Tentang Masa Lalu

Kehidupan manusia hampir selalu terklasifikasi ke dalam pembabakan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu adalah berbagai hal yang telah terlewati. Masa kini adalah berbagai hal yang dihadapi sekarang. Lalu, masa depan adalah berbagai hal yang akan kita hadapi. Mungkin pernyataan ini dapat diterima karena banyak orang mendasarkan pembabakan ini pada titik masa kini.

Pada mulanya saya bersepakat dengan pernyataan-peryataan di atas. Namun setelah memikirkan lagi, ada beberapa hal yang kemudian menjadi rancu. Kegelisahan saya mungkin muncul ketika saya berpikir sedikit berbeda dengan orang lain. Kalau saya kemudian mendasarkan masa lalu atau masa depan sebagai titik awal apakah pernyataan yang telah diuraikan di atas tetap berlaku. Sepertinya tidak.

Ketika saya mendasarkan pemikiran saya pada masa lalu, maka konsep masa kini dan masa depan akan berubah. Bahkan, konsep masa kini kemudian menjadi bermasalah. Kapan terjadi masa kini. Sekarang? Kapan itu sekarang. Bukankah satu detik setelah kita melakukan hal yang bersifat kekinian hal ini akan segera berubah menjadi masa lalu. Bagaimana dengan masa depan? Maknanya tentu berubah menjadi pengulangan dari berbagai hal di masa lalu? Pasti banyak orang yang tidak sepakat dengan pemikiran saya dan menuduh tidak ada gunanya berpikir seperti itu.

Justifikasi Masa Lalu

Dalam sebuah obrolah saya pernah menegaskan pemikiran itu kepada rekan saya dan ia kemudian malah balik menyatakan : “kalau ada orang yang masa lalunya kelam, akan sangat sulit baginya/ mustahil untuk kembali ke jalan yang benar karena masa depannya merupakan utaian dari masa lalunya”. Saya sempat kelimpungan untuk membalas pernyataan itu. Setelah saya berpikir sejenak, saya kemudian menemukan jawabannya.

Saya lantas berbicara di dalam hati saya “ pernyataan ini Indonesia sekali”. Artinya, masyarakat telah terbiasa menjustifikasi seseorang dari masa lalu. Sebagian besar orang berpikir maling akan tetap menjadi maling, dan kalaupun ia mencoba mengubah hidupnya, streotip bekas maling tidak akan pernah pudar darinya. Namun saya tidak mengungkapkan pemikiran saya kepada rekan saya, melainkan mencoba menggunakan pendekatan yang lebih personal.

Saya lantas berkata kepada rekan saya,” sebagian besar orang sangat mudah untuk membicarakan keburukan orang lain, tetapi sangat sulit untuk menemukan kekurangan diri sendiri”. Setelah itu kemudian saya bercerita,” lihatlah saya, masa lalu saya kelam. Sejak SD saya sudah bergaul dengan orang-orang yang anarkis dan sempat menyerang sekolah lain. Ketika di sekolah menengah saya tinggal kelas, suka berkelahi, rasis, bermasalah dengan orang tua, menjadi bahan pembicaraan orang tua murid lain, dan sifat anarkis saya terus meningkat. Ketika masuk sekolah menegah atas, sifat buruk saya mulai berkurang, walaupun saya masih sering berkelahi, mencela orang secara berlebihan, membawa parang ke sekolah, entah apa pikiran orang yang tahu bila saya berbuat seperti itu. Ketika kuliah, saya mencoba berubah, walaupun saya malah akrab dalam kehidupan malam, alcohol, rokok dan ganja, serta wanita PSK”.

Namun demikian, masa SMA adalah titik di mana saya mulai berpikir untuk berubah, dan ketika mendapat pengalaman yang lebih berpotensi menghancurkan di masa kuliah saya tidak terperosok. Saya menyadari, berbagai pihak tetap saja memandang saya anak bandel, yang cenderung kriminil. Saya Cuma diam dan tidak berkomentar, hanya menunggu waktu untuk dapat membuktikan dengan pencapaian saya di masa depan kelak. Sampai-sampai, hampir semua teman kuliah saya tidak percaya saya mempunyai masa lalu yang kelam seperti itu, bahkan teman SMA saya secara tidak langsung mengatakan “ wah kamu berubah sekali daripada masa SMA, lebih dewasa”.

Belajar dari Masa Lalu

Lalu saya melanjutkan obrolan kepada teman saya “ saya sekarang sudah selesai kuliah, tepat waktu, dan dengan hasil yang membuat orangtua saya geleng-geleng kepala, kok bisa ya anak saya seperti ini ? Seakan-akan tidak mengenal anak yang telah dibesarkannya sendiri.” Kemudian saya berkata “ pelajaran apa yang dapat anda ambil dari saya”? Ia menjawab manusia berubah seiring berjalannya waktu.

Mungkin jawaban rekan saya ada benarnya, namun saya lebih cenderung berpikir untung saya memilih dasar masa lalu sebagai pijakan terhadap masa kini dan masa depan. Pemikiran saya itu bukan saya dapat mengubah hidup saya, tetapi juga menjawab pertanyaan teman saya itu” Kalau berpikiran seperti itu, seorang maling akan tetap menjadi maling bukan?”

Kunci dalam menjawab pertanyaan itu cukup sederhana belajarnlah dari masa lalu, karena masa kini membutuhkan pengalaman masa lalu, dan masa depan tidak lebih merupakan pengulangan dari masa lalu dengan tipe yang berbeda. Seseorang yang belajar dari masa lalu, kemungkinan besar akan dapat meningkatkan kualitas hidupnya, karena ia banyak sekali belajar keburukan masa lalunya. Beruntung orang yang masa lalunya kelam, tetapi ia dapat belajar dari kesalahannya dan kemudian menjadi sosok yang semakin baik dan streotip negatif yang melekat pada dirinya akan berangsur-angsur hilang bahkan sebaliknya, banyak orang yang kemudian dapat belajar dari proses kehidupannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s