Agama,Eksklusivitas, dan Masa Depan Bangsa

Jika ingin mencontoh tentang persatuan dalam keragaman tentu kita bisa berkaca pada penduduk keturunan Tionghoa, sebenarnya saya tidak menyukai istilah ini, yang mempunyai latar belakang agama yang berbeda namun dapat berbaur menjadi satu dalam perayaan Tahun Baru China. Mereka, baik yang masih memeluk Konghucu, maupun Kristen, Katolik Budha, dan tentunya Islam memandang perayaan tahun baru ini tidak bertentangan dengan keyakinan agama yang mereka anut, tetapi lebih dari sebuah tradisi untuk mempertahankan identitas budaya mereka.

Agama dalam masyarakat Indonesia merupakan unsur terpenting yang melebihi hal apapun. Bahkan karena menjadi prioritas yang utama, seringkali penafsiran seringkali berbuah fundametalisme dan fanatisme yang buta dan menganggu stabilitas negara ini. Masih terlalu jauh, menurut saya, untuk memikirkan interaksi positif antar pemeluk agama, walaupun usaha yang dirintis patut dipuji. Namun yang perlu dipikirkan lebih dahulu adalah bagaimana menyatukan para pemeluk suatu agama ke dalam media yang dapat mengakomodir kepentingan setiap pemeluknya.

Islam, sebagai agama terbesar di Indonesia, merupakan salah satu contoh agama yang tersegmentasi ke dalam banyak aliran sehingga untuk memudahkan analisis saya cenderung menyederhanakan kekuatan Islam ke dalam tiga kekuatan besar, yaitu tradisional, moderen, dan post-modern. Aliran tradisional tentunya diwakili oleh NU, salah satu kekuatan Islam yang pada awalnya berbasis di pedesaan dan menghormati kultur budaya lokal. Selain itu, adapula Muhammadiyah yang mewakili aliran modernis Islam, yang pada awalnya berasal dari kaum pedagang yang berbasis di pesisir. Dua kekuatan ini mendominasi persaingan sampai runtuhnya Orde Baru. Bersamaan dengan lahirnya Reformasi dan munculnya berbagai kekuatan politik baru muncullah aliran post- modernis di Indonesia dalam wujud Partai Keadilan Sejahtera. Kekuatan ini pada awal reformasi diwadahi oleh Partai Keadilan dan dapat dikatakan cukup sukses sebagai pemani baru dalam dunia politik di Indonesia. Tren positif in tampaknya secara progesif terus berlanjut dan menunjukkan hasil yang mencegangkan. Di beberapa daerah, PKS mendominasi parlemen, dan tentunya kita masih ingat bagaimana PKS dapat mengimbangi koalisi beberapa partai dalam pemilu lokal DKI Jakarta.

Contoh lain, Kristen, sebagai suatu agama yang memiliki tingkat perkembangan yang paling mencolok dalam hal pertumbuhan pemeluknya menunjukkan dinamika yang cukup unik. Walaupun, Katolik merupakan agama yang lebih dahulu masuk dibanding agama Nasrani yang lain, namun selama masa VOC, agama ini dilarang dan dibatasi kegiatannya. Baru pada masa Daendels, yang mengusung Revolusi Perancis yang berslogan “Persaudaraan, Persamaan, dan Kemerdekaan” agama ini dapat kembali eksis di Hindia-Belanda. Ketika agama Katolik mencoba bangkit, ia mendapat halangan yang serius dari para zending yang telah terlebih dahulu mendapat izin dari pemerintah kolonial untuk mengembangkan karyanya. Konflik ini sering terjadi, terutama di daerah-daerah yang dianggap potensial untuk melakukan kristenisasi, dan kedua agama yang berusaha mencari massa ini biasanya saling mengklaim diri lebih dahulu. Pertikaian ini baru mereda ketika mereka merasakan harus mengalahkan musuh kolonialisme melalui paham nasionalisme yang ingin mewujudkan kemerdekaan. Setelah proklamasi kemerdekaan, kedua agama ini tampaknya dapat berdamai. Agama Katolik tampaknya dapat merapikan hierarkinya bahkan memperluas jaringan ke berbagai daerah di Indonesia. Hal yang cukup menghawatirkan sebenarnya terjadi dalam intern agama Protestan. Konflik dalam agama ini, baik berkaitan dengan dogma maupun unsure politis, mnyebabkan agama ini tersegmentasi ke dalam berbagai aliran, seperti Gereja Etnis, Lutheran, Calvinis, Pentakosta, Kharismatik, Bethel, dan lain sebagainya.

Polarisasi dua agama yang tersebut di atas cukup menghawatirkan. Bahkan agama sekarang ini dapat dikatakan tersentralisasi ke dalam diri manusia. Tuhan hanya dijadikan alat untuk melegalisasi agama manusia ini. Sering kita lihat, bagaimana para pemimpin agama mempermainkan doktrin-doktrin ilahi untuk memberikan pembenaran-pembenaran setiap tindakannya. Berbagai contoh dapat membuktikan hal tersebut. Dalam Islam, misalnya, dikenal Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bertugas mengeluarkan aturan-aturan yang berpotensi menistakan agama. Namun demikian, tujuan itu agaknya sering keluar dari sasarannya. Dalam kasus fatwa rokok dan golput, misalnya, MUI telah keluar dari teritori theologisnya. Bukankah merokok dan berpolitik itu hak asazi manusia yang sama dengan hak beragama. Kalau MUI sering mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak berhubungan langsung dengan fungsi theologisnya, dikhawatirkan MUI akan kehilangan kepercayaannya, sehingga, mengutip pendapat Gus Dur “ Bukankah MUI itu sama dengan LSM-LSM yang hanya memberikan masukan yang tidak harus ditaati?” Dalam agama Kristen, khususnya protestan juga terjadi hal seperti ini, bahkan dapat dikatakan lebih parah. Dalam beberapa aliran yang tidak perlu disebutkan sering saya dengar adanya usaha memelintir ajaran dengan mengedapankan monetisasi dalam setiap kegiatan keagamaanya. Artinya, banyak pendeta yang kemudian menjadi kaya karena mereka dapat menjalankan bisnis agama dengan menganjurkan para pemeluknya untuk memberikan persembahan kepada Tuhan agar hidupnya selamat di bumi dan di surga. Selain itu yang lebih menghawatirkan adalah doktrin-doktrin yang berkembang dalam aliran yang baru ini cenderung merendahkan bukan saja aliran agama Kristen yang lain, tetapi juga pemeluk agama lainnya demi misi untuk mendongkrak jumlah pemeluk agama tertentu.

Ekslusivisme agama itulah yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Setiap orang terlalu sibuk untuk mengurusi aliran dalam agamanya sendiri dan berpandangan masa bodoh koherenitas dalam agamanya sendiri. Bagaimana mau mengurusi relasi lintas agama? Kita harus banyak belajar dari orang Tinghoa-Indonesia yang memiliki ikatan identitas yang luar biasa dengan tanah leluhurnya. Perayaan Tahun Baru Cina hanya merupakan salah saru contoh bagaimana mereka mengelola perbedaan itu menjadi suatu kekuatan potensial. Memang etnisitas dan agama memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda. Agama menjadi lebih kompleks karena terdiri dari berbagai unsur etnis yang terkadang tidak memiliki pengalaman sejarah yang dapat mengikat secara kuat. Akan tetapi kita harus belajar juga dari ikatan etnis yang walaupun anggotanya terdiri dari berbagai macam pemeluk agama namun mereka mempunyai ikatan yang sangat kuat untuk memunculkan identitas budaya bersama. Identitas, dalam arti ajaran agama yang universal itu yang perlu dipikirkan dan diwujudkan demi masa depan bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s