Siapa Berani “Menantang” Front Pembela Islam ?

Pancasila berdarah pada hari jadinya yang ke-63. Peryataan inilah yang setidaknya dapat menggambarkan situasi bentrokan antara Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kerakyatan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBBB) yang sedang melakukan persiapan untuk melakukan aksi damai dalam rangka menyerukan kebebasan beragama di negeri ini. Sebenarnya kata bentrokan tidaklah tepat karena berdasarkan bukti yang terekam terlihat jelas FPI bertindak secara radikal-agresif meyerang massa AKKBB yang praktis tidak melakukan perlawanan. Banyak reaksi yang muncul setelah peristiwa itu. Mulai dari presiden RI, para pejabat negara, Komnasham, para ormasi Islam, dan Umat Islam sendiri. Mereka menuntut tindakan tegas diberikan kepada organisasi yang mengklaim membela kepentingan Islam ini. Pernyataan ini pun beraneka ragam, ada yang berpendapat secara diplomatis, dialog, sampai dengan tindakan anarkis balasan kepada FPI. Hebatnya, ditengah tekanan berbagai pihak, pimpinan FPI Habib Rizieq dan Panglima FPI, Munarman masih dapat membela diri. Mereka berpandangan, massa yang menyerang pada saat itu belum tentu massa dari FPI, tetapi masa umat Islam. Anehnya, permasalahan Ahmadiyah pun ikut terbawa-bawa. FBI menganggap penyerangan itu dikarenakan AKKBB mendukung eksistensi Ahmadiah. Artinya, dukungan AKKBB terhadap Ahmadiyah berarti ditabuhnya genderang perang terhadap FPI.
Persitiwa Monas berdarah hanya merupakan salah satu arogansi FPI di tengah-tengah masyarakat. Sebelumnya tercatat FPI pernah menyerang tempat-tempat hiburan malam, kantor Playboy, pengahancuran mesjid Ahmadiyah dan lain sebagainya. Orientasi mereka cuma satu yaitu menegakkan hukum Islam. Padahal, secara yuridis formal, Hukum Islam bukanlah seperangkat hukum yang resmi. Hukum Islam tidak berlaku bagi setiap masyarakat Indonesia. Tegasnya, Indonesia bukan negara agama. Wajar jika masyarakat geram. Permasalahan ini telah menyetuh struktur masyarakat yang heterogen. Bukan saja keresahan yang ditimbulkannya tetapi, cap Islam yang menjadi atribut FPI itu sendiri.
Berkaitan dengan cap Islam yang disandang FPI. Organisasi yang berdiri pada tahun 1998 ini, sejak awal memilih jalan yang radikal dalam memahami agama Islam sebagai sistem dari keorganisasiannya. Artinya, mereka berpegang kepada penerapan Islam yang dijalankan di negara-negara Timur Tengah. Sayangnya, mereka sampai dengan saat ini kurang menyadari Islam bagaimana yang telah tumbuh di Indonesia. Singkatnya, sebagai Ormas Islam yang mengklaim sebagai penganut Islam yang mengklain paling benar di negeri ini, ironisnya mereka tidak paham akan sejarah Islam di Indonesia.Sejak Islam masuk ke Indonesia pada awan abad ke-7, corak yang berkembang tidak sama dengan asal wilayah Islam itu sendiri. Islam yang berkembang di Indonesia yang masuk pada awalnya masih mengandung mistik, yang memang pada saat itu bahkan sampai sekarang menjiwai segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Pun, setelah Islam melegitimasi kekuasaannya pada abad ke-12, penerapan Islam secara zakelijk belum dapat dilakukan. Walaupun ada usaha melesapkan pengaruh yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun hal ini tidak kunjung berhasil. Setidaknya, ketikan Muhammadiyah lahir sebagai golongan modernis Islam, makan rekasi dari Islam-tradisional segera muncul dalam wujud NU. Singkatnya, Islam yang berkembang di Indonesia tidak bersifat homogen, namun bersendikan heterogenitas masyarakatnya, termasuk nilai-nilai tradisional yang terkandang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.
Bagaimana mengambarkan FPI sebagai ormas Islam dan mengukurnya sesuai dengan nilai-nilai Keislaman ? Pertama, dari istilah ormas, FPI dapat tidak dapat dikatakan sebagai organisasi yang moderen. Mengapa ? Mereka mememang memiliki struktur organisasi yang jelas. Namun, dalam penerapannya di lapangan, mereka tidak lebih dari sekelompok warga yang hendak bertawuran, layaknya orang kampong ataupun anak-anak SMU. Kedua, perannya tidak jelas di dalam masyarakat. Jikapun tindakan yang mereka lakukan selama ini bertujuan untuk mencegah kemaksiyatan di masyarakat, namun kenyataannya perlilaku yang menyimpang di dalam masyarakat tidak kunjung berkurang, malah bertmabah dengan variannya lebih beragam. FPI, tidak lebih dari sebuah ormas premanisme yang dibungkus oleh baju Keislaman. Ketiga, berkaitan dengan Keislaman, FPI secara sadar sebenarnya telah mencoreng wajah Islam itu sendiri. Pasalnya, kembali ke dalam konteks sejarah, Islam yang berkembang di Indonesia bersifat ramah dan menjunjung tinggi toleransi antara umat beragama. Citra Islam yang secara baik telah dibangun oleh PKS, misalnya dapat berbalik 180 derajat karena tindakan FPI.
Perdebatan dalam perisitwa Monas berdarah sebenarnya tidak akan berarti banyak apabila hanya disikapi sebagai fenomena tunggal. Bukan saja urusan FPI yang bertindak radikal, anggota AKKBB yang luka-luka, ataupun respon polisi yang lamban. Namun, adanya suatu kebijakan yang menguntungkan semua pihak demi keutuhan bangsa dan negara ini. Yang salah memang harus dihukum, yang benar harus dibebaskan. Artinya, harus ada tindakan tegas yang diambil untuk memutus fenomena yang berulang ini. Jika tidak, kita tinggal menunggu waktu kehancuran negara ini. Bukan saja konflik perpecahan diantara tubuh Islam itu sendiri, tetapi kehancuran negara kesatuan yang dibangun di atas sendi heterogenitas, bangsa kita tercinta Indonesia.
Semoga masalah ini cepat terselesaikan dan menghasilkan jalan keluar yang tepat pul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s