Kekuatan Sebuah Tulisan

Sampai seberapa jauh otak manusia dapat menyimpan ingatan-ingatan pribadinya? Otak manusia mempunyai kemampuan yang terbatas. Artinya, tidak mungkin otak dapat menyimpan semua ingatan secara konstan. Ada berbagai kejadian yang dapat disimpan dengan sangat baik, bahkan sampai detail-detailnya, namun ada kejadian yang begitu saja terlupakan, karena tergantikan oleh kejadian lain yang lebih baru terjadi.

Permasalahannya, bagaimana jika sejumlah ingatan yang penting dan dapat diambil sebagai pelajaran untuk menghadapi masa kini dan masa depan terlupakan. Peribahasa “keledai tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama” mungkin tidak akan terjadi. Manusia akan mengulangi kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Dalam beberapa diskusi dengan teman saya, seorang penulis, pernah ia berkata “manusia terlalu banyak kehilangan ingatannya karena ia tidak pernah menuliskannya”.

Tulisan dan Kegiatan Intelektual

Tulisan merupakan peradaban tertinggi yang diciptakan oleh manusia sebagai media yang paling efektif untuk mengabadikan segala aspek kehidupannya. Sebelum budaya tulisan mengemuka, manusia hanya mengandalkan budaya lisan. Mungkin masih dalam ingatan, bagaimana orangtua kita sering membacakan dongeng sebelum kita tidur.Mungkin kita masih bisa mengambarkan cerita tersebut secara garis besar, tetapi saya yakin kita telah kehilangan banyak detail dalam cerita tersebut. Dalam dunia ilmu pengetahuan pun didapatkan bahwa ketika manusia mulai meninggalkan bukti tulisan, berarti peradaban manusia telah beralih dari masa pra-sejarah ke masa sejarah.

Pada awalnya budaya tulisan di Indonesia hanya dimonopoli oleh kalangan masyarakat atas. Sejak prasasti yupa yang diperkirakan pertama kali ditulis pada abad ke-4, sampai dengan karya sastra-sejarah karya pujangga-pujangga istana, isi dari karya tulis itu pada awalnya hanya untuk mengabadikan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh seorang raja. Corak penulisan yang dilakukan oleh para pujangga pun tidak jauh berbeda, namun harus diakui mempunyai tujuan yang lebih kompleks. Para pujangga seringkali secara tidak sengaja menulis sebuah sejarah yang sebenarnya bertujuan melegitamasi kekuasaan seorang raja ataupun mengesahkan kekuasaan raja yang baru naik tahta.

Ketika para kolonialis mulai menganeksasi berbagai daerah di Nusantara, sebenarnya penularan budaya tulisan yang lebih maju mulai terjadi. Belanda, sebagai sebuah negara kecil yang maju karena ketertiban administrasinya, termasuk dalam menyimpan dokumen tertulis, sebenarnya dapat dijadikan contoh yang cukup baik. Akan tetapi, penularan itu secara intensif baru terjadi sejak otoritas VOC digantikan oleh Pemerintah Kolonial, terutama ketika Politik Etis (1901) dicanangkan. Walaupun kebijakan tersebut lebih banyak menjaring golongan menegah ke atas ke dalam sebuah jaringan pendidikan, namun setidaknya telah tercipta generasi intelektual pertama pribumi. Sejak saat itu, terdapat kaum pribumi yang secara intensif mempunyai kebiasaan membaca dan menghasilkan tulisan dengan kualitas dan kuantitas yang cukup menjadi model bagi generasi-generasi selanjutnya.

Ketika para intelektual tersebut berhasil memproklamasikan Indonesia pada tahun 1945, mereka terlalu sibuk untuk mengorganisasi negara ini. Walaupun secara personal hasil tulisan mereka tidak berkurang secara drastis, namun yang mengkhawatirkan adalah kurangnya penularan budaya menulismereka terhadap masyarakat luas. Hal ini tercermin dari kurang dikelolanya dunia pendidikan di Indonesia sehingga pertukaran generasi intelektual berjalan sangat lamban. Pun ketika memasuki masa Orde Baru, dunia pendidikan, walaupun terdapat berbagai inovasi, sebenarnya hanya digunakan sebagai media untuk memperkuat status quo di negara ini. Padahal pendidikan merupakan pintu gerbang yang potensial untuk menciptakan budaya tulis yang baik. Memasuki masa Reformasi, kembali dunia pendidikan mengulangi kesalahan yang sama. Para siswa dijadikan kelinci percobaan bagi sistem kurikulum yang baru, walaupun pada kenyataan cara mengajar tetaplah sama. Para siswa diajarkan untuk sekedar menghafal, bukan mengungkapkan pendapat dalam sebuah tulisan. Jadi, bukan merupakan kejadian yang aneh ketika memasuki bangku kuliah, para mahasiswa tidak mempunyai kemampuan menulis yang baik, bahkan sulit merangkai sebuah paragraf dalam penulisan skripsinya.

Ayo Menulis Kawan

Rekan saya pernah mewawancarai Pram, seorang sastrawan dan penulis sejarah paling penting di abad ke-20, dan bertanya “Apa resep menulis Anda, Bung Pram?” Lantas Pram menjawab, “tidak ada resep, ayo tulis sekarang”. Pram memang menganut tulisan yang spontan. Walaupun ia sering melakukan riset-riset, namun dalam hal penulisan ia langsung menuliskannya ketika ide itu muncul.Kolaborasi antara riset dan spontanitas inilah yang menjadi kekuatan Pram.

Budaya tulis bukan sekedar spontanitas, tetapi juga kebiasaan. Orang yang tidak terbiasa menulis, pasti akan banyak mencari alasan ketika didaulat untuk membuat suatu tulisan. “Tidak ada ide” atau “ Belum ada mood” merupakan sedikit dari banyak alasan seseorang untuk tidak menulis. Pada dasarnya, problem itu muncul ketika seseorang tidak pernah mencoba untuk menulis. Setiap orang mempunyai kempampuan spontan untuk menulis. Misalnya, ketika dihadapkan pada ujian esai, pasti setiap mahasiswa dapat menghabiskan space dalam lembar jawabannya, bukan? Kalau modal spontanitas ini telah dimiliki, maka selanjutnya tinggal membiasakan untuk menulis secara teratur. Setidaknya satu tulisan dalam sehari, topiknya boleh apa saja.

Ketika manusia tidak mempunyai kebiasaan menulis, maka ia akan kehilangan memori kehidupannya. Banyak kawan yang tinggal di beberbagai kota besar di Indonesia tidak mampu untuk sekedar menuliskan kehidupan pribadinya. Bahkan yang saya sesalkan, hampir sebagian besar teman saya yang kemudian studi di negara-negara barat, khususnya Eropa, Australia, dan Amerika terjebak dalam hedonisme barat atau lokalitas dengan sesame orang Indonesia, tanpa bisa menuliskan pengalamannya yang mungkin akan cepat terlupakan ketika mereka kembali ke Indonesia kelak. Ciptakanlah sebuah tulisan, walaupun itu buruk. Kemampuan mencipta tulisan adalah sebuah proses. Semakin sering kita menulis maka semakin baiklah kualitas tulisan yang dihasilkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s