Wajah Kota Bogor dalam Perubahan Zaman

Sisi historis Kota Bogor selalu menarik untuk ditelusuri. Hal ini disebabkan karena wajah kota Bogor merepsentasikan perpaduan kultur tradisional Sunda, budaya kolonial, dan modernitas kota metropolitan.

Sebagai salah satu kota tua yang ada di Indonesia, Bogor merupakan sebuah kota yang memiliki sejarah panjang yang berumur lebih dari setengah milenium. Dalam perjalanan waktu tersebut, Bogor telah berganti wajah seiring dengan perubahan jiwa zaman (zeitgeist). Sayangnya, kekayaan warisan sejarah itu belum diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Identitas historis kota Bogor seakan dibiarkan ‘meluntur’ seiring dengan semakin dominannya budaya metropolitan di seluruh kota yang pernah mendapat julukan “Een Indisch Paradijs”, (sebuah surga di Hindia) pada masa kolonial .

Eksotisme Kota Tradisional

Kedudukan kota Bogor sejak awal ternyata cukup penting. Dalam ruang lingkup pulau Jawa, kota Bogor menjadi titik batas antara masa pra-sejarah dan sejarah di pulau Jawa. Berdasarkan penelitian arkeologis dan filologis, diperkirakan pada abad ke-5 (kira-kira 450 M) terdapat sebuah kerajaan Hindu tertua di pulau Jawa yang bernama Tarumanegara yang terletak di sekitar daerah Bogor. Informasi ini bersumber dari temuan dua prasasti yang menyatakan Purnawarman adalah Raja Tarumanegara yang telapak kakinya diabadikan dalam prasasti itu dan dipermasamakan dengan telapak kaki Dewa Wisnu.

Hegemoni kota Bogor kembali memuncak ketika kota ini didaulat menjadi ibukota Kerajaan Pakuan-Padjadjaran, kerajaan Hindu terakhir di Nusantara, sekitar abad ke-15 sampai abad ke-16. Dalam berbagai karya sastra dan tradisi lisan dipercaya bahwa pada masa Kerajaan Pakuan-Padjadjaran, Sri Baduga Maharaja (yang dipersamakan pula dengan Prabu Siliwangi), raja Sunda terbesar memerintah. Namun demikian, berbagai informasi tentang kerajaan ini, yang kebanyakan bersumber dari karya sastra, tingkat validitasnya dipertanyakan. Hanya terdapat sedikit informasi, terutama yang berasal dari keterangan para pedagang asing yang sempat berkunjung ke Dayo, sebutan untuk ibukota Kerajaan Pakuan-Padjadjaran pada saat itu. Dalam tipologi Wertheim, Dayo merupakan jenis kota tradisional dibangun berdasarkan filosofi tradisional empat arah mata angin dengan ciri fisik keraton sebagai pusatnya, dan bangunan-bangunan penting lainnya, seperti pasar, alun-alun, tempat ibadah yang masing-masing dipisahkan oleh jalan utama bersudut lurus (W.F. Wertheim, 1999). Sebagai pembatas antara bagian dalam dan luar kota dibangunlah tembok yang mengelilingi kota tersebut. Model kota ini tampaknya sesuai dengan keterangan yang diberikan Tome Pires ketika ia berkunjung ke kota tersebut. Menurutnya, Dayo dapat dicapai dalam tempo waktu dua hari perjalanan dari pelabuhan Sunda Kelapa ke arah pedalaman dan terletak di antara dua buah sungai yang mengalir sejajar dan sama besar. Dayo merupakan kota besar dengan penduduk kurang lebih 50.000 jiwa dengan kualitas rumah yang sangat baik, temboknya terbuat dari kayu dan atapnya dibuat dari daun palem. Rajanya tinggal di sebuah istana yang memiliki 330 tiang kayu sebesar peti anggur, yang masing-masing bertinggi 5 fethom (1 fethom = 1.826 meter) dengan hiasan yang indah di bagian atas tiang tersebut.

Sayangnya, bukti kedigdayaan peradaban Sunda kuno tersebut hancur dan nyaris tak bersisa pasca invasi yang dilakukan oleh Kesultanan Banten pada 1579. Satu-satunya peninggalan terpenting yang tersisi dari kerajaan ini adalah Prasasti Batoe Toelis di daerah bagian selatan kota Bogor. Dengan dasar itu, seorang peneliti Belanda C.M. Playte berhasil merekonstruksi letak ibukota dan Keraton Pakuan-Padjadjaran pada 1910 yang menurutnya terletak di sekitar daerah Batu Tulis sekarang (F. de Han., 1910).

Kota Kolonial nan Artistik

Setelah hampir satu abad tidak ada tanda-tanda kehidupan di bekas ibukota Kerajaan Pakuan Padjadjaran, sekitar 8.000-10.000 prajurit yang merupakan bagian dari kekuatan militer Mataram pada saat penyerangan ke Batavia enggan kembali ke Mataram dan kemudian meminta perlindungan pada VOC untuk bermukim di sekitar wilayah Batavia. VOC sendiri kemudian menerima permohonan itu dan mempersilahkan untuk tinggal di sekitar daerah bekas ibukota Kerajaan Pakuan-Padjadjaran tersebut.

Bersamaan dengan takluknya Kesultanan Banten atas VOC pada 1695, bekas ibukota Pakuan-Padjadjaran ini berada di bawah otoritas VOC. Namun demikian, beberapa tahun sebelumnya telah dilakukan serangkaian ekspedisi untuk mengumpulkan berbagai informasi tentang bekas ibukota Kerajaan Pakuan-Padjadjaran tersebut. Bahkan, pada ekspedisinya yang pertama (1687), salah satu pendamping Scipio, Tanujiwa atas perintah Camphuijs mendirikan daerah di wilayah Parung Angsana dengan nama Kampung Baru. Sejak tahun (1689-1705), Tanujiwa tercatat sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung di sekitarnya.

Bekas ibukota Kerajaan Pakuan-Padjadjaran ini kembali mendapat status istimewa manakala Gubernur Jenderal Gustaaf W. van Imhoff (1741-1750) menetapkan wilayah ini sebagai tempat peristirahatan pribadinya dan memerintahkan untuk mendirikan sebuah vila peristirahatan yang dinamakannya Buitenzorg. Kelak, Buitenzorg (zonder zorg), yang berarti kota tanpa urusan, dijadikan nama resmi wilayah ini. Vila yang sempat direnovasi oleh Van der Capellen pada 1819 ini, kemudian meningkat statusnya dari sekedar tempat peristirahatan dan persinggahan menjadi tempat kedudukan resmi Gubernur Jenderal Belanda sejak masa kekuasaan Daendels (1808). Bahkan, Buitenzorg menjadi semakin penting ketika Gedung Algemeene Secretarie dipindahkan dari Batavia ke Buitenzorg pada 1888.

Dengan status Buitenzorg sebagai pusat pemerintahan dan adminstrasi Hindia-Belanda, pembangunan kota ini kemudian diarahkan pada corak kota kolonial dengan konsep kota taman dengan ciri jalan raya yang lebar, pohon-pohon yang rindang, dan pasar yang luas, rumah serta vila dengan kebun dan taman yang luas. Wertheim (1999) mengambarkan kota kolonial sebagai kota dengan penataan wilayah fisik kota, kegiatan ekonomi, penataan infrastruktur, areal pemukiman, garnisium, dan pemukiman pedagang, serta tempat pejabat kolonial melakukan segala aktivitasnya yang mengikuti model berbagai kota di Eropa. Salah satu kebijakan yang mencirikan corak kota kolonial adalah dikeluarkannya Peraturan Pemukiman pada 6 Juli 1845 no.20 yang pada pokoknya mengatur pemukiman berdasarkan etnis di Buitenzorg.

Kebijakan tersebut melarang golongan inlander (pribumi) untuk tinggal di kawasan Buitenzorg tanpa izin khusus dari pemerintah. Kecuali itu, di daerah Sukahati (Empang sekarang), yang merupakan bagian dari halaman Istana Gubernur Jenderal, Demang Wiranata memohon konsesi tanah pada 1754 kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel untuk mendirikan rumah tempat tinggal sekaligus memindahkan kantor ke wilayah itu. Sekitar tahun 1760-an Bupati Kampung Baru telah berkedudukan di Sukahati. Kompleks tempat tinggal itu ditandai dengan berdirinya alun-alun dan sebuah mesjid yang berbatasan langsung dengan pemukiman etnis Arab. Pengecualian lain yang terjadi adalah disewakannya sebuah wilayah di dekat perkampungan Tionghoa dan wilayah Sukahati untuk keperluan perdagangan. Sekitar tahun 1770-an dibuka sebuah pasar yang buka hanya seminggu sekali. Oleh karena pasar tersebut semakin ramai, maka pasar tersebut ditingkatkan aktivitasnya menjadi dua kali seminggu (Selasa dan Kamis), dan akhirnya dibuka setiap hari. Pasar itu kemudian diberi nama Pasar Bogor, karena berdekatan dengan pemukiman pribumi Kampung Bogor. Semakin meningkatnya aktivitas ekonomi di Pasar Bogor kemudian mencuatkan nama Bogor itu sendiri sebagai nama kota ini bergantian dengan nama resminya, Buitenzorg.

Selain itu, orang-orang Eropa diizinkan bermukim di sebelah barat Jalan Raya (Jalan A. Yani sekarang), mulai dari Witte Paal (Pal Putih) sampai bagian selatan Plantentuin (Kebun Raya Bogor sekarang) dan Paledang. Aktivitas orang-orang Eropa berpusat di sekitar Istana Gubernur Jenderal ini, seperti kompleks perkantoran (di sepanjang jalan Ir. Juanda dan jalan A. Yani sekarang), gereja, rumah sakit, kantor residen, sekolah, dan juga Hotel Belle Vue (Bogor Trade Mall sekarang).

Untuk penduduk Vreemde Ostelingen (golongan timur asing), khususnya Tionghoa, disediakan arela pemukiman disepanjang Jalan Handelstraat/Perniagaan (Jalan Suryakencana sekarang) sampai dengan tanjakan Empang. Pemukiman Tionghoa ini pun terklasifikasi berdasarkan kelas-kelas khusus. Menurut Setiadi Sopandi (2003), para pedagang Tionghoa cenderung bermukim di sekitar Pasar Bogor, untuk golongan elit menghuni bagian selatan, dan golongan menengah ke bawah menghuni ruko sewa dan rumah petak di belakang jalan utama.

Kemudahan untuk mengakses Buitenzorg dari segala penjuru menjadi daya tarik tersendiri dari kota ini. Di samping dibangunnya akses kereta api untuk jurusan Batavia-Buitenzorg pada 1873, terdapat lima jembatan dan sebelas jalan besar yang tersedia di kota ini, termasuk jalan raya pos, jalan militer, dan jalan ekonomi. Selain itu untuk kepentingan keamanan dibangun pula asrama militer di bagian utara istana dengan penataan artistik dan halaman yang luas. Sebagai simbol, pada 1839 didirikan pula sebuah tugu dengan nama Witte Paal yang diresmikan oleh De Earens.

Nasib Kota Satelit

Setelah Indonesia merdeka, seiring peresmian nama Bogor sebagai nama resmi wilayah yang dulu disebut Buitenzorg, kota ini pun lambat laun kehilangan kedudukan sentralnya seperti pada masa kolonial. Kota Jakarta, ibukota Republik Indonesia bukan saja merupakan simbol pemerintahan pusat, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi nasional yang menarik hampir seluruh kaum migran dari seluruh Indonesia. Akibatnya, Jakarta menjadi kota metropolitan yang penduduknya padat, lalu lintasnya semeraut, dan tata kota yang kacau. Oleh sebab itu, kemudian dicari solusi untuk mengurangi konsentrasi masa di wilayah ibukota. Salah satu solusi yang dipandang baik adalah mengikutsertakan berbagai kota kecil di sekitar Ibukota untuk meredam laju migrasi ke kota Jakarta. Sebenarnya sejak tahun 1950 Kota Bogor , bersama Tangerang dan Bekasi, menjadi salah satu kota yang direkomendasikan oleh Tim Jabotabek untuk dimasukkan ke dalam wilayah kota metropolitan Jakarta. Sejak saat itu, dapat dikatakan, kota itu diproyeksikan menjadi kota satelit bagi Jakarta. Namun demikian, realisasi dari program yang direkomendasikan oleh Tim Jabotabek itu baru terlaksana pada tahun 1970-an melalui pelaksanaan proyek jalan tol pertama di Indonesia yang dikenal dengan nama Jagorawi. Proyek ini dimulai dari tahun 1973 dan baru rampung serta diresmikan penggunannya pada tahun 1978.

Semakin mudahnya akses dan pendeknya jarak serta singkatnya waktu tempuh Jakarta-Bogor, Bogor menjadi salah satu alternatif daerah tujuan untuk bermukim. Sejak saat itu pembangunan kota Bogor diintensifkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan kota Jakarta. Hal ini secara nyata terlihat dengan menjamurnya perumahan sejak awal tahun 1990-an. Data tahun 2007 menunjukkan bahwa terdapat 90 perumahan, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun pengembang swasta. Selain itu, munculnya banyak usaha, terutama Factory Outlet (FO), makanan dan minuman, pusat perbelanjaan, dan lainnya sebagainya membuat kota ini bukan menjadi daerah pemukiman, tetapi daerah tujuan alternatif wisata belanja dan makanan yang relatif dekat jaraknya dengan Jakarta.

Penataan kota yang tidak efisien, sistem transportasi yang buruk, dan kurangnya infrastruktur pendukung lainnya membuat Bogor bukan lagi merupakan sebuah kota berlingkungan asri dan merepresentasikan lokalitasnya. Hal ini semakin diperburuk dengan orientasi pembangunan kota Bogor kini terkesan diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat Jakarta dan bukan untuk kepentingan masyarat kota itu sendiri. Bila ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kota Bogor akan hanyut ke dalam budaya metropolitan dan mengikis identitas lokalnya, termasuk segala warisan sejarahnya yang sangat berharga.

One thought on “Wajah Kota Bogor dalam Perubahan Zaman

  1. Salam KENAL dan Saling MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI…
    BANG TEGUH MANURUNG,Banner-nya sudah Saya pasang di-web-saya….
    Bisa LIHAT di :
    http://DUTACIPTA.WORDPRESS.COM
    Utk history kota BOGOR, baca juga disini :
    Salam KENAL dan Saling MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI…
    Mas ARIF,Banner-nya sudah Saya pasang di-web-saya….
    Bisa LIHAT di :
    http://DUTACIPTA.WORDPRESS.COM/ALKISAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s