Arsitektur Indis di Kota Bandung

Kota Bandung pada awalnya bukan sebuah kota yang dipandang significan bagi Pemerintah Kolonial. Kota yang berawal dari hutan lebat ini mempunyai citra sebagai tempat buangan orang-orang terhukum oleh pemerintah Belanda. Tetapi tempat pembuangan itu tidaklah berkonotasi buruk . Justru banyak orang yang dibuang ke daerah tersebut berhasil membukan usaha-usaha baru seperti membuka lahan perkebunan, usaha pengergajian kayu, dan lain-lain. Daerah yang pada awalnya hanya didiami oleh 25-30 orang pada tahun 1641 berubah menjadi kota peristirahatan orang-orang Belanda. Oleh karena itu kota ini dibangun dengan basis perencanaan kota-kota di Eropa khususnya kota-kota di negeri Belanda namun dengan nuansa tropis.

Akan tetapi geliat perkembangan kota Bandung mulai terlihat sejak abab ke-19. Ada empat momen yang mempengaruhi perkembagan dan pembagunan kota Bandung. Pertama, pada tahun 1810, yakni ketika Gubernur Jenderal Daendels. Ia menancapkan titik nol kilometer dan berkata “ Kelak jika aku kembali, daerah ini haruslah menjadi kota. Selain itu Daendels juga membangun jalan raya pos .Sejarah mencatat adanya perkembangan penting di sekitar tahun 1810, yakni ketika Gubernur-Jenderal Hermann W. mempunyai ambisi membuat jalan raya pos ( Groote Postweg) yang menghubungkan Anyer di bagian barat dan Panarukan di bagian timur sepanjang 1000 kilometer. Bandung termasuk wilayah yang dilalui oleh jalan pos itu Daendels juga menancapkan sebuah tongkat di suatu titik (Kilometer 0) dan berkata kelak jika kembali, daerah ini harus menjadi kota. Atas perintah Daedles inilah, sejak tanggal 25 Mei 1810 , ibu kota Kabupaten Bandung yang semula berada di Karapyak mengalami perpindahan mendekati Jalan Raya Pos. Relaisasi perpindahan ibukota tersebut dilakukan oleh Bupatinya yaitu Raden Wiranatakusumah II dengan persetujuan sesepuh serta tokoh-tokoh dibawah pemerintahannya, memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari karapyak ke Kota Bandung sekarang. Daerah yang dipilih sebagai ibu kota baru tersebut yang terletak diantara dua buah sungai sungai, yaitu Cikapundung dan Cibadak daerah sekitar alun-alun Bandung sekarang yang dekat dengan Jalan Raya Pos. daerah tersebut tanahnya melandai ke timur laut sehingga cocok dengan persyaratan kesehatan maupun kepercayaan yang dianut saat itu. Sungai-sungai yang mengapitnya juga dapat berfungsi sebagai sarana utilitas kota (Website Bandung Heritage).

Pemindahan Ibukota yang diikuti dengan pembangunan secara bertahap pun dilakukan oleh Pemerintah Kolonial berdampak pula pada mobilitas penduduk yang memasuki Kota Bandung. Perpindahan rakyatnya pun dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan pengadaan perumahan serta fasilitas lain yang tersedia. Pada tahun 1864, jumlah penduduk Kota Bandung baru sekitar 11.054 jiwa, terdiri atas 11.000 orang bangsa pribumi, 9 orang bangsa eropa, 15 orang bangsa Cina, dan 30 orang bangsa Arab, serta bangsa Timur lainnya. Saat itu Kota Bandung masih merupakan pemukiman kota kabupaten yang sunyi sepi, dengan pemandangan alam berupa bukit-bukit dan gunung-gunung disekelilingnya.

Kedua, peran kota Bandung semakin penting bagi pemerintah kolonial ketika terjadinya pemindahan ibukota Karesidenan Priangan pada tahun 1864 dari Cianjur ke Bandung. Kedudukan Bandung sebagai ibukota karesidenan diikuti pula dengan pembangunan struktur dan infrastruktur kota. Namun berbeda dengan pembagunan yang telah dilakukan sebelumnya, pembagunan kota Bandung dipriotitaskan untuk kepentingan politik dan ekonomi.

Ketiga, tepatnya pada tahun 1906, Bandung memeroleh status wilayah administrasi baru sebagai sebuah gemmente. Peresmian wilayah ini dilakukan oleh Gubernur Jenderal J.B. Van Heutzs pada tanggal 1 April 1906. Saat pertama kali di bentuk, gemeente Bandung hanya terdiri dari dua buah kecamatan (onderdisctric), yaitu kecamatan Bandung Kulon (barat) dan Bandung Wetan (timur). Kecamatan Bandung Kulon terdiri dari 8 desa yaitu Andir,Citepus, Pasar, Cicendo, Suniaraja, Karanganyar, Astana Anyar,dan Regol. Sedangkan Bandung Timur terdiri dari 6 desa, yaitu Balubur,Kejaksaan, Lengkong, Kosambi, Cikawao, dan Gumuruh. Pembangunan yang ditujukan untuk kepentingan politik dan ekonomi pun yang juga membawa dampak positif kemajuan sosial-ekonomi kota ini baru memperlihatkan perkembangan yang luar biasa sejak direncanakan sebagai ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang sanitasinya dinilai kurang mendukung. Usul pemindahan ibu kota tersebut disampaikan HF Tillema (1916) dan disetujui Gubernur Jenderal Limburg Van Stirum. Rencana boyong pusat-pusat kegiatan pemerintahan itu bukan hanya bisa disaksikan melalui berbagai instansi dan BUMN tingkat pusat yang hingga kini tetap bertahan di Bandung. Namun, bersamaan dengan rencana tersebut dibangun pula gedung-gedungnya, baik untuk perkantoran maupun tempat tinggal. Selain berfungsi sebagai pusat politik dan ekonomi Bandung pun mempunyai fungsi sebagai tempat peristirahatan orang-orang Belanda.

Kemajuan kota Bandung baik dalam hal pembangunan berbasiskan tata kota dan ekonomi terus berlanjut ketika memasuki era kemerdekaan. Pembangunan kota cenderung meningkat ketika Bandung sebagai kota pemerintahan mengalami peningkatan saat kota ini ditetapkan sebagai ibukota Propinsi Jawa Barat menggantikan kedudukan Jakarta. Keberadaan Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan membawa pula pada akselerasi pada perkembagan ekonomi kota Bandung hingga tahun 1970 (Reiza D. Dienaputra dalam Freek Colombijn 2006 : 189).

Arsitektur Indis

Sebagai suatu ilmu yang mempelajari sisa-sisa kebudayaan suatu masyarkat, penelitian arkeologi tidak melulu harus dilakukan dengan penggalian benda-benda yang berada di dalam tanah ataupun riset mengenai situs kesejarahan ataupun candi. Salah satu penelitian arkeologi, yang menarik dan tidak harus melakukan pengalian yang memerlukan biaya yang besar, adalah studi tentang perkembangan gaya bangunan gedung-gedung tua. Tren penelitian ini, pada masa sekarang, menjadi suatu kajian yang baru dan menarik para peneliti baik para arkeolog maupun arsitek. Sebagai konsekuensinya, para arkeolog pun harus mempunyai pengetahuan tentang ilmu arsitektur ataupun para arsitek harus sedikit mengetahui ilmu arkeologi. Pada kesempatan ini saya akan mencoba membahas seni bangunan di Kota Bandung khususnya Arsitektur Indis (Indo-Eropa) dari sudut pandang arkeologi.

Sebelum membahas lebih dalam tentang arsitektur Indis (Indo-Belanda), tentu kita harus mengetahui apa yang dinamakan arsitektur Indis (Indo Belanda). Secara sederhana, arsitektur Indis mempunyai pengertian, yaitu perpaduan antara budaya barat dengan budaya lokal (timur). Kehadiran arsitektur yang mempunyai nama lain hibrid tersebut bukan saja menjadi bukti perpaduan budaya barat dan lokal/vernakular (timur) di Bandung, namun juga merupakan rekayasa sempurna ketika seni bangunan barat mencoba tanggap terhadap kondisi lokal (www. bandungheritage.org).

Peranan kota Bandung yang sentral bagi pemerintahan Belanda, selain sebagai pusat pemeririntahan juga dipakai sebagai tempat peristirahatan membuat pemerintah melakukan pembangunan yang gencar di kota tersebut. Puncak pembangunan Bandung terjadi pada rentang tahun 1920-1940-an ketika para arsitek Belanda mencoba melakukan inovasi dalam seni bangunan yang berbeda dari apa yang lazimnya dilakukan di negeri asal mereka yang beriklim subtropis. Menurut Helen Jessup, hal tersebut berkaitan dengan gerakan pembaharuan dalam arsitektur nasional dan internasional, yakni upaya mencari identitas arsitektur kolonial Belanda di tanah jajahan yang juga merujuk pada arsitektur tradisional Nusantara (Jawa). Berbagai struktur dan infrastruktur dibangun untuk mendukung peran kota Bandung tersebut. Akan tetapi, arsitektur Indis belum menjadi prioritas utama bagi para arsitektur Belanda pada saat itu.

Geliat pembangunan kota Bandung sangat terasa ketika muncul ide pemindahan Ibukota Hindia Belanda ke kota ini. Dimulailah pembangunan sarana-sarana fisik terutama pusat pemerintahan. Pembangunan ini sendiri dipimpin oleh . F.J.L. Ghijsels dari Gemeente-werken yang berhasil mendirikan 750 bangunan baru di kota tersebut. Selain itu, pemerintah kolonial juga memberi kesempatan kepaa arsitek-arsitek yang telah mengenyam pendidikan di Technische Hoogeschool Delft.

Akan tetapi, dari segi arsitektural, bangunan-bangunan yang didirikan cenderung bercorak penjiplakan langgam arsitektural yang sedang menjadi tren di Eropa, seperti Art Nouveau, yang dibawa oleh arsitek P.A.J Moojen pada tahun 1905 dan Art Deco, yang dibawa oleh arsitek generasi berikutnya pada tahun 1920-an). Akibat dari penjiplakan tersebut, Kota Bandung benar-benar merupakan jiplakan dari kota di Eropa. Arsitektural Eropa ini sekarang masih dapat kita lihat sisa-sisanya di Jalan Braga dan sekitarnya.

Kebanyakan yang dilakukan oleh para arsitek ini adalah menjiplak langgam yang sedang menjadi tren di Eropa, seperti Art Nouveau (dibawa oleh arsitek P.A.J. Moojen sekira tahun 1905) dan Art Deco yang lebih fungsional (dibawa oleh arsitek generasi berikutnya setelah tahun 1920-an). Akibatnya, wajah kota Bandung kala itu benar-benar merupakan jiplakan wajah Eropa, seperti yang masih dapat kita saksikan sisa-sisanya di pertokoan Jalan Braga dan sekitarnya.

Sebuah kritikan tentang penjipkan arsitektur Eropa datang pada saat kunjungan arsitektur senior terkenal Belanda, Hendrik Petris Berlage yang kebetulan sedang berkunjung ke Bandung pada tahun 1923 . Ia kemudian bertemu dan mengadakan diskusi dengan beberapa arsitek muda. Dalam pertemuan itu, ia banyak mengkritik keras kebijakan penggunaan arsitektur murni Eropa tanpa adanya adaptasi dengan budaya dan iklim lokal seperti yang banyak dilakukan di Indonesia. Dalam kesempatan itu juga ia mengungkapkan pentingnya pencarian sebuah arsitektural asli yang merupakan sintesa dari kebudayaan Indonesia dan teknologi konstruksi barat. Atas prakarsa yang berupa kritikan dari Berlage tersebut, muncul diskusi-diskusi mengenai arsitektural baru yang dipelopori oleh Prof. Ir. Wolff Schoemaker dari T.H. Bandoeng dan koleganya, Maclaine Pont. Beberapa bangunan yang dibangun kemudian setelah adanya kritikan dari Berlage tersebut turut megadaptasi budaya lokal di dalamnya. Gaya arsitektural semacam ini kemudian dikenal dengan nama arsitektural Indis.

Menurut C.P. Wolff Schoemaker, Arsitektur Indis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

· Sosok bangunan yang umumnya simetris

· Memiliki ritme vertikal dan horisontal yang relatif sama kuat

· Konstruksi bangunannya disesuaikan dengan iklim tropism terutama pada pengaturan ruang, ventilasi masuknya sinar mataharim dan perlindungan hujan. (bandungheritage.org)

Beberapa bangunan yang dipandang memiliki gaya arsitektur Indis antara lain Gedung Sate, Aula Barat ITB, Mesjid Cipanganti, Vila Merah ITB,Gedung Bioskop Majestic , dan Hotel Preanger

Sayang, sebagian bangunan-bangunan yang bisa menceritakan tentang sejarah kota, kebudayaan dan seni arsitektur tersebut mulai banyak diruntuhkan. Beberapa di antaranya memang ada yang berhasil diselamatkan berkat usaha gigih yang dilakukan para pengurus Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage). Tetapi, sebagian lainnya sudah tidak jelas lagi karena sudah rata dengan tanah. Dengan kekuasaan rezim ekonomi, di atasnya sudah berdiri bangunan baru. Jadi, banyak yang mengkhawatirkan Bandung akan kehilangan salah satu identitas dan sekaligus kekayaan budayanya. (Kompas, Minggu, 24 Maret 2002)

Bangunan-Bangunan Indis

Seperti yang telah diuraikan di atas, Kota Bandung memiliki berbagai macam bangunan berasitektur Indis. Beberapa diantaranya adalah Hotel Preanger, Gedung Sate, Gedung Bioskop Majestic, Mesjid Cipaganti dan lain-lain. Setiap bangunan tersebut walaupun memiliki gaya arsitektural yang sama akan tetapi tentu pula mempunyai keunikan tersediri bergantung pada fungsi dari bangunan itu sendiri. Dalam laporan ini, saya akan mencoba membahas beberapa bangunan indis, walaupun tidak semua namun diharapkan dapat menunjukan keunikan dari beberapa bangunan yang akan dibahas.

· Gedung Sate

Bangunan yang menjadi ciri khas Ibukota Propinsi Jawa Barat ini karena dibagian atapnya terdapat desain yang berbentuk tusuk sate (padahal sebenarnya menunjuk jumlah pengeluaran yang dihabiskan untuk pembangunan gedung ini, yaitu 6 juta gulden). Bangunan yang berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m² ini pada Zaman Kolonial Belanda dikenal dengan nama bangunan Gouvernements Bedrijven disingkat “GB” atau Pusat Instansi Pemerintahan. Awal bangunan dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 27 Juli 1920, oleh Nona Johanna Catherina Coops putri sulung Walikota Bandung B. Coops yang didampingi Nona Petronella Roeslofsen yang mewakili Gubernur Jenderal di Batavia. Pada awal tahun 1924 Gedung Hoofdbureau PTT rampung dikerjakan, disusul dengan selesai dibangunnya Induk Gedung Sate dan Perpustakaan Tehnik yang paling lengkap di Asia Tenggara, pada bulan September 1942. (www.id.wikipedia.org) Latar belakang pembangunan ini berkaitan dengan rencana Pemerintah Kolonial Belanda di zaman Gubernur Jenderal J.P. Van Limburg Stirum yang menjabat pada rentang waktu 1916-1921 untuk memindahkan Ibukota Hindia Belanda atas usul H.F. Tillema,seorang ahli kesehatan lingkungan pada tahun 1916. Akan tetapi, akibat terjadinya resesi ekonomi (malaise) di tahun 1930-an, akhirnya rencana pemindahan ibukota negara beserta bangunan-banguan pemerintah pusat dari Batavia ke Bandung tidak dilanjutkan Sekarang Gedung Sate berfungsi sebagai Kantor Gubernur Propinsi Jawa Barat. Sayap timur gedung ini sekarang ditempati oleh Kantor Pos dan Giro (pada zaman kolonial disebut PTT) . Sedangkan bangunan sayap barat merupakan Gedung DPRD Propinsi Jawa Barat.

Selain mempunyai fungsi penting sebagai pusat pemerintahan, Gedung Sate termasuk bangunan yang mempunyai seni arsitektur yang cukup menawan dan dapat diklasifikasikan sebagai bangunan Indis. Ilham pendesainan gedung ini diperoleh ketika arsiteknya Ir. Greber dan kawan-kawan (Kol. Genie (Purn.) V.L. Slor dari Genie Militair, Ir. E.H. De Roo dan Ir. G. Hendriks yang mewakili Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W) atau DPU sekarang dan Gemeentelijk Bouwbedriff (Perusahaan bangunan Kotapraja) Bandung) mendapat masukan dari maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage yang menyarankan untuk memasukan wajah arsitektur tradisional nusantara. Aspek pertama dari banguna ini yang dapat kita telaah adalah tentang konstruksi bangunan. Kekokohan gedung sate sampai saat ini sangat beralasan karena dinding gedung ini terbuat dari kepingan batu berukuran besar (1X1X2 M) yang diambil dari kawasan bukit di Bandung TImur tepatnya di daerah Arcamanik dan Gunung Manglayang. Disamping itu, teknik konstruksi yang dipakai untuk gedung ini dapat dikategorikan konvensional dan professional serta memperhatikan standar teknik.

Sedangkan dari sudut pandang arsitektur, Greber memadukan berbagai aliran arsitektur terhadap gedung tersebut. Untuk bagian jendela Greber mengambil gaya Moor Spanyol, lalu untuk bangunan secara keseluruhan, ia mengunakan gaya Rennaisance Italia. Untuk bagian menara atap bersusun atau yang disebut “tumpang” digunakan aliran asia, yaitu gaya Pura Bali dan Pagoda Thailand. Pada bagian puncak terdapat ornament yang menyerupai tusuk sate yang berjumlah 6 buah , akan tetapi ada juga yang menyebutkan bentuk bulatan itu sebagai jambu air atau melati, padahal makna sebenarnya adalah jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate. Selain mengungkapkan kesan anggun, indah, megah, dan monumental, penantaan bangunan pada umumnya berbentuk simetris. Selain itu juga adanya pemakaian elemen lengkungan yang ritmis, berulang-ulang (repetisi) sehingga menciptakan “irama arsitektur” yang menyenangkan, indah dan unik.

Kembali kepada bentuk bangunan, bagian depan gedung sate (fasade) dibuat dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan. Dalam hal ini, Gedung Sate sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara. Pada bagian timur dan barat terdapat dua ruangan besar (aula) yang mempunyai kesan sebagai tempat dansa (ballroom) dan merupakan cirri khas bangunan Eropa.. Ruangan ini seing dikenal pula dengan sebutan aula barat dan aula timur yang lebih banyak berfungsi sebagai tempat kegiatan resmi. Pada masa setelah kemerdekaan tepatnya pada tahun 1977, Gedung Sate diperluas dengan membagun gedung baru yang banyak mengambil arsitektur yang sama. Oleh arsiteknya, Ir. Sudibyo, gedung baru ini dirancang sebagai kantor pimpinan dan anggota DPRD Daerah Jawa Barat.

· Mesjid Cipaganti

Salah satu mesjid tua Bandung yang berlokasi di wilayah yang pernah mendapat predikat sebagai pemukiman orang Eropa adalah Mesjid Cipaganti. Masjid yang dibangun pada 1933 ini merupakan masjid pertama yang didirikan di lingkungan pemukiman bangsa Eropa. Dulu, masjid ini memiliki nama Masjid Kaum Cipaganti. Saat itu, peletakan batu pertama dilakukan oleh Asta Kandjeng Bupati Bandung, Raden Tumenggung Hasan Soemadipradja Patih Bandung didampingi Raden Rg Wirijadinata dan Raden H Abdul Kadir pada 11 Syawal 1351 Hijriyah (7 Februari 1933). Di sisi lain, luas bangunan masjid hanya 9 m x 15 m2. Dalam perjalanannya, masjid ini banyak mengalami masa pancaroba. Pada  1979 hingga 1983, masjid itu direnovasi karena tidak sesuai dengan pertumbuhan umat muslim saat ini. Maka, para pengelola masjid pun bersepakat untuk memperluas bangunan itu pada sisi kiri dan kanan, masing-masing 17 m2. Kini bangunan Masjid Raya Cipaganti dengan luas keseluruhan 48 m x 15 m itu, berdiri megah. Masjid ini adalah masjid tertua kedua di Bandung, setelah Masjid Agung Bandung. Sekarang masjid ini menjadi tempat persinggahan bagi para wisatawan yang datang ke Bandung.

Sang arsitekturnya, Kemal C.P. Wolff, yang merupakan arsitek terkemuka Belanda banyak mengadaptasi seni bangunan tradisional Jawa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk atap yang berupa tajug tumpang dua limas an dengan atap-atap tambahandi setiap sisi. Selain itu, penggunaan konstruksi empat kolom saka guru di tengah ruangan shalat masih tetap dipertahankan keasliannya. Dari ide-ide yang dikembangkan oleh Wolff, Mesjid Cipaganti terkesan sebagai mesjid moderen tetapi mengadaptasi juga nilai-nilai tradisional. Selain itu, terdapat pula detil-detil arsitektural dan ornament-ornamen floral yang diambil dari nilai-nilai tradisional Jawa. Namun unsur Eropanyanya pun tampak dari konstruksi atap bangunannya yang memakai teknik bangunan kolonial. Hal ini tampak jelas dari penggunaan kuda-kuda segitiga pada interior atapnya.

Di samping itu, terdapat pula penggunaan relung-relung tapal kuda atau yang lebih popular dikenal dengan nama horseshoe archesi. Hal ini dapat kita jumpai di bagian utama pintu masuk dan menuju mihrab, tempat imam memimpin shalat. Selain itu, terdapat pula elemen dekorasi berupa kaligrafi yang mayoritas bergaya kufi. Seperti yang terlihat di beberapa bagian mesjid. Kaligrafi ini terdpat di keempat kolom saka guru, relung tapal kuda, mihrab, dan atau dinding penghalang yang berada tepat setelah pintu masuk utama.

Hal lain yang menarik dan dapat kita amati adalah lampu yang menggantung pada langit-langit di tengah ruang utama shalat. Lampu yang dikategorikan antik ini, terbuat dari logam yang berwarna kuning dan masih asli peninggalan kolonial/ Tali penganting yang menyangga lampu tersebut juga terbuat dairi logam. Selain itu, kondisi lampu tersebut juga masih terpelihara dengan baik.

· Hotel Preanger

Tempat penginapan yang termasuk tua ini, pada awalnya merupakan toko yang menyediakan barang kebutuhan sehari-hari. Ketika itu, tahun 1884 dimana Bandung masih bernama Priangan, pemilik perkebunan sudah mulai berhasil dalam mengembangkan usaha pertanian dan perkebunannya. Mereka kemudian sering berdatangan ke Bandung. Saat itu Groote Postweg (yang sekarang menjadi jalan Asia-Afrika) merupakan pusat kota dan menjadi tujuan utama para pemilik perkebunan tersebut untuk menghabiskan uangnya. Melihat semakin banyaknya orang yang datang untuk berlibut, W.H.C. Van Deeterkom lalu mengubah toko yang telah disebutkan di atas menadi sebuah hotel . Tepatnya pada tahun 1897, dubangunlah tempat penginapan yang nantinya menjadi cikal bakal Hotel Preanger. Selama lebih dari seperempat abad, hotel tersebut menjadi kebanggaan orang-orang Belanda di kota Bandung. Selanjutnya pada tahun 1929, hotel yang pada saat itu digolongkan berasitektur Indishe Empire ini kemudian di renovasi. Salah satu arsitek yang menagani renovasi ini adalah I.r. Soekarno. Akan tetapi renovasi hotel ini tidak mengubah secara keseluruhan bentuk bangunan hotel. Kemudian pengelolaan hotel terus berpindah tangan dari N.V. Sault, CV Haruman , PD Kertawisata hingga PT Aerowisata yang megelolanya pada tahun 1987 dan menganti namnya menjadi Hotel Preanger. Meskipun telah direnovasi, Grand Hotel Preanger tetap menampakkan eksterior klasiknya yang bersejarah. Selain itu tetap juga dipertahankan pola-pola art deco sebagai ciri khas Grand Hotel Preanger.

Wajah asli dari bangunan hotel ini dapat dilihat dari Jl. Asia Afrika maupun Jl. Tamblong. Sebuah bangunan bersejarah dengan gaya arsitektur berselera tinggi. Dipertahankannya bangunan lama ini justru menjadi daya tarik hotel yang letaknya berdekatan dengan Gedung Asia-Afrika ini.

Dari persepktif arsitektural, pada awalnya hotel ini cenderung bergaya Indishe Empire Stijl namun pada tahun 1929 hotel ini direnovasi oleh Prof. CP Wolff Schoemaker yang mengubah juga gaya arsitekturnya menjadi modem Fungsional- Streamline dengan Art Deco geometrik yang pada bagian muka tampak hiasan dan pola zig-zag bersiku serta bentuk geometris lainnya yang mirip gaya Indian di Amerika Selatan. Rancangannya merupakan paduan yang tepat antara skala dan proporsi bangunan, serta konsep ruangnya. Komposisi bangunan yang bertingkat-tingkat dengan pola asimetris yang dilengkapi dengan menara pada bagian tengah dan dibuat tidak terlalu tinggi namu kaya akan unsure dekoratif. Menara tersebut menjadi pusat perhatian yang menarik karena banyaknya ornament berpola geometris, zig-zag,abstrak, dan berlapis-lapis pada bagian puncak dan sisi-sisinya. Ornamen sejenis juga terlihat memesona menghiasi bidang kolom, lisplang, serta overhang pada pintu masuk serupa dengan pola pada menara. Pada tahun 1980-an bangunan ini kembali mengalami perluasan, yaitu pada bagian timur sisi timur. Gaya arsitektur yang ditampilkan saat ini banyak mendapat pujian sebagai karya baru yang dapat berpadu dengan serasi dengan bangunan lama. Rancangannya yang baru sangat memperhatikan serta memperhitungkan gaya dan desain bangunan lama yang menjadi acuan utama. Selain itu Hotel Preanger juga mempunyai arsitektur yang mempunyai sentuhan Sunda. Hal ini dapat kita lihat dari dua sayap hotel ,yaitu Naripan dan Asia-Afrika yang distukan oleh sebuah menara. Sedangkan lobi hotel didesain sehingga mempunyai kesan tempo dulu dan dilengkapi pula dengan marmer, perabot kayu jati ,bingkai jendela yang terbuat dari kunigan . Pada bagian kamar gaya arsitektural yang dominan adalah art deco dan kamar suite yang bergaya tahun 1920-an.

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Diktat

Colombijn, Freek et.al. 2006.

Kota Lama Kota Baru ; Sejarah Kota-Kota Di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan.Jogjakarta : Ombak.

Sarigendeyanti, Etty. 2006

Pengantar Arkeologi ; Bahan Ajar Mata Kuliah Pengantar Arkeologi. Jatinangor : Jurusan Sejarah Unpad

Website

www.arsitekturindis.com/index.php

www. bandungheritage.org

www.id.wikipedia.org

Surat Kabar

Kompas, Minggu, 24 Maret 2002

3 thoughts on “Arsitektur Indis di Kota Bandung

  1. guh, tak nyangka aku bisa nyampe di blog mu.. padahal gw iseng lg nyari tentang rencana perpindahan ibu kota HB ke Bandung. Rapi jg tulisan kau..

  2. Great reference tentang Bandung…
    nice work!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s