Sebuah Kisah tentang Seorang Pejalan Kaki

Hari itu saya berencana melakukan penelitian di Perpustakaan Pusat Unpad Dipatiukur. Akan tetapi, karena asyik mengobrol sampai pagi bersama teman, niat untuk bangun pagi tidak terwujud dan baru pukul 10.00 WIB saya berangkat ke tempat tujuan.

Sebelum masuk ke perpustakaan, saya menyempatkan diri untuk sarapan bubur ayam. Setengah jam kemudian saya kemudian bergegas masuk ke gedung perpustakaan, yang terletak di sebrang kampus utama berdekatan dengan kampus program doktor Ilmu Ekonomi Unpad. Karena baru pertama kali, saya agak tersesat. Saya malah memasuki CISRAL, gedung perpustakaan digital yang menyediakan fasilitas hotspot, yang pada saat itu dipadati mahasiswa yang masing-masing sibuk dengan laptopnya. Sadar memasuki ruangan yang salah, saya kemudian bergegas ke luar dan segera mencari tahu di mana perpustakaan pusat sebenarnya. Pada awalnya saya sedikit menebak dengan naik ke lantai tiga dan beruntung tebakan saya itu benar. Setelah masuk dan agak kecewa dengan kesan pertama, karena perpustakaan ini kalah kelas dengan beberapa perpustakaan yang pernah saya kunjungi. Dan kesan negatif itu segera terwujud. Setelah beberapa jam mencari beberapa penelitian para antropolog Unpad, tidak saya temukan satupun hasil penelitian tersebut. Karena agak kesal saya langsung ke luar dan sangat kecewa karena penelitian ini telah tertunda selama beberapa minggu.

Dalam filosofi hidup saya setiap detik harus menghasilkan sesuatu. Kalau penelitian hari ini gagal, paling tidak saya harus menghasilkan sesuatu. Entah datang dari mana, saya kemudian terinspirasi untuk melakukan perjalanan mengitari kota Bandung dengan berjalan kaki. Pada awalnya saya berpikir hanya akan berjalan kaki dari Dipatiukur ke Simpang Dago kemudian naik angkot ke Gramedia Merdeka. Akan tetapi, dalam perjalanan entah mengapa saya menikmati berjalan kaki. Dan sesampainya di Simpang Dago, setelah membeli air mineral, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke Jalan Merdeka.

Saya baru tersadar, seorang penikmat jalan kaki tidak hanya berpikir kapan ia akan sampai ke tempat tujuan, akan tetapi bagaimana ia merasakan dengan seluruh panca inderanya seluruh aktifitas di jalan yang dilaluinya. Mungkin saya pun menikmati menikmati melewati setiap jalan dengan berbagai aktifitas sosialnya. Di sepanjang jalan Dipatiukur saya melihat banyak mahasiswa yang sedang melakukan aktivitas, baik baru pulang kuliah, makan dan minum, ataupun sekedar mengobrol dengan teman-temannya. Sebaliknya, di Jalan Ir. Juanda (Dago) suasananya sangat berbeda saya merasakan sentuhan historis, yang tampak melalui beberapa bangunan tuanya. Di samping itu, saya juga melihat beberapa budaya perkotaan, seperti pertokoan, restoran, FO, dan lain-lain yang menandakan modernisasi di jalan tersebut. Memang Dago merupakan salah satu pusat kehidupan di Kota Bandung yang dapat bertahan dari dulu sampai sekarang.

Di luar itu, para penikmat jalan kaki di Indonesia sebenarnya tidak dapat menikmati hak mereka sebagai pejalan kaki. Di sepanjang jalan Dipatiukur, misalnya, trotoar yang seharusnya menjadi jalur para pejalan kaki dipakai oleh para pedagang dengan alasan mencari ‘sesuap nasi’. Tidak hanya sampai pada titik itu, kenyamanan para pejalan kaki juga direngut oleh kebisingan suara klakson angkot yang seolah-olah memaksa para penjalan kaki menggunakan jasanya. Saya pun mengalami kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Menghindari para pedagang sampai hampir tertabrak mobil dan motor, serta diklason angkot menjadi hal yang cukup menyesakkan saya. Saya merasa tidak nyaman dengan keadaan itu.

Setelah hampir dua jam menyusuri jalan Dipatiukur dan Ir. Djuanda, akhirnya saya sampai di tempat tujuan pertama, yaitu Gramedia Merdeka. Saya kemudian masuk dan melihat-lihat beberapa buku sambil menikmati AC yang membelai tubuh saya yang berkeringat. Setelah itu saya segera mencari buku-buku yang menarik. Saya menemukan beberapa buku non-fiksi dan novel, namun tidak jadi membelinya karena saya telah cukup banyak menghabiskan uang untuk membeli buku bulan ini. Saya kemudian beralih ke mall yang cukup tua di sebrang Gramedia Merdeka, yaitu Bandung Indah Plaza dan mencuci mata dengan melihat beberapa sepatu dan tas. Tetapi, tidak ada yang cukup menarik. Saya bergegas ke luar dan menuju pusat perbelanjaan Elektronik di kota Bandung, Bandung Electronic Centre. Saya sekedar memeriksa harga flashdisk yang katanya lagi murah. Tapi karena alasan keuangan dan pada saat ini belum butuh benar, saya mengurungkan niat tersebut. Merana.

Lapar mulai menyerang, lalu saya membeli beberapa gorengan untuk menganjal sambil memikirkan tujuan saya selanjutnya. Pada awalnya saya ingin berjalan dari jalan Merdeka ke Setiabudi, tapi karena pertimbangan jarak, dan waktu, serta ada keperluan membeli DVD blank di Borma Setiabudi, saya memutuskan naik angkot jurusan Caheum-Ledeng. Sekitar 15 menit saya berada di dalam angkot, bersama dua orang Batak yang agaknya baru datang dari bonapasogit tapi saya agak kurang paham apa yang mereka bicarakan, mungkin bukan orang Toba. Ternyata kami mempunyai tujuan yang sama, yaitu Borma Setiabudi. Haus mulai menyerang karena rupanya setelah makan gorengan saya tidak membeli minum. Saya masuk ke Borma swalayan tetapi tidak menemukan air mineral. Lalu saya keluar, kemudian segera membeli DVD blank, dan meninggalkan tempat itu. Sore itu masih pukul lima. Saya kemudian mengirimkan pesan singkat ke sahabat saya, namun tidak kunjung dibalas. Lalu saya berpikir apa salahnya sambil menunggu balasan, saya menikmati secangkir kopi sambil membaca novel yang hampir selesai saya baca. Saya ingat beberapa kilometer dari tempat tersebut ada Restoran cepat saji McDonald dengan suasana yang cukup kondusif untuk sekedar menikmati kopi dan membaca novel.

Kopi dalam gelas plastik itu hampir habis, matahari mulai terbenam, dan halaman novel itu semakin menipis, tapi balasan pesan singkat saya belum dibalas. Sambil jalan dan berpikir, saya sadar angkutan umum ke Ciumbuleuit sudah tidak ada lagi. Saya terpaksa jalan dengan penuh kelelahan dan kebimbangan. Hendak ke mana dulu saya. Hampir satu jam saya jalan, udara dingin Ciumbuleuit mulai terasa. Saya membeli alat mandi dulu. Kemudian saya mencoba menghubungi sahabat saya yang lain untuk menumpang bertedug. Saya segera mendapat balasan pesan singkat yang isinya mempersilahkan saya untuk datang. Tidak sampai sepuluh menit saya telah sampai, dan saya melihat sahabat saya yang lain sedang menonton DVD. Saya menyapanya dan tidak lama kemudian sahabat saya yang lain turun dan ikut bergabung. Sahabat saya yang turun itu kemudian memberikan ajakan untuk makan malam. Dan segera setelah DVD itu habis, kami bergegas berangkat. Rupanya, tempat makan itu cukup jauh hampir satu kilometer. Kami menikmati makanan laut. Sambil berdebat tentang masalah-masalah negara ini tidak terasa kami telah sampai di kostan sahabat saya itu. Seorang sahabat saya mengajak untuk kembali menonton DVD. Saya kurang tertarik karena cukup lelah. Sahabat saya yang satu lagi pun serupa, ia mengantuk. Film itu diputar juga, tetapi kurang menarik dan saya segera memohon diri untuk pergi ke tempat sahabat saya yang satunya lagi. Ia berjanji akan bertemu saya di Sentra tepat setelah mengantarkan wanita pujaanya. Saya menduga pasti akan cukup lama menunggunya. Ketika menunggu adalah pekerjaan yang membosankan bagi sebagian orang, saya berusaha menikmatinya. Dengan modal air mineral dan cahaya yang kurang, saya melanjutkan membaca novel.

Satu jam lebih saya menunggu, hampir pukul 12.00 pada saat itu. Kedua telepon gengam saya padam karena kehabisan baterai. Saya kemudian bergegas, takut-takut sahabat saya sudah sampai duluan, dan menunggu persis di depan gang kostannya. Sekitar lima menit kemudian, sahabat saya datang dengan berlari dan kemudian saya menegurnya. Kami langsung pulang ke kostan. Kebetulan sahabat yang saya tumpangi kostnya itu berulang tahun dan saya mengucapkan selamat kepadanya. Ia menawarkan untuk menikmati secangkir wine untuk ulang tahunnya itu, saya menerimanya sambil mengabadikan beberapa momen penting. Kami bercerita dan bercanda, sambil memikirkan hal-hal masa lampau. Kami berbicara tidak lama karena mengantuk lalu kami tidur.

Hari itu hampir separuhnya saya lalui dengan berjalan kaki. Saya mulai mengilai berjalan kaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s