Amir Sjarifoeddin dan Kharisma Seorang Nasionalis (I)

Seperti kaum minoritas lainnya, arah penulisan sejarah orang Kristen di Indonesia menegaskan bahwa orang Kristen selalu mendukung cita-cita kaum nasionalis. Akan tetapi, kami melihat kecenderungan itu tidak selalu benar. Goenoeng Mulia dan Kasimo mewakili suatu aliran kehidupan institusi politik Protestan dan Katolik, yang sangat memenagaruhi identifikasi suatu gerakan emansipasi. Ketika prinsip dalam suatu agama, seperti Krtisten penuh dengan ide emansipasi , tema ini dalam praktiknya hanya dilakukan oleh kaum marginal, figur kharismatis, daripada dalam aliran itu sendiri.

Amir Sjarifoeddin (1907-1948), adalah salah satu figur kharismatis. Ia adalah satu dari banyak pribadi yang bergairah dalah sejarah kaum nasionalis di Indonesia. Meminjam istilah dalam Sosiologi Agama (contohnya, Ernst Troeltsch,1960), yang mendeskrpiskannya sebagai seseorang yang kehilangan hubungan dengan agama dan masa depan daripada dengan gereja dan jabatan seperti pendeta.

Kharisma, bagaimanapun, dapat muncul baik dalam alam tradisional maupun moderen. Peralihan agama Amir ke Kristen, seperti Moelia dan Kasimo, adalah bagian dari modernisasi. Tetapi ketika modernisasi itu menghentikan Moelia dan Kasimo dari semangat dari gerakan emansipasi nasionalis, Amir menikmatinya. Ia melibatkan diri dalam kreasi pembentukan solidaritas sosial yang tidak mendasarkan pada ikatan primordial, seperti tradisionalitas dan etnisitas.

Keluarga Aristokratik dan Pendidikan Belanda

Tapanuli Selatan, kampung halaman Amir di Sumatera Utara, adalah sebuah daerah campuran antara Islam dan Kristen yang menjadi pembatas dengan komunitas besar Kristen Tapanuli yang tinggal di sekitar Danau Toba[1]. Marga Harahap menjadi penguasa di sekitar daerah itu (Joustra, 1926). Ia adalah sepupu dari Todoeng gelar Soetan Goenoeng Mulia­―mereka berasal dari satu kakek Ephraim Soetan Goenoeng Toea.

Salah satu dari anak Soetan Goenoeng Toea, ayah Amir, Djamin gelar Baginda Soripada, yang kemudian menjadi jaksa publik senior, dan ditempatkan di berbagai daerah di Sumatera Utara. Lahir sebagai soerang Kristen nominal, ia kemudian beralih menjadi muslim ketika menikahi anak seorang pedagang muslim kaya dari marga Siregar di Tapanuli Utara. Ibu Amir, Basoenoe kemudian memilih agama Islam sebagai agama anak-anaknya.

Amir Sjarifoeddin adalah anak sulung dari tujuh bersaudara, di Kota Medan tempat ayahnya ditempatkan . Namanya merefleksikan harapan ibunya bahwa ia akan menjadi seorang pangeran beragama, seperti salah satu dari sembilan nabi dalam agama Islam. Pada umur 14 tahun, setelah menyelesaikan sekolah dasar Belanda, ayahnya mengirim Amir ke Belanda untuk melanjutkan ke Sekolah Menegah Belanda (1921).

Fasilitas dari masa-masa pertumbuhan yang disediakan oleh misionaris Kristen Rev. W.G. Harrenstein, yang telah membawa Moelia, saudaranya pada umur 11 tahun, ke Belanda. Moelia telah tinggal di sana hampir sepuluh tahun dan telah setuju akan kedatangan anak itu. Ia menjadi pengganti ayah Amir, sering menjadi panutan di mana Amir akan mengikutinya. Seperti Moelia, Amir juga memiliki gelar di samping namanya : Soetan Goenoeng Soaloon. Akan tetapi, ketika Moelia menggunakan nama aristokratik sepanjang hidupnya sampai orang non-Sumatera berpikir itu adalah nama aslinya, Amir tidak pernah menggunakan itu, dalam praktik menegaskan perkenalannya dengan kaum pergerakan nasionalis yang egaliter pada 1927.

Ia bersekolah di sekolah menengah negara berkualitas (gymanasium) di Leiden dan Harleem, tinggal bersama keluarga Calvinis-Konservatif dan kemudian bersama janda mantan misionaris. Seorang kawan Indonesia Kristennya sangat memengaruhinya. Percintaannya bersemi dengan seorang gadis Belanda[2].

Ia termasuk anak yang pandai. Ia mendapatkan keterampilan bahasa Yunani klasik dan Latin, sama baiknya dengan bahasa Perancis dan Belanda. Beberapa tahun kemudiania membaca Molière, Wlilliam Shakepeare, dan Perjanjian Baru, yang masing-masing dalam bahasa aslinya. Ia menjadi populer, memiliki bakat berorganisasi, dan berperan penting dalam pemilihan eksekutif dalam perkumpulan sekolah Amicitia. Para pelajar Indonesia di Belanda berpolitik aktif dalam organisasi Indische Vereenignig, yang pada tahun 1922 berubah nama menjadi Perhimpoenan Indonesia dan kemudian dipimpin oleh Mohammad Hatta. Akan tetapi Amir terlalu muda untuk bergabung.

Sesaat setelah ia kembali ke Hindia pada September 1927, ia mengirimkan kembali sebuah artikel pertamannya ke Amicitia. Ini memegaruhi politik kaum nasionalis, dan menjadi biasa (keras). Idiom dari “sebuah masalah rasial di Hindia-Belanda” tetap digunakan sebagai isu selama dua puluh tahun. Ia sering mengutip Noto Soeroto, Sun Yat Sen, dan Gandhi. Ia tetap sejalan dengan pemerintahan kolonial yang berubah menjadi ‘etis’. Dan ia terkejut dalam rasa frutasi para pendukung nasionalis, yang disebabkan oleh pengelompokan ras, Eropa, Indo-Eropa, Tionghoa, dan sebuah populasi pribumi yang mati-matian membaginya berdasarkan daerah (yang berarti asa-usul etnis). Pergerakan Pan-Islamisme mengacam timbulnya perselisihan. “ Dapatkah kaum Kristen pribumi sekarang menyerang ide yang diciptakan kaum Pan-Islamisme”, ia selanjutnya menambahkan” kemudian apakah nasionalisme akan meninggalkan sebuah keterlenaan[3].”

Aktivitas di Sekolah Tinggi Hukum Batavia

Banyak yang menyarankannya untu melanjutkan ke Universitas di Belanda, karena pengaruh keluarga, sebagai anak tertua, membawa Amir untuk kembali ke Hindia-Belanda. Ketika sampai di Batavia , ia dibujuk untuk tinggal dan mendaftarkan diri di Rechthogenschool (RHS, sekolah tinggi hukum), yang telah dibuka tiga tahun sebelumnya. Ia mendapat beasiswa dari pemerintah[4].

Amir menjadi orang baru di metropolitan Batavia, lebih daripada seorang pemimpin dalam masyarakat Batak. Di sana juga, ia berpengalaman dalam mengubah romantisme-nasionalisme. Saudaranya Goenoeng Moelia dalam beberapa tahun telah menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah menegah terkenal, menjadi anggota Volksraad, dan pada mulanya Amir tinggal di rumah Moelia. Akan tetapi pada April 1928, ia mengabil bagian dan bergabung dengan seniornya di sekloah tinggi hokum, Muhammad Yamin (1903-1962), dalam sebuah klub debat mahasiswa asrama di Djalan Kramat 106 (Indonesisch Clubgebouw). Seperti, Amir, Yamin adalah seorang migrant di kota metropolitan yang berlatarbelakang keluarga aristocrat Sumatera. Mereka mempunyai kegemaran yang sama ―dalam musik, sastra, dan agama― tetapi Amir mempunyai kepribadian yang sulit diduga[5].

Sekolah Tinggi Hukum Batavia adalah sebuah lembaga yang sangat progrsif bagi para intelektual muda di koloni. Dengan dukungan tersembunyi dari sebagian besar pengajarnya yang etis, para mahasiswanya membentuk wadah perkumpulan antar-ras yang sekular-nasionalis dalam Perhimpoenan Peladjar-peladjar Indonesia pada 1927 (PPI, Asosiasi Pelajar Indonesia). Perkumpulan mahasiswa Islam Jong Islamieten Bond, sebuah organisasi defensif yang merupakan saingan dari golongan nasionalis-sekular, menjaga jarak.

Amir bergabung dengan PPI, di tengah dua organisasi kedaerahan yang menghubungkan dirinya dengan kampong halamannya di Sumatera. Pada kahir 1929-1930, ia tetap berkiprah dalam komite Jong Sumateranen Bond, sebuah perkumpulan mahasiswa yang dibentuk pada 1917 oleh para mahasiswa Minangkabau di Sekolah Tinggi Kedokteran STOVIA. Organisasi ini tumbuh bersama dengan beberapa mahasiswa Batak, sampai akhirnya mereka memisahkan diri pada 1925 dan membentuk Jong Batak, yang mana Amir juga ikut aktif di dalamnya.

Kebanyakan dari mereka tertarik dengan pemikiran yang alamia tetang masa depan kemerdekaan negara dalam bentuk perserikatan di antara keragaman etnis di kepulauan ini. Namun demikian, pada rentang waktu ini Amir bergabung dengan kelompok ini, sebuah generasi mahasiswa baru yang tiba-tiba memutuskan konsep yang tersebut di atas kadaluarsa. Pada Oktober 1928 mereka dengan persiapan yang cukup mengatasi kecurigaan bersama dengan mengadakan Kongres Pemuda II ( yang pertama diadakan pada tahun 1926, didukung oleh Jong Sumateranen Bond dan Jong Jawa, mengalami kegagalan). Dengan sebagian besar semangat mistik, membuat kenyamanan dengan kemungkinan intervensi dari kepolisian, para peserta muda bersepakat akan loyalitas rumusan Yamin dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Sebuah lagu kebangsaan dinnyayikan, dan sebuah bendera dipilih. Semua organisasi kedaerahan setuju untuk bergabung dalam Indonesia Muda. Hampir semua pihak yang berinisiatif adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum. Bendahara dari organisasi itu adalah Amir Sjarifoeddin yang baru berusia 21 tahun, dan mewakili Jong Batak. Bersama dengan organisasi kecil yang dipimpin oleh Soekarno, mereka menyebut kelompoknya sebagai angkatan ’28. Mereka banyak dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Mohammad Hatta, yang pada saat itu masih tinggal di Negeri Belanda.

Tanggung jawab untuk memegang perjuangan generasi sebelumnya sirna. Mereka tidak memercayai omong kosong etis dengan perubahan yang lambat, yang pada akhirnya diperdebatkan dan dianalogikan dengan Revolusi Perancis. Abu Hanifah menjuluki Amir sebagai Robespierre, Muhammad Yamin sebagai Jean-Paul Marat sedangkan dirinya sendiri adalah Comte de Mirabeau. Pelarangan PKI dalam beberapa tahun terakhir membawa mereka pada keteratikan baru dalam Manifesto Komunis. Apa yang membuat Indonesia tetap di bawah bukan karena keterbelakangan orang Indonesia, tetapi akibat imperialisme Belanda.

Ini adalah inspirasi romantis yang melebihi sebuah ideology, sebuah pendirian etis atau menurut Max Webber, sebuah penghabisan akhir etis. Abu menyebutnya :

Kami semuanya fanatik, tetapi Amir tampaknya lebih fanatik melebihi kami semua yang diperlihatkan melalui emosinya ketika mempertahankan pendapat dalam sebuah debat […]. Bagaimananpun, kami semua orang yang menderita karena obesesi patrioti, tidak ada di antara kami yang berpikiran hanya pada pemikiran pribadi saja.

Pada Bulan Oktober 1929, satu tahun setelah Konggres Pemuda II, Soekarno terkejut akan tantangan dari para peserta debat di Kramat 106 dengan usul yang tak seorang pun berani untuk mengekspresikannya― untuk menyiapkan masa untuk sebuah pemberontakan selama perang dunia antar kapitalisme dan komunisme yang pasti akan segera terjadi (Haniffah,1977 :177). Dua bulan kemudian Soekarno ditangkap. Dua tahun kemudian Sokearno divonis penjara selama empat tahun. Selama masa itu dalam berbagai acara diatur agar Amir dan teman-temannya untuk tidak berkonfrontasi dengan negara., dalam sebuah bentuk konspirasi dalam politik yang mengombinasikan propaganda terbuka dan organisasi bawah tanah.

Semua aktivitas ekstrakulikuler Amir berlangsung di luar sekolah tinggi hokum, tepatnya di Kramat 106 di mana sebagian besar pelajar progresif dari sekolah tinggi hokum dan kedokteran tergabung. Bersama Abu Haniffah, ia menjadi editor jurnal PPPI, Indonesia Raja. Kegiatan sore hari diisi dengan mengajar “Universitas Rakyat” di sebuah pabrik es bobrok di Gang Kenari yang diketuai oleh Husni Thamrin, di mana ia akan bertemu para aktivis masa depan. Ia terlalu hijau untuk bergabung dengan PNI pimpinan Soekarno, yang didirikan pada saat ia baru datang. Akan tetapi, pada April 1930 partai ini mengubah nama menjadi Partindo, para aktivis tua memberikan semangat kepadanya dengan memberikan jabatan propaganda. Dua bulan kemudian, ia adalah wakil-presiden di cabang Batavia, dan ia mulai menjalankan kewajibannya.

Bersambung……

Kepribadian



[1] Sumber pada bagian ini berasal dari Wellem (1984), Lecrec (1982, 1986a,1986b, dan 1993), dan Harahap (1971)

[2] Wawancara dengan J. Verkyl, 10-11-1992.

[3] Sjarifoeddin 1928. Saya berhutang kepada Dr. Ale Hoekema yang menunjukan artikel itu kepada saya.

[4] Ayahnya dalam beberapa tahun terakhir telah dipenjara dan frustasi karena diperlakukan sebagai narapidana (Leclerc,1993 :28). Dalam the Rechthoogenschool (RHS), lihat Resink (1974).

[5] Lihat Kutojo (1981). Yamin masuk Sekolah Tinggi Hukum pada tahun yang sama (1927), tetapi ia lebih tua daripada teman-temannya, dan telah menjadi pemimpin dari organisasi Jong Sumateranen Bond. Deskripsi yang lebih hidup akan keadaan di Kramat 106 diberikan oleh anggota yang lain, seorang mahasiswa kedokteran Abu Hanifah, yang kemudian menjadi pimpinan partai Islam Masjoemi (Madjelis Sjoero Moeslimin Indonesia, yang secara harafiah menjadi perwakilan konsultatif orang Muslim di Indonesia.; Hanifah 1972 dan 1978).

Tulisan ini diterjemahkan dari karya Gerry van Klinken yang berjudul Amir Sjarifoeddin and Nationalist Charisma, yang merupakan salah satu bab dalam buku Minorities, Modernity, and The Emerging Nation ; Christian in Indonesia, a Biographical Approach.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s