Pancasila, Filsafat, dan Sejarah

Lebih dari enam puluh tahun sudah Pancasila menjadi dasar negara bangsa ini. Selama itu juga Pancasila menjadi suatu pedoman bangsa ini dalam mengarungi segala aspek kehidupan. Tentu kita ingat dalam sidang BPUPKI, beberapa tokoh-tokoh kenegaraan saling bersilang pendapat untuk menentukan dasar negara yang sesuai dengan struktur bangsa yang akan terbentuk kelak. Proses untuk melahirkan Pancasila bukan suatu perkara yang mudah. Pasalnya setelah disepakati menjadi sebuah dasar negara, dikemudian hari dasar negara ini pun kembali diperdebatkan, ditolak, dan diacak-acak. Mengapa hal ini bias terjadi ? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya kita harus kembali menelaah makna dari Pancasila itu sendiri ? Mungkin, ada yang berpendapat Pancasila hanya bermakna penyebutan sila-silanya pada setiap Senin pagi dalam upacara bendera., Pancasila dapat dipahami apabila kita menghafal butir-butir setiap silanya, lambing-lambang yang mewakili setiap sila, dan pemikiran-pemikiran dangkal lainnya.

Sepanjang pemahaman saya, Pancasila adalah sebuah filsafat yang tersusun atas pemikiran-pemikiran subjektif para pendiri negara (founding fathers) ini. Sejarah mencatat, para pendiri negara ini bukanlah aktor-aktor yang memiliki pemikiran yang homogen. Artinya, para bapak bangsa ini mewakili kepentingan-kepentingan tertentu, namun mempunyai kepentingan yang sama, yaitu Indonesia Merdeka. Dalam pemahaman ini, tentunya kita dapat melihat beberapa pertentangan-pertengan ideologi, terutama antara Nasionalis dan Agama. Kaum Nasionalis pun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam 3 bagian, yaitu Nasionalis Kanan, Nasionalis Kiri, dan Nasionalis Agama (golongan non-muslim), sedangkan Kaum Agama didominasi oleh Islam. Kolaborasi diantara dua genre pemikiran inilah yang kemudian menghasilkan dasar negara Pancasila yang di dalamnya termaktub unsur Agamis, Nasionalis, Komunis, dan Sosialis. Walaupun kemudian terjadi perdebatan sengit antara pihak-pihak yang menginginkan Piagam Jakarta ataukah Pancasila yang akan dijadikan dasar negara, toh akhirnya demi kepentingan nasional Pancasila dijadikan dasar negara yang resmi bahkan sampai sekarang. Namun demikian, yang menjadi pertanyaan kemudian apakan penerimaan Pancasila sebagai dasar negara dapat dijalankan secara murni dan konsekwen ? Saya kira, perjalanan Pancasila sebagai dasar negara memiliki suatu dinamika tersendiri yang tidak dapat dilepaskan oleh unsur politik tertentu. Artinya, interpetasi tentang Pancasila tidak seragam, tergantung pihak mana yang memegang kendali politik.

Sejak Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara pada tahun 1945, Soekarno sebagai salah seorang perancang Pancasila kemudian menerjemahkan Pancasila sebagai suatu keragaman. Artinya, ia berdiri di atas sendi-sendi heterogenitas masyarakat Indonesia yang kala itu didominasi oleh tiga kekuatan politik utama, yaitu Nasionalis, Agama, dan Komunis. Sayangnya, dengan alasan keadaan negara yang memburuk, kemudian Soekarno lebih memilih bergandengan dengan Nasionalis dan Komunis daripada Islam yang dipandangya sebagai lawan yang membahayakan. Dan karena kedekatan dengan kaum Komunis inilah kemudian Soekarno akhirnya jatuh pada tahun 1966.

Ketika tampuk kekuasaan jatuh ke tangan kaum militer dan kekuatan Komunis dihilangkan secara paksa, sesungguhnya telah muncul kekuatan baru, yaitu Nasionalis-Militer, yang berdampingan dengan Nasionalis-Sekuler, dan Nasionalis-Agama, yang agak dibatasi gerakannya. Ketiga kekuatan ini kemudian secara berturut-turut diwakili oleh 1 golongan dan 2 parpol, yaitu Golkar, PDI, dan PPP. Namun demikian, yang patut diperhatikan pada periode ini adalah Orde Baru berusaha mendominasi Pancasila menurut versinya dan memaksakan pengertian itu kepada masyarakat. Artinya, Pancasila yang dikontrol oleh kaum Nasionalis-Militer ini berusaha menghomogenkan nilai Pancasila demi mengamankan kedudukan politiknya. Usaha ini tampaknya cukup berhasil setidaknya sampai decade 90-an. Pada masa ini, kekuatan Nasionalis-Militer agak kehilangan kendali terutama akibat mulai lekangnya isu-isu komunis dan bisnis keluarga presidien. Untuk mengendalikan situasi, Soeharto mulai merangkul pihak Islam yang selama ini agak dianaktirikan. Pucak konsolidasi antara penguasa dan Islam terlihat sejak berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim yang diketuai oleh B.J. Habiebie. Namun, ternyata strategi ini tidak cukup berhasil. Orde Baru yang berharap mendapatkan keuntungan dengan merangkul pihak Islam mendapat buah simalakama, dan justru Islam yang mendapatkan keuntungan potensial dari konsolidasi itu. Pendeknya, Soeharto dengan Orde Barunya berhasil menghomogenkan Pancasila dan mendoktrin masyarakat Indonesia sesuai dengan kepentingan politknya.

Seperti yang telah diaktakan di atas, hubungan Orde Baru dan Islam justru menghasilkan keuntungan kaum Muslim di kemudian hari. Sejak Soeharto menanggalkan kekuasaannya dan digantikan oleh anak didiknya, yang menandai pergantian Orde Baru menjadi Orde Reformasi, kekuatan agama yang sempat tertidur mulai bangkit disepanjang dasawarsa 1990 bahkan menghasilkan tren menaik, khususnya memasuki millennium baru. Islam menjadi penantang serius kaum Nasionalis-Sekuler dan Nasionalis-Militer. Tampaknya justru persaingan yang lebih tajam justru terjadi antara Nasionalis-Militer dan Nasionalis-Agama. Apakah Neo-Orde Baru akan kembali lahir ataukan muncul orde lain yang akan mengantikan Orde Reformasi yang tak kunjung selesai sampai dengan detik ini ?

Jika kita amati paparan di atas, tentunya dapat diamati tiga tren unik yang terjadi dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Jika pada masa-masa awal negara ini, Pancasila didominasi oleh nilai Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonsia, maka pada Masa Orde Baru justru Sila Persatuan Indonesialah yang menjadi pokok perhatian, dan memasuki Orde Reformasi, walaupun diwarnai oleh dinamika yang sangat kompleks, namun setidaknya, Pancasila dalam persepktif politik lebih didominasi oleh Sila Ketuhanan yang Maha Esa. Mungkin saya salah dalam melihat tren yang terjadi dalam sejarah bangsa ini. Namun, Pancasila bukan persoalan sila pertama, sila kedua, dan sila-sila yang lainnya. Tetapi, Panca tetap berarti lima dan mempunyai kedudukan yang sama dan kelima unsur inilah yang melambangkan heterogenitas bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s