Menatap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Bila membicarakan mekanisme pendidikan di Indonesia baik dari jenjang pendidikan dasar,menengah, dan atas tentu kita akan memiliki kecenderungan untuk berpandangan negatif terhadap dunia pendidikan yang telah,sedang, atau akan berjalan. Walaupun masyarakat secara umum telah menyadari akan pentingnya pendidikan namun mereka masih memaknai pendidikan itu untuk satu tujuan yaitu materi. Padahal fungsi pendidikan yang esensial yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa jauh lebih penting daripada mengejar materi semata. Hal inilah yang belum sepenuhnya dimengerti oleh para praktisi dan peserta pendidikan kita serta masyarakat pada umumnya . Belum lagi peranan pemerintah yang masih minim terhadap pendidikan dimana presntase anggaran pendidikan dalam APBN masih sangat kecil .Selain itu dapat dikesampingkan pula nasib para pengajarnya terutama mereka yang bekerja di pelosok-pelosok daerah yang sangat memprihatinkan .

Selain faktor-faktor non-teknis yang telah disebutkan di atas, faktor teknis dalam arti adanya suatu pedoman pengajaran yang baku atau yang dikenal dengan istilah kurikulum mempunyai peran yang sangat esensial dalam menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan oleh suatu institusi pendidikan. Untuk menciptakan suatu pendidikan yang ideal di Indonesia, pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional dapat menggunakan aternatif pendekantan sejarah melalui proses pengkajian kurikulum-kurikulum yang telah dilaksanakan. Proses pengkajian ini sendiri dilaksanakan dengan memadukan hal-hal positif dari kurikulum yang telah berjalan serta mengeliminasi kelemahan-kelemahanya sehingga dapat dihasilkan suatu kurikulum yang ideal di Indonesia.

Dalam tulisan ini sengaja saya akan mencoba merunutkan sistem pendidikan/kurikulum yang pernah ada di Indonesia sampai sekarang. Periodesasi yang dipakai mencakup dari masa kolonialisme sampai sekarang. Selain itu penulis juga membatasi objek permasalahan kepada pendidikan dasar (SD) dan pendidikan menengah (SMP dan SMA) dengan alasan dua jenjang pendidikan inilah telah banyak atau pernah ditempuh oleh masyarakat kebanyakan.

Awal Pendidikan di Indonesia

Walaupun Pendidikan di Indonesia pertama kali dipelopori oleh kaum misionaris dan zending, namun pada hakikatnya fungsi pendidikan pada saat itu hanya sebagai penunjang penyebaran agama nasrani. Baru pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 muncul pendidikan yang bersifat profesional dan dikelola dengan sangat baik oleh Pemerintah Kolonial. Akan tetapi pemerintah membuat klasifikasi lembaga pendidikan yang sifatnya diskrimatif seperti sekolah Eropa yang sepenuhnya memakai model sekolah Negeri Belanda, sekolah bagi pribumi yang memakai bahasa pengantar Belanda, sekolah bagi pribumi yang memakai bahasa daerah/setempat sebagai bahasa pengantar, dan sekolah yang memakai sistem pribumi . Selain itu, mereka juga telah membagi jenjang-jenjang pendidikan dasar dan menengah seperti HIS (golongan Belanda/Ningrat), Eerste School dan Twedee School (golongan pribumi) untuk sekolah dasar , MULO untuk sekolah menegah pertama, dan AMS untuk sekolah menengah atas. Kurikulum yang disusun oleh Pemerintah Kolonial pun lebih berorientasi untuk menciptakan angkatan kerja yang akan dikaryakan oleh pemerintah sebagai pamong/pegawai untuk mengantikan pegawai-pegawai Belanda yang gajinya lebih mahal daripada pegawai pribumi pada saat itu.

Setelah masa kolonialisme berakhir , Indonesia memasuki masa awal kemerdekaan dimana keadaan negara pada saat itu masih kacau dan belum stabil . Oleh karena alasan itulah pemerintah belum memprioritaskan sektor pendidikan dan lebih memfokuskan bidang-bidang lainnya. Saat itu lembaga pendidikan yang berkembang masih dikelolola oleh sisa-sisa kaum kolonial ataupun sekolah-sekolah Belanda yang dinasionalisasikan Walaupun demikian, bukan berarti pemerintah bersikap acuh terhadap pendidikan di Indonesia. Walaupun gagasan untuk mengembangkan bidang pendidikan telah dimulai empat bulan setelah kemerdekaan, tetapi rencana itu baru terealisasi pada tahun 1947 dimana inti dari sistem pendidikan itu adalah sekolah rakyat enam tahun. Payung hukum yang berfungsi sebagai dasar berjalannya pendidikan masih sebatas UUD 1945 dan belum ada UU khusus yang mengatur hal tersebut Selain itu, sistem pendidikan ini belum mempunyai kurikulum yang baku dan orientasinya sebatas menyediakan tenaga kerja untuk mengisis kekosongan tenaga kerja di badan-badan yang baru terbentuk. Setelah 10 tahun berjalan, sistem pendidikan ini akhirnya diperbaharui setelah adanya ketetapan MPRS No II/MPRS/1960 tentang manusia sosialis Indonesia, dimana didalamnya terdapat rancangan tentang rumusan induk sistem pendidikan nasional. Akan tetapi sistem ini baru benar-benar berjalan setelah diperkuat oleh keputusan presiden (keppres) No 14 Tahun 1965. Keluar Keppres No 19 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila. Sesuai dengan jiwa jaman (zeitgeist) yang berkembang saat itu, kurikulum yang berlaku saat itu bercorak gotong royong dan demokrasi terpimpin, Tetapi, kurikulum pada saat itu juga belum mempunyai bentuk yang baku dan orientasinya tidak jauh berbeda dengan kurikulum yang telah ada sebelumnya.

Tranformasi kekuasaan dari Orde Lama pada tahun menjadi Orde Baru pada tahun 1965 ternyata menjadi titik penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia. Pada masa ini, untuk pertama kalinya disusun suatu kurikulum yang baku. Melalui Ketetapan MPRS No XXVII/MPRS/1966 yang berisi tujuan pendidikan: membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan Pembukaan UUD 1945, lahirlah Kurikulum 1968, sebuah pedoman praksis pendidikan pertama yang terstruktur . Tujuan Kurikulum 1968 adalah mempertinggi mental-moral budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama, mempertinggi kecerdasan, dan keterampilan, serta membina atau mengembangkan fisik yang kuat dan sehat. Untuk mendukung tujuan ini, diadakanlah kegiatan-kegiatan oleh yayasan-yayasan swasta seperti munculnya sistem modul yang digagas oleh Ibu Pakasi dari Malang ataupun sekolah-sekolah pembangunan yang berorientasi pada kerja serta uji coba cara belajar siswa aktif (CBSA) di Cianjur.

Menginjak tahun 1970 dimana suasana sudah lebih kondusif, pemerintah mengambil inisiatif untuk mengambil alih kendali seluruh praksis pendidikan. Bila sebelumnya pendidikan bersifat liberatif dan desentralistis maka pemerintah mengubahnya menjadi deliberatif dan sentralistis. Hal ini mendorong perubahan bagi pihak swasta yang tidak lagi dianggap sebagai patner tetapi sebagai pesaing. Untuk mempertegas ambisi pemerintah disusunlah Kurikulum 1975 yang mengantikan peran Kurikulum 1968. Belum sempat seluruh sekolah menggunakan kurikulum 1975, pemerintah kemudian mengganti kurikulum yang baru berumur 9 tahun ini dengan kurikulum baru yaitu Kurikulum 1984. Berlakunya kurikulum ini merupakan kelanjutan dari UU Sistem Pendidikan Nasional yang dihasilkan secara terencana lewat sebuah panitia penilai. Dalam pelaksanaannya Kurikulum 1984 dianggap sarat beban, lalu muncul gagasan untuk mengganti kembali kurikulum ini dengan kurikulum yang baru. Tepatnya setelah 10 tahun belaku, akhirnya kurikulum ini diganti dengan kurikulum 1994 yang menurut pemerintah lebih ringan dan sederhana .

Jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998, yang kemudian digantikan oleh Orde Reformasi yang mengemban misi perbaikan di segala bidang ternyata berdampak pula pada gagasan perbaikan sistem pendidikan. Kali ini pemerintah melalui Depdiknas menguji coba terlebih dahulu pelaksanaan kurikulum yang baru selama 5 tahun sebelum Kurikulum itu disahkan pada tahun 2003. UU Sistem Pendidikan No.2 Taahun 1989 pun ikut diganti. Puncaknya hadirlah Kurikulum 2004 atau yang lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang menyaratkan adanya sejumlah keterampilan khusus bagi lulusannya. Tetapi dalam praktiknya, banyak sekolah yang belum sempat mempraktikan Kurikulum 1994, harus mengaptasi langsung Sistem KBK ini. Bahkan mulai tahun ajaran 2005/2006, kurikulum yang belum sempat dipraktikan di semua sekolah wajib diberlakukan sebagai pedoman kegiatan belajar di semua sekolah.

Massa Depan Pendidikan

Melihat perkembangan sistem pendidikan di Indonesia seperti yang telah diuraikan diatas dapatlah disimpulkan bahwa dunia pendididikan di Indonesia seharusnya berjalan dapat berjalan ke arah progresifitas. Namun dengan berbagai alasan seperti adanya rasa antipati terhadap warisan kolonial, kurangnya perhatian pemerintah, pergantian kurikulum yang terlampau cepat dan kurangnya praktisi pendidikan yang berkualitas baik, serta adanya sistem sentralisasi merupakan beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Selain itu banyaknya tantangan yang datang baik dari dalam maupun luar negeri yang merupakan bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Sebagai contoh, munculnya sistem pendidikan bertaraf internasional seperti yang diterapkan diberbagai sekolah seperti SMA LabSchool ataupun sistem pendidikan yang saat ini sangat populer dan digemari yaitu sistem pendidikan yang berbasis rumahan atau yang dikenal dengan Homeschooling. Berbeda dengan sistem pendidikan yang disusun oleh pemerintah, sistem pendidikan alternatif ini lebih sederhana dan tidak memberatkan pengajar dan pelajarnya, bahkan dalam sistem Homeschooling frekuensi pertemuan antar pengajar dan pelajarnya hanya sedikit bahkan peran orang tua menjadi penting dalam sistem Homeschooling ini .Selain itu pelajar diberikan kebebasan untuk dapat mengeksplorasi ilmu pengetahuan itu sendiri sehingga pelajar tidak merasa terbebani oleh materi-materi yang diberikan oleh para pengajar tetapi dapat mengembangkam potensi dan bakat di dalam dirinya sendiri

Kemandegan sistem pendidikan Indonesia dan mulai bermunculannya alternative pendidikan lain yang lebih sederhana dan menarik masyarakat seperti yang telah diuraikan diatas hendaknya dapat menjadi peletup motivasi pemerintah untuk dapat mencari dan merumuskan suatu sistem pendidikan yang ideal bagi masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu alternatif untuk menyusun sistem pendidikan yang berorientasi masa depan, pemerintah dapat belajar dari sejarah sistem pendidikan di Indonesia dari zaman kolonial sampai dengan Orde Reformasi. Harus diakui, sistem pendidikan kolonial adalah sistem pendidikan terbaik dan mempunyai standar pendidikan Eropa. Tidak ada salahnya bagi pemerintah untuk mengadaptasi sistem pendidikan tertua di Indonesia ini. Walaupun harus pula disesuaikan dengan jiwa zaman yang berkembang saat ini. Beberapa kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia pun dapat dimanfaatkan dengan cara mengambil kebaikannya dan mengeliminasi keburukannya. Dengan cara mengombinasikan semua sistem pendidikan yang pernah berlaku di Indonesia diharapkan pemerintah dapat menyusun suatu sistem pendidikan yang ideal dan efektif serta dapat berjalan dengan baik di Indonesia. Selain itu adanya konsistensi sistem pendidikan harus benar-benar diperhatikan jangan sampai praktik pergantian kurikulum dalam jangka waktu yang pendek dengan alasan ketidakcocokan ataupun memberatkan pengajar dan pelajar terjadi kembali. Sehingga tidak berlaku kembali slogan setiap pergantian menteri disusul dengan pergantian kurikulum. Berkaitan dengan konsistensi sistem pendidikan, pemerintah diharapkan dapat mempertahankan sistem pendidikan yang berlaku saat ini yaitu Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) terlepas dari berhasil atau tidaknya sistem pendidikan ini. Sehingga para pengajar dan pelajar tidak merasa dijadikan “kelinci percobaan” oleh pemerintah. Yang tidak kalah penting pula adalah upaya pemerataan sistem pendidikan ini, tidak saja sekolah-sekolah di kota besar yang melaksanankan praktek sistem pendidikan ini tetapi sekolah yang terdapat di pelosok pun dapat mempraktekan sistem pendidikan ini. Sehingga lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia dapat menghasilkan lulusan yang merata kualitasnya dan mempunyai kompetensi untuk membangun dan memajukan bangsa.

3 thoughts on “Menatap Masa Depan Pendidikan Indonesia

  1. beljr sastra memang menyenankan!!!

  2. diutuhkan kesadaran semua koponen bansa untuk bisa mencapai tujuan, yakni kesejahteraan bangsa

  3. pendidikan gratis bagi anak bangsa adalah solusi terbaik demi keluar dari lingkaran kebodohan dan keterbelakangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s