Optimisme, Efisiensi, dan Krisis Global 2009

Krisis global menjadi momok yang menakutkan bagi penduduk planet ini. Pasalnya, beberapa perusahaan besar di berbagai negara kapitalis sudah gulung tikar. Padahal akhir tahun 2008 baru merupakan awal dari krisis yang diperkirakan lebih parah daripada krisis moneter 1997. Logikanya, apabila negara Eropa Barat dan Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif, bagaimana dengan Indonesia, negara dunia ketiga yang perekonomiannya masih carut-marut.

Gejala krisis global tampaknya telah menular ke Indonesia. Hal ini dimulai dengan naiknya harga bahan bakar minyak, yang disusul dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok rakyat. Kehidupan rakyat makin merana manakala berbagai perusahaan yang mereka mengais rezeki terancam ditutup. Hal ini disebabkan karena menurunnya permintaan akan produksi barang. Hal ini membuat mau tidak mau perusahaan melakukan rasionalisasi dengan merumahkan dan memecat para buruh.

Optimisme

Usaha pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang diharapkan dapat meringankan beban rakyat tidak dapat menolong banyak. Penurunan harga BBM minyak yang dijadikan pemicu untuk menurunkan harga-harga barang lain tidak berjalan mulus. Sebaliknya, kelangkaan terjadi berbagai tempat, tingkat konsumerisme masyarakat meningkat, dan terjadi gejolak berbagai tempat. Para ekonom tampaknya gagal mengaplikasikan ilmunya, para politikus terlalu sibuk dengan persiapan pemilu 2009, lalu siapa yang menolong rakyat?

Dalam sejarah bangsa ini, berbagai krisis dalam taraf yang sangat parah pernah terjadi di Indonesia, akan tetapi tidak pernah benar-benar mematikan perekonomian masyarakatnya. Apa rahasia dari hal tersebut. Saya kira kebijakan pemerintah hanya sedikit menolong di level makro. Dalam perekonomian sehari-hari, rakyat sebenarnya menolong dirinya sendiri. Di tengah meningkatnya harga barang-barang kebutuhan pokok, rakyat kemudian menyesuaikan diri. Ketika terjadi PHK dari berbagai perusahaan besar, rakyat menjalankan usaha-usaha kecil. Contoh yang terakhir inilah yang menjadi rahasia sukses pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca krisis 1997.

Lalu dalam menghadapi krisis global 2008,apakah yang harus dilakukan oleh rakyat, apakah mereka akan tetap mengemis kepada pemerintah, yang agaknya tidak akan terlalu merespon karena mereka harus memperjuangkan kekuasannya dalam pesta demokrasi 2008. Tampaknya rakyat harus berpikir untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.

Efisiensi

Kehidupan masyarakat sekarang ini, dapat dikatakan tidak efisein. Sebagai contoh, hampir sebagian besar penduduk miskin mempunyai anak lebih dari dua, namun tidak memiliki penghasilan yang cukup. Akibatnya, bukan dirasakan pada oleh orang tua, tetapi juga anak-anaknya yang tidak terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Dari contoh di atas, sebenarnya dapat diambil sebuah pelajaran bahwa budaya harus menyesuaikan keadaan. Artinya, harus ada adaptasi yang positif dalam menghadapi realitas kehidupan. Dari contoh di atas, misalnya, istilah banyak anak banyak rezeki menjadi tidak valid di perkotaan, karena bukan sektor agraris yang mendominasi, tetapi bidang-bidang pekerjaan yang profesional yang membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus.

Efisiensi sangat dibutuhkan dalam menghadapi realitas kehidupan, apalagi di wilayah perkotaan. Dalam pengelolaan penghasilan misalnya, masyarakat dituntut untuk mengatur kebutuhan konsumtif, tabungan, investasi, dan lain sebagainya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, mengonsumsi berbagai kebutuhan tersier untuk kepuasan belaka. Akhirnya harus mengali lubang dan menutup lubang setiap bulannya.

Hidup selalu penuh tantangan. Ketika manusia tidak lagi perlu berusaha, maka ia tidak mempunyai alas an untuk hidup. Begitu pula dengan krisis global, harus ada usaha yang penuh dengan optimisme disertai dengan efisiensi. Hanya itu yang dapat menolong hidup anda.

Natal, antara Perayaan dan Peringatan

Menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, banyak teman hampir selalu mengatakan, “Hari Natal dan Tahun Baru nanti mau liburan ke mana?” Setiap saya menjawab “akan berkumpul bersama keluarga di rumah”, pasti mereka kaget.

Reaksi ini mungkin mengambarkan pandangan saudara-saudara non-Kristen terhadap perayaan natal yang serba glamour dan mewah. Hal ini sebenarnya tidak mutlak benar karena sebenarnya latar sejarah kelahiran Yesus Kristus kontradiktif dengan peringatannya pada masa sekarang.

Sepanjang pengetahuan saya, Yesus Kristus lahir dalam keadaan yang tragis. Ketika itu, Israel dianeksasi Romawi, bayi laki-laki dibunuh karena Kaisar Agustus telah mendengar akan ada raja besar yang lahir. Lebih dari itu, Maria dituding mengadung di luar menikah karena hubungannya dengan Yusuf hanya sebatas tunangan. Apalagi kebijakan Kaisar Agustus untuk mendata semua penduduk semakin memberatkan beban Maria yang kala itu sedang hamil tua. Dalam suasana yang serba kalut itu, Maria dan Yusuf tidak dapat menemukan tempat penginapan yang layak, dan akhirnya hanya kandang domba yang tersisa untuk tempat ia bermalam dan bersamaan dengan itu Yesus pun lahir di tempat tersebut.

Natal sebagai Peringatan

Berkaca dari proses kelahiran Yesus Kristus, seharusnya umat Kristiani sekarang harus dapat memaknai Natal tersebut secara mendalam. Artinya, bukan kemewahan, penghambur-hamburan uang, dan segala hal yang glamour. Makna Natal yang sesungguhnya hanya dapat dirasakan manakala setiap orang Kristen mencoba mendekonstruksi proses kelahiran Yesus itu sendiri dan penderitaan Maria dan Yusuf. Bagaimana penderitaan Maria dan Yusuf yang harus berjalan jauh dalam kondisi hamil tua dan tidak ada satu orang pun yang mau menerima mereka di rumahnya, dan hanya satu orang yang akhirnya mempersilahkan mereka untuk menginap, itu pun di kandang domba. Anehnya, Yesus yang “dianggap” raja itu lahir di tempat yang tidak semestinya.

Kalaupun agak sulit untuk membayangkan proses kelahiran Yesus itu sendiri, dalam menghadapi Natal, seorang Kristen paling tidak harus mempunyai hati yang bersih untuk memperingati hari Natal ini. Harus ada niat tulus, misalnya, pergi ke gereja bukan semata-mata agenda tahunan, selain Hari Paskah, tetapi ada keinginan untuk menyambut Yesus sebagai juru selamat manusia.

Lebih indah rasanya apabila setiap orang Kristen dapat merayakan Natal dengan penuh kesederhanaan. Bukan dengan baju baru, pohon natal, hidangan yang mewah, dan lain sebagainya, tetapi sebuah kesahajaan dan tidak berpusat kepada spiritualitas. Hal ini bias diwujudkan, misalnya, dengan pergi ke suatu tempat yang sunyi, tanpa segala hal yang berlebihan, berdoa, merenung, dan merefleksikan diri tentang makna kelahiran Yesus itu sendiri. Dengan begitu, diharapkan kehangatan Natal akan lebih berarti dan berkesan bagi kehidupan umat manusia.

Natal sebagai Perayaan

Yesus merupakan suatu pribadi yang luar biasa. Dalam Alkitab diceritakan bahwa misi kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk mneghapuskan dosa manusia. Akan tetapi, seperti yang dikemukakan di atas, awal kehidupan kehidupannya selalu dilingkupi oleh penderitaan. Hal ini bahkan terjadi pada saat ia dewasa, bahkan sampai proses penyalibannya. Namun begitu, ia tetap menjadi pribadi yang sederhana, mau melayani, dan tidak mau menimpakan beban hidupnya kepada orang lain.

Walaupun dalam latar historis yang tidak mengenakkan, namun Yesus sendiri tidak ingin mengajak umatnya untuk merasakan penderitaannya dalam setiap peringatan kelahirannya. Sebaliknya, Natal menjadi perayaan, sebuah titik balik kehidupan manusia ketika sang mesias lahir ke dunia ini untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.

Itulah sebabnya, dalam setiap perayaan Natal, umat Kristiani selalu mengedepankan sukacita, selain damai, baik dalam kebaktian di gereja maupun segala kegiatan di luar gereja. Hal yang menjadi masalah adalah ketika makna sukacita ini diterjemahkan dengan cara menghambur-hamburkan uang, yang sebenarnya jauh tidak penting daripada memaknai natal dengan cara menebarkan sukacita natal itu melalui ucap kata, gerak-gerik, dan pikiran kepada seluruh umat manusia. Bukankah Yesus pernah mengatakan “Jadilah garam dan terang dunia”.

Perayaan Natal dengan penuh kesukacitaan merupakan makna Natal yang terindah. Akan tetapi hendaknya rasa sukacita ini tidak disalahartikan sehingga menciptakan streotip di lingkungan masyarakat non-Kristiani bahwa inti dari perayaan Natal itu harus serba mewah dan glamour. Hal ini bukan saja berpotensi menciptakan kesenjangan sosial di tengah masyarakat, tetapi juga telah mencederai makna Natal itu sendiri. Rayakan Natal dengan sukacita, yaitu dengan cara menebarkan benih kedamaian ke seluruh dunia.

Selamat Natal dan Tahun Baru. Jadikan Natal sebagai peringatan dan perayaan yang tidak mengedepankan unsure materi tetapi spritualitas sehingga pesan universal Natal dapat sampai dan diterima seluruh manusia di bumi ini.

Phobia Komunis, Mengapa Terjadi ?

Pada penghujung tahun 2008 ini, berbagai protes menentang bahaya laten komunis marak terjadi. Biang keladinya adalah pembuatan film Lestari, yang menurut sutradaranya adalah genre film percintaan yang mengambil latar tahun 1965. Berbagai demonstrasi terjadi di Solo, Bandung, Bogor, dan kota-kota lainnya. Para aktor yang mengatasnamakan rakyat ini muncul dari kalangan ormas sampai mahasiswa. Aparat keamanan yang pada awalnya mengizinkan pengambilan gambar ikut-ikutan terpengaruh, padahal aksi mendukung pengambilan gambar film Lestari bukannya tidak ada.

Pertanyaan besar yang perlu diungkapkan, meminjam istilah Orde Baru, adalah apakah bahaya laten Komunis menjadi masalah yang begitu esensial di tengah bertunasnya krisis global yang berdampak pada menurunya tingkat kesejateraan rakyat? Apakah permasalahan mengenai pangan, ekonomi, pendidikan, PHK, dan lain sebagainya kurang penting daripada potensi imajiner komunis yang harus dienyahkan terlebih dahulu dan menyampingkan berbagai persoalan nyata yang terjadi di masyarakat?

Phobia Komunis

Dalam konteks historis bangsa ini, komunis selalu ditempatkan sebagai kelompok pembangkang yang menjadi api dalam sekam perjalanan sejarah Indonesia. Historiografi gerakan komunis selalu dieksplanasikan secara tunggal. Sebelum kemerdekaan Indonesia, pemberontakan PKI 1926 dkonstruksikan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemberontakan yang masuk kategori berbahaya sehingga memengaruhi perkembangan politik pribumi, padahal PKI merupakan organisasi pertama yang secara teratur dapat melakukan gerakan subversif di berbagai daerah sekaligus untuk menentang kolonialisme Belanda. Memasuki periode kemerdekaan, Gerakan PKI 1948 dikatakan pemerintah melakukan makar dengan mendirikan Republik Soviet Indonesia di Madiun dan tindakan yang menusuk dari belakang karena terjadi berdekatan dengan Agresi Militer II. Padahal, berbagai saksi mengatakan bahwa gerakaan itu merupakan reaksi dari kebijakan Re-Ra Hatta yang mengakibatkan berbagai kesatuan militer daerah merasa tidak puas dan akhirnya memberontak. Puncaknya, Gerakan 30S 1965, yang dikatakan sebagai kristalisasi dari usaha PKI untuk mengubah ideologi Pancasila menjadi komunis. Dalam berbagai fakta yang tidak terungkap menunjukkan bahwa gerakan ini merupakan sentimen para perwira menengah yang kebetulan anggota dan simpatisan PKI terhadap para perwira tua yang duduk sebagai pucuk pimpinan PKI.

Gerakan 30S 1965 seolah menjadi dosa yang tidak termaafkan yang didakwakan kepada PKI tanpa pernah memperoleh hak untuk membela diri. Segera setelah itu, diadakan pembersihan di berbagai daerah bahkan sampai pelosok pedesaan untuk membersihkan para anggota dan simpatisan PKI. Tercatat lebih dari dua juta orang meninggal dan sisanya yang hidup mendapat sangsi sosial yang sangat tragis. Namun demikian, hal yang terpenting terjadi setelah itu. Orde Baru di bawah Soeharto kemudian menciptakan suatu ingatan yang melekat kuat dan mendarah daging melalui berbagai instrumen historis yang tampaknya cukup berhasil untuk menciptakan phobia komunis di tengah masyarakat awam negeri ini.

Dalam penelitian Katharine E. McGregor (2008), Ketika Sejarah Berseragam ; Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia, secara gamblang dijelaskan bagaimana Orde Baru melestarikan ingatan G30S 1965 sebagai bahaya laten. Berbagai instrumen artefak, sosiofak, dan meantifak kemudian diciptakan. Dari pembuatan historiografi tunggal yang dikomandoi oleh Nugroho Notosusanto, pembuatan berbagai museum, pembuatan Film, dan yang terpenting penanaman sikap phobia komunis melalui mata pelajaran PSPB dan Penataran P4 bagi pelajar.

Tampaknya usaha rezim Orde Baru ini cukup berhasil. Ketika isu komunis bukan lagi menjadi senjata yang ampuh untuk menciptakan keamanan negara, dan Orde Baru mulai mendekati Islam, yang termasuk kelompok yang dikalahkan, sampai runtuhnya rezim ini pada Mei 1998, toh mentalitas bangsa ini untuk menerima komunis tak kunjung datang.

Dosa yang Tak Termaafkan

Ketika Gus Dur menjadi presiden dan mulai mengagas usaha rekonsiliasi kembali bangsa ini, termasuk merangkul orang-orang komunis dukungan datang dari berbagai pihak. Salah satu usaha yang pantas dipuji adalah inisiatif Gerakan Pemuda Ansor, yang termasuk kelompok yang ikut melakukan pembantaian terhadapa anggota dan simpatisan komunis, atas inisiatifnya untuk melakukan konsolidasi, bahkan meminta maaf akan kekhilafan mereka. Namun demikian, usaha yang dirintis ini tidak dilanjutkan bahkan dipetieskan pada masa pemerintahan Megawati. Hal ini bukan saja terlihat pada dibekukannya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), tetapi juga pembakaran buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI dalam Gerakan 30 S.

Usaha Orde Baru tampaknya berhasil untuk membutakan masyarakat awam. Usaha untuk merangkul kaum yang termaginalkan menyurut kembali, namun tidak boleh berhenti. Setahap demi setahap, seiring dengan perubahan dalam masyarakat, usaha tersebut harus disemai, dipupuk, dan mudah-mudahan dapat dipanen dikemudian hari. Semoga dosa sejarah tidak menjadikan suatu kelompok masyarakat menjadi liyan di bumi Indonesia ini.

Bangkitnya Feodalisme di Indonesia

Sejarawan Prof. Dr. Djoko Suryo, dalam sebuah kesempatan di salah satu acara televisi mengatakan, “Dulu seorang sultan memang memiliki kekuatan politik untuk mengatur kesultanannya, tetapi sekarang seorang sultan sekarang sekarang adalah pemimpin kultural bukan politis. Akan tetapi, kontras sekali peryataan ini apabila kita menyaksikan pula kesediaan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu 2009.

Pertanda apakah ini? Ketika seorang pemimpin tradisional kharismatis di mata masyarakat Yogjakarta dan menjadi simbol eksistensi budaya Jawa yang telah merintis karier politiknya dan sekarang memutuskan untuk mengajukan diri menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Sikap Politik

Bila kita runut sedikit ke belakang, ada sebuah kenyataan yang muncul bahwa hampir sebagian besar kerajaan yang dibiarkan hidup oleh Pemerintah Kolonial Belanda adalah sekutu para penjajah itu sendiri. Sikap politik mereka menunjukkan bahwa keturunan Raja Mataram ini termasuk golongan oportunis. Ketika pemerintah kolonial Belanda mulai mengambilalih kekuasaan di seluruh Pulau Jawa, kesultanan ini memilih untuk bekerjasama dengan masyarakat demi kemapanan hidup mereka dan mengorbankan penderitaan masyarakat pada saat itu. Keberlangsungan otoritas politik dan kepentingan ekonomi menjadi alasan utama mereka untuk memilih hal tersebut.

Pun ketika Kolonialisme Belanda runtuh, sikap politik Mataram berubah lagi. Ada sebuah asumsi yang berkembang, bahwa Mataram berusaha menarik simpati elit politik pada saat itu. Kesempatan itu menjadi terbuka ketika Jakarta dirasakan tidak menjadi tempat yang aman bagi elit politik Indonesia pada saat itu. Melihat kenyataan tersebut, lalu sultan menyediakan diri menampung mereka di Kota Jogjakarta. Pamor sultan yang sempat menyurut kemudian kembali merekah terutama setelah terlibat dalam berbagai pertempuran. Dalam berbagai pertempuran misalnya, Agresi Militer Belanda I dan II, serta Serangan Umum 1 Maret, sultan dianggap orang sipil yang mempunyai kewenangan hampir sama dengan pemimpin tertinggi pada saat itu, Sudirman.

Selama periode Orde Lama, sultan dikesankan sebagai sosok yang loyal terhadap Soekarno. Ia dipandang sebagai orang yang sangat dekat dengan presiden pertama RI ini. Namun demikian, ketika Sokarno jatuh, akibat isu komunis, toh oportunisme sultan muncul kembali dengan dalih menyelamatkan kesultanannya. Ia pun kemudian bertransformasi menjadi bagian dari Orde Baru. Jalan yang diplomatis membuatnya tidak menjadi sasaran pendukung Soekarnoisme dan bahkan sebaliknya ia menjadi pendudukung pemerintah dengan memasuki Golkar sebagai wadah politiknya yang baru.

Soeharto runtuh, reformasi bangkit, sultan memikirkan strategi yang baru lagi. Setelah berusaha mengesankan sebagai pemimpin yang bijaksana di Yogjakarta. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia tidak puas hanya menjadi Gubernur Propinsi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY), suatu daerah yang memang diistimewakan karena kesultanannya itu. Gelagat ini mulai terlihat ketika ia tidak bersedia lagi dicalonkan menjadi Gubernur DIY, tetapi sangat berhasarat untuk menjadi presiden. Berbagai desakan kemudian memaksanya untuk mengungkapkan isi hatinya yang terpendam itu. Dalam sebuah upacara yang cukup megah, sultan dengan hormat mengumumkan dirinya akan maju sebagai calon presiden di Pemilu 2009 mendatang.

Fungsi Politik vs Fungsi Budaya

Melihat kecendrungan seperti itu, urgensi mempertahankan Jogjakarta sebagai pusat budaya Jawa denga Keraton sebagai simbolnya patut dipertanyakan kembali. Sultan yang dipandang sebagain besar masyarakat sebagai tokoh Raja-Dewa sebenarnya hanya mempunyai fungsi sebagai pemimpin kebudayaan Jawa. Namun demikian, ambisinya ternyata tidak terbatas pada titik itu. Ia ingin membangkitkan kembali kesultanan yang dipimpinnya melalui jalur eksekutif. Sikap ini sebenarnya sangat prematur karena lebih berpotensi menghasilkan berbagai hal yang negatif.

Setidaknya ada dua hal yang perlu digarisbawahi dalam tulisan ini. Pertama, berseminya kembali feodalisme. Dalam sejarah bangsa ini, feodalisme merupakan bentuk penghisapan yang dibungkus oleh nila kultural dalam bentuk konsep patron-klien, raja berkewajiban melindungi rakyat, sedangkan rakyat berkewajiban melayani raja. Dalam aplikasi yang lebih moderen, feodalime belum sepenuhnya hilang di negara ini. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana Soeharto menerjemahkan kapitalisme barat dalam bentuk feodalime moderen Jawa yang sangat menyengsarakan rakyat. Pertanyaannya sekarang apakah feodalisme yang sedang mengalami proses pengikisan mau diterima lagi dalam wujud feodalisme gaya baru? Apakah masyarakat bersedia menanggung konsekuensi dari praktek feodalisme tersebut?

Kedua, dalam kepentingan mempertahankan budaya Jawa, saya pikir bukan suatu kebijakan yang bijaksana apabila sultan sebaga seorang pemimpin budaya Jawa tertinggi meninggalkan wewnangnya hanya untuk mendapatkan gengsi politik yang telah terkubur. Menurut saya, budaya Jawa lebih penting untuk dipertahankan, karena memang telah mengalami perubahan ke arah yang negatif sehingga jati diri Jawa semakin terkikis dan berpotensi akan menghasilkan generasi penerus yang tanpa budaya dikemudian hari.

Manusia memang mahluk politik. Artinya, ia akan selalu haus untuk memenuhi kepentingannya dalam menguasai sesuatu. Akan tetapi kepentingan politiknya itu tidak kaku, melainkan dapat diatur sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan keluaran yang lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang di sekitarnya.

Sejarah Total ?

Dalam tradisi penulisan sejarah dunia, saya menyukai Moliere, seorang borjuis, yang berbicara tentang objek sejarah tanpa mengetahuinya. Setelah sering membaca karya Marshall G.S. Hodgson, Alfred Crosby, André Gunder, dan Immanuel Wallerstein, saya menjadi sadar tentang kenyataan bahwa, seperti M. Jourdain, saya telah menghormati mempelajari sejarah tanpa tahu apa itu. Saya percaya bahwa hal berpotensi menjadi hal yang penting bagi siapa saja yang ingin menulis sejarah Kuba, sejak pemusatan perspektif dari nasional-lokal tidak saja membuktikan sebuah kebutuhan akan metodologi, tetapi sebuah tafisiran umum premis dalam hubungannya untuk mencatat banyak kejadian­­­—yang disebut sejarah nasional. Bagaimana sebuah sejarah pertumbuhan ekonomi, dimensi yang multinasional dari revolusi kemerdekaan (1868-1898), serangan dari modal asing di pulau ini antara tahun 1898-1920, pembangunan kapitalis, dan revolusi sosial tanpa memulainya dari pandangan dunia? Bagaimana menceritakan sejarah Kuba tanpa menggunakan catatan tentang peran serta tentara Kuba dalam revolusi Amerika Utara atau kehadiran orang Kuba dalam Perang Sipil Spanyol ; tanpa pengetahuan tentang aneksasi Havana oleh Inggris (1762) atau krisis misil (1962) ? Bagaimana menceritakan Sejarah Kuba tanpa sebuah catatan tanpa melibatkan gerakan komunis di Amerika Latin dan Kepulauan Karibiasebelum tahun 1959, tanpa pengetahuan tentang agama Afrika-Kuba dan pengaruh ritme musik Kuba di seluruh dunia. Atau, dalam contoh kasus, bagaimana memberikan sebuah penjelasan tentang peningkatan konflik antara Kuba dan Amerika Serikat tanpa menujukkan gerakan gerelia di Kongo, Bolivia, Venezuela, atau Republik Dominika, perang di barat daya Afrika, atau aliansi dengan USSR? Apakah Che Guevara dan Fidel Castro hanya menjadi tokoh sejarah lokal? Dengan kata lain, sangat tidak mungkin membahas Sejarah Kuba tanpa perspektif sejarah dunia.

Tidak pernah terjadi, terutama di kalangan sarjana, baik bidang migrasi, keamanan internasional, dan kebijakan luar negeri Amerika Utara atau Sosialisme mengklaim hal yang samapaling tidak menurut pengalaman saya dalam menyelidiki topik ini. Nyatanya, dalam tujuan untuk mendeskripsikan pengalaman saya, akan lebih mudah bagi saya untuk melakukan dan merancang riset dalam pengertian narasi bagaimana saya membangun interpretasi. Sebelumnya, saya akan memperkenalkan diri saya lebih jauh dalam rangka memahami sebuah proses perolehan budaya. Saya belajar di Sastra dan Filsafat Perancis pada Universitas Havana pada tahun 1960-an, dan kemudian Ilmu Politik dan Masalah-masalah Amerika Latin di Mexico pada pertengahan tahun 1970-an. Saya mencari berbagai permasalahan orang Kuba­­­­­­untuk itu saya belajar di Amerika Serikat. Saya sekarang merasa membangun pemahaman tentang konflik antara Kuba dan tetangga-tetangganya di utara dalam rangka mencari penjelasan untuk para mahasiswa dari Columbia University dan University of Nehru, kepada kadet muda di Royal Canadian Institute of Kingston, para peneliti di United Services Institution of India, melalui penjelasan dari Andrei Gromyko dan Sergo Miyokan di Moskow, kesempatan berdiskusi dengan Robert MacNamara dan Arthur Schlesinger di sebuah pantai di Antigua, dan menguji itu semua kepada anggota dari Central Committee of the Hungarian Socialist Workers’ Party pada saat Perang Dingin. Saya tidak dapat menilai peran Kuba di Amerika sebelum seorang pekerja Guniea di Hetahrow Airport di London memberikan argumentasi kepada saya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana pentingnya peran dalam pandangan Karibia terhadap Kuba sebelum saya menghabiskan waktu selama tiga jam dalam sebuah acara radio di North American Virgin Island of Saint Croix. Saya mengakui bahwa tidak akan dapat mengerti peran signifikan Fidel Castro sebelum saya bertemu sebuah kelompok pemuda di Chandigarh, di daerah Punjab.

Pengalaman-pengalaman itu menolong saya untuk membentuk pemahaman saya tentang konflik, yang dengan kata lain, mereka membantu saya untuk membentuk konstruksi logis dari analisis yang menampakkan konflik tersebut menurut sebuah rasio yang tidak memihak Kuba ataupun Amerika Utara. Mereka juga membawa saya menuju batas rasional yang ketat dari geopolitik yang konsisten dengan ide realisme barat. Hal ini tidak saja karena skenario penyebaran geografis, mengarisbawahi yang di atas, yang membuka sisi historis dari sebuah konflik, yang disebabkan ketrlibatan beberapa aktor dari dunia internasional, yang menyebabkan pula mendalamnya fokus yang disebabkan oleh pertimbangan permasalah dunia.

Pertanyaan dari fokus tersebut memainnkan sebuah peran penting dalam kemajuan studi saya— dan juga kelanjutannya. Penerapan Ilmu Sosial sebagai sebuah latihan teknis— sama seperti seorang insinyur yang membangun jembatan— bukan merupakan suatu yang menarik. Kebanyakan dapat mempelajari konstruksi jembatan itu dengan sangat baik. Apa yang sesungguhnya sangat menarik dari Ilmu Sosial, atau tentang ilmu pengetahuan secara umum, adalah pada momen seseorang dapat mempercayai apa yang kita dapatkan melebihi pengetahuan umum yang telah ada— dengan kata lain, bentuk pembelajaran— dari pengamatan tentang suatu fenomena.. Saya mengimplementasikan bahwa awal mula pemahaman saya tentang aspek-aspek pokok dari Negara Kuba adalah ketika setelah mengunjungi Desa Tzotzil dan Tzeltal di Gunung Chiapas dan berbicara dengan para kepada dari Lacandones lima puluh tahun sebelum kemunculan Zapatista. Bagi masyarakat Kuba, sangat tidak mungkin untuk mengalami keadaa masyarakat pribumi—pemisahan yang berakar dengan budaya lain, negara lain, pemikiran lain. (secara paradoks, orang Kuba dipandang sebagai negara Barat yang tunggal dibandingkan Negara Amerika Latin lainnya dan beberapa orang-orang Eropa_. Kesempatan untuk berpikir tentang Negara Kuba dari perspektif budaya lain membuktikan sesuatu yang mendesak bagi saya. Tanpa pengetahuan ini, saya tidak akan pernah dapat membangun sebuah perspektif kultural dari relasi antara Kuba dan Maerika Serikat. Sebuah pemahaman dari apa yang memisahkan kita membutuhkan pengetahuan tentang apa yang mengikat kita bersama.

Selama beberapa dekade terdahulu, beberapa golongan postmodernis merumuskan akhir dari nasionalisme, yang malahan menguji hal tersebut sebagai sebuah eksponen dari persamaan global. Dikotomi ini dihasilkan dalam debat di Bizantium. Mengantikan pendekatan negara provinsial denga sebuah paham Utarasentris global yang memfokuskan tidak membawa kita menjadi sangat dekat. Sekarang, hal ini cukup tegas menuntut dominasi Utarasentris dari sejarah (dan segala hal yang berhubungan dengan itu). Atau, ini dirasakan baik untuk menekan bagian dan mengombinasikan kategori-kategori dalam analisis, tidak saja mereinterpertasi sejarah dunia dari sebuah perspektif selatan, tetapi juga sebuah perspektif historisasi ulang budaya dari utara? Saya tidak hanya menunjukkan pada segi sosial atau sejarah kebudayaan, sebuah sejarah kelompok sublatern, atau sebuah “masyarakat tanpa sejarah”, yang dengan itu sesuai dengan istilah sejarawan Kuba Juan Pérez de la Riva. Berkaca dari makna Ilmu Sosial— bukan saja Sejarah— yang memfokuskan dekade terakhir dan pertengahan. Saya tidak mengetahui banyak pendekatan lainnya yang menuju indentifikasi objek-objek dunia— sebagai penanda dari akumulasi kapital, pasar dunia, masyarakat transisi, dan mobilitas manusia, dan penyebaran ideologi dan teknologi.

Saya berbicara tentang sejarah total. Penggunaan istilah ini dilakukan dengan hati-hati, karena sejauh pengetahuan saya tidak ada sebuah kata yang memaknai fenomena ini: sebuah jenis pengertian yang merekonstruksi secara kritis represtasi historis menggunakan tanda-tanda budaya yang memperbaiki banyak makna, baik sinkronis dan diakronis. Saya berbicara tentang kemampuan sejarah mengintegrasikan narasi dari yang mengalahkan dan menaklukkan analisis diskursus yang termasuk perbedaan yang pantas, religius, dan nilai politik. Saya berbicara tentang sebuah sejarah yang terintegrasi dalam rasa kebebasan dan keadilan ; pencitraan waktu, manusia, setelah hidup, dan semua itu, dari makna peristiwa dalam pertanyaan ke masing-masing masyarakat yang berbeda. Seseorang tidak harus pergi ke China dan India dalam orientasi untuk merekonstruksi fokus tipe dalam istilah historis yang signifikan.

Akhirnya, sebuah sejarah total dapat secara tidak terbatas untuk pengabungan sumber-sumber dan weltanschauung antropologi dan sosial psikologi— dari pandangan subjektif dari satu kelompok atau suatu tradisi sosio-kultural. Secara alami, ini akan menjadi mungkin untuk mengeksplorasi informasi dari pengetahuan tradisional dan pengalaman kolektif, dari mitos dan konstruksi kultural dari kelompok masyarakat. Satu hal yang perlu dialakukan, seperti apa yang Marvin Harris lakukan ketika ia memulai studi tentang masyarakat Amerika dengan menggunakan penemuan instrumen intelektual dalam tujuan untuk mempelajari komunitas primitif. Immanuel Wallenstein mengatakan tentang sebuah “sosiologi sejarah” atau “sejarah yang bersifat sosiologi”. Bagi saya, rekonstruksi epistemologi mendekati antar atau transdisiplin, ini menjadi mungkin untuk mendefinisikan ulang pengetahuan akademik, mengubah kebiasaan lama, dan penggunaan disiplin yang tepat, tidak dengan melempar mereka keluar, tetap dengan sejarah yang kritis. Sebuah perspektif dunia dapat membuktikan strategi yang jika kita mengerti jalannya—dan tidak berdasarkan asumsi dari pandangan kedaerahan atau aggregate kelas dari pengetahuan

Pada catatan awal, saya mengakui tindakan yang tidak pantas pada saat pemenuhan atas permintaan dari analisis analisis kritis yang kurang dalam sejarah dunia. Saya berpikir dalam lingkup yang umum, Ilmu Sosial memiliki banyak pertimbangan dalam tujuan untuk mencapai sebuah pandangan dunia. Beberapa minggu yang lalu, seorang Profesor Ilmu Politik di India utara menanyakan kepada saya apa yang mendominasi agama kaum elit Kuba dan bagaimana banyaknya bahasa yang berbeda yang digunakan di Negara saya. Penyususnan jawaban sesuai prediksi pertanyaan kalangan Barat (seperti “ Apa yang terjadi ketika Fidel Castro menghilang?). Saya menemukan dalam diri saya sendiri kebingungan dalam beberapa detik. Dari poin itu, saya memulai untuk memepercayai bahwa hal ini akan menjadi dapat menjadi sebuah skandal dari seorang Kuba ynag tidak tahu banyak tentang Indoa, China, dan semua negara kaya yang mengubah dunia yang sebenarnya— sebuah dunia yang perspektifnya kita gunakan untuk mengadopsi dari sejarah untuk kemunculannya.

Diterjemahkan dari Rafael Hernández, A Total History?, Radical History Review Issue 91 (Winter 2005): 94–97.

Unsur Konflik dalam Agama-agama Besar di Dunia

Bagi sebagian besar orang, agama seringkali dipandang sebagai media penghubung antara Tuhan dan manusia. Ia memiliki suatu perangkat hukum tertentu yang diklaim berasal dari Tuhan dan berfungsi untuk mengatur hidup manusia untuk bertaqwa kepadanya, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Akan tetapi, hampir tidak pernah orang berpikir apakah agama itu diciptakan Tuhan atau manusia itu sendiri? Memang, dapat diterima sebuah asumsi bahwa agama diciptakan untuk menertibkan pemeluknya dalam kehidupan spiritual masyarakat. Agama melalui pemimpin spiritualnya berusaha menafsirkan ajaran-ajaran Tuhan untuk kepentingan pemeluknya. Namun apakah tidak ada orientasi subjektif dalam penciptaan lembaga agama ini? Pada kenyataanya, agama bukan saja menunjukkan fungsi positif, tetapi juga menunjukkan adanya ekses-ekses negatif, yang tentunya dipengaruhi oleh orientasi subjektif dari manusia yang menjadi pencipta agama tersebut.

Sumber Konflik

Dalam perjalannya sejarah, sejak kepercayaan animisme dan dinamisme sampai monotheisme menjadi agama yang paling banyak dianut di muka bumi ini agama hampir selalu menciptakan perpecahan. Sebagai contoh, dalam agama India, khususnya Hindu-Budha, agama yang dibawa Sidharta Gautama ini merupakan rekasi dari ekses negative yang di bawa oleh agama Hindu. Walaupun agama Budha disebarkan dengan damai namun dapat dengan jelas terlihat bahwa masalah pembagian kasta dalam bingkai caturvarna menjadi masalah utama. Pada awalnya memang pembagian kasta ini merupakan spesialisasi pekerjaan, ada yang menjadi pemimpin agama, penguasa dan prajurit, dan rakyat biasa. Namun, dalam perjalannya terjadi penghisapan terutama dari pemimpin agama, prajurit, dan penguasa terhadap rakyat jelata. Implementasi yang salah dari caturvarna inilah yang diprotes dengan halus oleh Budha yang pada awalnya tidak menyebut diri mereka sebagai agama, tetapi berfungsi menebarkan cinta kasih terhadap sesama mahluk hidup, bukan saja manusia, tetapi juga hewan, dan tumbuhan. Sebagai reaksi dari meluasnya pengaruh Budha, Otoritas Hindu kemudian mengadakan pembersihan terhadap pengaruh Budha ini. Namun demikian, karena ajaran Budha lebih bersifat egaliter, usaha otoritas hindu ini menemui jalan buntu, bahkan agama Bundha sendiri dapat berkembang jauh lebih pesat dari pada agama Hindu, dan mendapat banyak pemeluk di Negara Tiongkok di kemudian hari.

Selain itu unsur konflik yang terbesar terjadi pula pada pengikut agama terbesar di dunia yaitu Abraham Religions, atau agama yang diturungkan oleh Abraham, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Tulisan ini hanya membatasi pada penggambaran konflik di antara ketiga agama tersebut, bukan pada konflik intern dalam masing-masing agama tersebut. Inti dari agama-agama Abraham ini adalah akan datang nabi terakhir yang akan menyelamatkan dunia ini. Hal yang menjadi masalah utama adalah tidak ada kesepakatan diantara ketiga agama tersebut tentang siapa nabi yang akan datang tersebut. Pihak Yahudi menyatakan belum datang nabi terakhir itu, sedangkan pihak Nasrani mengatakan Nabi Isa (Yesus Kristus) adalah nabi terakhir, lalu Islam mengklaim Nabi Muhhamad sebagai nabi terakhir. Keadaan ini kemudian semakin diperparah ketika tidak ada pengakuan dari masing-masing agam yang masih bersaudara tersebut. Ketika berbagai unsure non-theologis, khususnya politik, ekonomi, dan budaya, menyusup ke dalam masalah ini, konflik memang tidak dapat dielakkan. Berbagai konflik diantara agama-agama ini akan dipaparkan secara khusus.

Pertama, konflik antara Yahudi dan Nasrani. Walaupun sumber konflik ini didasarkan atas kitab suci namun justru unsur dogmatis agama ini sangat mendukung pengambaran konflik yang terjadi. Menurut versi Yahudi, Nasrani adalah agama yang sesat karena menganggap Yesus sebagai mesias (juru selamat). Dalam pandangan Yahudi sendiri Yesus adalah penista agama yang paling berbahaya karena menganggap dirinya adalah anak Allah, sampai akhirnya otoritas Yahudi sendiri menghukum mati Yesus dengan cara disalibkan, sebuah jenis hukuman bagi penjahat kelas kakap pada waktu itu. Sedangkan menurut pandangan Kristen, umat Yahudi adalah umat pilihan Allah yang justru menghianati Allah itu sendiri. Untuk itu Yesus datang ke dunia demi menyelamatkan umat tersebut dari murka Allah. Dalam beberapa kesempatan, misalnya, ketika Yesus mengamuk di bait Allah karena dipakai sebagai tempat berjualan, atau dalam kasus lain yaitu penolakan orang Israel terhadap ajaran Yesus.

Kedua, konflik Islam-Kristen. Konflik ini pada awalnya diilhami oleh kepercayaan bahwa Islam memandang Nasrani sebagai agama kafir karena mempercayai Yesus sebagai anak Allah, padahal dalam ajaran Islam Nabi Isa (Yesus) merupakan nabi biasa yang pamornya kalah dari nabi utama mereka Muhammad S.A.W. Konflik ini pada awalnya hanya pada tataran kepercayaan saja, namun ketika unsur politis, ekonomi, dan budaya masuk, maka konflik yang bermuara pada pecahnya Perang Salib selama beberapa abad menegaskan rivalitas Islam-Kristen sampai sekarang. Konflik itu sendiri muncul ketika Agama Kristen dan Islam mencapai puncak kejayaannya berusaha menunjukkan dominasinya. Ketika itu Islam yang berusaha meluaskan pengaruhnya ke Eropa, mendapat tantangan dari Nasrani yang terlebih dahulu ada dan telah mapan. Puncak pertempuran itu sebenarnya terjadi ketika perebutan Kota Suci Jerusalem yang akhirnya dimenangkan tentara salib. Sebagai balasan, Islam kemudian berhasil merebut Konstatinopel yang merupakan poros dagang Eropa-Asia pada saat itu.

Ketiga, konflik antara Yahudi-Islam yang masih hangat dalam ingatan kita. Konflik ini berawal dari kepercayaan orang Yahudi akan tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka yang dipercayai terletak di daerah Israel, termasuk Yerusalem, sekarang. Pasca perbudakan Mesir, ketika orang Yahudi melakukan eksodus ke Mesir namun kemudian malah diperbudak sampai akhirnya diselamatkan oleh Musa, orang Yahudi kemudian kembali ke tanah mereka yang lama, yaitu Israel. Akan tetapi, pada saat itu orang Arab telah bermukim di daerah itu. Didasarkan atas kepercayaan itu, kemudian orang Yahudi mulai mengusir Orang Arab yang beragama Islam itu. Inilah sebenarnya yang menjadi akar konflik Israel dan Palestina dalam rangka memperebutkan Jerusalem. Konflik ini semakin panas ketika unsure politis mulai masuk. Israel yang dibentengi oleh AS kemudian menganiaya Palestina yang kedudukannya sangat lemah dan hanya mendapat dukungan moral dari negara-negara Islam. Walaupun beberapa jalan damai berusaha dicapai namun konflik ini belum dapat diakhiri.

Ketika agama telah dimanfaatkan sebagian orang demi kepentingan di luar ranah theologis, apakah kita masih memercayai agama. Ataukah kita dapat bertaqwa kepada Tuhan tanpa media agama? Bertuhan Tanpa Agama jauh lebih baik daripa menggunakan agama untuk kepentingan tertentu.

Cerita Tentang Tempe

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang bersantap di kota Medan saya menemukan kejanggalan dalam hidup saya. Malam itu di suatu restoran Sunda yang cukup ramai dikunjungi keluarga saya dan keluarga adik bapak saya yang paling bungsu bersantap bersama. Lalu kami memesan, ada yang memesan ayam, ikan, sate, dan lain sebagainya, tetapi tidak seperti biasanya tidak ada yang memesan tempe.

Bagi sebagian besar orang, kacang kedelai merupakan sumber protein vital, yang dapat mengantikan daging ataupun ikan sebagai sumber protein utama bagi manusia. Kacang kedelai dipandang sebagai sumber protein murah yang dapat dijangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam catatan historis bangsa ini, berbagai olahan kacang kedelai, terutama tahu dan tempe, merupakan lauk-pauk yang dapat dijangkau di tengah-tengah kemiskinan masyarakat pada saat itu. Pun begitu pada zaman Soekarno. Walupun Soekarno pernah mengkritik bangsa Indonesia mempunyai mental tempe, bukan berarti tempe tidak lagi menjadi makanan populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pada masa Orde Baru, ketenaran tempe mencapai puncaknya, sehingga kurang lengkap rasanya jika setiap bersantap tidak ada makanan yang diolah dari tempe di atas meja makan.

Kini, tempe menjadi makanan yang keberadaannya terancam absen di atas meja makan. Seperti tahu, yang sudah dipatenkan oleh Jepang, tempe pun rencannya akan dipatenkan oleh Negara lainnya. Sehingga jika ingin memproduksi tempe, maka harus ada lisensi dari negara yang akan mematenkan tempe tersebut. Memang produksi tempe di dalam negeri tidak dapat dilepaskan dari luar negeri. Hal ini dikarenakan bahan baku pembuat tempe, yaitu kacang kedelai, adalah hasil impor dari luar negeri. Produksi kacang kedelai dalam negeri tidak dapat menciptakan tempe yang baik.

Orang Batak Tidak Suka Tempe

Di tengah kekhawatiran untuk mengkonsumsi protein nabati yang murah, beberapa kalangan tampaknya tidak mempunyai masalah berkaitan dengan masalah yang disebut di atas. Ada sebagian kalangan yang memang tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi tempe, sedangkan sebagian yang lain memandang tempe sebagai makanan kelas rendah. Orang Batak adalah kalangan yang menganut dua alasan di atas. Di dalam budaya masakannya, memang tidak pernah ditemukan adanya makanan olahan dari kacang kedelai ini. Seperti yang diketahui, orang Batak adalah salah satu suku yang menjadikan ikan dan daging sebagai sumber protein utamanya. Ketika seorang migran Batak datang ke pulau Jawa dan mereka disuguhi tempe, mereka akan bertanya makanan apa ini? Setelah mereka tahu itu tempe saya jamin mereka tidak akan menyentuhnya.

Menurut pengalaman saya ada beberapa contoh yang dapat saya tarik ke permukaan berkaitan dengan ketidaksukaan orang Batak terhadap makanan yang bernama tempe. Pertama, seringkali ketika saudara saya datang dari Tanah Batak dan mereka diajak makan di suatu restoran Sunda, mereka agak tersendat menyantap masakan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tempe. Mungkin, kebiasaan memakan daging yang empuk membuat lidah mereka terasa aneh ketika memakan sebongkah kacang kedelai yang dipadatkan. Sebaliknya, apabila saya mengajak mereka makan di Restoran Tionghoa, selera makan mereka meningkat berkali-kali lipat, atau kembali ke tabiat aslinya. Kedua, saya mengenal beberap orang migrant Batak yang telah berpuluh-puluh tahun hidup di Jawa, namun tidak tertular sama sekali untuk menyentuh tempe setiap kali bersantap. Padahal di atas meja makan tersebut hampir setiap hari tersedia tempe yang menurut saya dimasak cukup variatif, namun tidak pernah terbesit sekalipun apalagi mewujudkannya untuk menyantap tempe tersebut.

Bagi saya, seorang Batak yang lahir di tana perantauan Jawa, tampaknya keenganan untuk mengonsumsi tempe telah luntur. Hampir setiap hari saya mengonsumsi tempe. Bahkan ketika masih kuliah, menu makanan saya, baik siang dan malam, tidak akan pernah lepas dari kelezatan tempe. Memang, ada perbedaan antara orang Batak yang lahir di Tanah Batak dan tanah perantauan. Ketika bersantap di rumah pun, tempe telah menjadi bagian integral dari menu hidangan saya.

Pertanyaan yang perlu dimunculkan adalah mengapa orang Batak tidak menyukai tempe. Pertama, hal yang perlu dijelaskan disini adalah orang Batak hampir tidak mengenal makana olahan dari kacang kedelai ini. Jadi tradisi bersantap mereka tidak mengenal tempe sebagai sumber protein. Hal ini telah saya buktikan dalam beberapa kesempatan pulang kampung ke Tanah Batak. Menurut pengalaman saya tidak pernah dalam satu kesempatan bersantap ada makanan yang bernaman tempe. Satu-satunya makanan olahan kacang kedelai yang sering dihidangkan adalah taucho, itupun hanya sebagai campuran dalam sayuran jenis tertentu. Kedua, mereka memandang rendah tempe sebagai makanan para kuli kontrak Jawa yang datang ke Sumatera Timur. Seperti yang telah diketahui, pada saat pemerintah kolonial membuka perkebunan di Sumatera Timur, para kuli kontrak yang didatangkan sebagian besar dari pulau Jawa. Menurut perkiraan saya, kebiasaan makan tempe pun di bawa ke daerah sumatera Timur tersebut. Ketika dua etnis yang berbeda kebudayaan ini bertemu, orang Batak melihat kebiasaan orang Jawa untuk menyatap tempe, baik sebagai lauk pauk utama maupun pendamping, porses untuk memarginalisasi tempe dimulai. Pada saat itu memang orang Jawa merupakan kelompok masyarakat paling dasar, walaupun dari segi jumlah mereka cukup besar, sedangkan orang Batak termasuk golongan menengah ke atas yang walaupun jumlahnya tidak banyak namun kedudukannya cukup signifikan. Pada saat itu timbullah pemikiran bahwa masa makanan saya sama dengan para kuli kontrak itu. Ketika mereka pulang kampung ke Tanah Batak, mereka menceritakan kepada sanak keluarganya dan kemudian meluas ke seluruh kampung, antar kampung dan Tanah Batak secara keseluruhan bahwa konotasi tempe adalah masakan kelas bawah. Pakem inilah yang berhasil dipertahankan dan diwariskan hampir ke setiap orang yang lahir dan besar di Tanah Batak. Ketiga, menurut saya, sumber protein orang Batak yang utama adalah daging (baik ikan, sapi, babi, dan ayam) yang memeiliki tekstur yang lembut, berlemak dan basah. Ketika orang Batak menemukan tempe dengan tekstur yang kasar, berbutir-butir, dan kering, mereka memutuskan untuk tidak memakannya.

Mudah-mudahan penjelasan saya mengenai asal-usul orang Batak tidak gemar makan tempe, sesuai dengan perintah eyang Soeharto, dapat diterima dan tidak menyakitkan berbagai pihak yang membacanya.