Optimisme, Efisiensi, dan Krisis Global 2009

Krisis global menjadi momok yang menakutkan bagi penduduk planet ini. Pasalnya, beberapa perusahaan besar di berbagai negara kapitalis sudah gulung tikar. Padahal akhir tahun 2008 baru merupakan awal dari krisis yang diperkirakan lebih parah daripada krisis moneter 1997. Logikanya, apabila negara Eropa Barat dan Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif, bagaimana dengan Indonesia, negara dunia ketiga yang perekonomiannya masih carut-marut.

Gejala krisis global tampaknya telah menular ke Indonesia. Hal ini dimulai dengan naiknya harga bahan bakar minyak, yang disusul dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok rakyat. Kehidupan rakyat makin merana manakala berbagai perusahaan yang mereka mengais rezeki terancam ditutup. Hal ini disebabkan karena menurunnya permintaan akan produksi barang. Hal ini membuat mau tidak mau perusahaan melakukan rasionalisasi dengan merumahkan dan memecat para buruh.

Optimisme

Usaha pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang diharapkan dapat meringankan beban rakyat tidak dapat menolong banyak. Penurunan harga BBM minyak yang dijadikan pemicu untuk menurunkan harga-harga barang lain tidak berjalan mulus. Sebaliknya, kelangkaan terjadi berbagai tempat, tingkat konsumerisme masyarakat meningkat, dan terjadi gejolak berbagai tempat. Para ekonom tampaknya gagal mengaplikasikan ilmunya, para politikus terlalu sibuk dengan persiapan pemilu 2009, lalu siapa yang menolong rakyat?

Dalam sejarah bangsa ini, berbagai krisis dalam taraf yang sangat parah pernah terjadi di Indonesia, akan tetapi tidak pernah benar-benar mematikan perekonomian masyarakatnya. Apa rahasia dari hal tersebut. Saya kira kebijakan pemerintah hanya sedikit menolong di level makro. Dalam perekonomian sehari-hari, rakyat sebenarnya menolong dirinya sendiri. Di tengah meningkatnya harga barang-barang kebutuhan pokok, rakyat kemudian menyesuaikan diri. Ketika terjadi PHK dari berbagai perusahaan besar, rakyat menjalankan usaha-usaha kecil. Contoh yang terakhir inilah yang menjadi rahasia sukses pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca krisis 1997.

Lalu dalam menghadapi krisis global 2008,apakah yang harus dilakukan oleh rakyat, apakah mereka akan tetap mengemis kepada pemerintah, yang agaknya tidak akan terlalu merespon karena mereka harus memperjuangkan kekuasannya dalam pesta demokrasi 2008. Tampaknya rakyat harus berpikir untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.

Efisiensi

Kehidupan masyarakat sekarang ini, dapat dikatakan tidak efisein. Sebagai contoh, hampir sebagian besar penduduk miskin mempunyai anak lebih dari dua, namun tidak memiliki penghasilan yang cukup. Akibatnya, bukan dirasakan pada oleh orang tua, tetapi juga anak-anaknya yang tidak terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Dari contoh di atas, sebenarnya dapat diambil sebuah pelajaran bahwa budaya harus menyesuaikan keadaan. Artinya, harus ada adaptasi yang positif dalam menghadapi realitas kehidupan. Dari contoh di atas, misalnya, istilah banyak anak banyak rezeki menjadi tidak valid di perkotaan, karena bukan sektor agraris yang mendominasi, tetapi bidang-bidang pekerjaan yang profesional yang membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus.

Efisiensi sangat dibutuhkan dalam menghadapi realitas kehidupan, apalagi di wilayah perkotaan. Dalam pengelolaan penghasilan misalnya, masyarakat dituntut untuk mengatur kebutuhan konsumtif, tabungan, investasi, dan lain sebagainya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, mengonsumsi berbagai kebutuhan tersier untuk kepuasan belaka. Akhirnya harus mengali lubang dan menutup lubang setiap bulannya.

Hidup selalu penuh tantangan. Ketika manusia tidak lagi perlu berusaha, maka ia tidak mempunyai alas an untuk hidup. Begitu pula dengan krisis global, harus ada usaha yang penuh dengan optimisme disertai dengan efisiensi. Hanya itu yang dapat menolong hidup anda.

One thought on “Optimisme, Efisiensi, dan Krisis Global 2009

  1. Optimisme, Efisiensi, dan Krisis Global 2009

    Krisis global menjadi momok yang menakutkan bagi penduduk planet ini. Pasalnya, beberapa perusahaan besar di berbagai negara kapitalis sudah gulung tikar. Padahal akhir tahun 2008 baru merupakan awal dari krisis yang diperkirakan lebih parah daripada krisis moneter 1997. Logikanya, apabila negara Eropa Barat dan Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif, bagaimana dengan Indonesia, negara dunia ketiga yang perekonomiannya masih carut-marut.

    Gejala krisis global tampaknya telah menular ke Indonesia. Hal ini dimulai dengan naiknya harga bahan bakar minyak, yang disusul dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok rakyat. Kehidupan rakyat makin merana manakala berbagai perusahaan yang mereka mengais rezeki terancam ditutup. Hal ini disebabkan karena menurunnya permintaan akan produksi barang. Hal ini membuat mau tidak mau perusahaan melakukan rasionalisasi dengan merumahkan dan memecat para buruh.

    Optimisme

    Usaha pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang diharapkan dapat meringankan beban rakyat tidak dapat menolong banyak. Penurunan harga BBM minyak yang dijadikan pemicu untuk menurunkan harga-harga barang lain tidak berjalan mulus. Sebaliknya, kelangkaan terjadi berbagai tempat, tingkat konsumerisme masyarakat meningkat, dan terjadi gejolak berbagai tempat. Para ekonom tampaknya gagal mengaplikasikan ilmunya, para politikus terlalu sibuk dengan persiapan pemilu 2009, lalu siapa yang menolong rakyat?

    Dalam sejarah bangsa ini, berbagai krisis dalam taraf yang sangat parah pernah terjadi di Indonesia, akan tetapi tidak pernah benar-benar mematikan perekonomian masyarakatnya. Apa rahasia dari hal tersebut. Saya kira kebijakan pemerintah hanya sedikit menolong di level makro. Dalam perekonomian sehari-hari, rakyat sebenarnya menolong dirinya sendiri. Di tengah meningkatnya harga barang-barang kebutuhan pokok, rakyat kemudian menyesuaikan diri. Ketika terjadi PHK dari berbagai perusahaan besar, rakyat menjalankan usaha-usaha kecil. Contoh yang terakhir inilah yang menjadi rahasia sukses pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca krisis 1997.

    Lalu dalam menghadapi krisis global 2008,apakah yang harus dilakukan oleh rakyat, apakah mereka akan tetap mengemis kepada pemerintah, yang agaknya tidak akan terlalu merespon karena mereka harus memperjuangkan kekuasannya dalam pesta demokrasi 2008. Tampaknya rakyat harus berpikir untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.

    Efisiensi

    Kehidupan masyarakat sekarang ini, dapat dikatakan tidak efisein. Sebagai contoh, hampir sebagian besar penduduk miskin mempunyai anak lebih dari dua, namun tidak memiliki penghasilan yang cukup. Akibatnya, bukan dirasakan pada oleh orang tua, tetapi juga anak-anaknya yang tidak terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Dari contoh di atas, sebenarnya dapat diambil sebuah pelajaran bahwa budaya harus menyesuaikan keadaan. Artinya, harus ada adaptasi yang positif dalam menghadapi realitas kehidupan. Dari contoh di atas, misalnya, istilah banyak anak banyak rezeki menjadi tidak valid di perkotaan, karena bukan sektor agraris yang mendominasi, tetapi bidang-bidang pekerjaan yang profesional yang membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus.

    Efisiensi sangat dibutuhkan dalam menghadapi realitas kehidupan, apalagi di wilayah perkotaan. Dalam pengelolaan penghasilan misalnya, masyarakat dituntut untuk mengatur kebutuhan konsumtif, tabungan, investasi, dan lain sebagainya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, mengonsumsi berbagai kebutuhan tersier untuk kepuasan belaka. Akhirnya harus mengali lubang dan menutup lubang setiap bulannya.

    Hidup selalu penuh tantangan. Ketika manusia tidak lagi perlu berusaha, maka ia tidak mempunyai alas an untuk hidup. Begitu pula dengan krisis global, harus ada usaha yang penuh dengan optimisme disertai dengan efisiensi. Hanya itu yang dapat menolong hidup anda.

    Leave a Comment

    Filed under Kehidupan, Society

    Tagged as Efisensi, Krisis Global, Optimisme
    ← Natal, antara Perayaan dan Peringatan
    Memahami Konflik Palestina-Israel →
    Like
    Be the first to like this post.
    Leave a Reply Cancel reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Name *

    Email *

    Website

    Comment

    You may use these HTML tags and attributes:

          
    
    Notify me of follow-up comments via email.
    
    Notify me of new posts via email.Optimisme, Efisiensi, dan Krisis Global 2009
    
    Krisis global menjadi momok yang menakutkan bagi penduduk planet ini. Pasalnya, beberapa perusahaan besar di berbagai negara kapitalis sudah gulung tikar. Padahal akhir tahun 2008 baru merupakan awal dari krisis yang diperkirakan lebih parah daripada krisis moneter 1997. Logikanya, apabila negara Eropa Barat dan Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif, bagaimana dengan Indonesia, negara dunia ketiga yang perekonomiannya masih carut-marut.
    
    Gejala krisis global tampaknya telah menular ke Indonesia. Hal ini dimulai dengan naiknya harga bahan bakar minyak, yang disusul dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok rakyat. Kehidupan rakyat makin merana manakala berbagai perusahaan yang mereka mengais rezeki terancam ditutup. Hal ini disebabkan karena menurunnya permintaan akan produksi barang. Hal ini membuat mau tidak mau perusahaan melakukan rasionalisasi dengan merumahkan dan memecat para buruh.
    
    Optimisme
    
    Usaha pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang diharapkan dapat meringankan beban rakyat tidak dapat menolong banyak. Penurunan harga BBM minyak yang dijadikan pemicu untuk menurunkan harga-harga barang lain tidak berjalan mulus. Sebaliknya, kelangkaan terjadi berbagai tempat, tingkat konsumerisme masyarakat meningkat, dan terjadi gejolak berbagai tempat. Para ekonom tampaknya gagal mengaplikasikan ilmunya, para politikus terlalu sibuk dengan persiapan pemilu 2009, lalu siapa yang menolong rakyat?
    
    Dalam sejarah bangsa ini, berbagai krisis dalam taraf yang sangat parah pernah terjadi di Indonesia, akan tetapi tidak pernah benar-benar mematikan perekonomian masyarakatnya. Apa rahasia dari hal tersebut. Saya kira kebijakan pemerintah hanya sedikit menolong di level makro. Dalam perekonomian sehari-hari, rakyat sebenarnya menolong dirinya sendiri. Di tengah meningkatnya harga barang-barang kebutuhan pokok, rakyat kemudian menyesuaikan diri. Ketika terjadi PHK dari berbagai perusahaan besar, rakyat menjalankan usaha-usaha kecil. Contoh yang terakhir inilah yang menjadi rahasia sukses pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca krisis 1997.
    
    Lalu dalam menghadapi krisis global 2008,apakah yang harus dilakukan oleh rakyat, apakah mereka akan tetap mengemis kepada pemerintah, yang agaknya tidak akan terlalu merespon karena mereka harus memperjuangkan kekuasannya dalam pesta demokrasi 2008. Tampaknya rakyat harus berpikir untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.
    
    Efisiensi
    
    Kehidupan masyarakat sekarang ini, dapat dikatakan tidak efisein. Sebagai contoh, hampir sebagian besar penduduk miskin mempunyai anak lebih dari dua, namun tidak memiliki penghasilan yang cukup. Akibatnya, bukan dirasakan pada oleh orang tua, tetapi juga anak-anaknya yang tidak terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Dari contoh di atas, sebenarnya dapat diambil sebuah pelajaran bahwa budaya harus menyesuaikan keadaan. Artinya, harus ada adaptasi yang positif dalam menghadapi realitas kehidupan. Dari contoh di atas, misalnya, istilah banyak anak banyak rezeki menjadi tidak valid di perkotaan, karena bukan sektor agraris yang mendominasi, tetapi bidang-bidang pekerjaan yang profesional yang membutuhkan kemampuan-kemampuan khusus.
    
    Efisiensi sangat dibutuhkan dalam menghadapi realitas kehidupan, apalagi di wilayah perkotaan. Dalam pengelolaan penghasilan misalnya, masyarakat dituntut untuk mengatur kebutuhan konsumtif, tabungan, investasi, dan lain sebagainya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, mengonsumsi berbagai kebutuhan tersier untuk kepuasan belaka. Akhirnya harus mengali lubang dan menutup lubang setiap bulannya.
    
    Hidup selalu penuh tantangan. Ketika manusia tidak lagi perlu berusaha, maka ia tidak mempunyai alas an untuk hidup. Begitu pula dengan krisis global, harus ada usaha yang penuh dengan optimisme disertai dengan efisiensi. Hanya itu yang dapat menolong hidup anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s