Ironi Gempa Sumatera

Bencana hampir selalu menyisakan tragedi kemanusiaan yang traumatik. Akan tetapi, pada sisi lain, musibah juga menjadi komoditas potensial untuk mengerakkan roda bisnis media massa. Setidaknya dua kencenderungan yang bertolak belakang ini  yang dapat dicermati dalam kasus gempa  di pulau Sumatera.

Seperti yang diberitakan, dalam dua hari, secara berturut-turut terjadi gempa yang menguncang beberapa wilayah di pulau Sumatera. Gempa pertama yang berpusat Palung Sumatera dengan kekuatan 8.9 skala Richter, terjadi pada Rabu (30/9) pukul 17.16, memorak-morandakan kota Padang dan Pariaman. Keesokan paginya (1/10), gempa dengan kekuatan 7.0 skala Richter kembali menguncang dan meluluhlantakan kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Dua bencana alam ini bukan saja menghancurkan struktur dan infrastruktur pedesaan yang ada, tetapi juga merenggut ribuan nyawa penduduk yang tinggal di dalamnya.

Tragedi Kemanusiaan

Tidak dapat dipungkiri, media massa menjadi saluran publikasi utama yang berhasil memberitakan Gempa Sumatera. Seiring dengan kemajuan teknologi, kurang dari satu jam berita duka itu sudah diterima masyarakat hampir di seluruh penjuru Indonesia. Dalam hal ini, peranan media elektronik menjadi dominan karena dapat memberitakan peliputan berita Gempa Sumatera dengan cepat dapat menyampaikan  detail informasi kepada masyarakat luas.

Pemberitaan di media elektronik, pada awalnya berupa wawancara via telepon dengan para kontributor di daerah yang terguncang gempa dan beberapa pejabat dari instansi yang terkait. Dari hasil wawancara itu didapat informasi dasar tentang Gempa Sumatera, seperti pukul terjadinya, pusat, dan skala gempa. Meningkat pada jam berikutnya, sudah didapatkan gambar tentang hancurnya berbagai bangunan dan adanya dugaan banyak warga yang tertimbun reruntuhan bangunan di kota Padang.  Akhirnya, laporan pada dini hari dan keesokan harinya sudah dapat memetakan berbagai gedung yang roboh dan mendaftar jumlah sementara korban gempa.

Liputan yang disiarkan secara berkepanjangan itu segera direspon oleh masyarakat. Harus diakui bahwa, laporan yang ditayangkan tidak saja memberikan informasi yang akurat, tetapi secara implisit juga berusaha menggugah hari masyarakat untuk bersimpati pada korban gempa. Berbagai stasiun televisi segera membentuk dompet-dompet amal guna menampung aliran dana dari masyarakat. Lebih dari itu, beberapa stasiun televisi kemudian mengemas berbagai acara pengumpulan dana yang ditayangkan langsung. Adapun mekanisme penarikan sumbangan dilakukan per telepon. Untuk menarik atensi penonton, operator telepon yang dipilih adalah artis-artis Ibukota yang digemari pemirsa. Selain itu, cara konvensional, seperti malam pengumpulan dana pun masih menjadi senjata andalan untuk menumbuhkan rasa simpati pada masyarakat. Sampai sejauh ini, peran persuasi media dalam pembentukan  opini Gempa Sumatera sebagai tragedi kemanusiaan masih berjalan dengan baik.

Eksploitasi Berita

Pada sisi lain, pemberitaan media elektronik dari hari ke hari semakin menunjukan adanya pengeksploitasian berita demi mendongkrak rating stasiun televisi. Ironisnya, hal ini dilakukan oleh beberapa stasiun yang mengaku televisi berita. Pengeksploitasian berita ini dilakukan dengan cara menyiarkan breaking news yang berkepanjangan. Selama beberapa jam, dalam acara itu, dapat dilihat bahwa terjadi ketidakseimbangan antara durasi, kualitas dan kuantitas informasi yang menyebabkan terjadi pengulang-ulangan berita.

Klaim pemberitaan menjadi hal miris lain yang kerap dijumpai dalam peliputan berita. Hal yang paling menyesakkan adalah pengakuan stasiun televisi tertentu bahwa  merekalah yang pertama kali meliput  berita gempa di daerah tertentu. Dengan adegan-adegan yang heroik, para reporter seolah-olah divisualisasikan menembus daerah-daerah yang terisolasi. Dramatisasi peliputan juga terjadi ketika seorang reporter melaporkan berita dengan latar puing-puing bangunan yang sedang dibersihkan oleh sebuah traktor.

Selain itu, masalah kepemilikan video eksklusif  menjadi hal lain yang cukup memprihatinkan. Hal ini terlihat jelas dalam penayangan rekaman CCTV sebuah hotel yang diaku ekslusif oleh stasiun televisi tertentu. Padahal beberapa menit kemudian, stasiun televisi yang lain juga mendapatkan rekaman CCTV yang sama. Kecenderungan untuk menjual berita juga terlihat dalam penayangan rekaman video amatir. Entah sudah dibeli hak ciptanya atau diklaim karena telah ditayangkan oleh stasiun televisi tertentu, seringkali penayangan rekaman video amatir ini mengabaikan hak cipta pemiliknya sebagai  yang seringkali mengabaikan hak cipta pemiliknya. Penayangan rekaman video amatir ini sering kali terkesan  dipaksakan untuk mendongkrak rating daripada memberikan informasi tambahan yang berguna bagi masyarakat.

Pengabaian unsur kemanusian menjadi kecenderungan lain dalam peliputan berita Gempa Sumatera. Pengeksploitasian kesedihan benar-benar menjadi komoditi yang laku dijual. Dalam peliputan sebuah stasiun televisi ditayangkan dialog antara seorang Ibu yang mengisak meminta pertolongan, dengan pembawa acara dan narasumber di studio. Selain itu, para korban gempa sungguh-sungguh dijadikan objek eksploitasi untuk menjual berita. Dalam sebuah tayangan ditampilkan adegan seorang korban gempa yang  baru saja dievakuasi dari puing-puing bangunan. Dengan, seorang reporter mendatangi korban yang terluka parah itu dan segera mewawancarainya.  Dengan kondisi tubuh yang mengenaskan akibat tertimpa puing-puing bangunan, korban gempa itu menjawab berbagai pertanyaan yang dilayangkan reporter sambil menahan sakit.

Revitalisasi Fungsi Media Massa

Kedudukan media massa hampir selalu berada di antara dua sisi yang berlawanan. Terkadang, idealisme media massa cukup terlihat ketika meliput kejadian-kejadian yang sensitif. Akan tetapi, sering pula media massa  terjebak dalam komersialisasi berita hanya untuk  kepentingan bisnis.

Kecenderungan untuk mengeksploitasi berita demi kepentingan bisnis sering terjadi dalam peliputan berita yang sedang hangat diperbincangkan. Bahkan secara tidak sadar, seringklai substansi informasi dialihkan  dan diganti dengan pembentukan opini tak berdasar untuk menarik animo penonton. Untuk itu, di era kebebasa pers ini, sudah saatnya media untuk kembali kepada jati dirinya yang semula, menjadi media informasi yang idealis dan kritis, bukan mengejar keuntungan ekonomi semata, di tengah-tengah masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s