Pesta Batak dan Panggung Kesuksesan Kaum Perantau Batak di Jakarta

Teriknya matahari seolah membakar bumi Jakarta siang itu. Semilir angin yang bertiup tak tentu waktu bukannya memupus kegerahaan barang sebentar, malah menerbangkan butiran-butiran pasir yang memerihkan mata para pejalan kaki. Beruntung hari ini adalah akhir pekan. Jadi tak banyak orang yang lalu-lalang di pinggir jalan besar itu. Sejurus kemudian dari kejauhan terlihat sebuah Metromini melaju dengan kencangnya. Tiba-tiba kendaraan bobrok berwarna oranye ini berhenti persis di sisi jalan besar yang berpasir itu. Dari dalam bus itu lamat-lamat keluar sepasang suami-istri berpakaian resmi.

Sang pria yang tampak telah berumur mengenakan setelah jas lengkap dan sepatu kulit yang disemir hingga mengkilat. Dari kantung kemejanya, ia mengeluarkan selampai untuk mengusap peluh yang membajiri seluruh wajahnya. Setelah itu, ia mengeluarkan sisir kecil dari kantung belakang celananya untuk menata rambut klimisnya yang sedikit berantakan. Sementara sang istri, mengenakan kebaya dan sarung yang tampak serasi dengan sepatu berhak tinggi yang dikenakannya. Wajah perempuan berusia 50-an tahun itu tampak menor dengan lipstik merah delima yang sangat tebal. Sementara rambutnya disasak tinggi dan ditempeli sanggul berhiaskan konde emas imitasi di bagian belakangnya. Tampak pula kilauan giwang dan cincin yang menempel pada bagian telinga dan jari-jarinya yang gemuk.

Tak jauh dari pinggir jalan nan berpasir itu, tampak sebuah gedung pertemuan bercat putih berasitektur moderen. Bangunan itu tampak megah lagi kokoh dengan tiang-tiang raksasa yang mengelilinginya. Di halamannya tampak hamparan mobil ―dari merek Jepang hingga Eropa―terparkir rapi. Juga terdapat papan ucapan selamat berbahagia yang diatur sedemikian rupa dari perusahaan-perusahaan ternama dari dalam dan luar negeri. Tampak dari kejauhan kerumunan orang telah berada di halaman gedung pertemuan itu. Ada yang baru turun dari mobil, menunggu kenalan atau kerabatnya yang belum datang, atau bersiap masuk ke gedung pertemuan itu.

Langkah pasangan suami-istri itu tampaknya mengarah ke kerumunan orang itu. Seperti pasangan selebriti kondang, suami-istri itu berjalan seirama sambil sesekali melempar senyum entah kepada siapa. Setelah melewati berbagai papan ucapan selamat yang panjangnya hampir setengah kilometer, akhirnya mereka sampai di pintu depan gedung pertemuan itu. Namun sebelum masuk, mereka harus menunggu giliran yang telah diatur sedemikian rupa oleh si empunya  acara sesuai dengan aturan adat.

Segera setelah mengisi buku tamu, mereka melangkah masuk. Bagian dalam ruangan berbentuk persegi panjang itu terasa sejuk, kontras dengan cuaca Jakarta yang panas menyengat. Puluhan meja makan berbaris rapih di kiri dan kanan. Di tengahnya terdapat karpet merah yang merupakan jalan menuju pelaminan. Suara pembawa acara terdengar nyaring mengiringi para tetamu yang baru datang. Biasanya para tamu yang baru datang terlebih dahulu memberikan selamat kepada kedua mempelai dan keluarganya. Namun ada pula yang langsung mengeluyur ke meja makan yang telah disusun  sesuai hubungan kekerabatan. Semakin dekat dengan tempat pelaminan maka semakin dekat hubungan kekeluargaannya.

Setelah ritual penyambutan tamu selesai, maka akan dilanjutkan ke acara makan siang. Bagian ini akan diawali dengan pembacaan doa, walaupun ada juga tetamu yang tak sabar untuk melahap berbagai hidangan khas Batak yang tersaji di meja makan. Kurang lebih satu jam kemudian acara makan siang pun usai dan dilanjutkan ke bagian pemberian berkat dan nasihat kepada kedua mempelai. Acara ini mengikutsertakan seluruh para tetamu yang hadir baik yang duduk di depan maupun belakang. Pembawa acara mengatur secara pergantian tetamu maju ke pelaminan, mengucapkan sepatah dua patah kata, dan memberikan ulos kepada kedua mempelai.  Begitu seterusnya sampai seluruh tetamu selesai melakukan ritual itu.

Agar tidak monoton―karena bagian ini berdurasi panjang―maka diselingi berbagai acara hiburan. Menyanyi dan menari dengan diiringi para penyayi dan kelompok musik yang fasih memainkan segala musik, terutama Batak merupakan selingan yang paling kerap dialakoni.  Biasanya para tamu dari yang tua sampai yang muda tanpa malu-malu aktif mengikuti berbagai acara hiburan ini. Selain untuk melepas rasa jenuh, mereka juga tergiur oleh uang yang diberikan selama acara-acara hiburan ini dilangsungkan.

Ketika sebuah judul lagu Batak tradisional dimainkan, secara spontan para tetamu maju meninggalkan kursinya menuju sebuah tempat lapang yang telah disediakan. Mereka mulai menari tortor mengikuti irama lagu yang dimainkan. Semakin cepat ritme lagu, maka semakin bersemangat gerakan tubuh  tetamu itu. Pada saat itulah si empunya acara dan keluarganya mulai membagikan uang. Biasanya yang dikeluarkan terlebih dahulu adalah pecahan uang bernominal kecil. Mulai dari seribu, dua ribu, lima ribu, dan sepuluh ribu. Mereka yang terlibat dalam acara ini semakin ramai tatkala pecahan uang dua puluh ribu, lima puluh ribu, dan seratus ribu mulai dibagikan. Para tetamu saling berebut dan dorong-mendorong untuk mendapatkan pecahan uang bernominal besar itu.  Maklum jumlahnya lebih terbatas daripada pecahan uang bernominal kecil.

Begitulah hiruk-pikuk pesta adat Batak yang kerap didatangi orang-orang Batak yang bermukim di Jakarta setiap akhir pekan. Hampir setiap Jumat dan Sabtu acara semacam ini diadakan di berbagai gedung pertemuan yang tersebar di Jakarta.  Tak hanya satu acara, dalam sehari keluarga-keluarga Batak dapat menghadiri beberapa pesta adat sekaligus. Bisa dua,tiga, atau lebhh. Bahkan karena terbatasnya waktu, terkadang mereka menyeleksi acara yang perlu dihadiri. Tentu dengan pertimbangan hubungan kekerabatan dan kedudukan sosial si pengundang.

Tak hanya sekedar menjadi rutinitas mingguan―seperti halnya bergereja― pesta adat Batat telah berkembang menjadi panggung kesuksesan kaum migran Batak di Ibukota. Mereka yang datang akan menampilkan segala hal yang terbaik yang mereka miliki. Mulai dari busana, perhiasan, hingga mobil yang terparkir rapi di luar gedung pertemuan. Semua itu semata-mata untuk menunjukkan kepada sesama manusia Batak perantau ihwal kesuksesan, kekayaan, dan kemakmuran yang telah mereka capai selama di tanah perantauan. Mereka akan saling memuji tentang semua yang sudah diraih. Namun di balik itu secara otomatis sesungguhnya terlihat jelas telah terbentuk strata sosial sesuai dengan pencapaian kaum perantau Batak di Jakarta.

Narasi tentang kisah keberhasilan kaum migran Batak di Ibukota yang tercitrakan dalam pesta-pesta adat Batak merupakan secuplik kisah dari praktik migrasi yang telah dilakoni manusia-manusia Batak sejak akhir abad ke-19. Pada awalnya mereka menghadapi berbagai permasalahan baik dari dalam maupun dari luar. Namun perlahan tapi pasti segala rintangan itu dapat diatasi. Bersama kelompok migran lainnya, mereka mulai menapaki kesuksesan di Ibukota. Sejak saat itu berbondong-bondong kawan sedaerah datang ke Jakarta dengan satu tujuan mencapai kesuksesan yang telah dicapai oleh pedahulu mereka. Banyak yang berhasil, namun tidak sedikit yang gagal dan hanya sekedar bertahan hidup di Ibukota yang konon lebih kejam dari ibu tiri.

 

Sebagian dari Bab Pendahuluan dari buku yang sedang saya tulis, Batak Tembak Langsung ; Lika-Liku Kehidupan  Masyarakat  Batak  di Jakarta.

One thought on “Pesta Batak dan Panggung Kesuksesan Kaum Perantau Batak di Jakarta

  1. keren bos…. stereotupe batak di pandang oleh suku lain, kayaknya menarik diungkap dan dijelaskan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s