Merenungkan Kematian

Berbagai peristiwa kelam, baik yang berhubungan langsung maupun tidak, terjadi di sekitar kehidupan Saya. Sialnya, peristiwa itu selalu berelasi dengan kematian. Dari meninggalnya ayah kawan Saya, kematian Mbah Surip yang tidak Saya kagumi, wafatnya penyair W.S. Rendra, dan dugaan matinya Noordin M.Top, pucuk pimpinan kelompok teroris di Indonesia. Asa Saya tertuju pada sebuah pertanyaan, “Apa makna di balik semua ini? Apakah pada suatu saat nanti hal ini akan menimpa keluarga atau bahkan diri Saya sendiri?  ”

Pikiran Saya masih menerawang membayangkan kejadian di malam yang sudah larut itu. Sampai dengan subuh, bersama dengan teman lama, Saya mengunjungi kawan yang tertimpa musibah dan memakan korban ayahnya sendiri. Imajinasi sontak memvisualkan bagaimana seandainya  berada di posisi kawan Saya itu? Apa yang Saya lakukan bila peti yang berisi jenasah dipindahkan ke ambulans, dibawa ke rumah duka sebelum  dibenamkan dalam tanah.

Dalam renungan yang absurd itu pagi harinya Saya menyalakan televisi. Tersiar kabar bahwa seniman jalanan yang “tiba-tiba” menjadi biduan panggung, Mbah Surip mendadak meninggal dunia. Belum kering makan Sang Seniman Bulungan, beberapa hari setelah itu, ketika mentari belum lagi sampai di ubun-ubun, berbagai stasiun televisi mengabarkan penyair ternama Indonesia, W.S. Rendra meninggal. Ketika Dunia Sastra Indonesia berkabung, sebuah tayangan ekslusif televisi local sedang melaporkan penyerbuan rumah kontrakan teroris di daerah Temmengung, yang menewaskan beberapa orang, termasuk yang diduga buronan teroris, Noordin M. Top. Lagi-lagi kematian  Saya lantas merenung dalam-dalam dan untuk kesekian kalinya bertanya dalam hati, “ Apa maksud semua ini?” Tapi pikiran Saya seakan buntu untuk mencari jawaban itu.

Setelah disibukan dengan rutinitas harian, Saya agak terlupakan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, pada suatu malam, sebuah pesan singkat masuk dalam telepon gengam. Isinya memberitakan, Ayah seorang teman kembali meninggal. Saya langsung mencarinya di sebuah situs jejaring sosial, Facebook. Sebuah informasi yang berharga Saya temukan. Ternyata Ayah teman Saya itu terkena serangan jantung yang mendadak. Kejadian itu lantas Saya ceritakan pada orantua Saya. Mereka terkejut, tapi sebuah komentar yang agak mengejutkan Saya datang dari ayah Saya” Bapa temanmu sudah banyak yang dipanggil, lantas kapan Bapakmu?” Komentar yang bernada canda itu, tidak lantas Saya tanggapi karena pikiran Saya kembali pada sebuah renungan malam itu. Ternyata Saya belum dapat menuntaskan renungan itu.

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah surat kabar nasional, Saya membaca kutipan puisi lama mendiang W.S. Rendra.Syair puisi itu seperti pelita bagi perenungan Saya yang sudah mengendap.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samodra/serta mencipta dan mengukir dunia/Kita menyandang tugas/kerna tugas adalah tugas/Bukannya demi sorga atau neraka/ Tetapi demi kehormatan seorang manusia. (Sajak Seorang Tua untuk Istrinya)

Setiap baris dalam puisi itu adalah lentera bagi permenungan Saya. Hidup yang kita jalani bukan untuk memikirkan kematian. Takut masuk neraka atau berhasrat masuk Surga. Rajin beribadah dan taat beragama demi kedamaian di Surga bukan tujuan hidup di dunia ini. Hidup ini untuk memuliakan manusia, termasuk diri sendiri dan orang lain. Kebaikan dalam konteks hubungan sosial dengan masyarakat akan jauh lebih baik daripada mengejar nafsu surga menjadi “Pengantin”, melakukan bom bunuh diri untuk kedamaian abadi,bukan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s