Aku Cinta Sastra ?

Setiap tahunnya, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran menerima mahasiswa baru. Setiap tahun pula diadakan semacam penyambutan mahasiswa baru dalam bentuk acara Pengenalan Fakultas Sastra (PFS) untuk skala fakultas dan Masa Bimbingan (Mabim) untuk skala jurusan. Dengan acara ini diharapkan mahasiswa baru dapat mengenal dan berinteraksi dengan mahasiswa sastra yang lain baik di dalam lingkup kampus sastra maupun dalam lingkup jurusannya masing-masing.

Namun ada satu tujuan penting yang belum dapat dipenuhi selama tiga periode Pengenalan Fakultas Sastra (PFS) yang penulis ketahui, yaitu tumbuhnya kecintaan mahasiswa terhadap Fakultas Sastra. Padahal, tujuan ini adalah main goal yang menurut penulis harus didahulukan daripada tujuan-tujuan yang lain. Bagaimana mungkin Fakultas Sastra dapat maju dan berkembang apabila tidak ada integritas di dalam tubuh mahasiswanya. ?

Sejarah Berulang

Ketika penulis menjadi peserta Pengenalan Fakultas Sastra, penulis tidak pernah absen mengikut PFS dengan harapan acara ini dapat memperkenalkan lebih lanjut tentang seluk-beluk Fakultas Sastra di samping juga mencari teman sebanyak mungkin sebagai penunjang perkuliahan kelak. Ketika penulis menjadi panitia pada tahun berikutnya, alangkah terkejutnya penulis ketika mendapati acara yang ditawarkan hampir sama dengan acara tahun sebelumnya, bahkan ketika penulis menjadi panitia untuk yang kedua kalinya, acara-acara yang ditawarkan pun tetap saja sama. Penulis bertanya lalu bertanya di dalam hati “Apakah konsep PFS dari tahun ke tahun itu sama ? Ataukah tumbuh sikap keenganan untuk merubah konsep itu dari pihak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Sastra karena khawatir acara PFS gagal. Apakah tidak muncul perasaan bahwa konsep yang digunakan tersebut telah gagal menumbuhkan kecintaan mahasiswanya terhadap Fakultas Sastra ? Padahal, harus diakui, PFS adalah pintu gerbang kaderisasi di Fakultas Sastra. Sehingga tidak aneh bila stagnasi konsep menghasilkan sikap tak acuh dari mahasiswanya. Sepinya acara-acara sastra, kurangnya pengetahuan mahasiswa akan keorganisasian di Fakultas Sastra, dan simpang siurnya pengumuman yang disampaikan dekanat merupakan beberapa contoh kongkrit yang terjadi di Fakultas Sastra. Tetapi ironisnya konsep yang telah gagal itu dipakai setiap tahunnya..

Keadaan itu kembali diperkeruh ketika mahasiswa baru memasuki Masa Bimbingan (Mabim) jurusan. Doktrin-doktrin yang dilancarkan himpunan dan para senior yang sebenarnya mempunyai maksud baik, yaitu menumbuhkan sikap kecintaan dan loyalitas terhadap jurusan diterjemahkan mahasiswa baru dengan sikap negatif, yaitu jurusannyalah yang terbaik, jurusan lain tidak ada apa-apanya. Sikap chauvinisme ini merupakan satu dari banyak faktor yang menghalangi terbentuknya kecintaan dan suasana yang kondusif untuk menuntut ilmu di Fakultas Sastra. Selain itu, umumnya Masa Bimbingan Mahasiswa (Mabim) berlangsung selama satu atau dua minggu dengan rincian satu atau dua minggu Mabim di kampus dan satu hari Mabim di luar kampus (lapangan) yang merupakan wadah para senior untuk menumpahkan kekesalannya kepada mahasiswa baru yang dianggap “bodoh”. Cara yang dipandang efektif oleh himpunan dan para senior pun dapat bertahan selama bertahun-tahun tanpa perubahan yang signifikan. Di sisi lain, timbul sikap benci, kesal, marah, dan radikal dari para mahasiswa baru yang kebanyakan menjadi berfungsi sebagai objek penderita dan akan membalaskan dendam kepada mahasiswa-mahasiswa baru di tahun-tahun berikutnya. Memang cara itu efektif untuk membangun sikap loyal terhadap jurusan, tetapi Fakultas Sastra bukan hanya terdiri dari satu jurusan. Fakultas Sastra memiliki sembilan jurusan yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga apabila tidak ada rasa saling memahami dalam diri masing-masing jurusan, sangat besar kemungkinan akan terjadinya konflik di Fakultas Sastra.

Namun kita pun dapat bernafas lega karena tidak semua jurusan menerapkan sistem tersebut, adapula jurusan yang secara sadar mengakui bahwa konsep yang mereka gunakan itu salah ataupun para seniornya telah mencapai titik jenuh terhadap konsep yang tetap sama dari tahun ke tahun. Biasanya jurusan-jurusan inilah yang menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang peduli terhadap fakultas maupun jurusannya, bahkan secara akademik pun mereka tergolong mahasiswa yang memiliki indeks prestasi yang baik dan peduli terhadap Fakultas Sastra.. Sayangnya, belum semua jurusan di Fakultas Sastra memilih jalan ini. Sungguh ironis memang.

Saatnya Berubah

Apakah Fakultas Sastra meginginkan perubahan dalam dirinya ? Ataukah Fakultas Sastra ingin mempertahankan konsep yang telah gagal tersebut? Sebuah pertanyaan yang dilematis tetapi penting untuk di jawab demi eksistensi Fakultas Sastra. Jika penulis boleh menyarankan ada dua kata yang hendak penulis sampaikan, yaitu “Saatnya Berubah”. Dua kata ini, menurut hemat penulis, cukup untuk menggambarkan argumen penulis bahwa Fakultas Sastra harus mengevaluasi diri demi kemajuan Fakultas Sastra itu di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Ada beberapa saran yang menurut penulis dapat menumbuhkan kecintaan mahasiswa baru terhadap Fakultas Sastra. Pertama, ubahlah perlakuan mahasiswa baru sebagai objek, melainkan mahasiswa baru harus dirangkul, dijadikan teman, diperlakukan seperti keluarga dengan penuh kasih sayang. Dengan begitu, mahasiswa baru itu akan nyaman baik dalam hubungannya dengan mahasiswa lain maupun dengan lingkungan kampus. Kedua, hilangkan sikap militerisme di kampus. Artinya, mahasiswa baru telah mengalami proses pendispilinan selama lebih dari 10 tahun, ketika mereka memasuki dunia kampus jangan diteriakki lagi, jangan diperlakukan seperti anak kecil lagi, jangan diperlakukan seperti keledai yang bodoh. Jika alasanya adalah melatih mentalitas, masih banyak cara yang lebih pantas dan dapat menghasilkan output yang lebih baik. Ketiga, dan yang terpenting jangan membentuk mahasiswa baru menjadi individu-individu yang pasif, melainkan ubahlah mereka menjadi sumber daya manusia yang aktif, kreatif, inovatif tetapi tidak plagiat. Pemberian materi-materi yang bersifat satu arah dalam artian prioritas utama tetap dipegang oleh pemateri, misalnya, hanya membuat mahasiswa menjadi semakin pasif dan tidak kreatif. Berdayakan mahasiswa, misalnya dengan membuat event-event yang mengajak mahasiswa aktif, selain dapat menumbuhkan kekompakan, dan yang terpenting mahasiswa baru juga diajak untuk mencintai fakultasnya sendiri.

Semoga saran yang penulis berikan dapat menghasilkan mahasiswa-mahasiswa Sastra yang aktif, inofatif, kreatif, dan yang terpenting cinta akan Fakultas Sastra sehingga Fakultas Sastra tidak dipandang sebelah mata oleh fakultas-fakultas lainnya Semoga Saja !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s