Sejarah, Memori dan Persahabatan

Pernah seseorang mengatakan kepada saya “ untuk apa kita mengingat masa lalu yang penuh masalah, toh kita akan menghadapi masa depan yang lebih bermasalah lagi”. Bagi saya pernyataan ini pun mengandung masalah pula.

Setelah merenung beberapa tahun dan mencoba melihat realitas kehidupan sehari-hari, akhirnya saya menemukan beberapa alasan mengapa saya mempermasalahkan pernyataan di atas. Pertama, secara personal, ketika itu sebagai mahasiswa sejarah tingkat awal yang bersemangat, wajar apabila masa lalu yang menjadi bagian dari studi akademis saya diperlakukan secara tidak adil. Kedua, memori yang merupakan kristalisasi dari masa lalu yang sekalipun gelap dapat dijadikan pelajaran yang sangat berharga untuk bekal menghadapi masa kini dan masa depan. Ketiga, bukankah masa kini dan juga masa depan merupakan untaian dari masa lalu.

Sejarah dan Memori

Ketika dulu saya memutuskan untuk berkuliah di sejarah, pilihan ini bukan karena saya tidak mampu untuk bersaing di jurusan-jurusan klasik yang menawarkan lapangan pekerjaan yang luas sebagai pegawai. Pendeknya, kuliah untuk bekerja. Bagi saya, kehidupan itu adalah pengembangan diri ke arah yang lebih baik, kalau bisa menjadi manusia super (Übermensch) seperti kata Nietzsche. Saya ingin menjadi orang yang dapat bekerja untuk diri saya sendiri dan dengan begitu saya dapat menghabiskan usia saya dengan mengembangkan diri secara maksimal dan menunjukan peranan saya kepada orang lain. Setelah lulus pun, pilihan pekerjaan dari jurusan sejarah sebagai pegawai pun terbatas, hanya sebatas PNS, pekerjaan yang menurut saya lebih banyak ditekuni secara dedikasi atau pegawai swasta yang menghabiskan sisa hidupnya untuk menumpuk rupiah. Saya dituntut untuk lebih kreatif dalam hidup ini.

Dari pengalaman saya setelah mendalami bidang sejarah selama beberapa tahun, sebenarnya ada satu pelajaran yang penting untuk diketahui karena dapat diaplikasikan langsung ke dalam kehidupan. Pelajaran yang berharga itu adalah memori. Tidak banyak orang yang menyadari, dan mungkin bahkan memungkiri, apabila saya menyimpulkan kompleksitas kehidupan dalam satu konsep memori. Tetapi dalam banyak kasus, banyak orang yang ketika menyadari telah di ujung hayatnya kemudian mulai menulis memori-memori yang diharapkannya dapat berguna bagi generasi penerusnya kelak.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa memori? Analogi sederhananya, dalam kasus psikologikal dapat digambarkan sebagai berikut hampir setiap orang yang berusia muda berusaha secara instan untuk mencapai masa depannya, tetapi apa yang terjadi sebagian besar dari mereka masuk kubangan “pahitnya kehidupan”, tidak sedikit yang terjerumus dan mati seketika. Akan tetapi, sebagian besar dari orang tua, disadari atau tidak, dalam menghadapi masa depan lebih berpikir untuk belajar dari masa lalu karena asam garam kehidupan inilah yang sesungguhnya merupakan intisari dari kehidupan dan dapat dijadikan sandaran bagi hidup kini dan di masa depan.

Manusia tidak akan dapat mengingat semua masa lalunya. Ia akan memilah mana masa lalu yang penting, terutama yang paling pahit dan manis. Selebihnya, masa lalu itu akan tertinggal dan kemudian dilupakan. Memori, seperti yang telah disinggung di atas, merupakan bagian dari seleksi ingatan masa lalu manusia yang berkesan dan kemudian menjadi sandaran masa kini dan masa depan. Dalam berbagai dimensi kehidupan, sebenarnya memori inilah yang lebih banyak menentukan pengambilan keputusan untuk mengarungi hidup selanjutnya mengatasi segala problematika hidup yang katanya sangat rumit. Jadi, masa kini dan masa depan adalah refleksi dan bekal untuk menghadap sisa kehidupan ini.

Persahabatan

Mungkin penjelasan di atas terlalu rumit dan mungkin pula usaha saya untuk mennguraikan memori merujuk pada pengalaman saya juga masih samar untuk dimengerti. Namun begitu tidak salah untuk mencoba.

Liburan akhir tahun merupakan saat-saat yang dinantim hal ini bukan saja merupakan kesempatan yang berharga untuk berkumpul bersama keluarga, tetapi juga teman-teman lama yang sudah tersebar ke berbagai tempat di pelosok dunia ini. Ada yang sukses dan bekerja, ada yang masih berkutat di bangku kuliah, dan ada juga yang masih penganguran dan masa depannya belum jelas, serta kombinasi dari ketiga hal tersebut, kuliah sambil bekerja tetapi masih merasakan masa depan yang tidak jelas.

Terlepas dari tingkatan status tersebut, saya dan beberapa teman saya berkesempatan untuk berkumpul. Pada saat itu, baik yang bekerja ataupun masih menganggur pun mencoba melupakan sejenak beban hidupnya dan terhanyut ke dalam memori masa lalu. Tidak banyak persahabatan yang masih intim dapat bertahan apabila tidak didasari memori yang kuat. Saya dan teman-teman saya termasuk sekelompok sahabat yang mempunyai memori ingatan yang kuat di masa lalu.

Meminjam terminolog teman saya, bahwa relasi itu terbagi ke dalam tiga tingkatan, yaitu kenalan, teman, dan sahabat, saya kira cukup pantas bila memasukkan relasi ini ke dalam persahabatan. Bagaimana bisa? Apakah belum cukup pantas apabila seseorang yang bekerja lima hari sepekan mengambil cuti hanya untuk berkumpul bersama para sahabatnya, ataupun seorang mahasiswa super sibuk baik dalam kegiatan akademis dan non-akademis membuang waktunya hanya untuk sekedar berkumpul bersama para sahabatnya.

Saya merasa sangat beruntung dapat berkenalan dengan para sahabat saya itu. Kegiatan kami sederhana, duduk dan mengobrol keindahan masa lalu yang dulunya mungkin pahit tetapi terasa manis sekarang ataupun sebaliknya. Lagi-lagi meminjam terminologi teman saya, “bukankah sahabat yang baik harus dapat menunjukkan bukan saja kebaikan tetapi harus lebih banyak kesalahan-kesalahannya.

Sebaliknya, saya sering prihatin dan benar-benar tidak percaya apabila ada seseorang yang memiliki banyak kenalan tetapi tidak ada seseorangpun yang “menyentuhnya” secara mendalam bahkan menyapa pun tidak sudi. Seorang teman pernah berkata “ Dulu saya tidak memiliki memori apa-apa dengan para teman saya, sekarang tidak ada satu orang pun kenalan lamanya yang bergaul secara intensif dengannnya, sebelum bergabung dengan kelompok sahabat yang dipandang tolol dan tidak berguna seperti saya dan para sahabat saya namun dapat mempertahankan makna persahabatan itu sampai sekarang. Bahkan ketika kami berpisah untuk mengeluti rutinitas sehari-hari, ikatan itu pun terjada melalui wadah dunia maya. Pada titik ini sesungguhnya pergaulan saya dan sahabat-sahabat saya, termasuk yang tidak sempat bertemu karena keterbatasan jarak dapat dijaga dan terus dipelihara.

Sebenarnya rumus dari persahabatan itu sangat sederhana “ Ciptakanlah memori yang kuat dan biasannya hal itu berasal dari hal-hal sepele yang sering dilupakan seseorang karena mungkin pahit, tetapi tidak bukan tidak mungkin rasa pahit itu akan menjadi manis, seperti persahabatan yang sejati”.

2 thoughts on “Sejarah, Memori dan Persahabatan

  1. keren pik..
    keren bgt….
    ga cuma dr cara penyajiannya, tp dr bagaimana lu memandang arti persahabatan dr sudut yg mungkin hanya segelintir org yg menyadarinya…
    mungkin gw hanya orang awan yg jarang membaca tulisan2 kyk gini, mungkin gw hanya salah satu sahabat lu yg masih terjebak di dunia pendidikan yg masih berharap punya masa depan yg indah, tp buat gw tulisan lu jd nyadarin gw, ga ada gunanya buat mati2an berusaha utk punya masa depan yg gemilang tp melupakan masa lalu yg bisa dibilang justru sangat amat sangat memberikan warna di kehidupan ini..
    abis baca tulisan lu ini, gw jd lebih berfikir utk tetap ngejar cita2 gw, ngejar impian gw utk punya masa depan yg cerah tp tetep inget klo masa depan ada juga karena masa lalu dan masa kini ada…
    selamat sahabat,,, tulisan lu keren!!!!

  2. bagus, sangat inspiratif…tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s