peningkatan yang pesat, namun pada akhir tahun 2008 permintaan minya menurun yang memaksa diturnkannya harga minyak dunia.

Tidak hanya itu, keheranan masyarakat semakin menjadi ketika pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga BBM, jenis pertamax pada bulan November 2008, premium pada bulan Desember 2008, dan solar pada bulan Januari 2009. Indikasi apakah ini. Mungkin masyarakat dapat menganalisis dengan mudah bahwa penurunan harga BBM ini adalah imbas dari menurunnya harga minyak dunia, namun adakah maksud lain dari kebijakan ini. Ada beberapa pihak yang kemudian merelasikannya dengan pelaksanaan pemilu 2009 yang kampanyenya telah dimulai sejak sekarang. Presiden SBY dianggap berusaha menarik popularitas masyarakat. Setelah membersihkan para koruptor, termasuk besannya sendiri, sang presiden mulai mengeluarkan kebijakan yang pro rakyat. Di tengah krisis yang mulai mengerogoti rakyat, SBY layaknya seorang pemimpin yang bijaksana berusaha untuk meringankan beban rakyat. Salah satu kebutuhan strategis yang memengaruhi perekonomian rakyat adalah BBM. Pasalnya, tinggi-rendahnya harga BBM juga memengaruhi kebutuhan primer masyarakat, misalnya harga kebutuhan pangan, transportasi, dan lain sebagainya. Apakah spekulasi yang sebenarbya bertujuan memojokkan SBY ini benar? Tidak ada tahu sampai sekarang.

Masyarakat dan Konsumerisme

Dari berbagai perdebatan, baik yang menyangkut resesi dunia ataupun kepentingan politik berkaitan dengan pelaksanaan Pemilu 2009, sebenarnya dapat ditari sebuah simpulan bahwa masyarakat tidak terlalu terganggu dengan pasang-surut harga BBM. Hal ini, setidaknya, dapat dilihat dari tingginya tingkat konsumsi BBM dalam kehidupan masyarakat. Ada berbagai keluhan sebenarnya hanya untuk menarik simpati pemerintah saja. Masyarakat kurang mau berusaha lebih produktif, dan lebih mengedepankan konsumsi belaka. Ada beberapa hal yang setidaknya mengindikasikan hal tersebut.

Pertama, ketika harga BBM dinaikkan secara bertahap, konsumsi terhadap BBM tidak menyurut sama sekali. Bahkan dengan kebijakan ini masyarakat mencari jalan yang memliki kesan mengurangi konsumsi BBM, padahal sebenarnya malah menambah konsumsi BBM itu sendiri. Dalam hal transportasi, misalnya, ketika masyarakat merasa berat untuk mengisi bensin untuk mobilnya, mereka kemudian beralih ke sepeda motor yang mereka beli dengan cicilan setiap bulannya. Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan sarana transportasi publik yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Akan tetapi, nyatanya penggunaan kendaraan bermotor yang semakin tinggi dan berdampak pada konsumsi BBM yang melonjak tidak dapat dihindarkan.

Kedua, ketika harga BBM diturunkan, masyarakat malah semakin menggila. Pada hari pertama saja, antrian panjang di setiap pompa bensin terjadi di mana-mana. Selain itu yang cukup memprihatinkan adalah konsumsi BBM meningkat pesat. Padahal Pertamina telah menambahkan 10 % dari produksi BBM mereka per harinya. Tidak sedikit pompa bensin yang mengalami lonjakan permintaan BBM, bahkan dalam beberapa kasus persediaan BBM mereka habis sama sekali.

Apa yang dapat kita pelajari dalam mengamati fenomena ini ? BBM termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dengan segera. Bila konsumsi atas BBM meningkat terus-menerus berarti persediaannya akan semakin menipis. Berbagai alternative sebenarnya telah coba dimunculkan pemerintah. Konversi minyak tanah ke tabung gas, pengguanaan Biofuel, dan lain sebagainya adalah sedikit dari usaha pemerintah untuk mengurangi konsumsi BBM.

Saya sebenarnya agak menyayangkan kebijakan pemerintah berkenaan dengan penurunan harga BBM ini. Menurut saya, sebaliknya harga BBM harus ditingkatkan sampai tidak ada subsidi sama sekali. Apa sebabnya? Pertama, alokasi BBM yang cukup besar dari APBN Negara dapat ditransfer ke bidang lain yang lebih strategis sehingga kesejateraan rakyat dapat merata. Kedua, agar masyarakat menjadikan BBM sebagai barang yag mewah. Jadi, mereka tidak akan menggunakannya secara semena-mena dan itu akan memperlambat pengurasan cadangan minyak Indonesia. Dengan begitu, masyarakat akan sadar bahwa BBM merupakan sumber daya yang sangat berharga bagi kelangsungan negara ini.

Arsitektur Indis di Kota Bandung

Kota Bandung pada awalnya bukan sebuah kota yang dipandang significan bagi Pemerintah Kolonial. Kota yang berawal dari hutan lebat ini mempunyai citra sebagai tempat buangan orang-orang terhukum oleh pemerintah Belanda. Tetapi tempat pembuangan itu tidaklah berkonotasi buruk . Justru banyak orang yang dibuang ke daerah tersebut berhasil membukan usaha-usaha baru seperti membuka lahan perkebunan, usaha pengergajian kayu, dan lain-lain. Daerah yang pada awalnya hanya didiami oleh 25-30 orang pada tahun 1641 berubah menjadi kota peristirahatan orang-orang Belanda. Oleh karena itu kota ini dibangun dengan basis perencanaan kota-kota di Eropa khususnya kota-kota di negeri Belanda namun dengan nuansa tropis.

Akan tetapi geliat perkembangan kota Bandung mulai terlihat sejak abab ke-19. Ada empat momen yang mempengaruhi perkembagan dan pembagunan kota Bandung. Pertama, pada tahun 1810, yakni ketika Gubernur Jenderal Daendels. Ia menancapkan titik nol kilometer dan berkata “ Kelak jika aku kembali, daerah ini haruslah menjadi kota. Selain itu Daendels juga membangun jalan raya pos .Sejarah mencatat adanya perkembangan penting di sekitar tahun 1810, yakni ketika Gubernur-Jenderal Hermann W. mempunyai ambisi membuat jalan raya pos ( Groote Postweg) yang menghubungkan Anyer di bagian barat dan Panarukan di bagian timur sepanjang 1000 kilometer. Bandung termasuk wilayah yang dilalui oleh jalan pos itu Daendels juga menancapkan sebuah tongkat di suatu titik (Kilometer 0) dan berkata kelak jika kembali, daerah ini harus menjadi kota. Atas perintah Daedles inilah, sejak tanggal 25 Mei 1810 , ibu kota Kabupaten Bandung yang semula berada di Karapyak mengalami perpindahan mendekati Jalan Raya Pos. Relaisasi perpindahan ibukota tersebut dilakukan oleh Bupatinya yaitu Raden Wiranatakusumah II dengan persetujuan sesepuh serta tokoh-tokoh dibawah pemerintahannya, memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari karapyak ke Kota Bandung sekarang. Daerah yang dipilih sebagai ibu kota baru tersebut yang terletak diantara dua buah sungai sungai, yaitu Cikapundung dan Cibadak daerah sekitar alun-alun Bandung sekarang yang dekat dengan Jalan Raya Pos. daerah tersebut tanahnya melandai ke timur laut sehingga cocok dengan persyaratan kesehatan maupun kepercayaan yang dianut saat itu. Sungai-sungai yang mengapitnya juga dapat berfungsi sebagai sarana utilitas kota (Website Bandung Heritage).

Pemindahan Ibukota yang diikuti dengan pembangunan secara bertahap pun dilakukan oleh Pemerintah Kolonial berdampak pula pada mobilitas penduduk yang memasuki Kota Bandung. Perpindahan rakyatnya pun dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan pengadaan perumahan serta fasilitas lain yang tersedia. Pada tahun 1864, jumlah penduduk Kota Bandung baru sekitar 11.054 jiwa, terdiri atas 11.000 orang bangsa pribumi, 9 orang bangsa eropa, 15 orang bangsa Cina, dan 30 orang bangsa Arab, serta bangsa Timur lainnya. Saat itu Kota Bandung masih merupakan pemukiman kota kabupaten yang sunyi sepi, dengan pemandangan alam berupa bukit-bukit dan gunung-gunung disekelilingnya.

Kedua, peran kota Bandung semakin penting bagi pemerintah kolonial ketika terjadinya pemindahan ibukota Karesidenan Priangan pada tahun 1864 dari Cianjur ke Bandung. Kedudukan Bandung sebagai ibukota karesidenan diikuti pula dengan pembangunan struktur dan infrastruktur kota. Namun berbeda dengan pembagunan yang telah dilakukan sebelumnya, pembagunan kota Bandung dipriotitaskan untuk kepentingan politik dan ekonomi.

Ketiga, tepatnya pada tahun 1906, Bandung memeroleh status wilayah administrasi baru sebagai sebuah gemmente. Peresmian wilayah ini dilakukan oleh Gubernur Jenderal J.B. Van Heutzs pada tanggal 1 April 1906. Saat pertama kali di bentuk, gemeente Bandung hanya terdiri dari dua buah kecamatan (onderdisctric), yaitu kecamatan Bandung Kulon (barat) dan Bandung Wetan (timur). Kecamatan Bandung Kulon terdiri dari 8 desa yaitu Andir,Citepus, Pasar, Cicendo, Suniaraja, Karanganyar, Astana Anyar,dan Regol. Sedangkan Bandung Timur terdiri dari 6 desa, yaitu Balubur,Kejaksaan, Lengkong, Kosambi, Cikawao, dan Gumuruh. Pembangunan yang ditujukan untuk kepentingan politik dan ekonomi pun yang juga membawa dampak positif kemajuan sosial-ekonomi kota ini baru memperlihatkan perkembangan yang luar biasa sejak direncanakan sebagai ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang sanitasinya dinilai kurang mendukung. Usul pemindahan ibu kota tersebut disampaikan HF Tillema (1916) dan disetujui Gubernur Jenderal Limburg Van Stirum. Rencana boyong pusat-pusat kegiatan pemerintahan itu bukan hanya bisa disaksikan melalui berbagai instansi dan BUMN tingkat pusat yang hingga kini tetap bertahan di Bandung. Namun, bersamaan dengan rencana tersebut dibangun pula gedung-gedungnya, baik untuk perkantoran maupun tempat tinggal. Selain berfungsi sebagai pusat politik dan ekonomi Bandung pun mempunyai fungsi sebagai tempat peristirahatan orang-orang Belanda.

Kemajuan kota Bandung baik dalam hal pembangunan berbasiskan tata kota dan ekonomi terus berlanjut ketika memasuki era kemerdekaan. Pembangunan kota cenderung meningkat ketika Bandung sebagai kota pemerintahan mengalami peningkatan saat kota ini ditetapkan sebagai ibukota Propinsi Jawa Barat menggantikan kedudukan Jakarta. Keberadaan Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan membawa pula pada akselerasi pada perkembagan ekonomi kota Bandung hingga tahun 1970 (Reiza D. Dienaputra dalam Freek Colombijn 2006 : 189).

Arsitektur Indis

Sebagai suatu ilmu yang mempelajari sisa-sisa kebudayaan suatu masyarkat, penelitian arkeologi tidak melulu harus dilakukan dengan penggalian benda-benda yang berada di dalam tanah ataupun riset mengenai situs kesejarahan ataupun candi. Salah satu penelitian arkeologi, yang menarik dan tidak harus melakukan pengalian yang memerlukan biaya yang besar, adalah studi tentang perkembangan gaya bangunan gedung-gedung tua. Tren penelitian ini, pada masa sekarang, menjadi suatu kajian yang baru dan menarik para peneliti baik para arkeolog maupun arsitek. Sebagai konsekuensinya, para arkeolog pun harus mempunyai pengetahuan tentang ilmu arsitektur ataupun para arsitek harus sedikit mengetahui ilmu arkeologi. Pada kesempatan ini saya akan mencoba membahas seni bangunan di Kota Bandung khususnya Arsitektur Indis (Indo-Eropa) dari sudut pandang arkeologi.

Sebelum membahas lebih dalam tentang arsitektur Indis (Indo-Belanda), tentu kita harus mengetahui apa yang dinamakan arsitektur Indis (Indo Belanda). Secara sederhana, arsitektur Indis mempunyai pengertian, yaitu perpaduan antara budaya barat dengan budaya lokal (timur). Kehadiran arsitektur yang mempunyai nama lain hibrid tersebut bukan saja menjadi bukti perpaduan budaya barat dan lokal/vernakular (timur) di Bandung, namun juga merupakan rekayasa sempurna ketika seni bangunan barat mencoba tanggap terhadap kondisi lokal (www. bandungheritage.org).

Peranan kota Bandung yang sentral bagi pemerintahan Belanda, selain sebagai pusat pemeririntahan juga dipakai sebagai tempat peristirahatan membuat pemerintah melakukan pembangunan yang gencar di kota tersebut. Puncak pembangunan Bandung terjadi pada rentang tahun 1920-1940-an ketika para arsitek Belanda mencoba melakukan inovasi dalam seni bangunan yang berbeda dari apa yang lazimnya dilakukan di negeri asal mereka yang beriklim subtropis. Menurut Helen Jessup, hal tersebut berkaitan dengan gerakan pembaharuan dalam arsitektur nasional dan internasional, yakni upaya mencari identitas arsitektur kolonial Belanda di tanah jajahan yang juga merujuk pada arsitektur tradisional Nusantara (Jawa). Berbagai struktur dan infrastruktur dibangun untuk mendukung peran kota Bandung tersebut. Akan tetapi, arsitektur Indis belum menjadi prioritas utama bagi para arsitektur Belanda pada saat itu.

Geliat pembangunan kota Bandung sangat terasa ketika muncul ide pemindahan Ibukota Hindia Belanda ke kota ini. Dimulailah pembangunan sarana-sarana fisik terutama pusat pemerintahan. Pembangunan ini sendiri dipimpin oleh . F.J.L. Ghijsels dari Gemeente-werken yang berhasil mendirikan 750 bangunan baru di kota tersebut. Selain itu, pemerintah kolonial juga memberi kesempatan kepaa arsitek-arsitek yang telah mengenyam pendidikan di Technische Hoogeschool Delft.

Akan tetapi, dari segi arsitektural, bangunan-bangunan yang didirikan cenderung bercorak penjiplakan langgam arsitektural yang sedang menjadi tren di Eropa, seperti Art Nouveau, yang dibawa oleh arsitek P.A.J Moojen pada tahun 1905 dan Art Deco, yang dibawa oleh arsitek generasi berikutnya pada tahun 1920-an). Akibat dari penjiplakan tersebut, Kota Bandung benar-benar merupakan jiplakan dari kota di Eropa. Arsitektural Eropa ini sekarang masih dapat kita lihat sisa-sisanya di Jalan Braga dan sekitarnya.

Kebanyakan yang dilakukan oleh para arsitek ini adalah menjiplak langgam yang sedang menjadi tren di Eropa, seperti Art Nouveau (dibawa oleh arsitek P.A.J. Moojen sekira tahun 1905) dan Art Deco yang lebih fungsional (dibawa oleh arsitek generasi berikutnya setelah tahun 1920-an). Akibatnya, wajah kota Bandung kala itu benar-benar merupakan jiplakan wajah Eropa, seperti yang masih dapat kita saksikan sisa-sisanya di pertokoan Jalan Braga dan sekitarnya.

Sebuah kritikan tentang penjipkan arsitektur Eropa datang pada saat kunjungan arsitektur senior terkenal Belanda, Hendrik Petris Berlage yang kebetulan sedang berkunjung ke Bandung pada tahun 1923 . Ia kemudian bertemu dan mengadakan diskusi dengan beberapa arsitek muda. Dalam pertemuan itu, ia banyak mengkritik keras kebijakan penggunaan arsitektur murni Eropa tanpa adanya adaptasi dengan budaya dan iklim lokal seperti yang banyak dilakukan di Indonesia. Dalam kesempatan itu juga ia mengungkapkan pentingnya pencarian sebuah arsitektural asli yang merupakan sintesa dari kebudayaan Indonesia dan teknologi konstruksi barat. Atas prakarsa yang berupa kritikan dari Berlage tersebut, muncul diskusi-diskusi mengenai arsitektural baru yang dipelopori oleh Prof. Ir. Wolff Schoemaker dari T.H. Bandoeng dan koleganya, Maclaine Pont. Beberapa bangunan yang dibangun kemudian setelah adanya kritikan dari Berlage tersebut turut megadaptasi budaya lokal di dalamnya. Gaya arsitektural semacam ini kemudian dikenal dengan nama arsitektural Indis.

Menurut C.P. Wolff Schoemaker, Arsitektur Indis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

· Sosok bangunan yang umumnya simetris

· Memiliki ritme vertikal dan horisontal yang relatif sama kuat

· Konstruksi bangunannya disesuaikan dengan iklim tropism terutama pada pengaturan ruang, ventilasi masuknya sinar mataharim dan perlindungan hujan. (bandungheritage.org)

Beberapa bangunan yang dipandang memiliki gaya arsitektur Indis antara lain Gedung Sate, Aula Barat ITB, Mesjid Cipanganti, Vila Merah ITB,Gedung Bioskop Majestic , dan Hotel Preanger

Sayang, sebagian bangunan-bangunan yang bisa menceritakan tentang sejarah kota, kebudayaan dan seni arsitektur tersebut mulai banyak diruntuhkan. Beberapa di antaranya memang ada yang berhasil diselamatkan berkat usaha gigih yang dilakukan para pengurus Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage). Tetapi, sebagian lainnya sudah tidak jelas lagi karena sudah rata dengan tanah. Dengan kekuasaan rezim ekonomi, di atasnya sudah berdiri bangunan baru. Jadi, banyak yang mengkhawatirkan Bandung akan kehilangan salah satu identitas dan sekaligus kekayaan budayanya. (Kompas, Minggu, 24 Maret 2002)

Bangunan-Bangunan Indis

Seperti yang telah diuraikan di atas, Kota Bandung memiliki berbagai macam bangunan berasitektur Indis. Beberapa diantaranya adalah Hotel Preanger, Gedung Sate, Gedung Bioskop Majestic, Mesjid Cipaganti dan lain-lain. Setiap bangunan tersebut walaupun memiliki gaya arsitektural yang sama akan tetapi tentu pula mempunyai keunikan tersediri bergantung pada fungsi dari bangunan itu sendiri. Dalam laporan ini, saya akan mencoba membahas beberapa bangunan indis, walaupun tidak semua namun diharapkan dapat menunjukan keunikan dari beberapa bangunan yang akan dibahas.

· Gedung Sate

Bangunan yang menjadi ciri khas Ibukota Propinsi Jawa Barat ini karena dibagian atapnya terdapat desain yang berbentuk tusuk sate (padahal sebenarnya menunjuk jumlah pengeluaran yang dihabiskan untuk pembangunan gedung ini, yaitu 6 juta gulden). Bangunan yang berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m² ini pada Zaman Kolonial Belanda dikenal dengan nama bangunan Gouvernements Bedrijven disingkat “GB” atau Pusat Instansi Pemerintahan. Awal bangunan dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 27 Juli 1920, oleh Nona Johanna Catherina Coops putri sulung Walikota Bandung B. Coops yang didampingi Nona Petronella Roeslofsen yang mewakili Gubernur Jenderal di Batavia. Pada awal tahun 1924 Gedung Hoofdbureau PTT rampung dikerjakan, disusul dengan selesai dibangunnya Induk Gedung Sate dan Perpustakaan Tehnik yang paling lengkap di Asia Tenggara, pada bulan September 1942. (www.id.wikipedia.org) Latar belakang pembangunan ini berkaitan dengan rencana Pemerintah Kolonial Belanda di zaman Gubernur Jenderal J.P. Van Limburg Stirum yang menjabat pada rentang waktu 1916-1921 untuk memindahkan Ibukota Hindia Belanda atas usul H.F. Tillema,seorang ahli kesehatan lingkungan pada tahun 1916. Akan tetapi, akibat terjadinya resesi ekonomi (malaise) di tahun 1930-an, akhirnya rencana pemindahan ibukota negara beserta bangunan-banguan pemerintah pusat dari Batavia ke Bandung tidak dilanjutkan Sekarang Gedung Sate berfungsi sebagai Kantor Gubernur Propinsi Jawa Barat. Sayap timur gedung ini sekarang ditempati oleh Kantor Pos dan Giro (pada zaman kolonial disebut PTT) . Sedangkan bangunan sayap barat merupakan Gedung DPRD Propinsi Jawa Barat.

Selain mempunyai fungsi penting sebagai pusat pemerintahan, Gedung Sate termasuk bangunan yang mempunyai seni arsitektur yang cukup menawan dan dapat diklasifikasikan sebagai bangunan Indis. Ilham pendesainan gedung ini diperoleh ketika arsiteknya Ir. Greber dan kawan-kawan (Kol. Genie (Purn.) V.L. Slor dari Genie Militair, Ir. E.H. De Roo dan Ir. G. Hendriks yang mewakili Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W) atau DPU sekarang dan Gemeentelijk Bouwbedriff (Perusahaan bangunan Kotapraja) Bandung) mendapat masukan dari maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage yang menyarankan untuk memasukan wajah arsitektur tradisional nusantara. Aspek pertama dari banguna ini yang dapat kita telaah adalah tentang konstruksi bangunan. Kekokohan gedung sate sampai saat ini sangat beralasan karena dinding gedung ini terbuat dari kepingan batu berukuran besar (1X1X2 M) yang diambil dari kawasan bukit di Bandung TImur tepatnya di daerah Arcamanik dan Gunung Manglayang. Disamping itu, teknik konstruksi yang dipakai untuk gedung ini dapat dikategorikan konvensional dan professional serta memperhatikan standar teknik.

Sedangkan dari sudut pandang arsitektur, Greber memadukan berbagai aliran arsitektur terhadap gedung tersebut. Untuk bagian jendela Greber mengambil gaya Moor Spanyol, lalu untuk bangunan secara keseluruhan, ia mengunakan gaya Rennaisance Italia. Untuk bagian menara atap bersusun atau yang disebut “tumpang” digunakan aliran asia, yaitu gaya Pura Bali dan Pagoda Thailand. Pada bagian puncak terdapat ornament yang menyerupai tusuk sate yang berjumlah 6 buah , akan tetapi ada juga yang menyebutkan bentuk bulatan itu sebagai jambu air atau melati, padahal makna sebenarnya adalah jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate. Selain mengungkapkan kesan anggun, indah, megah, dan monumental, penantaan bangunan pada umumnya berbentuk simetris. Selain itu juga adanya pemakaian elemen lengkungan yang ritmis, berulang-ulang (repetisi) sehingga menciptakan “irama arsitektur” yang menyenangkan, indah dan unik.

Kembali kepada bentuk bangunan, bagian depan gedung sate (fasade) dibuat dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan. Dalam hal ini, Gedung Sate sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara. Pada bagian timur dan barat terdapat dua ruangan besar (aula) yang mempunyai kesan sebagai tempat dansa (ballroom) dan merupakan cirri khas bangunan Eropa.. Ruangan ini seing dikenal pula dengan sebutan aula barat dan aula timur yang lebih banyak berfungsi sebagai tempat kegiatan resmi. Pada masa setelah kemerdekaan tepatnya pada tahun 1977, Gedung Sate diperluas dengan membagun gedung baru yang banyak mengambil arsitektur yang sama. Oleh arsiteknya, Ir. Sudibyo, gedung baru ini dirancang sebagai kantor pimpinan dan anggota DPRD Daerah Jawa Barat.

· Mesjid Cipaganti

Salah satu mesjid tua Bandung yang berlokasi di wilayah yang pernah mendapat predikat sebagai pemukiman orang Eropa adalah Mesjid Cipaganti. Masjid yang dibangun pada 1933 ini merupakan masjid pertama yang didirikan di lingkungan pemukiman bangsa Eropa. Dulu, masjid ini memiliki nama Masjid Kaum Cipaganti. Saat itu, peletakan batu pertama dilakukan oleh Asta Kandjeng Bupati Bandung, Raden Tumenggung Hasan Soemadipradja Patih Bandung didampingi Raden Rg Wirijadinata dan Raden H Abdul Kadir pada 11 Syawal 1351 Hijriyah (7 Februari 1933). Di sisi lain, luas bangunan masjid hanya 9 m x 15 m2. Dalam perjalanannya, masjid ini banyak mengalami masa pancaroba. Pada  1979 hingga 1983, masjid itu direnovasi karena tidak sesuai dengan pertumbuhan umat muslim saat ini. Maka, para pengelola masjid pun bersepakat untuk memperluas bangunan itu pada sisi kiri dan kanan, masing-masing 17 m2. Kini bangunan Masjid Raya Cipaganti dengan luas keseluruhan 48 m x 15 m itu, berdiri megah. Masjid ini adalah masjid tertua kedua di Bandung, setelah Masjid Agung Bandung. Sekarang masjid ini menjadi tempat persinggahan bagi para wisatawan yang datang ke Bandung.

Sang arsitekturnya, Kemal C.P. Wolff, yang merupakan arsitek terkemuka Belanda banyak mengadaptasi seni bangunan tradisional Jawa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk atap yang berupa tajug tumpang dua limas an dengan atap-atap tambahandi setiap sisi. Selain itu, penggunaan konstruksi empat kolom saka guru di tengah ruangan shalat masih tetap dipertahankan keasliannya. Dari ide-ide yang dikembangkan oleh Wolff, Mesjid Cipaganti terkesan sebagai mesjid moderen tetapi mengadaptasi juga nilai-nilai tradisional. Selain itu, terdapat pula detil-detil arsitektural dan ornament-ornamen floral yang diambil dari nilai-nilai tradisional Jawa. Namun unsur Eropanyanya pun tampak dari konstruksi atap bangunannya yang memakai teknik bangunan kolonial. Hal ini tampak jelas dari penggunaan kuda-kuda segitiga pada interior atapnya.

Di samping itu, terdapat pula penggunaan relung-relung tapal kuda atau yang lebih popular dikenal dengan nama horseshoe archesi. Hal ini dapat kita jumpai di bagian utama pintu masuk dan menuju mihrab, tempat imam memimpin shalat. Selain itu, terdapat pula elemen dekorasi berupa kaligrafi yang mayoritas bergaya kufi. Seperti yang terlihat di beberapa bagian mesjid. Kaligrafi ini terdpat di keempat kolom saka guru, relung tapal kuda, mihrab, dan atau dinding penghalang yang berada tepat setelah pintu masuk utama.

Hal lain yang menarik dan dapat kita amati adalah lampu yang menggantung pada langit-langit di tengah ruang utama shalat. Lampu yang dikategorikan antik ini, terbuat dari logam yang berwarna kuning dan masih asli peninggalan kolonial/ Tali penganting yang menyangga lampu tersebut juga terbuat dairi logam. Selain itu, kondisi lampu tersebut juga masih terpelihara dengan baik.

· Hotel Preanger

Tempat penginapan yang termasuk tua ini, pada awalnya merupakan toko yang menyediakan barang kebutuhan sehari-hari. Ketika itu, tahun 1884 dimana Bandung masih bernama Priangan, pemilik perkebunan sudah mulai berhasil dalam mengembangkan usaha pertanian dan perkebunannya. Mereka kemudian sering berdatangan ke Bandung. Saat itu Groote Postweg (yang sekarang menjadi jalan Asia-Afrika) merupakan pusat kota dan menjadi tujuan utama para pemilik perkebunan tersebut untuk menghabiskan uangnya. Melihat semakin banyaknya orang yang datang untuk berlibut, W.H.C. Van Deeterkom lalu mengubah toko yang telah disebutkan di atas menadi sebuah hotel . Tepatnya pada tahun 1897, dubangunlah tempat penginapan yang nantinya menjadi cikal bakal Hotel Preanger. Selama lebih dari seperempat abad, hotel tersebut menjadi kebanggaan orang-orang Belanda di kota Bandung. Selanjutnya pada tahun 1929, hotel yang pada saat itu digolongkan berasitektur Indishe Empire ini kemudian di renovasi. Salah satu arsitek yang menagani renovasi ini adalah I.r. Soekarno. Akan tetapi renovasi hotel ini tidak mengubah secara keseluruhan bentuk bangunan hotel. Kemudian pengelolaan hotel terus berpindah tangan dari N.V. Sault, CV Haruman , PD Kertawisata hingga PT Aerowisata yang megelolanya pada tahun 1987 dan menganti namnya menjadi Hotel Preanger. Meskipun telah direnovasi, Grand Hotel Preanger tetap menampakkan eksterior klasiknya yang bersejarah. Selain itu tetap juga dipertahankan pola-pola art deco sebagai ciri khas Grand Hotel Preanger.

Wajah asli dari bangunan hotel ini dapat dilihat dari Jl. Asia Afrika maupun Jl. Tamblong. Sebuah bangunan bersejarah dengan gaya arsitektur berselera tinggi. Dipertahankannya bangunan lama ini justru menjadi daya tarik hotel yang letaknya berdekatan dengan Gedung Asia-Afrika ini.

Dari persepktif arsitektural, pada awalnya hotel ini cenderung bergaya Indishe Empire Stijl namun pada tahun 1929 hotel ini direnovasi oleh Prof. CP Wolff Schoemaker yang mengubah juga gaya arsitekturnya menjadi modem Fungsional- Streamline dengan Art Deco geometrik yang pada bagian muka tampak hiasan dan pola zig-zag bersiku serta bentuk geometris lainnya yang mirip gaya Indian di Amerika Selatan. Rancangannya merupakan paduan yang tepat antara skala dan proporsi bangunan, serta konsep ruangnya. Komposisi bangunan yang bertingkat-tingkat dengan pola asimetris yang dilengkapi dengan menara pada bagian tengah dan dibuat tidak terlalu tinggi namu kaya akan unsure dekoratif. Menara tersebut menjadi pusat perhatian yang menarik karena banyaknya ornament berpola geometris, zig-zag,abstrak, dan berlapis-lapis pada bagian puncak dan sisi-sisinya. Ornamen sejenis juga terlihat memesona menghiasi bidang kolom, lisplang, serta overhang pada pintu masuk serupa dengan pola pada menara. Pada tahun 1980-an bangunan ini kembali mengalami perluasan, yaitu pada bagian timur sisi timur. Gaya arsitektur yang ditampilkan saat ini banyak mendapat pujian sebagai karya baru yang dapat berpadu dengan serasi dengan bangunan lama. Rancangannya yang baru sangat memperhatikan serta memperhitungkan gaya dan desain bangunan lama yang menjadi acuan utama. Selain itu Hotel Preanger juga mempunyai arsitektur yang mempunyai sentuhan Sunda. Hal ini dapat kita lihat dari dua sayap hotel ,yaitu Naripan dan Asia-Afrika yang distukan oleh sebuah menara. Sedangkan lobi hotel didesain sehingga mempunyai kesan tempo dulu dan dilengkapi pula dengan marmer, perabot kayu jati ,bingkai jendela yang terbuat dari kunigan . Pada bagian kamar gaya arsitektural yang dominan adalah art deco dan kamar suite yang bergaya tahun 1920-an.

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Diktat

Colombijn, Freek et.al. 2006.

Kota Lama Kota Baru ; Sejarah Kota-Kota Di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan.Jogjakarta : Ombak.

Sarigendeyanti, Etty. 2006

Pengantar Arkeologi ; Bahan Ajar Mata Kuliah Pengantar Arkeologi. Jatinangor : Jurusan Sejarah Unpad

Website

www.arsitekturindis.com/index.php

www. bandungheritage.org

www.id.wikipedia.org

Surat Kabar

Kompas, Minggu, 24 Maret 2002

Druze Faith

Duze atau Druse/Drus, Derzi / Durzi dalam bahasa Arab ,Druzim dalam bahasa Ibrani adalah suatu komunitas masyarakat yang mempunyai kepercayaan berbeda yang berakar dari Timur Tengah. Druze berasal dari nama pendirinya yaitu Muhammad Ad-Darazi. Mereka menyebut diri mereka yaitu Muwahhidun yang berarti masyarakat yang mempercayai satu Tuhan (monotheis). Sebagian besar komunitas ini terdapat di Lebanon, tetapi ada pula yang tinggal di Israel, Syria, dan Jordan. Sedangkan yang tinggal di luar Timur Tengah berdomisili di Amerika Serikat, Kanada, Amerika Latin, Afrika Barat, Australia, Austria, dan Eropa. Kebanyakan pengikutnya berasal dari etnis Arab, akan tetapi ada juga pengikutnya yang bukan berasal dari etnis Arab seperti pengiktunya yang berasal dari Israel. Dalam kehidupan sosialnya, mereka tidak menunjukan perbedaan lahirliah dengan masyarakat yang lain, tetapi dalam kehidupan rohaniah mereka menutup diri mereka dengan komunitas lain. Berdasarkan perhitungan pada tahun 1987, pengikut agama ini berjumlah setenga juta sampai satu juta jiwa dengan rincian :

  • Lebanon: 325,000.
  • Syria: 245,000.
  • Jordan: 10,000.
  • Palestine: 65,000.
  • Negara Arab lainnya : 40,000.
  • Negara non- Arab : 70,000.
  • Total: 755,000.

Sejarah Perkembangan Agama Druze

Agama Druze adalah bagian dari Ismaili, sebuah gerakan filsafat-keagamaan yang didirikan oleh kekhalifahan Fatimiah di Mesir pada abad kesepuluh. Baru Pada masa pemerintahan Al Hakim (996-1021) Druze menjadi suatu kepercayaan yang merupakan campuran dari agama Islam, Filsafat Yunani ,dan agama Hindu. Usaha menarikpenganut-penganut baru menyebabkan agama ini sejak tahun 1050 komunitas ini tertutup bagi komunitas lainnya.

Komunitas Druze berada di selatan Lebanon dan di utara Israel. Setelah penaklukan Ottoman ke Syria (1516), komunitas Druze berpindah daerah perbukitan di dekat Allepo dan Sultan Selim I memberikan kekuasaan kepada Fakhr al-Din ( Pemimpin keagamaan Druze) dengan kekuasaan lokalnya. Konflik kemasyarakatan antara komunitas Druze di Lebanon dan Kristen yang berakhir pada tahun 1860 dengan suatu otonomi di daerah gunung Lebanon. Lebanon yang telah mempunyai kekuasaan yang besar. Komunitas Druze tidak pernah dapat menguasai daerah itu lagi dan tidak dapat menjadi komunitas lagi di negara itu. Mereka dipindahkan ke gunung Hauran di Syria, yang dikenal dengan nama Jebel el-Druze (Gunung Druze), sebuah nama yang mempunyai persamaan makna dengan gunung Lebanon.

Setelah kekuasaan Ottoman berakhir pada tahun 1918, komunutas Druze dipimpin oleh seorang Emir (pemimpin agama), dengan kekuasaan semi otonomi.Pada tahun 1921, Perancis mencoba membentuk sebuah negara Druze dibawah mandat Perancis, tetapi usaha itu gagal.

Komunitas Druze di Galilea dan Gunung Carmel tetap menjaga hubugan baik dengan komunitas Druze lainnya seperti di Gunung Hermon dan di Lebanon. Pada saat pemerintahan Inggris di Palestina, komunitas ini terlibat pula dengan konflik antara Arab dan Yahudi dan saat perang kemerdekaan Israel pada tahun 1948, komunitas Druze menjadi komunitas yang aktif mendukung Israel

Perkembangan Agama Druze ini dimulai saat berkuasanya kekhalifan Fatimiah yang pada saat itu menguasai wilayah Afrika Utara dan berpusat di Kairo, Mesir pada abad ke 10. Saat itu, kekhalifan Fatimiah menjadi pusat kebudayaan Islam yang terpenting di Timur Tengah. Pada saat itu pula terjadi akulturasi di sebagian pemeluk agama Islam yaitu dengan Yahudi, Nasrani, dan Yunani Kuno. Akulturasi inilah yang menyebabkan munculnya Agama Druze.

Perkembangan agama ini baru berjalan ketika Al-Hakim naik tahta menjadi khalifah dari kekhalifan Fatimiah pada tahun 996 M pada umur 11 tahun. Dalam catatan sejarah, Al-Hakim adlah raja yang terkenal dengan pemerintahan tirani yang kejam. Masa pemerintahannya berakhir ketika ia tiba-tiba menghilang saat ia berjalan sendiri pada bulan Februari 1021.

Pembentukan agama ini dimulai ketikan seorang Persia yaitu Darazi methabiskan Al-Hakim yang saat itu berkedudukan sebagai khalifah Ismail sebagai pembawa wahyu dengan jukukan Tuhan yang terlihat (nyata). Setelah mendengar berita pethabisan itu dari Imam Hamza, banyak reaksi negatif datang dari kalangan masyarakat yang dipimpin oleh Imam Hamza sendiri . Akibat dari penolakan itu menyebabkan Darazi dihukum dan Al-Hakim dikucilkan dari masyarakat. Saat pengucilan itulah secara tiba-tiba Al-Hakim menghilang di suatu malam pada tanggal 1021. Para pemeluk Agama Druze percaya bahwa Al-Hakim telah berpindah ke alam gaib dan akan kembali pada saat kiamat sebagai Qa`im (penerang) atau Mahdi (penunjuk jalan).

Setelah lenyapnya Al-Hakim lenyap secara misterius, para pemeluk agama Druze dipaksa untuk pindah oleh pemeluk agama Islam lainnya. Selain itu banyak pemeluk agama Druze yang dikejar-kejar dan dibunuh sehingga dengan terpaksa pemeluk agama Druze banyak yang menyembunyikan secara lahirliah agamanya.

Simbol dan Ajaran Agama

Seperti agama yang bersifat monotheis lainnya di Timur Tengah, Agama Druze mempunyai ajaran yang bersifat mengikat para pemeluknya. Selain alasan yang tersebut diatas, masyarakat Druze tidak menujukan secara lahirliah ajaran agamanya dengan tujuan untuk menjaga kemurnian ajaran agama itu sendiri.

Bila dalam ajaran Islam simbol yang digunakan adalah sabit, maka dalam kepercayaan Druze yang menjadi simbol adalah bintang bersegi lima dengan lima macam warna yang berbeda. Adapun makna yang terkandung dalam simbol itu adalah hijau melambangkan kepandaian, merah melambangkan jiwa, kuning melambangkan bahasa, biru melambangkan teladan, dan putih melambangkan iman. Mengenai konsep nabi mereka juga percaya bahwa dalam setiap lingkaran kehidupan akan turun lima roh yang berbeda. Kelima roh yang berbeda ini berfungsi memberikan pengajaran kepada manusia tentang jalan yang benar menuju surga dan Tuhan. Akan tetapi, bersamaan dengan turunnya lima roh tadi, bersamaan pula turun lima roh lain yang menjauhkan manusia dari jalan kebenaran tersebut menuju jalan kegelapan. Mereka memercayai akan para nabi yang ada dalam agama lain seperti Nuh, Abraham, Sarah, Yaiub, Musa, Sulayman, Yohanes Pembaptis (Yahya), dan Yesus (Isa). Tetapi ada tokoh lain yang mereka anggap menjadi nabi yaitu Jethro yang merupakan ayah angkat Musa dengan status sebagai salah satu nabi besar. Keistimewaan yang lain adalah mereka juga memercayai ajaran dari filsuf-filsuf Yunani seperti Plato, Phytagoras, dan lain-lain yang mempunyai kedudukan yang sama dengan nabi yang lainnya. Mereka juga menganggap Al-Hakim sebagai nabi utama seperti Muhammad dalam agama Islam ataupun Yesus dalam agama Nasrani.

Sedangkan dalam hubungan sosial antara sesama pemeluk agama Druze, mereka mempunyai suatu prinsip kepercayaan hidup yaitu berkata jujur, melindungi sesama, menghormati yang tua, membantu sesama, melindungi tempat tinggal, dan percaya pada satu Tuhan. Selain itu, masyarakat ini memercayai suatu reinkarnasi pada setiap manusia, menolak poligami, merokok, alkohol, dan makan babi. Walaupun banyak golongan al-Juhl (golongan yang tidak taat) yang tidak melaksanankan prinsip tersebut

Selain beberapa aturan-aturan atau hukum-hukum agama yang telah disebutkan diatas, ada beberapa hal lain yang baik yang berhubungan dengan kehidupan spiritual maupun kehidupan sosial seperti konsep reinkarnasi. Penganut kepercayaan Druze percaya bahwa setiap anggota masyarakat akan mengalami reinkarnasi setelah ia mati, akan tetapi berbeda dengan kepercayaan Hindu, reinkarnasi tersebut dalam bentuk yang sama sebagai contoh laki-laki akan bereinkarnasi kembali menjadi laki-laki pula Mereka juga percaya akan nasib setiap manusia kan mengalami kesenangan dan kesedihan secara silih berganti seperti roda yang terkadang diatas terkadang di bawah. Selain itu mereka juga percaya akan adanya surga dan neraka, dimana manusia juga dihadapkan pada pilihan untuk melakukan hal yang baik dan hal yang jahat. Manusia yang baik akan masuk surga dan manusia yang jahat akan masuk neraka. Mereka juga percaya akan datangnya kiamat, seperti yang telah disebutkan diatas, saat kiamat datang Al-Hakim akan datang kembali sebagai penerang dan penunjuk jalan.

Mereka juga menjalankan ibadah puasa seperti umat Agama Islam lainnya, akan tetapi para pemeluk agama Druze ortodox, mereka menjalankan puasa tersebuyt untuk melindungi diri mereka dari serangan pemeluk agama yang lainnya, selain itu mereka juga mengangga puasa yang dijalankan dalam agama Druze berbeda dengan agama Islam, karena menurut mereka, puasa yang dijalankannya 10 hari sebelum Idul Adha, dan pada saat puasa hanya boleh mengkonsumsi makanan ringan sekali pada saat sore hari.

Dalam hak perkawinan, menurut aturan agama Druze, karena agama Druze adalah agama yang dianut berdasrkan turunan dan tidak boleh terjadi perpindahan agama, maka dalam perkawinan pun seorang pemeluk Druze tidak boleh menikah dengan agama lain termasuk Islam itu sendiri. Dalam kehidupan rumah tangga, kedudukan suami dan istri setara dan kedua-duanya berhak mengajukan perceraian bila terjadi perselisihan.

Tujuh Pilar Hamza

Seperti ajaran agama lainnya yang mempunyai suatu hukum yang dipercayai berasala dari Tuhan seperti Sepuluh Perintah Allah dalam agama nasrani, agama Druze juga mempunyai suatu hukum yang dinamakan Tujuh Pilar Hamza, yaitu :

1. Kebenaran dalam kata-kata (berkata jujur) dengan sesama umat Druze. Akan tetapi berbohong kepada non-Druze untuk mempertahankan diri atau komunitas diperbolehkan

2. Saling melindungi satu sama lain ( termasuk dengan pemaksaan) , membantu dan menopang satu sama lain

3. Penolakan secara mutlak terhadap semua agama ada, termasuk Islam non-Druze.

4. Misahkan diri sepenuhnya dengan penganut non-Druze

5. Mengakui al-Hakim sebagai satu-satunya Tuhan yang terlihat. ( termasuk mengakui penjelmaan Tuhan yang sebelumnya)

6. Menyerahkan diri sepenuhnya, puas dengan pekerjaan Tuhan

7. Ketaatan sepenuhnya, menyerahkan seluruh perintah kepada Tuhan, atau wakilnya, sampai al-Hakim kembali.

Kitab Suci

Seperti umat Islam lainnya, Agama Druze mempercayai Al Quran sebagai kitab yang berasal dari Tuhan. Akan tetapi mereka mempunyai kitab suci yang lainnya yang bernama Rasahl Al-Hikma yang berarti Surat Kebijaksanaan yang sebagian besar ditulis oleh Al Muqtana. Selain itu adapula kitab yang ditulis oleh Al-Hakim,Hamza dan lain-lain. Kitab Suci ini terdiri dari 6 bagian yang masing-masing mempunyai isi dan fungsi yang berbeda-beda. Walaupun begitu, mereka juga memasukkan tulisan-tulisan dari para filsuf Yunani seperti Plato, Phytagoras, dan lain-lain. Selain itu mereka juga teroengaruh unsur-unsur yang terdapat dalam Alkitab seperti mengakui Yesus sebagai utusan Tuhan.

Uqqāl and Juhhāl

Dalam kehidupan keagaaman, pemeluk agama Druze ini dibagi menjadi dua jenis yaitu penganut yang disebut kelompok luar atau Al-Juhhal (yang mengabaikan), mereka tidak mempunyai hak untuk mempelajari kitab suci Druze dan juga hanya berhak menghadiri bagian pertama dari keseluruhan lima bagian dari ibadah tersebut. Mereka lebih banyak berkecimpung dalam kehidupan non-keagamaan seperti dalam bidang militer ataupun politik. Mayoritas pemeluk agama Druze termasuk dalam golongan ini yaitu sekitar 90 %. Selain itu terdapat terdapat juga kelompok dalam yang disebut Uqqual (yang mengetahui). Kelompok ini dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan pemimpin agama dan golongan non-pemimpin agama yang mempunyai presentase 10 % dari keseluruhan pemeluk Druze. Para pemimpin keagamaan ini ternyata tidak hanya menjadi milik kaum laki-laki saja, tetapi terdapat juga hak perempuan yang memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin agama. Para pemimpin agama Ajawid laki-laki, dalam memimpin ibadah menggunakan jubah hitam dan korset putih. Mereka juga menggunakan kopiah merah dengan suatu gulungan putih disekitarnya. Sedangkan Ajawid wanita menggunakan kerudung putih transparan yang longgar. Umumnya kehidupan para Ajawid ini sangat sederhana dan semua kebutuhan hidup para pemimpin agama ini menjadi tanggungan pemeluk agama golongan Al-Juhhal

Dalam melaksanakan tata ibadahnya mereka tidak mengakui tidak adanya ibadah pribadi dan setiap melakukan peribadahan harus dilakukan secara bersama-sama dengan pemeluk agama Druze yang lain. Selain itu tempat yang digunakan biasanya sangat sederhana. Ibadah itu sendiri dilakukan dengan sangat rahasia dan hati-hati agar jangan sampai diketahui masyarakat pemeluk agama non-Druze. Ibadah ini dipimpin oleh Ajawid dan dihadiri oleh umat Duze yang lainnya. Keistimewaan dalam ibadah ini, seperti yang telah disebutkan diatas, para umat golongan Al-Juhhal hanyan boleh mengikuti sesi pertama dari lima sesi ibadah yang ada. Keempat sesi ibadah yang lainnya hanya diikuti oleh golongan Juhhal.

Kedudukan Wanita Dalam Agama Druze

Dalam agama lain di Timur Tengah kedudukan wanita tidaklah setara dengan kaum laki-laki. Perbedaan gender ini sangatlah umum dan mengakar juga tidak hanya dalam kehidupan keagamaan tetapi juga dalam kehidupan sosial. Akan tetapi perbedaan gender dalam Agama Druze tidaklah tampak. Kedudukan pria dan wanita adalah sama menurut kepercayaan itu baik dalam kehidupan agama maupun dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan keagamaan contohnya, seperti yang telah disebutkan diatas, setiap wanita yang telah memenuhi syarat dapat pula menjadi Ajawid (pemimpin keagamaan), selain itu dalam mejalankan ibadah tidak ada pemisahan di dalam gedung peribadahan sedangkan dalam kehidupan sosial, kedudukan suami dan istri adalah sama.

Kehidupan Sosial dan Penyebaran Masyarakat Druze di Israel

Walupun komunitas terbesar Druze di Timur Tengah berada di terdapat di Lebanon, akan tetapi perkembangan kehidupan sosial yang signifikan terjadi di Israel. Walaupun banyak diantara umat Druze ini yang tidak mengakui Israel karena sebagian besar adalah minoritas yang terdiri dari orang-orang Arab, akan tetapi banyak pula masyarkat Druze yang mendukung Israel dan yang terjun dalam bidang-bidang strategis seperti pengusaha, militer, bahkan dalam bidang pemerintahan.

Dalam bidang militer misalnya, sejak tahun 1948 banyak masyarakat yang telah mengikuti wajib militer dan menjadi tentara Israel. Bahkan sejak tahun 1956, karena prestasinya dalam penyerangan ke Lebanon untuk melawan tentara-tentara Hezbollah. Tentara Druze yang dikenal juga menjadi Batalyon Druze Herev. Setelah pertempuran itu banyak pihak-pihak di luar komunitas Druze yang mengusulkan untuk mengubah batalyon tersebut menjadi pasukan elit.

Walaupun sebagai minoritas di Israel, sejak Januari 2004 telah ditandatangani suatu deklarasi oleh pemimpin keagamaan komunitas Druze yaitu Shaykh Mowafak Tarif. Deklarasi itu sendiri berisi tentang penghormatan terhadap Tujuh Pilar Druze yang diakui tidak saja oleh komunitas Druze tetapi juga oleh orang-orang non-Druze. Adapula usulan untuk memasukan Tujuh Pilar Druze ini sebagai bagian dalam Hukum Taurat Yahudi

Selain itu, sebagai komunitas minoritas di Israel dan sifat agamanya yang tertutup, banyak diantara penganut Druze yang mendirikan desa homogen khusus untuk umat Druze saja tetapi pada akhir abad 20, sekelompok kecil umat Nasrani dan Islam berpindah ke daerah-daerah Druze tersebut. Mereka tinggal di utara terutama di puncak-puncak bukit, yang secara historis digunakan sebagai pertahanan dari serangan musuh (pemeluk agama non-Druze).

Komunitas Druze pun mempunyai daerah hunian yang berbeda-beda. Ada yang memilih tinggal di desa-desa, adapula yang memilih tinggal kota besar. Tetapi komunitas Druze di kota pada umumnya adalah para transmigran yang berpindah dengan alasan tertentu dari desa-desa di daerah pegunungan ke kota-kota dan bercampur dengan etnis Arab dan Yahudi Salah satu Kota besar komunitas Druze di Israel adalah Daliyat el-Carmel, yang berlokasi di Gunung Carmel di pusat Taman Nasional Carmel, di selatan kota Haifa tang dibangun 400 tahun yang lalu. Daliyat el-Carmel dihuni oleh 13.000 penduduk yang berasal dari bukit-bukit di sekitar Allepo(Halab) in utara Syria, asal usul ini didukung dengan logat bahasa Allepo yang masih terdengar dan nama-nama keluarga khas Allepo (Halabi). Pasar besar di pusat kota memamerkan produk produk dari Druze maupun orang Arab lainnya menarik turis Israel maupun turis dari luar negeri untuk datang dan si sana juga terdapat patung peringatan kejatuhan tentara Druze. Terdapat pula tempat suci Abu Ibrahim yang terletak di Daliyat El-Carmel dan reruntuhan desa-desa Druze yang terletak di sekitarnya.

Isfiya yang juga terletak di gunung Carmel, dibuat dari reruntuhan pemukiman Bizantium. Banyak barang peninggalan dari para ksatria dan relief-relief dinding dan rumah-rumah yang menjadi bukti-bukti bagi sejarawan untuk mempercayai bahwa dahulu tempat ini adalah basis tentara salib. Pada tahun 1930, setelah menetapnya orang-orang Yahudi Husfiah selama 5 abad di desa ini. Mereka membangun pula Sinagoga dengan lantai mosaik yang menjadi lambang Yahudi dan catatan yang berarti “Damai di Israel” dan sebanyak 4500 koin emas yang didapatkan pada masa Romawi. Desa mideren baru dibangun oada abad 18 ketika para penduduknya hidup dari minyak zaitun, madu, dan anggur yang tumbuh di sana. Sekitar 9000 orang hidup di Isfiya yang 70 % adalah Druze dan sisanya adalah Islam dan Kristen. Makam Abu Abdallah terletak di kota itu pula.

Di timur laut kota Haifa terdapat desa Shfar’am, yang terdapat penduduk dengan akar kebudayaan kuno. Shfar’am termasuk di dalam Talmud dan pada abad kedua dikuasai oleh Sanhedrin, pemimpin agama Yahudi. Masyarakat Yahudi di kota ini, berasal dari masa akhirabad pertengahan, yang secara perlahan berpindah mulai abad 19 sampai abad 20. Terdapat 27.000 Druze, Nasrani dan Muslim hidup di kota ini sekarang dan desa-desanya merupakan suatu peninggalan yang kudus dn rumah ibadah tiga komunitas agama tersebut.

Di utara, setelah melewati Danau Kinneret, kita akan menjumpai kota Magar yang dipercayai sebagai peninggalan dari kota Ma’arriya dimana keluarga pendeta hidup disana pada masaTalmudic. Jejak historis memasukkan banyak pohon-pohon zaitun di sekitar desa, yang mana masih dapat dilihat sampai sekarang. Terdapat 17.000 orang yang tinggal di Maghar sekarang, 60 %nya adalah Druze, 20 % Islam, dan 20 % Nasrani.

Desa Rama yang berpopulasi sekitar 7000 jiwa di utara MAghar dibangun di sebuah peninggalan alkitab kuno yaitu Ramot Naftali. Rama terkenal akan tingkatan budayanya, yang berasal dari masa Mandate. Pada tahun 1948, profesi dokter,pengacara, dan insiyur di kota Rama adalah yang terbesar di Arab. Mendekati desa SAjur yang lebih kecil

Bertempat di utara Rama, di atas puncak gunung Meron, terdapat desa yang seluruh penduduknya beragama Druze yaitu Beit Jan. Desa ini adalah desa yang tertinggi di Israel, 940 di atas permukaan air laut. Dan mempunyai populasi 9000 jiwa. Tidak jauh dari sana terdpaat Peki’in, salah satu dari desa kuno di Israel. Terdapat banyak peninggalan sejarah yang berasal dari abad 13 yang terkenal dengan sumber mata air,kebun buah-buahan, dan minoritas Yahudi, yang telah ada disana dan masih sampai sekarang sejak masa periode kedua. Di dalam dan didekat desa ini terdapat peniggalan-peninggalan Druze dan Yahudi, termasuk Sinagoga Yahudi yang berasal dari zaman Romawi. Sekolah Druze tertua di Peki’in oleh gereja Rusiadi akhir abad 19.

Ein El-Asad adalah satu-satunya desa yang dibangun pada abad 20 terletak di dekat nya. Orang-orang desa asli berasal dari Beit Jan dan dari Syria serta Lebanon. Kafr Sumei, di selatan PEki’in diperkirakan berasal dari peninggalan Kefar Sama, yang termasuk peningalan kesusastraan Israel.

Di selatan Kafr Sumei terdapat kota Kisra yang di dalamnya terdapat desa-desa kecil Druze di negara ini pada abad 19. Desa itu sekarang terdiri dari 3500 orang. Di dekat desa itu terdapat desa YAnuah yang tertulis dalam alkitab sebagai Janoah, dokumen-dokumen Talmud dan Crushader. Selanjutnya dari desa ini terdapat tempat keramat bagi Nabi Islam yaitu Shams.

Satu-satunya desa Druze di barat Galilea yaitu Yirka adalah sebuah peninggalan pabrik-pabrik besar di Timur Tengah, pabrik baja kepunyaan keluarga Kadmani. Pabrik itu memberi manfaat bagi desa tersebut sebagai akibat sebuah daerah industri komersial besar. Dengan populasi 11.000 Druze, Yirka adalah sebuah tempat yang penting, yang paling terkenal adalah Makam dari Sheikh Abu Saraya Ghanem pemimpin penting Druze pada abad 11.

Abu Sinan adalah sebuah kota Druze besar di daerah tersebut, ini terdapat dalam dokumen yang berasal dari tahun 1250 swbagai benteng Busnen. Abu Sinan menjadi sebuah kota penting ketika pada mas kekuasaan seorang Druze Emir Fahr ed-Din al-Mani, yang membuat istana di sana untuk anaknya pada tahun 1617. Sekarang Abu Sinan dihuni oelh 10.000 orang dengan presentase 35 % Druze dan sisanya adalah pemeluk Nasrani dan Islam. Makam dari Nabi Zakaria dan Sheikh al-Hanbali terletak pula di kota ini.

Di selatan Abu Sinan terdapat sebuah desa yang tenang yaitu Julis, kampung halaman dari Sheikh Amin Tarif, pemimpin keagamaan komunitas Druze di Israel yang meninggal pada tahun 1993. Cucunya ,Saleh Tarif yang hidup pula di Julis adalah orang Druze pertama yamg diangkat menjai menteri di pemerintahan Israel.

Umat Druze juga tinggal di Jat, sebuah desa di timur laut Abu SInan sejak abad 17. Kitab Suci Druze mneyebutkan Syekh Abu Arus yang bertantanggung jawab terhadapa penyebarab agama Druze di daerah ini dan yang membakar kota ini. Populasi penduduk di kota ini berjumlah 8000 orang.

Desa Hurfeish berada pada jalan ke timur menuju kota pantai Nahariya, dan terdapat peninggalan dari makan Nabi penting yaitu Sablan. Setiap tanggal 10 Septembaer, Umat Druze datang untuk merayakan festival di desa ini. Pada tahun 1972, sebuah monumen didirikan di Hurfeish sebagai peringatan kepada tentara Druze yang berperang dengan tentara pertahanan Israel.

Dengan sekitar 8000 penduduk, Madjdal Shams dianggap sebagai pusat komunitas Druze di Golan. Penduduk terpenting yang secara spiritual dan politik kuat yaitu Abu-Salah dan keluarga Safdie. Madjal Shams berada di selatan kaki gunung Hermon dan dikelilingi oleh kebun buah-buahan, perkebunan terpenting dengan apel dan Cherie kualitas terbaik.

Lebih dari 3000 penduduk Mas’ada, bekerja pada Abu-Salah dan keluarga Safdie di Madjal Shams yang awalnya terbentuk dari peternakan di selatan Majdal Shams, setelah berjalanya waktu, Mas’ada berkembang menjadi desa yang besar yang memproduksi hasil-hasil pertanian

Di selatan Mas’ada terdapat desa Buka’ata yang dibangun seratus tahun yang lalu ketika terjadi sebuah perselisihan keluarga di Madjal Shams yang menyebabkan banyak penduduk yang melarikan diri dari kewajiban ganti rugi dan tindakan balas dendam. Sekarang sekitar 5000 orang bermatapencaharian dengan cara menanam apel dan anggur.

Ein Kenya berada di barat daya kaki gunung Hermon, di atas Alam Banyas , penduduk di Ein Kenya termasuk pula orang-orang Kristen, tetapi sekarang 1600 penduiduknya adalah pemeluk Druze.

Daftar Sumber

  1. www.en.wikipedia.org
  2. www.jewishvirtuallibrary.org
  3. www.muslimhope.com
  4. www.religioustolerance.org