Penolakan Pengesahan RUU Pornografi, Tanya Kenapa?

Munculnya kembali wacana RUU Pornografi yang rencanannya akan disahkan paling lambat bulan Februari 2007 oleh DPR RI kembali mendapat kecaman dari beberapa pihak beberapa waktu yang lalu ternyata DPR tetap berusaha untuk melegalkan RUU tersebut. Sebagai respon dari rencana pengesahan RUU tersebut , Gadis Arivia dan Neng Dara Affifah adalah intelektual-intelektual perempuan yang sangat vokal menolak RUU ini. Sebagai pejuang feminis mereka tidak hanya memperjuangkan hak-hak wanita saja akan tetapi juga masalah-masalah lain yang secara umum terkait dengan RUU tersebut seperti perlindungan anak dan ambiguitas hukum.

Kontras dengan kelompok penentang, mereka yang mendukung RUU tersebut berpendapat satu-satunya jalan memperbaiki kemelorotan moral bangsa adalah mengeyahkan pornografi dari bumi Indonesia. Padahal di banyak negara maju di dunia menghilangkan pornografi sampai tak berbekas adalah pekerjaan yang sangat sulit. apalagi Indonesia yang terkenal dengan kompromi hukumnya .

Untuk itulah maka saya akan menguraikan beberapa alasan yang perlu diperhatikan mengenai penolakan pengesahan RUU Pornografi tersebut. Pertama, dari sudut pandang agama dan budaya . Pengesahan UU ini menandakan adanya suatu pengingkaran kemajemukan masyarakat Indonesia terutama dalam kedua bidang tersebut . Dalam bidang agama misalnya, pengesahan RUU ini mengandung makna adanya suatu upaya dari sekelompok pihak yang ingin mengesahkan hukum agamanya menjadi hukum negara. Di lain pihak dalam bidang budaya bila kita perhatikan muncul indikasi pelarangan praktek suatu budaya tertentu yang dianggap berbau pornografi . Kedua hal ini sangatlah sensitif dan sangat potensial memicu benih-benih konflik horisontal dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini serta pada akhirnya tidak mustahil dapat menciptakan suatu disintegrasi bangsa.

Kedua, senada dengan penolakan kedua intelektual feminis yaitu Gadis Arivia dan Neng Dara Affifah tentang adanya usaha membangkitkan kembali diskriminasi jender khususnya jenis kelamin wanita di Indonesia. UU Pornografi ini juga bermakna mengembalikan kedudukan wanita sebelum ide emasipasi dicetuskan yaitu kedudukan wanita ada di bawah pria.

Ketiga, dari sudut pandang hukum sangatlah jelas adanya suatu gejala ambiguitas hukum dalam arti ada beberapa peraturan yang mengatur hal yang sama .. Hal ini dapat mengakibatkan kebinggungan masyarakat dalam memahami hukum-hukum yang saling tumpang tindih tersebut. Sehingga dikhawatirkan ada oknum-oknum yang menyalahgunakan situasi ini untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi..

Keempat, adanya suatu kegagalan kontrol moral. Seperti yang kita ketahui moral adalah suatu norma yang tidak tertulis. Penilaian tentang baik atau tidaknya moral seseorang ditentukan oleh penilaian hati nurani orang-orang disekelilingnya, sangsinya pun tidak berupa sangsi hukum yang memaksa, akan tetapi sangsi sosial yang bersifat non-fisik. Ironisnya di Indonesia ada suatu upaya untuk melegalkan suatu UU yang mengatur tentang moral. Hal ini juga menandakan adanya suatu kegagalan penanaman nilai-nilai moral yaitu dari bawah yaitu dalam bidang pendidikan. Karena kegagalan tersebut, maka pemerintah akan memaksakan suatu hukum moral dari atas yang sifatnya memaksa dan mempunyai sangsi yang sifatnya fisik.

Kelima, adalah adanya pemikiran-pemikiran dangkal para wakil rakyat yang notabene adalah kaum intelektual terbaik Indonesia. Akan tetapi pemikiran mereka sangatlah lokal dan tidak relevan dengan kemajemukan masyarakat Indonesia. Selain itu mereka tidak dapat membedakan aspirasi mana yang mewakili kehendak rakyat banyak dan aspriasi yang mewakili kepentingan sekelompok kecil masyarakat. Adapula kesan “malas” untuk merevisi RUU yang ambigu tersebut. Mereka hanya menghilangkan kata pornoaksi tetapi tidak merevisi pasal-pasal kontroversial yang dinilai banyak pihak sangat prematur . Salah satu pasalanya berisi pengaturan cara berpakaian, anak dibawah 18 tahun dilarang berpenampilan porno di depan publik, serta gerakan yang memancing syahwat. Pasal ini dapat dimaknai secara umum bahwa anak di atas 18 tahun boleh berpakaian dan berkelakuan porno serta memancing syahwat. Secara khusus pula dapat diartikan bahwa pasal ini hanya memperlambat proses demoralisasi seseorang, setelah batas umur 18, seseorang bebas berpakaian dan berkelakuan anti susila.

Keenam, adanya pandangan dari beberapa pihak bahwa inidikator mutlak dan tunggal untuk meningkatan moral masyarakat Indonesia hanyalah peneyahan pornografi semata . Padahal masih banyak inidkator lain yang dapat menyebabkan dekadensi moral. Kita ambil salah satu contoh yaitu pengaruh tayangan televisi bagi masyarakat Indonesia. Secara substansial, siaran telvisi di Indonesia sangat tidak berbobot. Kehidupan keseharian yang berpola konsumtif dan materialistik dalam acara-acara televisi ternyata juga mempengaruhi perkembangan moral sesorang. Sehingga banyak orang-orang yang berperilaku konsumtif dan berorientasi materialistik. Demi mencapai dua tujuan tersebut mereka tidak segan-segan untuk menempuh jalan pintas misalnya melalui tindakan korupsi.

Saya pula menyadari bahwa sangatlah wajar bila terjadi pro dan kontra dalam negara demokrasi dimana rakyatnya bebas mengeluarkan aspirasi yang dianggap benar . Sikap pro dan kontra ini juga menandakan berlakunya prinsip-prinsip demokrasi dalam suatu negara Tetapi perlu juga memperhatikan uraian keenam faktor diatas dan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk dimana sangat rentan dengan konflik apabila menghadapi suatu wacana diskriminatif . Selain itu perlulah pertimbangan-pertimbagan yang matang dari wakil rakyat apakah pengesahan UU Pornografi tersebut akan menjamin peningkatan kualitas moral dalam kehidupan masyarakat Indonesia bukannya memicu timbulnya konflik-konflik baru dalam masyarakat . Jangan pula melupakan anekdot yang sangat populer dalam masyarakat Indonesia yanh menyatakan “ Peraturan dibuat untuk dilanggar”.

3 thoughts on “Penolakan Pengesahan RUU Pornografi, Tanya Kenapa?

  1. Jadi gak usah buat peraturan ya ?
    Aneh bin ajaib baru kali ini sebuah aturan demi mengamankan moral kok malah di tentang..
    Aneh…Apalagi pake alasan bisa memecah belah persatuan bangsa….
    Wuaanneeeh poool.
    Setahu saya semua agama “yang baik dan benar” menentang pornografi…lha kok malah ada yg anti mati-matian sama RUU ini ?
    Aneh…aneh….
    Mana hati nurani anda para pimpinan agama ?
    Yang baik kok malah ditentang.
    Takut ga bsa liat “yg indah-indah” lagi ya ?
    Atau mungkn karena anti atau takut dengan agama tertentu ya ?
    Takut anarkisme ya…atau terorisme yg sudah distempelkan ke agama itu yaa ?
    Ahhh. mudah-mudahan bukan karena itu.
    Aneh.

  2. MOral dtentukan oleh hati nurani org di sekelilingnya ?
    Wah gawat dong.
    Kalau orang-orangnya gak punya hati nurani gimana ?
    Nurani dan moral siapa yang harus diturut ?
    Ahhhh…kok jadi rumit sh Om?
    Udahlah. tanyakan dengan “pemuka agama” masing-masing deh…
    Kalau bcara nurani tanyakan sejujurnya ke mereka. apakah RUU ini baik apa enggak ?
    Sebenarnya udah tau kok…

  3. Adanya undang-undang ini sebenarnya sangatlah menghina kaum lelaki, karena…kaum lelaki tidak dianggap tidak bisa menahan nafsunya… Dan betul..ini menunjukkan anggota DPR tidak dewasa dan kekanak-kanakan…sama seperti anak kecil yang melihat pakaian dalam lawan jenisnya..hanya mengadu dan mengadu..

    UU ini pada dasarnya baik..namun sangatlah tidak dewasa karena betul-betul berusaha mensamaratakan penduduk..sungguh sayang negara indonesia yang penduduknya sangat beragam ini harus disamaratakan… Eksistensi dari sumpah pemuda dihilangkan.. Kita sebenarnya harus ingat…bahwa indonesia terjadi bukan karena persamaan visi dan misi, indonesia terjadi karena perbedaan dan kemajemukan yang terpaksa disatukan demi nostalgia jaman majapahit…

    Sekian…terimakasih…

    Undang-undang sudah berjalan…tapi apakah anggota legislatif berhenti menyewa pelacur, mendownload video porno, menjalankan tugas perwakilan lebih fokus???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s