Amir Sjarifoeddin dan Kharisma Seorang Nasionalis (II)

Kepribadian

Idealisme para aktivis muda itu mengejutkan para peneliti bahwa sebagian besar di antara mereka religius. Bahkan, sebagian besar dari mereka memiliki ketertarikan yang sangat besar dengan agama— termasuk agama baru atau aliran pembaruan dari agama tersebut. Perubahan itu sebagian mewakili sebuah tingkatan, pengalaman “Luther” muda seperti yang digambarkan oleh Erik. H. Erikson (1958). Ini mungkin menjadi sebuah jalan untuk memecahkan “krisis integritas” di antara mereka karena dislokasi sosial, sebuah jalan keluar yang mengembalikan kepada mereka kepercayaan pada pertumbuhan awal.

Perubahan ini juga merupakan sebuah keanehan dalam gelombang modernitas. Menjauhi para pendahulunya di masa lalu, mereka adalah bagian dari pencarian akhir dalam budaya metropolitan yang menempatkan mereka sebagai golongan migran. Terutama bagi mereka yang berasal dari luar Jawa, sebuah perpecahan yang tidak dapat diubah dengan keluarga dan adat tradisional. Hal ini membuat mereka menjadi sosok yang moderen, seperti yang dikatakan Berger, dalam Berger dan Kellner dalam The Hommless Mind (1973 : 77), ketika ia menulis : “ Individu modern mengalami keanehan yang tidak tuntas karena mereka memasuki dunia kedewasaan. Kualitas yang tidak tuntas itu membuat mereka , seperti yang mereka tulis, khususnya kecenderungan untuk berubah.

Aliran Theosophy sejak awal menarik golongan nasionalis di Hindia, sebuah gerakan yang dibawa dari India. Aliran ini menyediakan kosmologi yang bersifat optimis sebelum Perang Dunia I yang berhubungan dengan ikatan spiritual yang damai antara barat dan timur. Akan tetapi, pada akhir 1920-an Theosofi secara drastis kehilangan tujuannya. Sebelum bencana 1927, paham komunis internasional memengaruhi aktivis dari asosiasi-asosiasi buruh, seperi organisasi radikal yang diorganisasi oleh Henk Sneevliet. Islam, sebuah agama yang dipeluk oleh sebagian besar pribumi, menghasilkan bentuk yang baru untuk menghadapi tantangan modernitas. Di Indonesia, aliran Pan-Islamisme yang pada awalnya dibawa oleh Agus Salim dari Sarekat Islam, dan kemudian Mohammad Natsir dari Persatuan Islam, akan tetapi, karena beberapa alasan, terutama karena ketidakterlibatannya dalam Kongres Pemuda II, Agus Salim dan Jong Islaminten Bond hanya berpengaruh kecil di Kramat 106.

Sama pentingnya dengan dogma tersebut adalah atmosfir kebiasaan yang dilakukan dalam perkumpulan pelajar tersebut. Anggota dari Perkumpulan Indonesia di Belanda mengadopsi gaya berpakaian— dengan menanggalkan topi gaya Eropa dan menggantinya dengan kopiah, yang kemudian menjadi simbol nasional. Para pengikut ex-komunis, setelah melihat perubahan radikal tersebut, kemudian mencela mereka. Sebuah mode pakaian yang serupa menyebar di Kramat 106, ketika di antara mereka mengenakan baju koton Jawa Tengah tanpa sepatu, yang meniru gerakan Swadeshi Gandhi[1].

Hal ini bukan saja berkaitan dengan seorang migran yang melihat patokan pribadi. Mereka menjadi golongan perintis, penglihatan tentang kolonialisasi sebagai sebuah kehidupan yang tidak pernah mereka tahu eksistensinya., dan berharap banyak yang mengikuti mereka. Petualangan religiusnya juga memengaruhi perjalanan menuju sumber baru dari solidaritas sosial.

Kramat 106 seringkali dikunjungi oleh para misionaris Eropa. Para pengunjung tersebut sebagian besar berasal dari Jesuit dan Rijckevorsel, sedangkan untuk Protestan adalah Kees van Doorn. Amir menjalin hubungan dengan Christen Studenten Vereeniging (CSV, Gerakan Mahasiswa Kristen) bersama Van Doorn, seperti juga saudaranya Moelia yang pernah menjadi anggota NCSV di Belanda. Hal yang terpenting adalah dosennya di Sekolah Tinggi Hukum, J.M.J. Schepper, bekas anggota NCSV yang menjalankan kegiatan misionaris yang ia bentuk dalam persahabatan sejati. Van Doorn dan Schepper adalah orang yang saleh, berpendidikan tinggi, ditarik oleh beragam misionaris Kristen, baik yang bersemangat dan etis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya[2].

Schepper dengan cepat menyukai Amir, sebagai intelektual mereka sering berdiskusi, tetapi secara spontanitas Schepper memang kurang. Ia melihat Amir sebagai orang yang memiliki kepribadian yang kuat., seorang “Ksatria Beragama”, yang ia puji melebihi gerakan politik yang lain. Bersama Kraemer dan pendukung non-etis dalam kelompoknya, Ia melihat munculnya sosok yang dapat memiliki kemampuan memimpin yang memiliki pertimbangan moral dalam masa kekuasaan kolonial Belanda. Ia menyesal karena pada awal 1930 unsur pertimbangan moral tidak muncul menjadi ketertarikan yang berpengaruh dalam politik pemerintahan. Dalam beberapa kesempatan, ia menyampaikan kepada pemerintah untuk tidak mengambil tindakan represif terhadap Amir.

Schepper bukan seorang anggota aliran gereja yang utama, tetapi seorang pengikut fundalmental Darby atau Ekslusivisme Brethen. Teman misionarisnya terkadang menyebut dirinya seorang sektarian. Dua ingatan pribadi Amir pada waktu itu ―baptis dan perkawinan― mengikutsertakan Schepper. Pada tahun 1931, Amir mengikuti kelas katekisasi yang dipimpin oleh Schepper sendiri, Amir kemudian dibaptis di Gereja Batak (HKBP) di Kernolong Batavia.

Pembaptisan ini menjadi bermakna, dan juga tragis, yang tentu saja berkaitan dengan masa lalu Bataknya. Ibunya seorang muslim yang taat rupanya mengancam akan bunuh diri apabila rencana anak kesayangannya itu untuk pindah agama terwujud. Ketika rencan itu terealisasi, ibunya juga membuktikan ancaman itu (Bode-Dieterich,1966). Kita tidak mengetahui apa dampak yang cukup berpengaruh yang didapatkan di dalam pribadi Amir. Hal ini membuat kita merasa jika ia tetap bertahan, dan kemudian ia tetap dapat bertahan terhadap pendirian pribadinya.

Dalam perkumpulan yang dipimpin oleh Schepper ini, ia bertemu Djaenah Harahap, seorang anak keluarga kaya Batavia, sepupu, dan lebih dari itu memiliki marga yang sama dengan dirinya[3]. Pernikahan keduanya terjadi pada Oktober 1935, segera, setelah Amir keluar dari penjara, dan menjadi problem serius karena dianggap tabu dalam budaya Batak menikah dengan marga yang sama. Penolakan yang tegas datang dari keluarga. Pembaptisan istrinya, tepat sebelum pernikahan, seperti beberapa tahun yang lalu, mereprestasi statusnya sebagai migran, jauh dari Tanah Batak dan mengarah pada budaya metropolis yang moderen dengan pilihan individualnya. Mereka memiliki enam orang anak antara tahun 1940-1949, yang mana hanya tiga anak perempuannya yang dapat bertahan sampai usia dewasa.

Schepper tidak secara alami maupun melalui pelatihan menikmati aktivitas politik. Ia menjadi pendorong awal yang memberikan semangat kepada Amir untuk masuk dalam perhatian publik. Pada Mei 1931, ia mempublikasikan sebuah brosur untuk memprotes hukuman Soekarno dan tiga pimpinan PNI (Schepper,1931). Seorang mentor misionaris Amir mencurigai Amir sebagai “tangan tidak terlihat” di belakang tulisan Schepper. Gaya— bumbu kata sifat yang beragam, seperti berbelit-belit dan membingungkan untuk mengambarkan hukuman terhadap keempat tokoh tersebut— lebih hidup daripada keinginan Scheeper. Brosur tersebut muncul sangat dekat dengan deklarasi ketertiban Hindia[4].

Jaksa agung mempertimbangkan tuntutan Scheeper tentang “peghinaan terhadap sebuah institusi publik”. Bagaimanapun pendapat Schepper untuk kebaikan badan legal Belanda mendapatkan respon yang baik dari Gubernur Jenderal De Graeff. Sebelum pensiun ke Negeri Belanda, ia mengampuni Soekarno dan beberapa temannya. Berlawanan dengan itu, ketidaksukaan Gubernur Jenderal yang baru De Jonge, yang menghina Schepper tentang famplet politiknya, dan mengancamnya akan menarik gelar profesornya[5].

Hampir tidak ada otobiografi yang tersisa yang ditulis oleh Amir Sjarifoeddin. Semua tulisan pribadinya dimusnahkan oleh keluarganya karena peristiwa traumatis 1965. Akan tetapi, dengan membaca perilakunya dalam lingkaran Schepper memberikan kita pengetahuan tentang kehidupannya selama menjadi mahasiswa. Pertemuan ini menjadikan Amir sebagai salah satu anggota dala Gerakan Mahasiswa Kristen yang dipimpin oleh Kees van Doorn, dan kemudian Johannes Leimena. Para mahasiswa duduk di karpet Persia di rumah besar Schepper— di mana kuliah lain seperti mengendari sepeda, ia juga menjadi mampu mengendarai mobil.

Rezim tidak juga terbuka. Seperti yang kita tanyakan ketika membaca Rudolf Otto, The Idea of the Holy (1923). Seperti, Schepper, Otto mengagumi Immanuel Kant, dan kemudian pemikiran Friedrich Schleiermacher tentang ‘tanah jajahan yang absolut’. Ia mendalami Quaker- kebaktian tersembunyi ,misterius, keseluruhan yang lain, mysterium tremendum, perasaan akan peringatan tentang sejarah kekinian[6].

Mereka mendebat para theolog Lutheran Jerman Hanns Lilje, dan juga aliran ortodox baru yang juga penganut sosialis, Karl Barth. Lilje yang juga seorang Barthian, seorang pemimpin Federasi Mahasiswa Kristen Dunia di mana CSV menjadi organisasi anggotanya. Tulisannya hampir sebagian besar menyoroti proses sekularisme aliran pasca-kristen di Eropa. Ia menyertakan penampakan wahyu tentang perang. Lilje juga dikenal sebagai seorang anggota Gereja Anti-Nazi Jerman[7].

Kekaguman terhadap Rabindranath Tagore dan Mahatma Gandhi selalu meliputi para misionaris Protestan, yang mereka lihat sebagai figur Kristen dalam diri orang Asia. Seorang teman misionaris Inggris mereka, C.F. Andrews, seperti yang dibaca oleh para misionaris pribumi, mengambarkan Gandhi sebagai seorang Savonarola dan pada sisi lain sebagai seorang Santo Fransikus Asisi[8].

Seorang tokoh Asia yang muncul dan dikagumi dalam perlumpulan Schepper yang melebihi Tagore dan Gandhi adalah seorang Jepang Kristen, Toyohiko Kagawa. Sebuah buku yang beredar di antara mereka mengambarkan dirinya sebagai nabi, yang menerjemahkan kehidupan heroiknya, baik secara prinsip maupun praktik yang menerobos segala zaman yang telah berhasil menebus dan memengaruhi secara kreatif. Anak haram yang terbuang dari seorang samurai , Kagawa (1888-1960) menjadi Kristen dan setelah studinya di Amerika Serikat di mana ajaran sosial memengaruhinya, menjadi inspirasi untuk mendedikasikan dirinya dengan hidup bersama orang miskin di perkampungan kumuh di Kobe selama 13 tahun[9].

Kagawa adalah seorang pecinta damai dan pengikut sosialis Santo Simon, yang membantu pendirian Partai Buruh Jepang. Ia percaya pada komunisme, tetapi komunisme yang berkembang pada masa gereja awal dan Tolstoy, daripada Karl Max, seperti yang ditulis penulis biografinya (Axling, 1932 :87). Kagawa sendiri menulis :

Semua gerakan sosial perrtama harus dan berfokus terutama pada moral dan pengorbanan […]. Hal tersebut harus dapat menghibur golongan kaya dan miskin[…] Rekonstruksi sosial harus dipusatkan pada Yesus Kristus[…], sebuah gerakan yang menuju persaudaraan. (Axling 1932 :89)

Ia menolak pelembagaan agama :

Hal ini menjadi konspirasi personal yang membunuh Kristus, ini adalah caci maki terhadap Budha dari para tetua golongan Brahmin. Juga yang merintangi dan menghancurkan gerakan yang menjadi sumber dari konsekuensi baru yang selalu membangun pengikut-pengikut dari otoritas dan keinginan akan uang (Axling 1932 :114)

Kagawa adalah seorang mistik yang memuja kepercayaan bahwa Kristen adalah agama yang tidak untuk orang-orang yang sensitif, tetapi orang yang tergila-gila dengan Tuhan dan manusia’ (Axling 1932 :41). Dalam beberapa tahun kemudian, Amir berhasil berkorenspondensi dengan Kagawa, dan sering berbicara tentang dia dalam masyarakat dalam Gereja Kristen Batak-Protestan di Jogjakarta semasa revolusi[10].

Amir tidak hanya membaca literatur-literatur Kristen. Seorang temannya mencatat ketrtarikannya dengan pusi-puisi dari seorang humanis-sosialis Henritte Roland Holst, yang familiar di Kramat 106 (kemungkinan besar dari tangan kedua) adalah Montesquieu, Thomas Jefferson, Edmund Burke, Thomas Paine, Jean-Jaques Rousseau, Karl Marx, Friedrich Engels, Confusius, Aristotles, dan Nicollo Macchiavielli. Tokoh yang lain adalah Fyodor Dostoyevsky dan Henrik Ibsen. Tokoh yang lain adalah Multatuli. Yang lain mengatakan pengaruh definitif mengubahnya ke arah komunisme di tahun 1938 adalah karya Engles yang polemic, Anti-Duhring[11].

Tagore, Gandhi, Kazawa, dan (tubuh mistik kesemuanya dalam) Kristus menjadi model kehidupan Amir muda. Mereka menegahi pengalaman seorang pemuda pengikut Luther yang meminjam sebuah aura romantisme pada masa menjadi mahasiswa. Seperti yang Abu Hanifah tulis tentang Amir yang menyamakannya seperti yang Erikson tulis tentang Luther : “ seorang pria yang lebih baik menjadi martir dam memperkuat hidupnya dengan doktrin kematian awal, atau menjadi seorang petapa dalam kesunyian dengan antisipasinya terhadap alam baka (Erikson 1958 :255).

Kegiatan di Kramat 106 dan pengaruh Kazawa dalam kelompok Schepper menguatkan satu dengan yang lainnya. Keduanya menjadi bagian dalam perasaan keanggotaan yang terbuka hanya dengan kebersamaan. Masa romantisme dalam kehidupan Amir berakhir ketika ia dipenjara pada Desember 1933, selama setahun dan setengah tahun setelah serangan persnya.

Pahlawan yang Kharismatis

Di bawah dua orang editor Amir Sjarifoeddin dan Abu Hanifah (1929-1930), buletin PPPI Indonesia Raja menunjukkan antusiasisme jiwa muda. Dengan senang hati menunjukkan kemampuannya untuk merangkul Adolf Weber dan J.H. Boeke dalam bidang ekonomi. Seorang tokoh tua (M.W.F. Treub) mendapatkan sebuah kekalahan yang murah hati. Inisiatif Soekarno—PNI dan federasi PPKI—diberikan publisitas yang luas. Mereka tidak teralienasi, tidak juga ketika para aktivis muda menjadi marah. Mahatma Gandhi bagi mereka adalah pahlawan, tetapi juga menghormati Dr. Soetomo, dan Noto Soeroto.

Isu pertama yang menarik perhatian polisi—sebuah bagian dari bahasa nasionalis Amir. Insiden itu menunjukan polisi sangat peka, tetapi tetap mencari keragu-raguan dari sebuah platform nasionalis yang formatif. Sekarang, dalam pengaruh Yamin, mereka menemukan itu dalam bahasa (‘ sebuah perjuangan melawan dominasi, yang diekspresikan sebagian besar dengan pembentukan dalam perjuangan menggunakan bahasa’). Tidak ada petunjuk dari analisis kelas[12].

Selama beberapa tahun, kebintangan Amir berlanjut dalam lingkaran aktivis. Pekerjaannya di Universitas Rakyat membawanya sangat dekat dengan pengangkatan dalam pusat Partindo. Pada April 1933, ia diangkat menjadi wakil presiden, yang langsung menuntut pendidikan politik dan kebijakan sekolah. Ia sekarang berpartisipasi secara bersemangat dalam diskursus melawan kolonialisme dan kapitalisme yang telah dibentuk Soekarno dan Moh. Yamin. Tidak ada yang dapat diharapkan dari institusi kolonial— ‘perdamaian akan datang dari aksi masa’ Dalam kongress Partindo 1933 secara resmi diambil keputusan tentang sebuah Republik Indonesia merdeka sebagai tujuan partai tersebut.

Dalam paruh pertama 1933, Amir menjadi editor buletin Banteng, bagian dari cabang Partindo di Batavia. Ia kemudian mengkalim dirinya sebagai ‘ nasionalis radikal’ Maksudnya, ‘non-kooperatif yang tanpa kompromi’. Hal itu mengangkat opini partai dalam isu ‘seklolah liar, dalam sifat tradisional para sultan yang berada dalam liga untuk imperialisme, dari tindakan represif polisi dalam rapat-rapat publik., dalam rencana pendapatan ekonomi lima tahun Rusia.

Isu politik menjadi peristiwa yang sanngat menarik adalah sebuah pertentangan dalam bulan Januari dan Februari dengan rival nasionalisnya, Moh Hatta, yang baru kembali ke Hindia setelah satu dekade menetap di Negeri Belanda. Amir dan rekan-rekan radikalnya mencela Hatta yang menerima pencalonan dari kaum sosialis Parlemen Belanda. Kemerdekaan Indonesia dapat dimenangkan melalui aksi masa, dari masyarakat Indonesia sendiri, tidak melalui partisipasi dalam parlemen, seperti yang mereka pelajari. Amir mengutip panggilan nyaring Soekarno :

Anda harus meninggalkan Parlemen Belanda, tidak hanya karena parlemen Belandaadalah rantai penempaan perbudakan— anda harus meninggalkan Parlemen Belanda, dengan tujuan untuk meruntuhkan dengan menempa senjata spiritual anda., satu-satunya senjata yang dapat meruntuhkan rantai perbudakan (Sjarifoeddin,1933b).

Hatta dengan relatif membalas “pemimpin” non-kooperatif. Ia mengatakan hal tersebut secara sederhana sebuah “teknik perjuangan yang rasional”, dan mengerutu tentang anarkisme Partindo. Partindo, ia meneruskan, secara praktik adalah sebuah esensi dari dogma pra-moderen., sebuah ‘mimpi surga’ yang tidak rasional. Hal tersebut menampakkan kenyamanan ideologi yang mengingatkan pada Gereja Katolik pada abad pertengahan atau fasisme moderen. Hatta mengambarkan pertentangan antara sebuah ‘metafisik yang sentimental’ dan’ politik real yang rasional’. Ketika Hatta mengatakan secara kasar , Soekarno membela pendirianyam dan ketertarikan Amir menjadi pengacara dalam semangat loyalitas, yang secara tidak murni duduk di Parlemen Belanda, yang ia sentuh dengan serangan yang lembut[13].

Amir, dalam jangka waktu ini, mulai disorot dalam laporan rahasia pemerintah sebagai seorang yang punya potensi yang bahaya sebagai pembicara publik. Bagaimanapun mereka tidak mendeskripsikan pendukungnya, indikasi utama yang mereka soroti adalah akibat politik yang dibuatnya. Laporan ini juga tidak meminati kepribadian Amir, tetapi peranannya sebagai seorang pemimpin kharismatik. Yang pertama mengatakan, ia adalah ‘seorang pembicara yang berbakat’. Ia mengekspresikan dirinya sendiri secara jelas dan dalam studinya tentang subjek yang ia sepakati. Dengan tempramennya yang revolusioner, ia meraih perhatian publik dan menarik para penontonnya[14].

Inti dari pidatonya adalah hasutan yang keras. Ia seringkali mengulangi perkataanya, melalui ristet yang baik, yang memberatkan dan kebijakan pajak yang tidak populer. Demi kemerdekaan dari kolonialisme, ia mengatakan, orang Indonesia tidak harus membayar pajak yang kurang, tetapi dapat mmbayarnya lebih dengan senang hati, daripada yang dibayarkan sekarang. Ia mengampayekan dalam berbagai sekolah sukarela (khususnya Taman Siswa), yang berada di luar sistem negara, dan diancam oleh ordonasi pemerintah. Ia mengatakan sebuah penerimaan dari masyarakat ia rasakan dalam pengadaian sebuah parlemen Republik Indonesia yang dimaterialisasikan sebelum pengamatannya[15].

Pidatonya seringkali dibandingkan, dalam laporan-laporan, dengan teman dan mentornya Muhammad Yamin. Pada akhir 1933 pembandingan ini menjadi sinyal bahaya bagi pemerintah. Dalam pengamatan seorang Gubernur Jawa Barat, keduanya adalah ‘ekstrimis’. Akan tetapi, sifat menghasut Yamin jatuh pada saat interogasi dan menjadi orang yang ragu-ragu dengan karakter yang kecil, sedangkan Amir tetap menjadi ekstrimis.

Dalam hati dan jiwa, bersama pendirian yang kuat […] Ia memiliki karakter dan sifat menentang terhadap penerimaan konsekuensi dalam mempertahankan posisinya […] Ia dengan sukarela menerima hukumannya dengan rasa hormat yang menentang, akan tetapi ia juga seorang yang menarik perhatian orang, daripada Mohamad Yamin. Ia seorang yang dilahirkan sebagai pemimpin, seorang agitator yang berbahaya, menjadi figur yang termasuk penting, yang tidak mudah dilenyapkan […] Dalam pengamatan saya, Amir Sjarifoeddin, dalam beberapa tahun ke depan akan membuktikan sesuatu yang penting , jika tidak ingin dikatakan paling penting di tengah figur kepemimpinannya dalam tindakan para ekstrimis, dan kekuatan dan kedalamannya menemukan pendirian yang menghasilkan hasil yang nyata dalam susunan sebuah pusat kepemimpinan (Kwantes, 1975-198, IV :170-1)

Gubernur menyimpulkan untuk, berdasarkan rekomendasi orang dalam, ‘menghentikan kehebatannya’, keabadian dan peningkatan pengaruhnya.

Pada Juni 1933, segera setelah Hendrikus Colijn menjadi Menteri Urusan Tanah Jajahan, Gubernur Jenderal De Jonge memerintahkan penggunaan aksi yan represif untuk melawan Partindo, Partai Pendidikan Nasionalnya Hatta, dan Parta Islam PSII, serta Partai Islam Sumatera (Permi) untuk membatasi akibat-akibat propaganda dalam masyarakat. Para pemimpin terkemuka, termasuk Soekarno, dan kemudian Hatta, diasingkan. Partindo mencapai puncaknya dengan 20.000 anggota dan 70 cabang yang sekarang mulai menurun secara cepat. Hal ini merupakan sesuatu yang akan terwujud, sebelum pembelaan Goenoeng Moelia dan Schepper untuk Amir yang kemungkinan mempunyai makna bahwa adanya pengiriman extra-judicaly (kebijakan yang tidak diperbolehkan hukum) ke tempat yang kejam dan terpencil, Boven Digoel, di Papua-Hindia, sebuah proses hokum telah dilakukan dengan membawa prinsipnya ke dalam pers yang menyerang. Mereka menangkap ketika sebuah artikel provokatif di buletin Banteng yang berjudul ‘Massa Actie’. Editornya menolak untuk melibatkan Yamin yang berkedudukan sebagai penulis dari artikel tersebut. Ia baru berusia26 tahun ketika berada dalam penjara[16].

Setelah dihukum selama 18 bulan di dua penjara yang berbeda antara Desember 1933- Juli 1935, sifatnya tetap ‘tidak bercela’. Schepper datang untuk mengunjungi dengan sebuah Alkitab setiap hari. Setelah bebas, Gubernur Jawa Barat tetap memerintahkan pengawasannya. Akan tetapi, dalam kesulitan beroganisasi karena penjatuhan sangsi semua partai politik pada saat itu terutama dalam pertemuan-pertemuan publik, itu mengingatkan keteguhannya yang sewaktu-waktu dapat berhadapan dengan penangkapan[17].

Intelektual Kelas Menengah

Enam tahun setelah pemenjaraannya, tetap memperlihatkan kepribadian Amir dan peran politiknya sebagai pahlawan yang kharismatik. Ketika ia masuk penjara ia telah mendapatkan gelar sarjana hukumnya (terimakasih kepada Schepper, ia mengikuti sidang sesaat sebelum dipenjara), tetapi tanpa pekerjaan dan saluran politik. Partindo tidak lebih menjadi bayang-bayang dari bentuk awalnya, pemimpinya sekarang berada di Surabaya. Kekurangan semangat kepahlawanan nasional dalam berhadapan dengan kemampuan represif dari sebuah negara moderen telah membuat kelimpahan yang jelas. Pada paruh kedua masa hidupnya ia tumbuh di luar obsesi romantisme masa mudanya, tanpa meninggalkan inspirasinya.

Perhatian dalam negeri tampaknya membesar, dan para pengangur tetap dalam kesusahan. Pada awalnya Amir bergabung dengan Muhammad Yamin dalam firma hukumnya, yang dijalankan oleh orang-orang Sumatera di Batavia. Ini adalah keputusan yang buruk. Mereka terlibat dalam perselisihan. Hal ini menghancurkan sepuluh tahun persahabatan dengan seorang yang telah memperkenalkan Amir pada dunia pergerakan, dan juga ketika Amir masuk penjara. Amir dan istrinya pada pertengahan 1937 pindah ke kota di pantai selatan, Sukabumi untuk mencoba peruntungan di kota tersebut. Tetapi usaha itu tidak menghasilkan, dan pada bulan Agustus 1938, ia sekali lagi kembali ke Batavia, yang pada waktu itu bergabung dengan seorang pengacara Tionghoa Lie Tjong Fie.

Selama delapan tahun antara masa pemenjaraan dan pendudukan Jepang, ketertarikan Amir tidak terlihat sebagai ‘agitator yang berbahaya’, tetapi intelektual kelas menegah, seorang individualis, dan penganut sosial demokrat. Ia dengan senang hati pindah ke lingkaran aktivis yang tidak dominan. Salah satu contohnya ia bergabung ke dalam organisasi bebas dengan majalah sastra Poedjangga Baroe[18].

Kemudian, ia bertemu dengan lingkaran yang moderen, baru, dan berbasis migran dalam sebuah masyarakat yang sedang bertransisi. Heather Sutherland mengambarkan dengan baik, dengan sedikit kasar, paradoks dari intelegensia moderen—mengarah pada pemerintahan Eropa, dan kebudayaannya, tetapi juga sejumlah nilai yang mengarah pada masyarakat pribumi. Mereka Menulis

Sebuah apresiasi yang kurang dari masyarakat yang dalam semua bentuk yang buruk dari masyarakat Indonesia. Kekurangan itu terjadi dalam golongan populis yang berimbang mendorong karakteristik dari para intelektaul dalam sebuah negara baru pasca-perang. Beberapa pengamat dalam waktu ini […] melihat hilangnya kebaikan oriental (Asia) dan jiwa yang tidak berperasaan. Akan tetapi, hal tersebut tidak banyak, yang menunjukkan para intelektual sangat sulit mengatakan mereka tidak memahami (Sutherland 1968 :126).

Amir menunjukkan ketertarikannya pada bahasa Indonesia yang telah menjadi bagian normatif dalam pergerakan nasionalis sejak 1920-an. Akan tetapi, ketika ia berbicaradalam Kongres Bahasa Indonesia I di tahun 1938, ia berpolemik dengan Muhammad Yamin dan Takdir Alisjahbana. Presentasinya memfokuskan permasalahan yang bersifat praktis dari implementasi ‘Melayu’ sebagai ‘Orang Indonesia’ dalam sebuah zaman ilmiah (Kebangoenan, 22-6-1938,23-6-1938 dan 27-6-1938).

Berbagai ilustrasi tetap mengoroentasikan Amir sebagai kelas menengah yang ditunjukkan dalam komitmennya dengan pers, kematangannya saat bersama Indonesia Raja dan Banteng. Namanya muncul dalam enam kepala surat kabar pada akhir 1930-an—yang terlihat hanya merupakan kesempatan untuk mendorong sirkulasi reputasi golongan nasionalis. Para kolega dalam spekulasi ini adalah Moh. Yamin (sebelum mereka berselisih), Sanoesi Pane, dan golongan Tionghoa progresif.

Pada tahun 1937, contohnya, nama Amir muncul bersama orang Sumatera lainnya sebagai kelas menengah, seperti yang dilustrasikan majalah Belanda, Panorama, yang dijalankan oleh seorang pengacara Tionghoa, Phoa Liong Gie dam sebelum itu oleh seorang kiri Liem Koen Hian. Artikel yang dalam ‘perjuangan berkesinambungan antara individu dan masyarakat’ sangat popular pada tahun ini. Amir sendiri menulis penghargaannya pada tokoh Perancis moralis rasional yang anti-fasis, Julien Benda. Selain itu, artikelnya yang berjudul ‘Orang Kuat’, menjadi sebuah protes halus. Yang didasarkan pada sifat etis liberal dalam rangka melawan pengikut Macchiaveli yang ‘kuat’ yang kemudian dijadikan pengikut fasis sebagai penyelamat dalam masa pergolakan itu. Kemudian, suatu ingatan revolusioner dari artikel itu membawa seorang pengikutnya yang secara ironis menyebut Amir sebagai ‘orang kuat’. Ingatan itu mengilustrasikan secara sempurna jurang pemisah antara pendirian Amir dan peran politik yang ia mainkan sebagai tokoh kharismatis selama masa hidupnya[19].

Pada pertengahan tahun 1936, Yamin, Amir, dan Sanoesi Pane, serta Liem Koen Hian, menerbitkan surat kabar harian, Kebangoenan. Hal ini dengan segera membuktikan kualitas publikasi, penyebarluasan, pertanggungjawaban, dan kemerdekaan. Amir menulis dalam topic, seperti penyalahgunaan hak dalam asosiasi kebebasan (Sjarifoeddin,1937c) dan pada tahun 1938 mulai sering menulis tentang politik luar negeri, yang mengosentrasikan pada ancaman fasisme di Eropa dan Pasifik (Sjarifoeddin 1938-1941). Perang Sipil Spanyol pada tahun 1938 menyakinkannya bahwa dunia tidak terbagi berdasar Barat dan Timur, tetapi fasis melawan demokrasi.

Pada Oktober 1938 (setelah perpisahannya dengan Yamin), Amir dan teman-teman Gerindonya meluncurkan terbitan bulana politik yang terkenal,Toejoean Rakjat. Editornya adalah seorang wartawan Batak A.M. Sipahoetar. Amir menulis lagi tentang politik internasional, yang menunjukkan sikapnya anti-fasisnya yang kuat. Pendirian anti-fasisnya secara kontras terbentuk hampir bersama dengan pergerakan nasionalis. Hal ini menandakan penolakan yang menyeluruh terhadap etnik tradisional atau basis religius sebagai dasar solidaritas sosial, dalam orientasi politik masa depan yang lebih baik.

bersambung…


Tulisan ini diterjemahkan dari karya Gerry van Klinken yang berjudul Amir Sjarifoeddin and Nationalist Charisma, yang merupakan salah satu bab dalam buku Minorities, Modernity, and The Emerging Nation ; Christian in Indonesia, a Biographical Approach.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s