Ketika Makanan menjadi Candu (Seri Kritik Sosial)

Mangkuk porselen itu mengepulkan asap. Aroma yang dipancarkannya seolah-olah menghipnotis sekumpulan orang yang telah duduk rapi di meja bulat. Perlahan-lahan seorang demi seorang menguyur air kaldu itu ke atas gumpalan nasi panas. Suapan pertama seperti pelepas dahaga, setelah berjam-jam terjebak dalam kemacetan dan antrian panjang sebuah restoran favorit. Suapan berikutnya seperti candu yang membuai penikmatnya dalam fantasi yang abstrak. Makanan ,kini, menjadi salah satu elemen utama kota tujuan wisata, selain lingkungan yang asri, dan pusat perbelanjaan. Ketiga unsur tersebut membalut pariwisata moderen yang, suka tidak suka, bertendensi konsumtif. Semenarik apapun kota tujuan wisata, bila tidak memenuhi tiga elemen yang tersebut di atas dapat dipastikan tidak akan menjadi perhatian para urban yang mencari kesenangan di akhir pekan.

Bahkan, stereotip makanan seperti candu sudah menjalar dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini terutama berlaku bagi para pekerja kantoran. Bila jam makan hampir tiba lekas-lekas mereka merampungkan pekerjaan. Hasrat mengisi perut keroncongan sudah tak tertahankan lagi. Sekarang, makanan bukan sekedar kebutuhan jasmani yang harus ditujukan untuk menjaga vitalitas tubuh. Mereka tidak lagi berprinsip asal kenyang, apalagi memperhatikan komposisi makanan. Hal yang terpenting adalah rasa, dan bagi sebagian orang gengsi. Rasa makanan seperti candu yang sejenak membuai mereka untuk melupakan bebean pekerjaan yang menumpuk di meja kerja. Restoran yang ramai dan bermerek terkadang menjadi indicator, walaupun rasanya biasa-biasa saja. Begitulah realitas keseharian yang terjadi. Perspektif tentang makanan telah bergeser secara perlahan-lahan seiring berjalannya waktu. Hal ini tampaknya hanya berlaku bagi para kaum urban atau masyarakat lapisan menengah ke atas. Sedangkan masyarakat lapisan menengah ke bawah masih setia dengan prinsip yang penting kenyang. Mungkin sampai sekarang masih ada orang yang makan nasi, garam, dan ikan asin.

Gerutuan ini tidak akan nada artinya bila Saya tidak melacak asal-usul dan faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran itu. Sejak kapan sebenarnya orang-orang memandang makanan tidak sekedar kebutuhan primer? Mungkin gejala ini terjadi ketika muncul golongan menengah pribumi pada masa kolonial dahulu. Memang, pada permulaan abad ke-20, terutama sejak Politik Etis (1901), muncul kaum elit moderen Indonesia. Mereka adalah golongan berpendidikan Barat yang bekerja pada institusi kolonial. Ada cap baik, namun ada cap buruk pada yang tertanam dalam benak masyarakat. Hal yang paling ekstrim adalah mereka rela menjadi budak-budak kolonial demi merasakan kelegitan keju dan keempukan roti. Pada sisi lain, sebenarnya, dengan posisi dan jabatan mereka, sangatlah memungkinkan untuk sekedar mengonsumsi makanan yang tidak sekedar mengeyangkan dan bergizi, namun juga nikmat di lidah.

Trend ini tampaknya berlanjut setelah kemerdekaan. Terutama sejak tahun 1970, ketika perekonomian menunjukan gejala positif dan munculnya kaum menengah yang berpendidikan. Dengan penghasilan yang mereka dapatkan, kaum urban ini tidak hanya sekedar bertahan hidup di kota-kota besar, tetapi sedikit demi sedikit mulai mencoba menikmati hidup mereka. Makanan merupakan kebutuhan yang paling mudah mereka penuhi. Karena selain makan memang kebutuhan primer,bagi mereka, tidak ada salahnya bila mengonsumsi makanan yang memanjakan perut. Keadaan ini terus berlanjut, sejak Reformasi, terutama tiga tahun belakangan. Mungkin momen yang paling tepat dalam melihat mentalitas kaum urban dalam melihat makanan ketika salah satu program televisi Wisata Kuliner yang dibawakan Bondan Winarno menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu setiap siang. Bersamaan dengan jam istirahat makan siang, Bondan berhasil memadukan pengetahuannya yang luas tentang makanan dan ekspresi tubuhnya, termasuk ungkapan “Maknyus-nya” yang menjadi terkenal sampai sekarang.

Padahal kalau mau berpikir kritis, uang yang kita keluarkan untuk mengonsumsi makanan yang dicap enak itu tidak mendatangkan keuntungan apa-apa. Paling-paling hanya kesan yang diakhiri dengan ungkapan enak. Bukankah ini seperti pencandu ganja atau perokok aktif yang menghabiskan banyak uang sekaligus merusak kesehatan. Tanpa disadari makanan yang dicap enak itu lebih banyak merugikan kesehatan daripada menjaga kebugaran tubuh. Mungkin efeknya belum terasa pada tubuh muda kita. Akan tetap, kelak, pada masa tua kita akan sangat menderita di tempat tidur karena lumpuh pada usia 40-an, atau meninggal pada usia 50. Saya masih bermimpi mungkinkah trend makanan dalam ingatan sosial ini akan beranjak? Dahulu masyarakat telah mengalami fase makan asal kenyang, sekarang menikmati makanan yang enak. Mungkinkah trend ini akan bergeser menjadi makan untuk kesehatan. Sebagian kecil kaum urban memang mulai memerhatikan komposisi makanan yang menyehatkan badan. Ada kelompok yang dinamakan vegetarian, yang tidak mengonsumsi daging, tetapi sayur-sayuran. Tapi mereka masih menjadi minoritas di tengah kaum urban apalagi masyarakat secara umum. Mungkin butuh beratus-ratus tahun lagi untuk melihat pergeseran itu, atau mungkin pergeseran itu tidak akan terjadi karena manusia kadung tehipnotis oleh kenikmatan rasa sebuah makanan. Hanya waktu yang dapat menjawab.

Memang tidak ada seorang pun yang mau menyantap makanan yang tidak enak, tetapi alangkah lebih baik bila mengurangi rasa enak makanan itu dan lebih memperhatikan komposisi makanan yang menyehatkan tubuh daripada ujung umur kita sama dengan Michael Jackson, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s