Phobia Komunis, Mengapa Terjadi ?

Pada penghujung tahun 2008 ini, berbagai protes menentang bahaya laten komunis marak terjadi. Biang keladinya adalah pembuatan film Lestari, yang menurut sutradaranya adalah genre film percintaan yang mengambil latar tahun 1965. Berbagai demonstrasi terjadi di Solo, Bandung, Bogor, dan kota-kota lainnya. Para aktor yang mengatasnamakan rakyat ini muncul dari kalangan ormas sampai mahasiswa. Aparat keamanan yang pada awalnya mengizinkan pengambilan gambar ikut-ikutan terpengaruh, padahal aksi mendukung pengambilan gambar film Lestari bukannya tidak ada.

Pertanyaan besar yang perlu diungkapkan, meminjam istilah Orde Baru, adalah apakah bahaya laten Komunis menjadi masalah yang begitu esensial di tengah bertunasnya krisis global yang berdampak pada menurunya tingkat kesejateraan rakyat? Apakah permasalahan mengenai pangan, ekonomi, pendidikan, PHK, dan lain sebagainya kurang penting daripada potensi imajiner komunis yang harus dienyahkan terlebih dahulu dan menyampingkan berbagai persoalan nyata yang terjadi di masyarakat?

Phobia Komunis

Dalam konteks historis bangsa ini, komunis selalu ditempatkan sebagai kelompok pembangkang yang menjadi api dalam sekam perjalanan sejarah Indonesia. Historiografi gerakan komunis selalu dieksplanasikan secara tunggal. Sebelum kemerdekaan Indonesia, pemberontakan PKI 1926 dkonstruksikan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemberontakan yang masuk kategori berbahaya sehingga memengaruhi perkembangan politik pribumi, padahal PKI merupakan organisasi pertama yang secara teratur dapat melakukan gerakan subversif di berbagai daerah sekaligus untuk menentang kolonialisme Belanda. Memasuki periode kemerdekaan, Gerakan PKI 1948 dikatakan pemerintah melakukan makar dengan mendirikan Republik Soviet Indonesia di Madiun dan tindakan yang menusuk dari belakang karena terjadi berdekatan dengan Agresi Militer II. Padahal, berbagai saksi mengatakan bahwa gerakaan itu merupakan reaksi dari kebijakan Re-Ra Hatta yang mengakibatkan berbagai kesatuan militer daerah merasa tidak puas dan akhirnya memberontak. Puncaknya, Gerakan 30S 1965, yang dikatakan sebagai kristalisasi dari usaha PKI untuk mengubah ideologi Pancasila menjadi komunis. Dalam berbagai fakta yang tidak terungkap menunjukkan bahwa gerakan ini merupakan sentimen para perwira menengah yang kebetulan anggota dan simpatisan PKI terhadap para perwira tua yang duduk sebagai pucuk pimpinan PKI.

Gerakan 30S 1965 seolah menjadi dosa yang tidak termaafkan yang didakwakan kepada PKI tanpa pernah memperoleh hak untuk membela diri. Segera setelah itu, diadakan pembersihan di berbagai daerah bahkan sampai pelosok pedesaan untuk membersihkan para anggota dan simpatisan PKI. Tercatat lebih dari dua juta orang meninggal dan sisanya yang hidup mendapat sangsi sosial yang sangat tragis. Namun demikian, hal yang terpenting terjadi setelah itu. Orde Baru di bawah Soeharto kemudian menciptakan suatu ingatan yang melekat kuat dan mendarah daging melalui berbagai instrumen historis yang tampaknya cukup berhasil untuk menciptakan phobia komunis di tengah masyarakat awam negeri ini.

Dalam penelitian Katharine E. McGregor (2008), Ketika Sejarah Berseragam ; Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia, secara gamblang dijelaskan bagaimana Orde Baru melestarikan ingatan G30S 1965 sebagai bahaya laten. Berbagai instrumen artefak, sosiofak, dan meantifak kemudian diciptakan. Dari pembuatan historiografi tunggal yang dikomandoi oleh Nugroho Notosusanto, pembuatan berbagai museum, pembuatan Film, dan yang terpenting penanaman sikap phobia komunis melalui mata pelajaran PSPB dan Penataran P4 bagi pelajar.

Tampaknya usaha rezim Orde Baru ini cukup berhasil. Ketika isu komunis bukan lagi menjadi senjata yang ampuh untuk menciptakan keamanan negara, dan Orde Baru mulai mendekati Islam, yang termasuk kelompok yang dikalahkan, sampai runtuhnya rezim ini pada Mei 1998, toh mentalitas bangsa ini untuk menerima komunis tak kunjung datang.

Dosa yang Tak Termaafkan

Ketika Gus Dur menjadi presiden dan mulai mengagas usaha rekonsiliasi kembali bangsa ini, termasuk merangkul orang-orang komunis dukungan datang dari berbagai pihak. Salah satu usaha yang pantas dipuji adalah inisiatif Gerakan Pemuda Ansor, yang termasuk kelompok yang ikut melakukan pembantaian terhadapa anggota dan simpatisan komunis, atas inisiatifnya untuk melakukan konsolidasi, bahkan meminta maaf akan kekhilafan mereka. Namun demikian, usaha yang dirintis ini tidak dilanjutkan bahkan dipetieskan pada masa pemerintahan Megawati. Hal ini bukan saja terlihat pada dibekukannya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), tetapi juga pembakaran buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI dalam Gerakan 30 S.

Usaha Orde Baru tampaknya berhasil untuk membutakan masyarakat awam. Usaha untuk merangkul kaum yang termaginalkan menyurut kembali, namun tidak boleh berhenti. Setahap demi setahap, seiring dengan perubahan dalam masyarakat, usaha tersebut harus disemai, dipupuk, dan mudah-mudahan dapat dipanen dikemudian hari. Semoga dosa sejarah tidak menjadikan suatu kelompok masyarakat menjadi liyan di bumi Indonesia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s