Mahasiswa dan Budaya Menulis

Mahasiswa mempunyai status yang terhormat dalam masyarkat. Ia dipandang sebagai calon intelektual yang diharapkan dapat memajukan bangsa dan negara di kemudian hari. Walaupun begitu, seringkali terdapat mahasiswa yang mempunyai intelektualitas yang baik namun tidak dapat mengekspresikannya pemikirannya itu secara maksimal. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah “Mengapa hal itu bisa terjadi ?”

Mungkin telah banyak artikel yang membahas tentang pentingnya budaya membaca, tetapi menurut pemikiran penulis, jika seorang hanya berhenti sampai pada proses membaca dan tidak menuangkan hasil membacanya itu dalam media tulisan mungkin apa yang ia telah ia dapatkan , karena keterbatasan daya ingat otak manusia, akan hilang tanpa bekas. Mahasiswa zaman sekarang tidak mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan pikirannnya dalam bentuk tulisan. Mereka tidak terlatih untk menulis Dengan argumen seperti inilah, penulis mencoba berpikir sebaliknya, “mengapa tidak mengedepankan budaya menulis terlebih dahulu?”

Mahasiswa Dulu dan Mahasiswa Sekarang

Sejarah mencatat, banyak mahasiswa yang mempunyai pikiran yang kritis dan brilian mempunyai budaya menulis yang cukup tinggi. Sebut saja Soe Hoek Gie, seorang mahasiswa yang juga aktivis pada zaman Revolusi terpimpin. Walaupun tidak mempunyai usia yang panjang Gie sangat terkenal dengan pikiran-pikiran kritisnya yang terkadang revolusioner. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah mengapa pemikiran Gie tetap dipakai sebagai dasar perjuangan para aktifis mahasiswa baik pada zamannya maupun pada zaman sekarang? Jawabannya adalah karena ia sering menumpahkan semua pengalamannya baik berupa narasi mapupun tanggapan pribadinya yang ia dapatkan dari begitu banyak keikutsertaannya dalam keorganisasian. Semua pengalamannya itu ia tuliskan dalam sebuah buku harian yang telah dibukukan sekarang dan mencapai angka penjualan yang fantastis.

Berbeda sekali dengan kebiasaan mahasiswa sekarang, banyak mahasiswa yang kuliah hanya mempunyai satu tujuan, yaitu mendapatkan nilai yang baik. Ada mahasiswa yang belajar keras setiap dari namun ada pula mahasiswa yang melakukan pendekatan personal dengan pengajarnya. Namun sangat sedikit mahasiswa yang belajar dengan cara menulis. Padahal metode ini sangat cocok untuk dijadikan cara belajar bagi mahasiswa. Karena ia tidak melulu menghafal dari buku acuan tetapi juga dengan metode ini mahasiswa dapat menyisipkan pikiran dan tanggapannya atas isi buku tersebut.

Padahal mahasiswa dalam hubungannya dengan budaya menulis sangat terbantu dengan kemajuan teknologi yang terjadi di zaman milenium ini, sebagai contoh, akses data tidak saja terbatas pada data tertulis namun data digital pun banyak dipakai dengan alasan kepraktisan. Namun teknologi yang diharapkan dapat membangun kebiasaan menulis inikebanyakan disikapi dengan negatif. Munculah kebisaan plagiat atau dalam dikenal pula dengan istilah copy and paste. Ironisnya, mahasiswalah yang banyak melakukan itu semua baik dalam mengerjakan makalah, paper, skripsi, tesis, bahkan disertasi. Budaya inilah yang harus dipupus oleh para pelaku pendidikan, baik pendidikan dasar, menegah, dan tinggi

Phobia Menulis

Rendahnya kebiasaan menulis dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu diantaranya adalah karena ketakutan mahasiswa untuk menulis. Mereka takut apabila tulisan yang mereka hasilkan akan dinilai jelek oleh pihak-pihak yang membacanya baik dosen, teman-temannya ataupun bahkan dirinya sendiri. Mereka sering kali tidak paham bahwa kemampuan menulis itu sebenarnya telah diwarisinya sejak lahir, yang menjadi masalah sekarang adakah kemauan dari seorang mahasiswa untuk berlatih menulis. Karena sama dengan keterampilan yang lain, keterampilan menulis tidak bisa didapatkan secara instant. Ia harus melalui proses, yaitu berlatih. Bahkan sastrawan dan sejarawan Pramoedya Ananta Toer yang terkenal dengan tulisan-tulisannya yang berkualitas tinggi tidak mendapatkan kemampuan menulisnya begitu saja. Ia juga melakukan proses belajar menulis.

Harus diakui keenganan mahasiswa untuk menulis tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Masih banyak faktor lain yang menyebabkan hal tersebut, salah satunya adalah sistem pendidikan yang salah di Indonesia terutama pendidikan dasar dan menengah. Seperti yang kita ketahui dan alami, seringkali tugas-tugas yang diberikan kepada murid hanya berkisar pada seputar membaca, menghafalkan , dan meringkas buku. Metode inilah yang membuat para siswa hanya memasukkan isi buku tersebut ke dalam otak mereka tanpa adanya pemikiran para siswa baik berupa komentar, sanggahan, maupun pendapat. Padahal metode seperti ini dapat melatih siswa untuk berpikir kritis dan tidak terpaku pada buku saja. Sebagai perbandingan, anak sekolah dasar di Amerika ataupun Eropa Barat telah dibiasakan untuk menulis sejak dini. Objek tulisannya pun sangat sederhana, misalnya menuliskan pengalaman liburan yang mereka alami . Cara ini, secara tidak sadar,dapat meningkatkan budaya menulis yang tinggi dan terbawa sampai mereka dewasa. Sehingga tidak aneh apabila banyak sarjana-sarjana besar lahir di kedua daerah tersebut.

Ayo Menulis !

Seperti yang telah diuraikan di atas, ketakutan seseorang untuk menulis tidak saja disebabkan oleh faktor intern individu tersebut, tetapi juga faktor eksteren punya peranan yang cukup besar dalam hal tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, penulis mempunyai beberapa saran yang mungkin dapat membantu seorang individu untuk dapat mengembangkan kemampuannya dalam bidang keterampilan penulis. Pertama, mulailah menulis dengan hal-hal yang digemari. Hal ini akan sangat membantu dalam memulai proses penulisan terutama berkaitan dengan pemahaman tentang masalah yang kita tulis. Kedua, berpikirlah sederhana, artinya tulislah semua hal yang ada dalam pikiran anda, jangan terpengaruh akan pikiran orang lain yang mungkin saja sulit anda pahami. Ketiga, perlihatkan hasil tulisan anda kepada orang lain. Tahap ini akan membantu anda untuk mengetahui kesalahan-kesalahan apa yang masih anda perbuat ataupun sampai tingkat yang bagaimana tulisan anda dihargai oleh seseorang. Keempat, teruslah berlatih, dalam artian tulislah segala sesuatu yang anda hendak tulis. Dengan cara ini anda akan mempunyai perbendaharaan kata yang banyak. Selain itu juga, dengan sering berlatih menulis, kerangka pemikiran anda tentang suatu masalah akan berkembang

Mudah-mudahan saran yang telah diberikan akan membantu para mahasiswa untuk membangun kebiasaan menulis. Sehingga diharapkan dengan berkembangnya kebiasaan menulis akan muncul tokoh-tokoh, seperti Gie-Gie ataupun Pram-Pram yang lainnya di Indonesia.

2 thoughts on “Mahasiswa dan Budaya Menulis

  1. mohon izin tulisannya sy copy untuk keperluan perkuliahan dan kebaikan, trims

  2. nice artikel gan. izin copy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s