Bangkitnya Feodalisme di Indonesia

Sejarawan Prof. Dr. Djoko Suryo, dalam sebuah kesempatan di salah satu acara televisi mengatakan, “Dulu seorang sultan memang memiliki kekuatan politik untuk mengatur kesultanannya, tetapi sekarang seorang sultan sekarang sekarang adalah pemimpin kultural bukan politis. Akan tetapi, kontras sekali peryataan ini apabila kita menyaksikan pula kesediaan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu 2009.

Pertanda apakah ini? Ketika seorang pemimpin tradisional kharismatis di mata masyarakat Yogjakarta dan menjadi simbol eksistensi budaya Jawa yang telah merintis karier politiknya dan sekarang memutuskan untuk mengajukan diri menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Sikap Politik

Bila kita runut sedikit ke belakang, ada sebuah kenyataan yang muncul bahwa hampir sebagian besar kerajaan yang dibiarkan hidup oleh Pemerintah Kolonial Belanda adalah sekutu para penjajah itu sendiri. Sikap politik mereka menunjukkan bahwa keturunan Raja Mataram ini termasuk golongan oportunis. Ketika pemerintah kolonial Belanda mulai mengambilalih kekuasaan di seluruh Pulau Jawa, kesultanan ini memilih untuk bekerjasama dengan masyarakat demi kemapanan hidup mereka dan mengorbankan penderitaan masyarakat pada saat itu. Keberlangsungan otoritas politik dan kepentingan ekonomi menjadi alasan utama mereka untuk memilih hal tersebut.

Pun ketika Kolonialisme Belanda runtuh, sikap politik Mataram berubah lagi. Ada sebuah asumsi yang berkembang, bahwa Mataram berusaha menarik simpati elit politik pada saat itu. Kesempatan itu menjadi terbuka ketika Jakarta dirasakan tidak menjadi tempat yang aman bagi elit politik Indonesia pada saat itu. Melihat kenyataan tersebut, lalu sultan menyediakan diri menampung mereka di Kota Jogjakarta. Pamor sultan yang sempat menyurut kemudian kembali merekah terutama setelah terlibat dalam berbagai pertempuran. Dalam berbagai pertempuran misalnya, Agresi Militer Belanda I dan II, serta Serangan Umum 1 Maret, sultan dianggap orang sipil yang mempunyai kewenangan hampir sama dengan pemimpin tertinggi pada saat itu, Sudirman.

Selama periode Orde Lama, sultan dikesankan sebagai sosok yang loyal terhadap Soekarno. Ia dipandang sebagai orang yang sangat dekat dengan presiden pertama RI ini. Namun demikian, ketika Sokarno jatuh, akibat isu komunis, toh oportunisme sultan muncul kembali dengan dalih menyelamatkan kesultanannya. Ia pun kemudian bertransformasi menjadi bagian dari Orde Baru. Jalan yang diplomatis membuatnya tidak menjadi sasaran pendukung Soekarnoisme dan bahkan sebaliknya ia menjadi pendudukung pemerintah dengan memasuki Golkar sebagai wadah politiknya yang baru.

Soeharto runtuh, reformasi bangkit, sultan memikirkan strategi yang baru lagi. Setelah berusaha mengesankan sebagai pemimpin yang bijaksana di Yogjakarta. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia tidak puas hanya menjadi Gubernur Propinsi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY), suatu daerah yang memang diistimewakan karena kesultanannya itu. Gelagat ini mulai terlihat ketika ia tidak bersedia lagi dicalonkan menjadi Gubernur DIY, tetapi sangat berhasarat untuk menjadi presiden. Berbagai desakan kemudian memaksanya untuk mengungkapkan isi hatinya yang terpendam itu. Dalam sebuah upacara yang cukup megah, sultan dengan hormat mengumumkan dirinya akan maju sebagai calon presiden di Pemilu 2009 mendatang.

Fungsi Politik vs Fungsi Budaya

Melihat kecendrungan seperti itu, urgensi mempertahankan Jogjakarta sebagai pusat budaya Jawa denga Keraton sebagai simbolnya patut dipertanyakan kembali. Sultan yang dipandang sebagain besar masyarakat sebagai tokoh Raja-Dewa sebenarnya hanya mempunyai fungsi sebagai pemimpin kebudayaan Jawa. Namun demikian, ambisinya ternyata tidak terbatas pada titik itu. Ia ingin membangkitkan kembali kesultanan yang dipimpinnya melalui jalur eksekutif. Sikap ini sebenarnya sangat prematur karena lebih berpotensi menghasilkan berbagai hal yang negatif.

Setidaknya ada dua hal yang perlu digarisbawahi dalam tulisan ini. Pertama, berseminya kembali feodalisme. Dalam sejarah bangsa ini, feodalisme merupakan bentuk penghisapan yang dibungkus oleh nila kultural dalam bentuk konsep patron-klien, raja berkewajiban melindungi rakyat, sedangkan rakyat berkewajiban melayani raja. Dalam aplikasi yang lebih moderen, feodalime belum sepenuhnya hilang di negara ini. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana Soeharto menerjemahkan kapitalisme barat dalam bentuk feodalime moderen Jawa yang sangat menyengsarakan rakyat. Pertanyaannya sekarang apakah feodalisme yang sedang mengalami proses pengikisan mau diterima lagi dalam wujud feodalisme gaya baru? Apakah masyarakat bersedia menanggung konsekuensi dari praktek feodalisme tersebut?

Kedua, dalam kepentingan mempertahankan budaya Jawa, saya pikir bukan suatu kebijakan yang bijaksana apabila sultan sebaga seorang pemimpin budaya Jawa tertinggi meninggalkan wewnangnya hanya untuk mendapatkan gengsi politik yang telah terkubur. Menurut saya, budaya Jawa lebih penting untuk dipertahankan, karena memang telah mengalami perubahan ke arah yang negatif sehingga jati diri Jawa semakin terkikis dan berpotensi akan menghasilkan generasi penerus yang tanpa budaya dikemudian hari.

Manusia memang mahluk politik. Artinya, ia akan selalu haus untuk memenuhi kepentingannya dalam menguasai sesuatu. Akan tetapi kepentingan politiknya itu tidak kaku, melainkan dapat diatur sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan keluaran yang lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang di sekitarnya.

One thought on “Bangkitnya Feodalisme di Indonesia

  1. menarik untuk dibaca dan akan lebih menarik bila topiknya berkembang bukan hanya Sultan, tetapi lebih luas dalam kehidupan bernegara saat ini.
    Tks sudah menulis naskah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s