Cerita Tentang Tempe

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang bersantap di kota Medan saya menemukan kejanggalan dalam hidup saya. Malam itu di suatu restoran Sunda yang cukup ramai dikunjungi keluarga saya dan keluarga adik bapak saya yang paling bungsu bersantap bersama. Lalu kami memesan, ada yang memesan ayam, ikan, sate, dan lain sebagainya, tetapi tidak seperti biasanya tidak ada yang memesan tempe.

Bagi sebagian besar orang, kacang kedelai merupakan sumber protein vital, yang dapat mengantikan daging ataupun ikan sebagai sumber protein utama bagi manusia. Kacang kedelai dipandang sebagai sumber protein murah yang dapat dijangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam catatan historis bangsa ini, berbagai olahan kacang kedelai, terutama tahu dan tempe, merupakan lauk-pauk yang dapat dijangkau di tengah-tengah kemiskinan masyarakat pada saat itu. Pun begitu pada zaman Soekarno. Walupun Soekarno pernah mengkritik bangsa Indonesia mempunyai mental tempe, bukan berarti tempe tidak lagi menjadi makanan populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pada masa Orde Baru, ketenaran tempe mencapai puncaknya, sehingga kurang lengkap rasanya jika setiap bersantap tidak ada makanan yang diolah dari tempe di atas meja makan.

Kini, tempe menjadi makanan yang keberadaannya terancam absen di atas meja makan. Seperti tahu, yang sudah dipatenkan oleh Jepang, tempe pun rencannya akan dipatenkan oleh Negara lainnya. Sehingga jika ingin memproduksi tempe, maka harus ada lisensi dari negara yang akan mematenkan tempe tersebut. Memang produksi tempe di dalam negeri tidak dapat dilepaskan dari luar negeri. Hal ini dikarenakan bahan baku pembuat tempe, yaitu kacang kedelai, adalah hasil impor dari luar negeri. Produksi kacang kedelai dalam negeri tidak dapat menciptakan tempe yang baik.

Orang Batak Tidak Suka Tempe

Di tengah kekhawatiran untuk mengkonsumsi protein nabati yang murah, beberapa kalangan tampaknya tidak mempunyai masalah berkaitan dengan masalah yang disebut di atas. Ada sebagian kalangan yang memang tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi tempe, sedangkan sebagian yang lain memandang tempe sebagai makanan kelas rendah. Orang Batak adalah kalangan yang menganut dua alasan di atas. Di dalam budaya masakannya, memang tidak pernah ditemukan adanya makanan olahan dari kacang kedelai ini. Seperti yang diketahui, orang Batak adalah salah satu suku yang menjadikan ikan dan daging sebagai sumber protein utamanya. Ketika seorang migran Batak datang ke pulau Jawa dan mereka disuguhi tempe, mereka akan bertanya makanan apa ini? Setelah mereka tahu itu tempe saya jamin mereka tidak akan menyentuhnya.

Menurut pengalaman saya ada beberapa contoh yang dapat saya tarik ke permukaan berkaitan dengan ketidaksukaan orang Batak terhadap makanan yang bernama tempe. Pertama, seringkali ketika saudara saya datang dari Tanah Batak dan mereka diajak makan di suatu restoran Sunda, mereka agak tersendat menyantap masakan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tempe. Mungkin, kebiasaan memakan daging yang empuk membuat lidah mereka terasa aneh ketika memakan sebongkah kacang kedelai yang dipadatkan. Sebaliknya, apabila saya mengajak mereka makan di Restoran Tionghoa, selera makan mereka meningkat berkali-kali lipat, atau kembali ke tabiat aslinya. Kedua, saya mengenal beberap orang migrant Batak yang telah berpuluh-puluh tahun hidup di Jawa, namun tidak tertular sama sekali untuk menyentuh tempe setiap kali bersantap. Padahal di atas meja makan tersebut hampir setiap hari tersedia tempe yang menurut saya dimasak cukup variatif, namun tidak pernah terbesit sekalipun apalagi mewujudkannya untuk menyantap tempe tersebut.

Bagi saya, seorang Batak yang lahir di tana perantauan Jawa, tampaknya keenganan untuk mengonsumsi tempe telah luntur. Hampir setiap hari saya mengonsumsi tempe. Bahkan ketika masih kuliah, menu makanan saya, baik siang dan malam, tidak akan pernah lepas dari kelezatan tempe. Memang, ada perbedaan antara orang Batak yang lahir di Tanah Batak dan tanah perantauan. Ketika bersantap di rumah pun, tempe telah menjadi bagian integral dari menu hidangan saya.

Pertanyaan yang perlu dimunculkan adalah mengapa orang Batak tidak menyukai tempe. Pertama, hal yang perlu dijelaskan disini adalah orang Batak hampir tidak mengenal makana olahan dari kacang kedelai ini. Jadi tradisi bersantap mereka tidak mengenal tempe sebagai sumber protein. Hal ini telah saya buktikan dalam beberapa kesempatan pulang kampung ke Tanah Batak. Menurut pengalaman saya tidak pernah dalam satu kesempatan bersantap ada makanan yang bernaman tempe. Satu-satunya makanan olahan kacang kedelai yang sering dihidangkan adalah taucho, itupun hanya sebagai campuran dalam sayuran jenis tertentu. Kedua, mereka memandang rendah tempe sebagai makanan para kuli kontrak Jawa yang datang ke Sumatera Timur. Seperti yang telah diketahui, pada saat pemerintah kolonial membuka perkebunan di Sumatera Timur, para kuli kontrak yang didatangkan sebagian besar dari pulau Jawa. Menurut perkiraan saya, kebiasaan makan tempe pun di bawa ke daerah sumatera Timur tersebut. Ketika dua etnis yang berbeda kebudayaan ini bertemu, orang Batak melihat kebiasaan orang Jawa untuk menyatap tempe, baik sebagai lauk pauk utama maupun pendamping, porses untuk memarginalisasi tempe dimulai. Pada saat itu memang orang Jawa merupakan kelompok masyarakat paling dasar, walaupun dari segi jumlah mereka cukup besar, sedangkan orang Batak termasuk golongan menengah ke atas yang walaupun jumlahnya tidak banyak namun kedudukannya cukup signifikan. Pada saat itu timbullah pemikiran bahwa masa makanan saya sama dengan para kuli kontrak itu. Ketika mereka pulang kampung ke Tanah Batak, mereka menceritakan kepada sanak keluarganya dan kemudian meluas ke seluruh kampung, antar kampung dan Tanah Batak secara keseluruhan bahwa konotasi tempe adalah masakan kelas bawah. Pakem inilah yang berhasil dipertahankan dan diwariskan hampir ke setiap orang yang lahir dan besar di Tanah Batak. Ketiga, menurut saya, sumber protein orang Batak yang utama adalah daging (baik ikan, sapi, babi, dan ayam) yang memeiliki tekstur yang lembut, berlemak dan basah. Ketika orang Batak menemukan tempe dengan tekstur yang kasar, berbutir-butir, dan kering, mereka memutuskan untuk tidak memakannya.

Mudah-mudahan penjelasan saya mengenai asal-usul orang Batak tidak gemar makan tempe, sesuai dengan perintah eyang Soeharto, dapat diterima dan tidak menyakitkan berbagai pihak yang membacanya.

One thought on “Cerita Tentang Tempe

  1. tulisan yang menarik…. trims..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s