Druze Faith

Duze atau Druse/Drus, Derzi / Durzi dalam bahasa Arab ,Druzim dalam bahasa Ibrani adalah suatu komunitas masyarakat yang mempunyai kepercayaan berbeda yang berakar dari Timur Tengah. Druze berasal dari nama pendirinya yaitu Muhammad Ad-Darazi. Mereka menyebut diri mereka yaitu Muwahhidun yang berarti masyarakat yang mempercayai satu Tuhan (monotheis). Sebagian besar komunitas ini terdapat di Lebanon, tetapi ada pula yang tinggal di Israel, Syria, dan Jordan. Sedangkan yang tinggal di luar Timur Tengah berdomisili di Amerika Serikat, Kanada, Amerika Latin, Afrika Barat, Australia, Austria, dan Eropa. Kebanyakan pengikutnya berasal dari etnis Arab, akan tetapi ada juga pengikutnya yang bukan berasal dari etnis Arab seperti pengiktunya yang berasal dari Israel. Dalam kehidupan sosialnya, mereka tidak menunjukan perbedaan lahirliah dengan masyarakat yang lain, tetapi dalam kehidupan rohaniah mereka menutup diri mereka dengan komunitas lain. Berdasarkan perhitungan pada tahun 1987, pengikut agama ini berjumlah setenga juta sampai satu juta jiwa dengan rincian :

  • Lebanon: 325,000.
  • Syria: 245,000.
  • Jordan: 10,000.
  • Palestine: 65,000.
  • Negara Arab lainnya : 40,000.
  • Negara non- Arab : 70,000.
  • Total: 755,000.

Sejarah Perkembangan Agama Druze

Agama Druze adalah bagian dari Ismaili, sebuah gerakan filsafat-keagamaan yang didirikan oleh kekhalifahan Fatimiah di Mesir pada abad kesepuluh. Baru Pada masa pemerintahan Al Hakim (996-1021) Druze menjadi suatu kepercayaan yang merupakan campuran dari agama Islam, Filsafat Yunani ,dan agama Hindu. Usaha menarikpenganut-penganut baru menyebabkan agama ini sejak tahun 1050 komunitas ini tertutup bagi komunitas lainnya.

Komunitas Druze berada di selatan Lebanon dan di utara Israel. Setelah penaklukan Ottoman ke Syria (1516), komunitas Druze berpindah daerah perbukitan di dekat Allepo dan Sultan Selim I memberikan kekuasaan kepada Fakhr al-Din ( Pemimpin keagamaan Druze) dengan kekuasaan lokalnya. Konflik kemasyarakatan antara komunitas Druze di Lebanon dan Kristen yang berakhir pada tahun 1860 dengan suatu otonomi di daerah gunung Lebanon. Lebanon yang telah mempunyai kekuasaan yang besar. Komunitas Druze tidak pernah dapat menguasai daerah itu lagi dan tidak dapat menjadi komunitas lagi di negara itu. Mereka dipindahkan ke gunung Hauran di Syria, yang dikenal dengan nama Jebel el-Druze (Gunung Druze), sebuah nama yang mempunyai persamaan makna dengan gunung Lebanon.

Setelah kekuasaan Ottoman berakhir pada tahun 1918, komunutas Druze dipimpin oleh seorang Emir (pemimpin agama), dengan kekuasaan semi otonomi.Pada tahun 1921, Perancis mencoba membentuk sebuah negara Druze dibawah mandat Perancis, tetapi usaha itu gagal.

Komunitas Druze di Galilea dan Gunung Carmel tetap menjaga hubugan baik dengan komunitas Druze lainnya seperti di Gunung Hermon dan di Lebanon. Pada saat pemerintahan Inggris di Palestina, komunitas ini terlibat pula dengan konflik antara Arab dan Yahudi dan saat perang kemerdekaan Israel pada tahun 1948, komunitas Druze menjadi komunitas yang aktif mendukung Israel

Perkembangan Agama Druze ini dimulai saat berkuasanya kekhalifan Fatimiah yang pada saat itu menguasai wilayah Afrika Utara dan berpusat di Kairo, Mesir pada abad ke 10. Saat itu, kekhalifan Fatimiah menjadi pusat kebudayaan Islam yang terpenting di Timur Tengah. Pada saat itu pula terjadi akulturasi di sebagian pemeluk agama Islam yaitu dengan Yahudi, Nasrani, dan Yunani Kuno. Akulturasi inilah yang menyebabkan munculnya Agama Druze.

Perkembangan agama ini baru berjalan ketika Al-Hakim naik tahta menjadi khalifah dari kekhalifan Fatimiah pada tahun 996 M pada umur 11 tahun. Dalam catatan sejarah, Al-Hakim adlah raja yang terkenal dengan pemerintahan tirani yang kejam. Masa pemerintahannya berakhir ketika ia tiba-tiba menghilang saat ia berjalan sendiri pada bulan Februari 1021.

Pembentukan agama ini dimulai ketikan seorang Persia yaitu Darazi methabiskan Al-Hakim yang saat itu berkedudukan sebagai khalifah Ismail sebagai pembawa wahyu dengan jukukan Tuhan yang terlihat (nyata). Setelah mendengar berita pethabisan itu dari Imam Hamza, banyak reaksi negatif datang dari kalangan masyarakat yang dipimpin oleh Imam Hamza sendiri . Akibat dari penolakan itu menyebabkan Darazi dihukum dan Al-Hakim dikucilkan dari masyarakat. Saat pengucilan itulah secara tiba-tiba Al-Hakim menghilang di suatu malam pada tanggal 1021. Para pemeluk Agama Druze percaya bahwa Al-Hakim telah berpindah ke alam gaib dan akan kembali pada saat kiamat sebagai Qa`im (penerang) atau Mahdi (penunjuk jalan).

Setelah lenyapnya Al-Hakim lenyap secara misterius, para pemeluk agama Druze dipaksa untuk pindah oleh pemeluk agama Islam lainnya. Selain itu banyak pemeluk agama Druze yang dikejar-kejar dan dibunuh sehingga dengan terpaksa pemeluk agama Druze banyak yang menyembunyikan secara lahirliah agamanya.

Simbol dan Ajaran Agama

Seperti agama yang bersifat monotheis lainnya di Timur Tengah, Agama Druze mempunyai ajaran yang bersifat mengikat para pemeluknya. Selain alasan yang tersebut diatas, masyarakat Druze tidak menujukan secara lahirliah ajaran agamanya dengan tujuan untuk menjaga kemurnian ajaran agama itu sendiri.

Bila dalam ajaran Islam simbol yang digunakan adalah sabit, maka dalam kepercayaan Druze yang menjadi simbol adalah bintang bersegi lima dengan lima macam warna yang berbeda. Adapun makna yang terkandung dalam simbol itu adalah hijau melambangkan kepandaian, merah melambangkan jiwa, kuning melambangkan bahasa, biru melambangkan teladan, dan putih melambangkan iman. Mengenai konsep nabi mereka juga percaya bahwa dalam setiap lingkaran kehidupan akan turun lima roh yang berbeda. Kelima roh yang berbeda ini berfungsi memberikan pengajaran kepada manusia tentang jalan yang benar menuju surga dan Tuhan. Akan tetapi, bersamaan dengan turunnya lima roh tadi, bersamaan pula turun lima roh lain yang menjauhkan manusia dari jalan kebenaran tersebut menuju jalan kegelapan. Mereka memercayai akan para nabi yang ada dalam agama lain seperti Nuh, Abraham, Sarah, Yaiub, Musa, Sulayman, Yohanes Pembaptis (Yahya), dan Yesus (Isa). Tetapi ada tokoh lain yang mereka anggap menjadi nabi yaitu Jethro yang merupakan ayah angkat Musa dengan status sebagai salah satu nabi besar. Keistimewaan yang lain adalah mereka juga memercayai ajaran dari filsuf-filsuf Yunani seperti Plato, Phytagoras, dan lain-lain yang mempunyai kedudukan yang sama dengan nabi yang lainnya. Mereka juga menganggap Al-Hakim sebagai nabi utama seperti Muhammad dalam agama Islam ataupun Yesus dalam agama Nasrani.

Sedangkan dalam hubungan sosial antara sesama pemeluk agama Druze, mereka mempunyai suatu prinsip kepercayaan hidup yaitu berkata jujur, melindungi sesama, menghormati yang tua, membantu sesama, melindungi tempat tinggal, dan percaya pada satu Tuhan. Selain itu, masyarakat ini memercayai suatu reinkarnasi pada setiap manusia, menolak poligami, merokok, alkohol, dan makan babi. Walaupun banyak golongan al-Juhl (golongan yang tidak taat) yang tidak melaksanankan prinsip tersebut

Selain beberapa aturan-aturan atau hukum-hukum agama yang telah disebutkan diatas, ada beberapa hal lain yang baik yang berhubungan dengan kehidupan spiritual maupun kehidupan sosial seperti konsep reinkarnasi. Penganut kepercayaan Druze percaya bahwa setiap anggota masyarakat akan mengalami reinkarnasi setelah ia mati, akan tetapi berbeda dengan kepercayaan Hindu, reinkarnasi tersebut dalam bentuk yang sama sebagai contoh laki-laki akan bereinkarnasi kembali menjadi laki-laki pula Mereka juga percaya akan nasib setiap manusia kan mengalami kesenangan dan kesedihan secara silih berganti seperti roda yang terkadang diatas terkadang di bawah. Selain itu mereka juga percaya akan adanya surga dan neraka, dimana manusia juga dihadapkan pada pilihan untuk melakukan hal yang baik dan hal yang jahat. Manusia yang baik akan masuk surga dan manusia yang jahat akan masuk neraka. Mereka juga percaya akan datangnya kiamat, seperti yang telah disebutkan diatas, saat kiamat datang Al-Hakim akan datang kembali sebagai penerang dan penunjuk jalan.

Mereka juga menjalankan ibadah puasa seperti umat Agama Islam lainnya, akan tetapi para pemeluk agama Druze ortodox, mereka menjalankan puasa tersebuyt untuk melindungi diri mereka dari serangan pemeluk agama yang lainnya, selain itu mereka juga mengangga puasa yang dijalankan dalam agama Druze berbeda dengan agama Islam, karena menurut mereka, puasa yang dijalankannya 10 hari sebelum Idul Adha, dan pada saat puasa hanya boleh mengkonsumsi makanan ringan sekali pada saat sore hari.

Dalam hak perkawinan, menurut aturan agama Druze, karena agama Druze adalah agama yang dianut berdasrkan turunan dan tidak boleh terjadi perpindahan agama, maka dalam perkawinan pun seorang pemeluk Druze tidak boleh menikah dengan agama lain termasuk Islam itu sendiri. Dalam kehidupan rumah tangga, kedudukan suami dan istri setara dan kedua-duanya berhak mengajukan perceraian bila terjadi perselisihan.

Tujuh Pilar Hamza

Seperti ajaran agama lainnya yang mempunyai suatu hukum yang dipercayai berasala dari Tuhan seperti Sepuluh Perintah Allah dalam agama nasrani, agama Druze juga mempunyai suatu hukum yang dinamakan Tujuh Pilar Hamza, yaitu :

1. Kebenaran dalam kata-kata (berkata jujur) dengan sesama umat Druze. Akan tetapi berbohong kepada non-Druze untuk mempertahankan diri atau komunitas diperbolehkan

2. Saling melindungi satu sama lain ( termasuk dengan pemaksaan) , membantu dan menopang satu sama lain

3. Penolakan secara mutlak terhadap semua agama ada, termasuk Islam non-Druze.

4. Misahkan diri sepenuhnya dengan penganut non-Druze

5. Mengakui al-Hakim sebagai satu-satunya Tuhan yang terlihat. ( termasuk mengakui penjelmaan Tuhan yang sebelumnya)

6. Menyerahkan diri sepenuhnya, puas dengan pekerjaan Tuhan

7. Ketaatan sepenuhnya, menyerahkan seluruh perintah kepada Tuhan, atau wakilnya, sampai al-Hakim kembali.

Kitab Suci

Seperti umat Islam lainnya, Agama Druze mempercayai Al Quran sebagai kitab yang berasal dari Tuhan. Akan tetapi mereka mempunyai kitab suci yang lainnya yang bernama Rasahl Al-Hikma yang berarti Surat Kebijaksanaan yang sebagian besar ditulis oleh Al Muqtana. Selain itu adapula kitab yang ditulis oleh Al-Hakim,Hamza dan lain-lain. Kitab Suci ini terdiri dari 6 bagian yang masing-masing mempunyai isi dan fungsi yang berbeda-beda. Walaupun begitu, mereka juga memasukkan tulisan-tulisan dari para filsuf Yunani seperti Plato, Phytagoras, dan lain-lain. Selain itu mereka juga teroengaruh unsur-unsur yang terdapat dalam Alkitab seperti mengakui Yesus sebagai utusan Tuhan.

Uqqāl and Juhhāl

Dalam kehidupan keagaaman, pemeluk agama Druze ini dibagi menjadi dua jenis yaitu penganut yang disebut kelompok luar atau Al-Juhhal (yang mengabaikan), mereka tidak mempunyai hak untuk mempelajari kitab suci Druze dan juga hanya berhak menghadiri bagian pertama dari keseluruhan lima bagian dari ibadah tersebut. Mereka lebih banyak berkecimpung dalam kehidupan non-keagamaan seperti dalam bidang militer ataupun politik. Mayoritas pemeluk agama Druze termasuk dalam golongan ini yaitu sekitar 90 %. Selain itu terdapat terdapat juga kelompok dalam yang disebut Uqqual (yang mengetahui). Kelompok ini dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan pemimpin agama dan golongan non-pemimpin agama yang mempunyai presentase 10 % dari keseluruhan pemeluk Druze. Para pemimpin keagamaan ini ternyata tidak hanya menjadi milik kaum laki-laki saja, tetapi terdapat juga hak perempuan yang memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin agama. Para pemimpin agama Ajawid laki-laki, dalam memimpin ibadah menggunakan jubah hitam dan korset putih. Mereka juga menggunakan kopiah merah dengan suatu gulungan putih disekitarnya. Sedangkan Ajawid wanita menggunakan kerudung putih transparan yang longgar. Umumnya kehidupan para Ajawid ini sangat sederhana dan semua kebutuhan hidup para pemimpin agama ini menjadi tanggungan pemeluk agama golongan Al-Juhhal

Dalam melaksanakan tata ibadahnya mereka tidak mengakui tidak adanya ibadah pribadi dan setiap melakukan peribadahan harus dilakukan secara bersama-sama dengan pemeluk agama Druze yang lain. Selain itu tempat yang digunakan biasanya sangat sederhana. Ibadah itu sendiri dilakukan dengan sangat rahasia dan hati-hati agar jangan sampai diketahui masyarakat pemeluk agama non-Druze. Ibadah ini dipimpin oleh Ajawid dan dihadiri oleh umat Duze yang lainnya. Keistimewaan dalam ibadah ini, seperti yang telah disebutkan diatas, para umat golongan Al-Juhhal hanyan boleh mengikuti sesi pertama dari lima sesi ibadah yang ada. Keempat sesi ibadah yang lainnya hanya diikuti oleh golongan Juhhal.

Kedudukan Wanita Dalam Agama Druze

Dalam agama lain di Timur Tengah kedudukan wanita tidaklah setara dengan kaum laki-laki. Perbedaan gender ini sangatlah umum dan mengakar juga tidak hanya dalam kehidupan keagamaan tetapi juga dalam kehidupan sosial. Akan tetapi perbedaan gender dalam Agama Druze tidaklah tampak. Kedudukan pria dan wanita adalah sama menurut kepercayaan itu baik dalam kehidupan agama maupun dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan keagamaan contohnya, seperti yang telah disebutkan diatas, setiap wanita yang telah memenuhi syarat dapat pula menjadi Ajawid (pemimpin keagamaan), selain itu dalam mejalankan ibadah tidak ada pemisahan di dalam gedung peribadahan sedangkan dalam kehidupan sosial, kedudukan suami dan istri adalah sama.

Kehidupan Sosial dan Penyebaran Masyarakat Druze di Israel

Walupun komunitas terbesar Druze di Timur Tengah berada di terdapat di Lebanon, akan tetapi perkembangan kehidupan sosial yang signifikan terjadi di Israel. Walaupun banyak diantara umat Druze ini yang tidak mengakui Israel karena sebagian besar adalah minoritas yang terdiri dari orang-orang Arab, akan tetapi banyak pula masyarkat Druze yang mendukung Israel dan yang terjun dalam bidang-bidang strategis seperti pengusaha, militer, bahkan dalam bidang pemerintahan.

Dalam bidang militer misalnya, sejak tahun 1948 banyak masyarakat yang telah mengikuti wajib militer dan menjadi tentara Israel. Bahkan sejak tahun 1956, karena prestasinya dalam penyerangan ke Lebanon untuk melawan tentara-tentara Hezbollah. Tentara Druze yang dikenal juga menjadi Batalyon Druze Herev. Setelah pertempuran itu banyak pihak-pihak di luar komunitas Druze yang mengusulkan untuk mengubah batalyon tersebut menjadi pasukan elit.

Walaupun sebagai minoritas di Israel, sejak Januari 2004 telah ditandatangani suatu deklarasi oleh pemimpin keagamaan komunitas Druze yaitu Shaykh Mowafak Tarif. Deklarasi itu sendiri berisi tentang penghormatan terhadap Tujuh Pilar Druze yang diakui tidak saja oleh komunitas Druze tetapi juga oleh orang-orang non-Druze. Adapula usulan untuk memasukan Tujuh Pilar Druze ini sebagai bagian dalam Hukum Taurat Yahudi

Selain itu, sebagai komunitas minoritas di Israel dan sifat agamanya yang tertutup, banyak diantara penganut Druze yang mendirikan desa homogen khusus untuk umat Druze saja tetapi pada akhir abad 20, sekelompok kecil umat Nasrani dan Islam berpindah ke daerah-daerah Druze tersebut. Mereka tinggal di utara terutama di puncak-puncak bukit, yang secara historis digunakan sebagai pertahanan dari serangan musuh (pemeluk agama non-Druze).

Komunitas Druze pun mempunyai daerah hunian yang berbeda-beda. Ada yang memilih tinggal di desa-desa, adapula yang memilih tinggal kota besar. Tetapi komunitas Druze di kota pada umumnya adalah para transmigran yang berpindah dengan alasan tertentu dari desa-desa di daerah pegunungan ke kota-kota dan bercampur dengan etnis Arab dan Yahudi Salah satu Kota besar komunitas Druze di Israel adalah Daliyat el-Carmel, yang berlokasi di Gunung Carmel di pusat Taman Nasional Carmel, di selatan kota Haifa tang dibangun 400 tahun yang lalu. Daliyat el-Carmel dihuni oleh 13.000 penduduk yang berasal dari bukit-bukit di sekitar Allepo(Halab) in utara Syria, asal usul ini didukung dengan logat bahasa Allepo yang masih terdengar dan nama-nama keluarga khas Allepo (Halabi). Pasar besar di pusat kota memamerkan produk produk dari Druze maupun orang Arab lainnya menarik turis Israel maupun turis dari luar negeri untuk datang dan si sana juga terdapat patung peringatan kejatuhan tentara Druze. Terdapat pula tempat suci Abu Ibrahim yang terletak di Daliyat El-Carmel dan reruntuhan desa-desa Druze yang terletak di sekitarnya.

Isfiya yang juga terletak di gunung Carmel, dibuat dari reruntuhan pemukiman Bizantium. Banyak barang peninggalan dari para ksatria dan relief-relief dinding dan rumah-rumah yang menjadi bukti-bukti bagi sejarawan untuk mempercayai bahwa dahulu tempat ini adalah basis tentara salib. Pada tahun 1930, setelah menetapnya orang-orang Yahudi Husfiah selama 5 abad di desa ini. Mereka membangun pula Sinagoga dengan lantai mosaik yang menjadi lambang Yahudi dan catatan yang berarti “Damai di Israel” dan sebanyak 4500 koin emas yang didapatkan pada masa Romawi. Desa mideren baru dibangun oada abad 18 ketika para penduduknya hidup dari minyak zaitun, madu, dan anggur yang tumbuh di sana. Sekitar 9000 orang hidup di Isfiya yang 70 % adalah Druze dan sisanya adalah Islam dan Kristen. Makam Abu Abdallah terletak di kota itu pula.

Di timur laut kota Haifa terdapat desa Shfar’am, yang terdapat penduduk dengan akar kebudayaan kuno. Shfar’am termasuk di dalam Talmud dan pada abad kedua dikuasai oleh Sanhedrin, pemimpin agama Yahudi. Masyarakat Yahudi di kota ini, berasal dari masa akhirabad pertengahan, yang secara perlahan berpindah mulai abad 19 sampai abad 20. Terdapat 27.000 Druze, Nasrani dan Muslim hidup di kota ini sekarang dan desa-desanya merupakan suatu peninggalan yang kudus dn rumah ibadah tiga komunitas agama tersebut.

Di utara, setelah melewati Danau Kinneret, kita akan menjumpai kota Magar yang dipercayai sebagai peninggalan dari kota Ma’arriya dimana keluarga pendeta hidup disana pada masaTalmudic. Jejak historis memasukkan banyak pohon-pohon zaitun di sekitar desa, yang mana masih dapat dilihat sampai sekarang. Terdapat 17.000 orang yang tinggal di Maghar sekarang, 60 %nya adalah Druze, 20 % Islam, dan 20 % Nasrani.

Desa Rama yang berpopulasi sekitar 7000 jiwa di utara MAghar dibangun di sebuah peninggalan alkitab kuno yaitu Ramot Naftali. Rama terkenal akan tingkatan budayanya, yang berasal dari masa Mandate. Pada tahun 1948, profesi dokter,pengacara, dan insiyur di kota Rama adalah yang terbesar di Arab. Mendekati desa SAjur yang lebih kecil

Bertempat di utara Rama, di atas puncak gunung Meron, terdapat desa yang seluruh penduduknya beragama Druze yaitu Beit Jan. Desa ini adalah desa yang tertinggi di Israel, 940 di atas permukaan air laut. Dan mempunyai populasi 9000 jiwa. Tidak jauh dari sana terdpaat Peki’in, salah satu dari desa kuno di Israel. Terdapat banyak peninggalan sejarah yang berasal dari abad 13 yang terkenal dengan sumber mata air,kebun buah-buahan, dan minoritas Yahudi, yang telah ada disana dan masih sampai sekarang sejak masa periode kedua. Di dalam dan didekat desa ini terdapat peniggalan-peninggalan Druze dan Yahudi, termasuk Sinagoga Yahudi yang berasal dari zaman Romawi. Sekolah Druze tertua di Peki’in oleh gereja Rusiadi akhir abad 19.

Ein El-Asad adalah satu-satunya desa yang dibangun pada abad 20 terletak di dekat nya. Orang-orang desa asli berasal dari Beit Jan dan dari Syria serta Lebanon. Kafr Sumei, di selatan PEki’in diperkirakan berasal dari peninggalan Kefar Sama, yang termasuk peningalan kesusastraan Israel.

Di selatan Kafr Sumei terdapat kota Kisra yang di dalamnya terdapat desa-desa kecil Druze di negara ini pada abad 19. Desa itu sekarang terdiri dari 3500 orang. Di dekat desa itu terdapat desa YAnuah yang tertulis dalam alkitab sebagai Janoah, dokumen-dokumen Talmud dan Crushader. Selanjutnya dari desa ini terdapat tempat keramat bagi Nabi Islam yaitu Shams.

Satu-satunya desa Druze di barat Galilea yaitu Yirka adalah sebuah peninggalan pabrik-pabrik besar di Timur Tengah, pabrik baja kepunyaan keluarga Kadmani. Pabrik itu memberi manfaat bagi desa tersebut sebagai akibat sebuah daerah industri komersial besar. Dengan populasi 11.000 Druze, Yirka adalah sebuah tempat yang penting, yang paling terkenal adalah Makam dari Sheikh Abu Saraya Ghanem pemimpin penting Druze pada abad 11.

Abu Sinan adalah sebuah kota Druze besar di daerah tersebut, ini terdapat dalam dokumen yang berasal dari tahun 1250 swbagai benteng Busnen. Abu Sinan menjadi sebuah kota penting ketika pada mas kekuasaan seorang Druze Emir Fahr ed-Din al-Mani, yang membuat istana di sana untuk anaknya pada tahun 1617. Sekarang Abu Sinan dihuni oelh 10.000 orang dengan presentase 35 % Druze dan sisanya adalah pemeluk Nasrani dan Islam. Makam dari Nabi Zakaria dan Sheikh al-Hanbali terletak pula di kota ini.

Di selatan Abu Sinan terdapat sebuah desa yang tenang yaitu Julis, kampung halaman dari Sheikh Amin Tarif, pemimpin keagamaan komunitas Druze di Israel yang meninggal pada tahun 1993. Cucunya ,Saleh Tarif yang hidup pula di Julis adalah orang Druze pertama yamg diangkat menjai menteri di pemerintahan Israel.

Umat Druze juga tinggal di Jat, sebuah desa di timur laut Abu SInan sejak abad 17. Kitab Suci Druze mneyebutkan Syekh Abu Arus yang bertantanggung jawab terhadapa penyebarab agama Druze di daerah ini dan yang membakar kota ini. Populasi penduduk di kota ini berjumlah 8000 orang.

Desa Hurfeish berada pada jalan ke timur menuju kota pantai Nahariya, dan terdapat peninggalan dari makan Nabi penting yaitu Sablan. Setiap tanggal 10 Septembaer, Umat Druze datang untuk merayakan festival di desa ini. Pada tahun 1972, sebuah monumen didirikan di Hurfeish sebagai peringatan kepada tentara Druze yang berperang dengan tentara pertahanan Israel.

Dengan sekitar 8000 penduduk, Madjdal Shams dianggap sebagai pusat komunitas Druze di Golan. Penduduk terpenting yang secara spiritual dan politik kuat yaitu Abu-Salah dan keluarga Safdie. Madjal Shams berada di selatan kaki gunung Hermon dan dikelilingi oleh kebun buah-buahan, perkebunan terpenting dengan apel dan Cherie kualitas terbaik.

Lebih dari 3000 penduduk Mas’ada, bekerja pada Abu-Salah dan keluarga Safdie di Madjal Shams yang awalnya terbentuk dari peternakan di selatan Majdal Shams, setelah berjalanya waktu, Mas’ada berkembang menjadi desa yang besar yang memproduksi hasil-hasil pertanian

Di selatan Mas’ada terdapat desa Buka’ata yang dibangun seratus tahun yang lalu ketika terjadi sebuah perselisihan keluarga di Madjal Shams yang menyebabkan banyak penduduk yang melarikan diri dari kewajiban ganti rugi dan tindakan balas dendam. Sekarang sekitar 5000 orang bermatapencaharian dengan cara menanam apel dan anggur.

Ein Kenya berada di barat daya kaki gunung Hermon, di atas Alam Banyas , penduduk di Ein Kenya termasuk pula orang-orang Kristen, tetapi sekarang 1600 penduiduknya adalah pemeluk Druze.

Daftar Sumber

  1. www.en.wikipedia.org
  2. www.jewishvirtuallibrary.org
  3. www.muslimhope.com
  4. www.religioustolerance.org