Generasi (Muda) Pegawai Indonesia

Ada sebuah pertanyaan yang sangat menganggu saya belakangan ini. Pertanyaan itu sebenarnya bermakna tunggal, tetapi seolah-olah memberikan dua alternatif jawaban. Setelah selesai sekolah, mau lanjut studi master atau langsung bekerja ? Mengapa pertanyaan itu saya tuduh bermakna tunggal, karena bila saya pilih mau studi master, maka akan ada pertanyaan lanjutannya, setelah studi master mau bekerja di mana? Toh, jawaban yang diharapkan pasti hendak bekerja di mana? Saya memilih tidak menjawab, karena memang dua pilihan itu tidak mewakili jawaban yang saya ajukan

Saya mengenal sebuah keluarga yang menurut saya hidup bersahaja namun bahagia. Mereka tidak terlalu memikirkan pekerjaan yang sifatnya tetap dan bergaji, walaupun sebenarnya dapat dengan mudah mereka dapatkan. Ada satu pertanyaan dari salah seorang anggota keluarga tersebut yang saya simpan dalam benak, “ Hal yang paling penting dalam hidupku sekarang adalah tumbuh bersama kedua anakku, cukup itu”. Pertanyaan ini menjadi logis ketika saya mengingat keluarga ini menjalani siklus yang terbalik. Hidup mapan di masa produktif mereka, dan memilih hidup bersahaja tetapi bahagia pada saat berkeluarga. Keluarga itu penah mengigatkan kepada saya jangan terlalu mudah untuk masuk dunia pekerjaan, karena dunia itu membosankan.

Hari ini, saya mendengar cerita dari Ibu saya, bahwa ia baru saja menjeguk saudara kami yang sakit dan menjalani rawat inap karena, menurut kabar burung, anaknya yang lulusan perguruan tinggi negeri belum kunjung mendapatkan pekerjaan. Ibuku dengan spontan berkomentar, bagaimana dengan Mama, yang kedua anaknya telah selesai sekolah tetapi belum bekerja. Saya lantas langsung menjawab, “ kalau cuma ingin jadi pegawai, untuk apa kita disekolahkan tinggi-tinggi, lebih baik dulu ambil program diploma saja, biar mudah mendapatkan pekerjaan.

Teman saya, seorang calon sarjana ekonomi belum lama menegaskan, “ Saya ingin segera cepat-cepat lulus, tidak peduli IPK-nya kecil, kan saya tidak ingin menjadi pegawai. Untuk apa kita bekerja pada orang lain dengan gaji yang segitu-gitu saja, kalau kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri kan itu lebih baik.

Tiga cerita itu, semakin menegaskan pendirian saya, bahwa siklus hidup itu tidak hanya di seputar lahir, sekolah, bekerja, berkeluarga, dan mati. Hidup adalah sebuah proses pengembangan diri ,baik secara personal maupun antarpersonal, sehingga kita dapat menikmati hidup kita sepenuhnya. Saya jadi teringat cacian Bung Pram, bangsa ini hanya bermentalkan bangsa terjajah, bangsa tempe, kata Soekarno.

Aplikasi dari pertanyaan di atas, jelas terlihat dalam realitas kehidupan sekarang. Berapa banyak orang yang rela mengorbankan hidupnya sendiri demi mendapatkan pekerjaan dan gaji tetap. Hasil riilnya, generasi pegawai, orang-orang yang rela diinjak-injak atasan dan diperbudak uang, merupakan hasil nyata dari kolonialisme dan imperialism yang sangat membekas dalam sejarah bangsa ini. Inlander yang pada masa kolonial sama kedudukannya dengan anjing, saya rasa masih relevan dengan mentalitas bangsa ini. Bintang yang sangat setia kepada tuannya, walaupun tuannya belum tentu setia kepadanya.

Bangsa ini sekarang sedang sakit, dan periode ini kelak akan diingat dalam sejarah. Ketika generasi pasca-kolonialisme kembali diperdaya oleh kekuatan neo-kolonialisme yang mencitrakan dirinya sebagai sumber kemajuan, yang sebenarnya tetap menempatkan bangsa-bangsa terbelakang sebagai budaknya. Tampaknya hal ini akan selalu menjadi mentalitas bangsa ini, dan tidak akan berubah dalam waktu dekat karena subjeknya tidak menginginkan perubahan tersebut. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya sekedar ingin membongkar nilai-nilai yang dianggap benar tersebut, sebagai nilai yang salah, walaupun mungkin eksplanasi saya tidak tepat dengan zaman yang bergulir saat ini.

Bekerja bagi sebagian besar orang ditafsirkan sebagai kegiatan yang menghasilkan uang. Kekayaan dipercaya akan dapat mendatangkan kebahagiaan. Kalau bekerja tidak menghasilkan uang, lebih baik tidak usah bekerja. Akan tetapi, pertanyaannya apakah orang yang mempunyai banyak uang itu pasti akan bahagia?, dan apakah orang yang tidak mempunyai banyak uang akan menderita?

Seorang teman yang telah bekerja, belakangan berkata, “Saya ingin berhenti bekerja, saya ingin berwiraswasta saja”. Pekerjaan di kantor saya membuat saya stress, tapi saya bimbang karena gaji yang diberikan kepada saya cukup tinggi”. Saya membiarkan teman saya itu dalam kebimbangan, saya tidak memberi saran, yang dalam hati sebenarnya mengatakan, “Ya berenti bekerja saja, berwiraswasta jauh lebih baik”. Sebenarnya tujuan saya tidak memberikan saran karena saya ingin memberikan pelajaran pada temannya saya bahwa pelajaran terbaik dalam hidup ini adalah dari pengalaman hidup sendiri.

Setiap orang saat ini pasti sangat ingin bekerja setelah selesai bersekolah. Bahkan, dari jauh hari telah dipikirkan untuk memilih sekolah-sekolah yang berkualitas, kalau bisa memiliki relasi dengan perusahaan atau ikatan dinas dengan instansi-instansi pemerintah demi menjamin masa depan yang cemerlang. Mereka tidak terlalu ambil pusing bila sebagian dari potensi dalam diri mereka sebenarnya telah dimatikan demi mencapai tujuan tersebut. Sekolah, yan untuk bekerja dan bekerja, ya untuk mencari uang. Selesai sudah.

Seorang teman saya, lulusan SMA, pernah mengatakan, “ Siapa bilang pegawai tidak bisa kaya?” Saya tertawa dalam hati seraya berkata, “ kita lihat saja beberapa tahun lagi akan jadi apa anda?” Apakah akan tetap menjadi pegawai yang potensinya secara tidak sadar diserap oleh atasan atau, saya berharap, ia akan berubah pikiran dan mengembangkan potensinya walaupun dengan itu sementara ia tidak akan memiliki banyak uang”.

Manusia memang dilahirkan untuk berproduksi, untuk bekerja. Akan tetapi sebaiknya, kegiatan bekerja itu tidak didasarkan semata-maa untuk kepentingan materi, terutama uang. Ada berbagai hal yang perlu dipertimbangkan dan dikembangkan sebelum kita masuk dalam dunia kerja. Keterampilan menjadi sangat esensial, kalau seseorang tidak ingin hanya jadi pegawai biasa yang diekspolitasi waktunya dan tenaganya demi gaji tetap, galilah potensi dalam dirimu semaksimal mungkin dan yakinlah dengan potensi itu pekerjaan yang pantas bagi dirimu akan didapatkan. Bekerjalah bukan hanya atas dasar uang, tetapi atas dasar kelayakan akan diri anda.

Uang memang salah satu kebutuhan manusia yang penting, tetapi bukan yang terpenting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s