Tragedi Kejahatan Intelektual

Dunia pendidikan sejatinya menghasilkan kaum intelektual yang selalu berkarya dalam misi suci memajukan taraf kehidupan masyarakat dan  bangsa. Namun belakangan ini citra ‘orang sekolahan’ ini  mulai disoroti menyusul banyak ditemukannya praktik kejahatan intelektual. Mulai dari kebocoran soal Ujian Nasional (UN) yang dilakukan calon-calon intelektual sampai kasus plagiarisme yang menimpa guru besar sebuah perguruan tinggi ternama. Bila ragam kejahatan intelktual hampir selalu menempatkan oknum intelektual sebagai subjek, namun dalam beberapa kasus justru kaum inteletual menjadi objek penderita yang ditindas oleh penegak hukum.

Dalam kasus pembriedelan dan pembakaran buku, misalnya, cukup jelas menunjukkan bagaimana kreativitas kaum inteletual dibatasi dan dibungkam. Di Jambi, sebanyak 13 judul buku pelajaran sejarah untuk tingkat SMA dan SMP yang dilarang peredarannya telah disita oleh Kejaksaan Tinggi setempat.  Rencananya 218 eksemplar buku yang diamankan ini akan dibakar dan disaksikan pejabat setempat.  Hal yang ironis dan irasional adalah bagaimana mungkin buku-buku karya kaum intelektual bangsa diperlakukan sama seperti pemusnahan narkoba dan minuman keras ilegal ?

Pembungkaman

Praktik ini mengindikasikan bagaimana negara berusaha memonopoli kebenaran ilmu pengetahuan. Padahal tidak ada ilmu pengetahuan moderen yang objektif. Subjektivitas menjadi hal yang jamak dan berterima selama penulisnya dapat mempertanggungjawabkan validitas karya yang ditulisnya. Polemik dan kontroversi menjadi bagian dari dialog intelektual guna  mencapai objektivitas ilmu pengetauan.

Dalam sejarah Eropa terdapat sebuah fase ketika ilmu pengetahuan Yunani kuno dimonopoli oleh kaum agamawan. Ketika itu khalayak umum tidak diperbolehkan mengakses karya-karya klasik tersebut. Masa ini disebut “The Dark Age”. Praktik seluruh lapisan masyarakat dikendalikan oleh kaum agamawan yang menguasai ilmu pengetahuan. Toh, monopoli itu tidak selamanya dapat dipertahankan karena manusia adalah mahluk pemikir yang selalu bertanya tentang lingkungan sekitarnya. Rangkaian yang tak terjawab itu terakumulasi dan membuncah melahirkan masa pencerahan  yang disebut (Renaissance).

Sejarah, Tafsir Masa Lampau

Dalam relasi antar negara dan ilmu pengetahuan, sejarah menjadi  ilmu pengetahuan yang ‘seksi’ bagi kaum penguasa. Bahkan ada ungkapan, “sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang”. Pihak yang kalah tidak akan mendapat ruang yang luas dalam historiografi penguasa, bahkan menjadi kambing hitam yang dinistakan. Oleh karena itu, sejarah merupakan instrumen yang penting untuk melegitimasi kekuasan.

Predikat istimewa itu diperoleh karena sejarah berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan lain yang memfokuskan kajian pada periode kekinian. Ia  adalah ilmu yang menafsirkan kejadian-kejadian lampau, yang seringkali terhubung dengan kekuasaan. Artinya, sejarah bukan  peristiwa masa lalu itu sendiri. Seorang sejarawan tidak dapat kembali ke masa lampau untuk mengungkap peristiwa yang diamatinya. Untuk menafsirkan masa lalu ia bertumpu pada jejak-jejak peninggalan masa lampau. Tanpa itu, sejarawan adalah ilmuan yang impoten.

Ironisnya, pemahaman ini yang belum diketahui masyarakat dan sengaja tidak disosialisikan oleh negara. Selama ini masyarakat lebih banyak didikte oleh penguasa daripada disediakan ruang dialog untuk mendiskusikan peristiwa-peristiwa masa lampau yang sensitif. Akibatnya, sejarah menjadi doktrin benar dan salah dalam menilai berbagai peristiwa masa lampau. Tidak heran memang. Sejarah bangsa ini hampir selalu indentik dengan pembelokan dan pembungkaman  sejarah demi kepentingan melanggengkan kekuasaan.

Selama kebenaran sejarah diberangus, maka masyarakat tidak akan keluar dari masa “Th Dark Age” yang diciptakan penguasa demi kepentingan politisnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s