Tanggalkan Jam Karetmu

Matahari hampir berada di atas ubun-ubun. Sinarnya tidak lagi menyehatkan, tetapi menghitamkan kulit.  Seolah menantang Sang Surya,  ratusan orang tetap setia menunggu sambil sesekali menutup kepalanya dengan apa saja dan menyeka keringat yang telah berpeluh membasahi sekujur tubuh. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.00, seharusnya KRL Ekonomi Jurusan Jakarta Kota sudah tiba setengah jam yang lalu. Para penumpang masih harap-harap cemas. Beberapa ada yang bolak balik melihat jam tangannya, yang lain sudah memasang tampang cemberut. Tidak lama, pengeras suara stasiun bergema, “Maaf KRL Ekonomi sedang mengalami gangguan teknis di Stasiun Depok Lama.” Pemberitahuan itu disambut cemoohan para penumpang yang memendam kesal.

Mungkin, sebagian dari kita, sudah terbiasa dengan keadaan ini. Malah, saking seringnya, kita jadi terbiasa menolelir keterlambatan, namun dengan sedikit bumbu makian hutan belantara tentunya. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam hal-hal kecil kita telah dibiasakan untuk tidak berdisiplin. Budaya informalitas masih mengelayuti pikiran kita, entah itu penduduk pedesaan yang masih terpaku pada pembagian waktu tradisional (subuh,magrib,dll.) ataupun kaum urban yang mengaku manusia moderen yang profesional dalam segala hal. Sungguh ironis di tengah zaman moderen yang menghargai waktu sampai satuan detik, bahkan muncul semboyan time is money, bangsa ini tetap menempatkan waktu dalam prioritas kesekian. Bangsa ini kadung menikmati keterlambatan dengan sejuta alasan. Istilah jam karet sudah menjadi stereotip personal bangsa Indonesia. Gejala apakah ini? Mungkinkah penghargaan atas waktu yang mengakibatkan bangsa ini stagnan dalam usianya yang lebih dari enampuluh tahun?

Belajar dari Penjajah

Pelajaran Sejarah di sekolah dasar dan menengah mengajarkan kita bahwa Belanda adalah bangsa penjajah yang menguras kekayaan negeri ini dengan tamaknya. Doktrin yang tidak seimbang inilah yang telah mengerak dalam pikiran kita. Tidak ada satu hal positif pun yang dapat kita pelajari dari kolonialisme Belanda selama lebih dari 300 tahun. Padahal, kalau kita diberi kebebasan berpikir, kita patut mencurigai mengapa negeri kecil yang sebagian daerahnya di bawah permukaan air laut dapat menguasai Nusantara sebegitu lama. Bahkan, sebagai negara kolonial, Belanda disandingkan dengan negara-negara kolonialis besar, seperti Inggris dan Perancis. Walaupun secara sembunyi-sembunyi, Belanda diakui  sebagai negara paling sukses dalam mengelola tanah jajahannya, termasuk membina penduduk tanah jajahan untuk mendatangkan keuntungan bagi negara induk. Pertanyaannya mengapa Belanda dapat meraih kesuksesan itu? Apa rahasia dibalik kesuksesan Negara Keju ini?

Sebenarnya cukup satu kata disiplin dalam segala hal, termasuk waktu. Kalau ada membenturkan dengan pertanyaan, Jika Belanda bangsa yang disiplin mengapa VOC bangkrut pada 1799? Sebenarnya kita tidak boleh terfokus pada kata bangkrut secara absolute. Harus pula dilihat sejauh mana keuntungan yang didapatkan VOC dan faktanya secara historis setelah Era VOC, Belanda dapat mengonsolidasi dirinya. Bahkan, mereka dapat mengeruk kekayaan alam negeri ini secara lebih ekstrim untuk membangun bendungan yang memperluas negeri mereka. Selalu ada pelajaran di balik kegagalan itu rahasianya. Belanda belajar banyak dari VOC. Kongsi Dagang Hindia Timur ini dengan disiplin mencatat berbagai hal, tentang kebiasaan, adat, budaya, bahkan dengan satuan waktu yang sekecil-kecilnya.  Dari pengetahuan selama beberapa abad itu, mereka banyak mengetahui celah untuk memarginalisasi kaum pribumi. Hasilnya, abad ke-19 dan ke-20 merupakan periode ketika Belanda berhasil mendapatkan keuntungan terbesar dari negeri koloninya.

Menghargai Waktu

Kelihatanya ajakan untuk mengefektifkan waktu yang terbatas, seperti seruan yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Namun seringkali  penyesalan yang dalam sejarahnya selalu datang terlambat  menghampiri di ujung asa yang hampir putus. Bila teratasi di detik-detik terakhir tentu hasilnya tidak maksimal, bahkan cenderung asal-asalan. Lebih dari itu kebiasaan memboroskan waktu disadari atau tidak telah melemahkan mental kita. Hidup adalah persaingan, siapa cepat dia dapat begitu kata pepatah, bukan? Tentu cepat itu harus penuh pertimbangan. Tidak semua yang cepat itu akan menjadi baik.

Cara yang paling mudah untuk menghargai waktu yang cuma 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan dalam satu tahun, dan seterusnya adalah memuat perencanaan. Para motivator kelas dunia sebenarnya telah mengingatkan dua puluh tahun yang akan datang anda akan menyesali masa lalu Anda yang sia-sia. Untuk menghindari itu, ada baiknya membuat perencanaan, bukan saja dalam skala besar, tetapi juga dalam skala waktu yang kecil. Jadwal kehidupan yang kita buat, meminjam sebuah judul buku, adalah proposal hidup kita. Apa tujuan hidup kita lima tahun ke depan, apa yang harus kita capai  sepuluh tahun yang akan datang, dan seterusnya. Namun jangan lupakan pula jadwal harian. Tidak ada bangunan megah yang dapat berdiri tanpa fondasi  yang kokoh bukan? Biasakan untuk membuat jadwal harian setiap hari dalam satu jam dan setiap akhir pekan biasakan mengevaluasi pencapaian dan kegagalan kita. Jadikan itu semua motivasi untuk mencapai hari esok yang lebih baik.

Tanggalkan jam karetmu, sebelum penyesalan menghantui di akhir hayat. Hiduplah dengan rencana supaya tidak menyesal di hari tua.  Begitu pula dengan negara ini. Niscaya dengan kedisiplinan negara ini perlahan tapi pasti akan keluar dari lembah kegelapan menuju masa pencerahan. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s