Pasar Baru

Sore itu, sinar sang surya telah temaram. Seorang gadis cilik duduk santai di sebuah warung pojok. Sebentar ia meletakkan kardus berisi minuman kemasan, lalu bercakap dengan penjaga warung dan memesan semangkuk mie instan.

“Bagaimana dagangan hari ini? Laku nggak?”, tanya penjaga warung. “Wah sepi, kurang laku hari ini”, balas sang gadis cilik. “Harusnya bersyukur, ada dagangan yang laku dan nggak digaruk!”, tukas penjaga warung. “Memang kenapa sih nggak boleh berjualan di Pasar Baru?, jawab sang gadis cilik. “Memang udah dari sananya”, jawab penjaga warung. Sang gadis mengangguk, tanda puas.

Praktik penggarukan pedagang kaki lima yang mangkal memang telah menjadi rutinitas keseharian. Namun, para pedagang tidak jera untuk berjualan di seputaran Pasar Baru. Bahkan, mereka punya jurus jitu untuk menangkal penggarukan yang dilakukan satpol PP itu. Kemampuan itu mereka dapatkan dari pengalaman bermain ‘kucing-kucingan’ dengan petugas penegak disiplin itu.

Sejak dilakukan pembenahan beberapa tahun baru, memang wajah Pasar Baru mulai berubah. Pusat perniagaan tertua di Jakarta ini tidak saja terlihat lebih teratur dan memberikan kenyamanan dalam berbelanja, tetapi juga ada mengajak bernostalgia ke masa lalu yang dicitrakan melalui gerbang pasar itu yang dibiarkan berdiri tegak. Lepas dari itu, toko-toko yang berjajar di dalam pasar itu tidak banyar berubah, baik bentuk fisik bangunannya yang tua dan pelayanannya yang konvensional.

Mungkin citra Pasar Baru tidak sebenderang masa lalu, tertutup oleh kemegahan berbagai mal yang menjamur di Ibukota. Namun, pada akhir minggu dan libur kawasan ini penuh sesak dijejali para pengunjung yang berbondong-bondong membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari. Harganya yang lebih murah dan nostalgia masa lalu membuat Pasar Baru memiliki pelanggannya tersendiri. Mereka rela berdesak-desakan berpeluh keringat demi mendapatkan barang murah dan menggali kenangan masa lalu.

Pada masa kolonial, Pasar baru merupakan pusat perniagaan elit yang ramai dikunjungi oleh kaum elit Batavia. Tidak heran, letak pasar ini yang strategis berdekatan dengan daerah Rijswijk (Jalan Veteran sekarang) membuat pasar ini ramai dikunjungi oleh orang-orang Eropa, Timur Asing dan Pribumi. Itulah sebabnya relasi multirasial menjadi barang yang biasa di dalam pasar ini.

Hal unik lainnya yang dapat ditemukan dalam pasar yang dibangun sejak 1820 ini adalah kehadiran pedagang-pedagang India yang berdampingan dengan pedagang Tionghoa dan Pribumi. Biasanya pedagang-pedagang ini memiliki spesialisasi tertentu. Pedagang India lebih banyak bergelut di dunia kain meteran. Sementara pedagang Tionghoa berbasis di bisnis pakaian dan pedagang Pribumi bergelut di bidang alas kaki.

Di tengah serangan toko-toko bermerek yang bertebaran di pusat perbelanjaan moderen, toko-toko tua masih dapat bersaing. Beberapa toko tua yang masih tegak berdiri di antaranya  toko Melati (perabot rumah tangga), toko jam Tjung-tjung, dan Toko kacamata Seis. Selain itu ada pula penjahit jas legendaris, seperti Isadras, Gehimal, dan Hariom. Toko kain tua Bombay dan Lilaram juga masih ramai dikunjungi.

Pasar berlanggam arsitektur Eropa-Tionghoa ini masih kokoh berdiri di tengah semaraknya pasar-pasar moderen yang menjual merek-merek terkenal. Sebelum munculnya berbagai mal di Jakarta, Pasar baru bersama Pasar Pagi, yang kemudian berubah menjadi pusat perbelanjaan Mangga Dua, merupakan tempat perbelanjaan favorit warga Jakarta.

Kini, hanya Pasar Barulah yang dapat bersaing di tengah gelombang modernisme dan menjaga memori historis masyarakat Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s