Riwayat Pasar Bogor ; Dari Lahan Sewaan hingga Sentra Perniagaan

Sekilas tidak ada yang istimewa dalam tampilan Pasar Bogor. Bau busuk begitu menyengat manakala memasuki gedung pasar yang kusam, belum lagi sampah-sampah yang berserakan dan mengunduk di hampir di setiap sudut, serta kubangan air  lumpur bagaikan ranjau yang harus dihindari. Suasana hiruk pikuk, mulai dari tawar-menawar harga yang alot antara penjual dan pembeli, seorang ibu yang menjinjing kantung plastik belanjaan sambil membaca catatan belanjanya, sampai bocah kuli panggul yang kepayahan membawa beban belanjaan “Sang majikan”.

Namun, pasar yang terletak di seberang Kebun Raya Bogor ini tidak pernah tidur, selalu ramai pengunjung baik siang maupun malam. Di tengah menjamurnya pasar-pasar tradisional dan serangan pasar-pasar swalayan di Kota Hujan, praktis pasar ini tetap menjadi sentra perekonomian penduduk kota.  Tentu predikat ini dapat bertahan karena Pasar Bogor bukan sekedar pusat perniagaan, tetapi merupakan wadah interaksi masyarakat yang telah menjadi memori sejarah kota ini.

Dalam konteks kekinian, Pasar Bogor bukan satu-satunya sentra perdagangan tradisional yang terletak di Kota Bogor. Namun, bila merujuk pada konteks historis, pasar ini menjadi salah satu pusat konsentrasi masyarakat non-Eropa yang diizinkan beroperasi di kawasan elit Eropa. Sejak awal Buitenzorg memang dirancang sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, dan para pegawai tinggi kolonial. Masyarakat non-Eropa dilarang bermukim di kawasan elit ini. Sesuai dengan masterplan kota, pembangunan struktur dan infrastruktur Buitenzorg, lebih ditujukan untuk kepentingan masyarakat Eropa..

Namun demikian, sebagai pemilik pribadi Villa Buitenzorg, gubernur jenderal melihat banyak lahan kosong di tanah miliknya yang belum dimanfaatkan. Oleh karena itu, terbesit gagasan untuk memanfaatkan tanah kosong itu dengan cara menyewakannya. Betul saja, sejak 1752 Kampoeng Bogor, pemukiman pribumi sudah berdiri di Buitenzorg. Supermasi Eropa semakin berkurang ketika Bupati Kampung Baru, Demang Wiranata (1749-1758)  permohonan untuk mendirikan rumah di daerah Sukahati (Empang) yang dikabulkan oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Sekitar 1770, Bupati Kampung Baru telah tinggal dan bahkan kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke rumah itu.

Melihat bisnis sewa tanahnya laku keras dan mendatangkan pemasukan yang cukup besar, gubernur jenderal pada saat itu, Van der Parra (1761-1775) membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin menyewa tanah miliknya, termasuk untuk urusan ekonomi. Parra kemudian mengabulkan pendirian  sebuah pasar di Buitenzorg. Pasar itu berdekatan dengan Kampung Bogor dan tidak jauh dari Kantor Kabupaten Kampung Baru. Sekitar 1770, pasar itu mulai beroperasi. Pada awalnya, pekan ini hanya dibuka seminggu sekali. Karena semakin ramai, waktu operasi pasar ini pun ditambah menjadi dua kali seminggu, setiap hari Senin dan Jumat. Atas bisnis sewa tanah tersebut, Gubernur Jenderal Van der Parra  sudah meraup keuntungan yang cukup besar. Dalam laporan keuangan 1777, disebutkan pendapatan gubernur jenderal sebesar 14.000 ringgit, sekitar 8.000 ringgit berasal dari sewa tanah Pasar Bogor.

Semakin tingginya aktivitas perekonomian, apalagi rampungnya rel kereta api yang menghubungkan Batavia-Buitenzorg sepanjang 50 km pada 1873 meningkatkan status pasar ini dari pasar lokal menjadi pasar regional.  Sejak saat itu, Pasar Bogor dimasukkannya dalam jalur perdagangan Priangan-Batavia. Waktu operasi pasar pun diubah menjadi setiap setiap hari. Arus perdagangan terutama hasil bumi dari Priangan yang dikirimkan ke Batavia semakin tinggi. Dalam cacatan Gerlings, seperti dikutip Devisari Tunas (2005), pada 1870-1880, sekitar 60 %  barang yang diangkut dari Buitenzorg ke Batavia adalah hasil bumi, seperti kopi, gula, kentang, kacang, beras, tepung, minyak sayur, minyak, dan kina. Sayur-sayuran segar  yang berasal dari perkebunan di Sindanglaya (Puncak) merupakan komoditi terkenal di pasar ini.

Oleh karena pasar ini berdekatan dengan Kampung Bogor, maka spontan pedagang yang singgah pun menyebutnya Pasar Bogor. Bahkan kemudian para pedagang lebih akrab dengan nama Bogor untuk mengacu pada pasar yang terletak di Buitenzorg. Kata Bogor inilah yang kemudian meluas tidak hanya di kalangan pedagang, tetapi juga meluas dalam kehidupan masyarakat umum. Pada akhir masa kolonial, kata Bogor telah akrab di telinga masyarakat kolonial, sebagai nama tidak resmi dari Buitenzorg.

Lebih dari itu, Pasar Bogor kemudian menjadi simbol interaksi antara masyarkat golongan Pribumi, Tionghoa, dan Arab di kawasan eklusif Buitenzorg. Hal itu terjadi sejak meningkatnya volume perdagangan dan jaminan keamanan di pasar ini. Hal ini membuat para pedagang memutuskan untuk tinggal permanen di daerah sekitar Pasar Bogor. Masyarakat Pribumi kemudian tinggal di daerah, Lebak Pasar. Kemudian tumbuh pula  Perkampungan Tionghoa (Handelstraat, Jalan Suryakencana sekarang) dan Perkampungan Arab (daerah Empang) pada akhir abad ke-19. Interaksi yang telah terjalin selama berabad-abad membuat ketiga kelompok masyarakat telah mampu beradaptasi dan menerima keberadaan satu dengan yang lainnya.

Berplesir sambil Belajar, Pengalaman Mengunjungi Museum Etnobotani Indonesia

Sengatan sinar matahari di siang bolong tak mengurangi semangat ratusan anak-anak sekolah dasar untuk berbaris rapi di sepanjang trotorar. Bersama rombongan yang lain, mereka akan mengunjungi Istana Presiden, yang belakangan ini  terbuka untuk umum dalam rangka Istana Bogor Open memeringati hari jadi Kota Bogor ke-527.

Suasana riuh rendah pelajar sekolah dasar rupanya menjalar ke kompleks Pusat Penelitian Biologi Lembanga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( Puslitbang LIPI), tepat di seberang Istana Bogor. Namun suara riang gembira anak-anak SD itu terhenti hanya sampai pelataran parkir gedung yang dikelola oleh Puslitbang LIPI ini. Padahal, tepat di belakang tempat parkir tersebut, ada sebuah objek wisata yang mengugah rasa ingin tahu murid-murid berseragam putih merah itu. Keheningan langsung menyergap manakala kita menyusuri jalan kecil yang menghubungkannya dengan sebuah gedung berlantai lima, tempat  Museum Etnobotani Indonesia (MEI) berada. Pintu museum itu tertutup dan tidak ada seorang petugas pun yang berjaga menjadi jurus ampuh untuk menghalau pengunjung. Suara rintihan kipas angin yang menua dan kesan angker karena kurangnya penerangan  segera menyambut para pengunjung yang masuk ke dalam ruangan utama museum itu.

Sebenarnya untuk mencapai Museum Etnobotani cukup mudah. Letaknya yang strategis, tepat di seberang pintu masuk Istana Bogor yang berdekatan dengan Gereja Zebaoth. Dengan menggunakan angkutan umum dari Terminal Baranang Siang dibutuhkan waktu sekitar lima menit, pun dari Stasiun Bogor hanya butuh tiga menit saja. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli tiket masuk pun tidak mahal, cukup 1000 rupiah.   Pintu masuk museum ini sebenarnya terletak di Jalan Kantor Batu. Akan tetapi, karena pintu gerbangnya ditutup, pengujung harus masuk melalui pintu Puslitbang Biologi LIPI di Jalan Djuanda No.22-24. Itupun harus menyusuri jalan kecil sepanjang 50 meter dari bangunan utama. Dari situ kita akan menemukan sebuah gedung berlantai lima, di mana museum ini terletak  di lantai dasar.

Sebuah pintu besar bercat abu-abu yang mengubungkan dengan ruangan utama segera menyambut para pengunjung. Tidak ada loket di museum itu, yang ada hanyalah sebuah papan bertuliskan Museum Etnobotani Indonesia ,Tema Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia dan peraturan-peraturan yang berlaku bagi para pengunjung.  Ruang utama MEI berbentuk labirin dengan luas 1600 meter pesegi, dengan  lima lorong yang masing-masing berisi tiga sampai empat etalase kaca untuk menyimpan benda koleksi.

Teknologi Tradisional Nusantara

Museum ini digagas oleh seorang ilmuan yang juga ketua  Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang LIPI), Prof. Sarwono Prawiroharjo pada 1962. Pada saat itu, Prof Sarwono menyadari pentingnya sebuah wadah untuk menyimpan dan melestarikan teknologi dan ilmu pengetahuan lokal dari seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia. Pada 1973, diadakan sebuah pertemuan di Puslitbang Biologi yang dihadari oleh para ilmuan, yang tidak saja datang dari bidang pertanian, tetapi juga Antropologi, Kemasyarakatan, Biologi, dan Museumologi untuk mematangkan konsep museum tersebut.  Sejak saat itu dimulai usaha untuk mengumpulkan barang-barang yang kelak akan menjadi koleksi museum tersebut.

Istilah etnobotani, pertama kali dipopulerkan oleh Dr.  J.W. Harshberger pada 1595. cabang dari Ilmu Pertanian ini mempelajari tentang tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat-obatan, pakaian, perkakas, dan  bangunan, serta sesaji dalam upacara adat. Barang-barang yang dipamerkan di museum ini berasal dari penjuru Nusantara. Pada 1982 Museum Etnobotani Indonesia mulai beroperasi bersamaan dengan peresmian bangunan tersebut oleh Prof. B.J. Habibie, bertepatan dengan peringatan 165 tahun berdirinya Kebun Raya Bogor (KRB).

Koleksi yang dipamerkan di MEI adalah barang-barang berbahan dasar tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat, terutama suku-suku bangsa di seluruh Indoensia. Artinya berbagai teknologi tradisional dan kreasi ilmu pengetahuan lokal, seperti bahan pangan, sandang, papan, obat-obatan tradisional, alat rumah tangga, alat transportasi, alat pengolah pertanian, perikanan, alat musik, sarana upacara adat, mainan anak, dan juga kosmetik tradisional yang keseluruhan berbahan dasar tumbuh-tumbuhan dipamerkan di museum itu. Sebelum 2006 ,museum ini sudah memiliki sekitar 2.000 benda yang dipamerkan. Koleksi ini semakin bertambah setelah PT. Eisai, mitra kerja LIPI dari Jepang yang berkonsentrasi pada ekspolarasi tumbuh-tumbuhan di Indonesia, menghibahkan berbagai koleksi baru pada 2006. Sampai sekarang terdapat 5.118 simplisia, 169 koleksi hidup dan 2450 herbarium spesimen yang menjadikannya tempat penyimpanan paling lengkap dan satu-satunya di Indonesia.

Oleh karena berbahan dasar tumbuh-tumbuhan yang mudah membusuk maka koleksi-koleksi yang dipamerkan kemudian diawetkan. Ada dua jenis cara pengawetan yang dilakukan, yaitu pengawetan kering dan pengawetan basah. Pengawetan kering dilakukan hampir untuk semua koleksi, sedangkan pengawetan basah hanya terbatas pada sampel buah-buahan. Selain itu, barang-barang yang dipamerkan pun terbagi atas barang-barang yang dipamerkan secara langsung dan barang-barang yang dipamerkan di etalase kaca. Barang-barang yang berbahan dasar  keras dengan tekstur yang solid dan dapat diraba dengan tangan dipamerkan di bagian depan museum, sedangkan barang-barang langka, bertekstur lembut dan mudah rusak apabila disentuh dipamerkan di etalase kaca yang berjejer di sepanjang  lorong museum. Setiap jenis barang yang dipamerkan diberi nama, kegunaan, dan informasi tentang tumbuhan apa yang menjadi bahan dasar pembuatnya.

Selain itu, hal lain yang menarik dari museum tersebut adalah tata pencahayaan ruangan tersebut.  Para pengunjung pasti akan terheran-heran bercampur takut karena seluruh ruangan museum ini gelap gulita, hanya terdapat beberapa sorot cahaya lampu di lorong-lorong museum yang menerangi koleksi tertentu. Namun demikian, penataan cahaya ini sengaja dilakukan oleh oleh desainer museum tersebut, selain untuk memfokuskan objek koleksi tertentu kepada para pengunjung. Sampai sekarang ada dua koleksi yang selalu menjadi perhatian para pengunjung, yaitu kain kafan suku dayak dan Rafflesia Arnoldi. Koleksi kain kafan yang terbuat dari daun pandan ini sudah sangat langka dan tidak digunakan lagi karena sebagain besar Suku Dayak telah meninggalkan agama tradisionalnya dari beralih ke agama Kristen, sedangkan koleksi Rafflesia Arnoldi sudah tidak dipamerkan lagi karena telah dipindahkan ke Cibinong.

Nasib Museum Etnobotani

Mengeliatnya Industri Pariwisata di Kota Bogor  ternyata tidak berdampak positif terhadap perkembangan pariwisata ilmiah. Kecuali Kebun Raya Bogor, yang lebih banyak digunakan sebagai tempat berkumpul dan piknik keluarga tanpa mengindahkan nilai edukasinya, dapat dikatakan mobil-mobil Jakarta dan warga Bogor sendiri terkesan menafikan keberadaan berbagai museum dan monumen bersejarah di kota ini. Mereka hanya tertarik pada wisata belanja dan makanan karena lebih cepat memberikan kepuasan instan. Begitulah nasib kebudayaan adiluhung yang semakin tergusur oleh produk kebudayaan populer yang menawarkan kenikmatan yang instan.

Pada sisi lain, sebenarnya, keberadaan Museum Etnobotani di Kota Bogor memegang peranan yang cukup penting bagi pelestarian lingkungan, termasuk isu global warming yang melanda planet bumi. Apalagi fungsi dan kedudukan Kota Bogor sejak masa kolonial sampai sekarang sebagai kota pusat penelitian Biologi, Pertanian, dan Peternakan. Meningkatnya suhu udara dan polusi di Kota Bogor, bukan saja menandakan berkurangnya fungsi Kebun Raya Bogor sebagai paru-paru kota, akan tetapi juga penggunaan peralatan-peralatan sehari-hari yang tidak ramah lingkungan, terutama peralatan dari plastik yang sulit dibusukkan

Dengan berkunjung ke MEI, masyarakat akan berpikir untuk menggunakan barang kebutuhan sehari-hari yang ramah lingkungan dan sehat bagi tubuh. Sebagai gantinya, mereka dapat  memanfaat teknologi tradisional yang ada dan masih memungkinkan untuk dipakai yang sebagian besar disimpan di Museum Etnobotani. Pemanfaatan teknologi tradisional, pada sisi lain, juga mengurangi ketergantung pada produk impor dan memberdayakan kembali barang buatan dalam negeri,  yang juga merangsang bangkitnya sektor usaha rumahan, tempat barang-barang itu diproduksi. Dengan demikian, tercapailah tujuan dari MEI, yaitu mendokumentasi pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya tumbuhan serta pengungkapan tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi lokal untuk dikembangkan menjadi komoditi nasional dan global.

Museum Etnobotani, sama seperti nasib museum-museum lainnya di Kota Bogor, jauh dari keramaian pengunjung. Dengan jam operasional yang cukup panjang, mulai pukul 08.00-16.00 WIB,  dan kompensasi biaya yang relatif murah, seribu rupiah, seharusnya banyak pengunjung yang datang bukan hanya sekedar berwisata, tetapi juga belajar tentang keanekaragaman budaya Indonesia. Pada kenyataannya, dalam waktu dua bulan belum tentu ada pengunjung individual yang datang, paling-paling hanya pengujung rombongan yang sesekali menyambangi tempat ini. Alhasil, para pegawai museum, yang terdiri atas seorang pimpinan, tiga orang kurator edukasi, dan seorang petugas kebersihan, lebih banyak mengangur dan seringkali meninggalkan pekerjaan mereka, termasuk dalam urusan menyambut tamu yang datang berkunjung.

Pihak pengelola Museum Etnobotani pun harus berbenah, untuk mengemas tempat ini menjadi objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Berbagai problem klasik, seperti tempatnya yang terpencil, kurangnya publikasi, dan minimnya papan penunjuk arah mengakibatkan sebagian wisatawan dan masyarakat Kota Bogor  tidak mengetahui letak persis museum itu, apalagi barang-barang yang dipamerkannya di dalamnya.  Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Kota Bogor juga harus turun tangan menganggapi permasalahan serius ini. Jangan hanya memerhatikan pariwisata artifisial yang semakin menyemerawutkan Kota Bogor. Solusi kongkritnya adalah membuat dan menawarkan sebuah program kunjungan yang mencakup berbagai museum dan monumen di Kota Bogor kepada masyarakat luas.

Pemuda, Masa Depan Bangsa ?


Di ruangan yang tak seberapa besar itu, puluhan pemuda duduk rapih. Mereka dengan cermat mendengarkan paparan tokoh-tokoh pergerakan dengan perasaan was-was. Sewaktu-waktu bisa saja rapat itu dibubar paksa oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Namun demikian mereka tetap yakin untuk tetap menyelesaikan rapat itu. Hasil rapat itu yang, entah kenapa, sering disebut Sumpah Pemuda.

Creative Minor

Kedudukan pemuda sebagai generasi penerus bangsa selalu terhormat di panggung sejarah. Kehadiran mereka selalu membawa tendensi-tendensi yang tidak sinkron dengan jiwa zamannya. Pemuda menjadi insan yang kreatif dan gelisah menghadapi masa yang tidak sesuai jati dirinya. Ia menjadi minoritas, tetapi tidak lantas marginal. Sebaliknya, ia menjadi aktor utama yang mampu mengubah roda peradaban.

Lihatlah perjalanan sejarah bangsa ini. Kehadiran pemuda selalu ada dan ikut mewarnai perubahan zaman. Tentu masih kita ingat diskusi Soetomo, seorang murid sekolah dokter Jawa (STOVIA) dan Wahidin Soedirohoesodo, seorang dokter Jawa yang hampir pupus harapannya untuk memajukan pendidikan dan budaya Jawa. Ketika kegelisahan dan asa bertemu maka terbentuknya Boedi Oetomo (BO) yang selalu kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HKN).

Dua puluh tahun kemudian, ketika Pemerintah Kolonial Belanda membatasi dan mengawasi aktivitas tokoh-tokoh dan partai-partai politik, para pemuda berani mengambil resiko untuk melaksanakan rapat yang ditabukan pada masa itu. Lebih dari itu, mereka mau menanggalkan segala atribut etnisitas demi persatuan bangsa. Dengan iringan biola dan lagu Indonesia Raya karya W.R. Soepratman, mereka berikrar berbahasa, bertanah air, dan berbangsa satu.

Kaum muda lagi-lagi beraksi. Mereka dengan gigih, di bawah pengawasan militer ketat Jepang, mendorong para tokoh-tokoh golongan tua nasional untuk segera memroklamasikan kemerdekaan. Begitu antusiasnya, para pemuda itu sempat menyandera para seniornya untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Betul saja tekanan kaum muda itu menjadi indikator bagi Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini.

Setelah Indonesia merdeka, sikap kaum muda pun tidak luntur. Ketika kejenuhan zaman  sudah memuncak, kaum muda datang untuk mendesak perubahan. Itulah yang terjadi ketika kekacauan telah mencapai titik kulminasi. Kediktatoran Soekarno sudah tidak dapat lagi dimaklumi oleh para pemuda. Sikap Soekarno yang memusuhi KAMI dan menutup Kampus Universitas Indonesia tidak memadamkan asa, tetapi melecutkan semangat pemuda untuk mengulingkan Demokrasi Terpimpinnya Soekarno. Walaupun kekuatan kaum muda ini ditungangi pihak-pihak yang berkepentingan secara politik, namun lagi-lagi pemuda mampu menjadi agen perubahan zaman.

Rezim Orde Baru yang mengedepankan stabititas di segala bidang terbukti tak berdaya melawan kekuatan kaum muda. Saat krisis multidimensioanal mengoyang Orde Baru, pemuda kekuatan yang mampu membuat Soeharto menyerah meletakkan jabatan yang telah diemban selama 32 tahun. Pemuda bersorak, namun terpukul. Pemerintahan reformis yang mereka idam-idamkan sampai sekarang tak kunjung muncul. Justru yang tampil kepermukaan adalah kamuflase dan metamorfosis Orde Baru.

Budak Peradaban

Keikutsertaan pemuda sebagai salah satu agen penting perubahan pada masa-masa krisis yang menandai akhir periode sejarah memang tak dapat dipungkiri. Namun demikian, sampai sejauh mana peran pemuda di zaman normal? Apakah suara lantang kaum muda menjadi sumbang dan sekedar angin lalu. Atau malah kehilangan suara kegelisahan dan  gairah perjuangannya.

Saya cenderung untuk menyetujui alternatif yang terakhir. Dengan kata lain, pemuda tidak lagi menjadi aktor yang memainkan plot-plot sejarah. Pemuda hanya menjadi penonton yang sesekali hanya bersorak ketika para aktor melakukan kesalahan, tanpa memberikan solusi yang adaptif. Mengapa hal itu terjadi?

Seorang penulis berkata, “para pemuda kehilangan musuh bersamanya”. Oleh karena itu, mereka tidak lagi menjadi agen-agen perubahan, tetapi budak-budak yang terjebak pada buaian budaya populer. Mereka bermetamorfosis menjadi manusia-manusia yang patuh pada perintah tuan-tuannya. Kreativitas mereka menjadi tumpul, kegelisahan mereka dilesapkan, dan gairah mereka dibelokkan pada materialisme hampa.

Generasi muda adalah penerus bangsa. Bila kaum mudanya bobrok, pastilah bangsanya korup. Oleh karena itu pemuda harus bersatu memeperjuang kreativitas, kegelisahan, dan gairah dalam sebuah media yang tepat sehingga gagasan-gagasan itu tidak didasarkan pada pemikiran-pemikiran dangkal dan instan, tetapi terencana dan berproses. Dengan begitu, pemuda dapat memainkan peranannya di setiap langkah sejarah bangsa ini dalam rangka menentukan masa depan bangsa ini. Jangan sampai, kekuatan kaum muda hanya dijadikan batu loncatan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Ini Batik, Mana Batikmu ?

Seni Batik secara resmi diakui dunia internasional, melalui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), sebagai bagian dari warisan dunia tak benda. Keputusan ini  merupakan formulasi dari hasil sidang UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang telah dipublikasikan secara global  melalui siaran pers di portal UNESCO tertanggal 30 September 2009.

Dengan kata lain, hak cipta Batik kini secara mutlak telah dimiliki oleh Indonesia dan  otomatis mengakhiri klaim produk budaya ini yang dilakukan oleh negara tetangga. Untuk merayakan “kemenangan” itu, pada Jumat (2/10), di banyak tempat Batik seketika  menjadi seragam resmi setiap manusia Indonesia.

Upaya Pelestarian

Seorang kenalan berkomentar dalam situs jejaring sosial,” Aneh ya rekan-rekan saya ini. Giliran disuruh mengganti kaos oblong dengan kemeja susahnya minta ampun, tetapi pagi  ini mereka tanpa perintah dengan kompak mengenakan pakaian serba Batik”. Media massa wadah untuk mengampanyekan “kemenangan” ini. Berbagai surat kabar terbitan Sabtu (3/10) membuat liputan dan menampilkan gambar yang mengekspresikan antusiasme  setiap orang untuk mengenakan Batik. Tayangan-tayangan di televisi pada hari yang sama pun menyajikan acara-acara bernuansa Batik. Apakah “kemenangan” ini perlu dirayakan? Ataukah ada tugas besar yang menanti setelah Seni Batik dikukuhkan sebagai warisan budaya dunia?

Secara sederhana, perayaan ini merupakan bentuk dukungan masyarakat terhadap pengakuan dunia internasional terhadap Seni Batik sebagai warisan budaya dunia tak benda milik Indonesia. Dukungan ini penting untuk menyosialisasikan Batik ke lingkup masyarakat pemilik kesenian itu sendiri. Langkah penyosialisasian ini sebenarnya telah dirintis oleh para pejabat pemerintahan yang memerintahkan setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mengenakan busana Batik setiap Jumat. Momentum pengakuan UNESCO atas Seni Batik yang direspon masyarakat luas dengan pengenaan busana Batik menjadi langkah berikutnya yang bukan saja bertujuan untuk memperkenalkan Batik semata sebagai produ budaya nasional, tetapi juga mengajak masyarakat secara rutin mengenakan busana Batik.

Namun demikian, kedua langkah tersebut belum cukup memadai terutama bila direlasikan dengan predikat Seni Batik sebagai warisan budaya dunia tak benda. Perlu dirumuskan langkah lebih lanjut dan media untuk mengimplementasikan langkah itu, dalam rangka melestarikan Seni Batik di Indonesia.  Langkah ini sangat penting, seperti yang telah diperingatkan Arif Havas Oegroseno, konsekuensi pendaftaran sebuah kesenian adalah habisnya masa berlaku hak cipta, 50 tahun setelah penciptanya meninggal. Setelah itu pihak manapun kembali dapat memperebutkan klaim kepemilikan  produk budaya itu.

Berbagai upaya yang mengarah pada pelestarian Seni Batik  sebenarnya telah dirintis.  Prioritas jangka pendek adalah melestarikan  keterampilan membatik di berbagai daerah produsen Batik. Untuk itu diperlukan wadah untuk menampung hasil karya para pembatik tersebut.  pasar Batik, seperti yang terdapat di Imogiri menjadi solusi kongkrit untuk mencapai tujuan itu. Selain itu, prioritas jangka panjang berfokus pada pengenalan Seni Batik pada generasi muda, terutama anak-anak sekolah. Usaha dari Pemerintah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah patut dicontoh. Pemda daerah itu telah mengintegrasikan Seni Batik ke dalam kurikulum pendidikan, baik sebagai muatan lokal maupun kegiatan ekstrakulikuler di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Potensi Pergeseran Budaya

Di balik pengenaan busana Batik secara masif  pada Jumat (2/10), ada sebuah fakta yang tidak mengenakkan, bahwa sebagian besar orang ternyata mengenakan pakaian bermotif Batik bukan Batik tradisional yang diakui UNESCO. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan akan Seni Batik yang menyebabkan banyak pihak melakukan kesalahan yang terkesan sepele itu. Padahal, kenyataan ini berpotensi membahayakan misi pelestarian Seni Batik di Indonesia.

Kesan untuk mengeser Seni Batik sebagai  budaya adiluhung ke ranah budaya populer sejak lama telah dibaca oleh Iwan Tirta, perancang sekaligus seniman Batik. Sejak awal, ia tidak mengklasifikasikan Batik printing dan cap yang justru populer di masyarakat, tetapi hanya memasukkan Batik tulis sebagai satu-satunya Seni Batik. Pendapat Iwan Tirta inilah yang sesungguhya sejalan dengan pengakuan dunia internasional yang mengenai Batik Indonesia yang syarat teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal. Penggunaan malam atau campuran sarang lebah, lemak hewan, dan getah tanaman merupakan sisi keunikan Batik yang membuatnya dinobatkan menjadi salah satu warisan budaya dunia tak benda.

Munculnya kain bercorak Batik, pada sisi lain, menjadi penanda pergeseran  budaya itu, juga sinyal bahaya dalam misi pelestarian Batik di Indonesia. Secara nyata, ancaman itu dapat kita lihat ketika membandingkan harga Batik tulis dan Batik cap atau printing. Di daerah Karangtengah, misalnya, harga Batik tulis berada dikisaran Rp 250.000, sedangkan Batik cap hanya Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Lebih dari itu, meluasnya pemasaran Batik printing seolah menjadi bom waktu yang siap meledak, menghancurkan produk Batik tulis. Bayangkan saja, selain berharga murah, Batik printing bukan saja diproduksi para pengusaha lokal, tetapi juga didatangkan dari berbagai negara asing, seperti RRC.

Selain itu, usaha untuk mengeser Seni Batik dari lingkup budaya adiluhung ke ranah budaya populer juga berpotensi melesapkan sejarah panjang Kain Batik di Nusantara. Seperti dikatakan Guru Besar Arkeologi UGM, Timbul Haryono, teknik pengolahan kain yang hampir sama dengan Batik sudah ditemukan sejak pengaruh Hindu masuk ke Nusantara pada abad ke-IV Masehi. Kain Batik sendiri semakin populer sejak masa Kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Nusantara. Bahkan, Kain Batik kemudian menjadi pakaian ekslusif keluarga Kerajaan Mataram Islam. Baru pada akhir abad ke-XVIII dan awal ke-XIX Kain Batik mulai  dikenakan rakyat pada umumnya sampai sekarang.

Sebagai produk budaya adiluhung, keindahan Batik tidak saja terlihat dari guratan canting dan  malam sebagai pewarna yang membentuk motif kain, tetapi yang lebih penting adalah makna di balik corak batik itu yang merekam filosofi, realitas sosial, dan artefak budaya  yang mewakili zaman ketika Kain Batik diproduksi. Bahkan, jika dilihat perspektif diakronik, Batik merupakam media yang merekam  silang budaya berbagai  peradaban. Itulah sebabnya, sampai sekarang, akulturasi dari pengaruh Hindu-Budha, Islam, dan bahkan Eropa masih dapat dilihat dalam desain Kain Batik.

Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab  bersama untuk menjaga dan melestarikan setiap jenis warisan budaya nenek moyang. Jangan sampai pengalaman buruk seputar pengklaiman budaya Nusantara oleh negara-negara tetangga kembali berulang, terutama  akibat ketidakpedulian para ahli warisnya.

Jadikan tonggak pengakuan dunia internasional atas Seni Batik sebagai isyarat untuk terus melestarikan setiap kultur bangsa, bukan euforia “ kemenangan”semata yang membuai dan membuat kita lupa akan pentingnya pelestarian budaya bangsa.

Ironi Gempa Sumatera

Bencana hampir selalu menyisakan tragedi kemanusiaan yang traumatik. Akan tetapi, pada sisi lain, musibah juga menjadi komoditas potensial untuk mengerakkan roda bisnis media massa. Setidaknya dua kencenderungan yang bertolak belakang ini  yang dapat dicermati dalam kasus gempa  di pulau Sumatera.

Seperti yang diberitakan, dalam dua hari, secara berturut-turut terjadi gempa yang menguncang beberapa wilayah di pulau Sumatera. Gempa pertama yang berpusat Palung Sumatera dengan kekuatan 8.9 skala Richter, terjadi pada Rabu (30/9) pukul 17.16, memorak-morandakan kota Padang dan Pariaman. Keesokan paginya (1/10), gempa dengan kekuatan 7.0 skala Richter kembali menguncang dan meluluhlantakan kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Dua bencana alam ini bukan saja menghancurkan struktur dan infrastruktur pedesaan yang ada, tetapi juga merenggut ribuan nyawa penduduk yang tinggal di dalamnya.

Tragedi Kemanusiaan

Tidak dapat dipungkiri, media massa menjadi saluran publikasi utama yang berhasil memberitakan Gempa Sumatera. Seiring dengan kemajuan teknologi, kurang dari satu jam berita duka itu sudah diterima masyarakat hampir di seluruh penjuru Indonesia. Dalam hal ini, peranan media elektronik menjadi dominan karena dapat memberitakan peliputan berita Gempa Sumatera dengan cepat dapat menyampaikan  detail informasi kepada masyarakat luas.

Pemberitaan di media elektronik, pada awalnya berupa wawancara via telepon dengan para kontributor di daerah yang terguncang gempa dan beberapa pejabat dari instansi yang terkait. Dari hasil wawancara itu didapat informasi dasar tentang Gempa Sumatera, seperti pukul terjadinya, pusat, dan skala gempa. Meningkat pada jam berikutnya, sudah didapatkan gambar tentang hancurnya berbagai bangunan dan adanya dugaan banyak warga yang tertimbun reruntuhan bangunan di kota Padang.  Akhirnya, laporan pada dini hari dan keesokan harinya sudah dapat memetakan berbagai gedung yang roboh dan mendaftar jumlah sementara korban gempa.

Liputan yang disiarkan secara berkepanjangan itu segera direspon oleh masyarakat. Harus diakui bahwa, laporan yang ditayangkan tidak saja memberikan informasi yang akurat, tetapi secara implisit juga berusaha menggugah hari masyarakat untuk bersimpati pada korban gempa. Berbagai stasiun televisi segera membentuk dompet-dompet amal guna menampung aliran dana dari masyarakat. Lebih dari itu, beberapa stasiun televisi kemudian mengemas berbagai acara pengumpulan dana yang ditayangkan langsung. Adapun mekanisme penarikan sumbangan dilakukan per telepon. Untuk menarik atensi penonton, operator telepon yang dipilih adalah artis-artis Ibukota yang digemari pemirsa. Selain itu, cara konvensional, seperti malam pengumpulan dana pun masih menjadi senjata andalan untuk menumbuhkan rasa simpati pada masyarakat. Sampai sejauh ini, peran persuasi media dalam pembentukan  opini Gempa Sumatera sebagai tragedi kemanusiaan masih berjalan dengan baik.

Eksploitasi Berita

Pada sisi lain, pemberitaan media elektronik dari hari ke hari semakin menunjukan adanya pengeksploitasian berita demi mendongkrak rating stasiun televisi. Ironisnya, hal ini dilakukan oleh beberapa stasiun yang mengaku televisi berita. Pengeksploitasian berita ini dilakukan dengan cara menyiarkan breaking news yang berkepanjangan. Selama beberapa jam, dalam acara itu, dapat dilihat bahwa terjadi ketidakseimbangan antara durasi, kualitas dan kuantitas informasi yang menyebabkan terjadi pengulang-ulangan berita.

Klaim pemberitaan menjadi hal miris lain yang kerap dijumpai dalam peliputan berita. Hal yang paling menyesakkan adalah pengakuan stasiun televisi tertentu bahwa  merekalah yang pertama kali meliput  berita gempa di daerah tertentu. Dengan adegan-adegan yang heroik, para reporter seolah-olah divisualisasikan menembus daerah-daerah yang terisolasi. Dramatisasi peliputan juga terjadi ketika seorang reporter melaporkan berita dengan latar puing-puing bangunan yang sedang dibersihkan oleh sebuah traktor.

Selain itu, masalah kepemilikan video eksklusif  menjadi hal lain yang cukup memprihatinkan. Hal ini terlihat jelas dalam penayangan rekaman CCTV sebuah hotel yang diaku ekslusif oleh stasiun televisi tertentu. Padahal beberapa menit kemudian, stasiun televisi yang lain juga mendapatkan rekaman CCTV yang sama. Kecenderungan untuk menjual berita juga terlihat dalam penayangan rekaman video amatir. Entah sudah dibeli hak ciptanya atau diklaim karena telah ditayangkan oleh stasiun televisi tertentu, seringkali penayangan rekaman video amatir ini mengabaikan hak cipta pemiliknya sebagai  yang seringkali mengabaikan hak cipta pemiliknya. Penayangan rekaman video amatir ini sering kali terkesan  dipaksakan untuk mendongkrak rating daripada memberikan informasi tambahan yang berguna bagi masyarakat.

Pengabaian unsur kemanusian menjadi kecenderungan lain dalam peliputan berita Gempa Sumatera. Pengeksploitasian kesedihan benar-benar menjadi komoditi yang laku dijual. Dalam peliputan sebuah stasiun televisi ditayangkan dialog antara seorang Ibu yang mengisak meminta pertolongan, dengan pembawa acara dan narasumber di studio. Selain itu, para korban gempa sungguh-sungguh dijadikan objek eksploitasi untuk menjual berita. Dalam sebuah tayangan ditampilkan adegan seorang korban gempa yang  baru saja dievakuasi dari puing-puing bangunan. Dengan, seorang reporter mendatangi korban yang terluka parah itu dan segera mewawancarainya.  Dengan kondisi tubuh yang mengenaskan akibat tertimpa puing-puing bangunan, korban gempa itu menjawab berbagai pertanyaan yang dilayangkan reporter sambil menahan sakit.

Revitalisasi Fungsi Media Massa

Kedudukan media massa hampir selalu berada di antara dua sisi yang berlawanan. Terkadang, idealisme media massa cukup terlihat ketika meliput kejadian-kejadian yang sensitif. Akan tetapi, sering pula media massa  terjebak dalam komersialisasi berita hanya untuk  kepentingan bisnis.

Kecenderungan untuk mengeksploitasi berita demi kepentingan bisnis sering terjadi dalam peliputan berita yang sedang hangat diperbincangkan. Bahkan secara tidak sadar, seringklai substansi informasi dialihkan  dan diganti dengan pembentukan opini tak berdasar untuk menarik animo penonton. Untuk itu, di era kebebasa pers ini, sudah saatnya media untuk kembali kepada jati dirinya yang semula, menjadi media informasi yang idealis dan kritis, bukan mengejar keuntungan ekonomi semata, di tengah-tengah masyarakat.

Bertualang di Alam Safari

Pagi itu, fajar masih menggantung di ufuk timur. Hawa sejuk langsung menusuk kulit ketika kami mengawali perjalanan. Waktu masih menunjukkan pukul 06.15. Tujuan kami adalah Taman Safari Indonesia (TSI).

Awal Perjalanan

Kesunyian pagi menarik kami untuk melakukan sedikit pemanasan. Dengan celana pendek dan kaos yang diselimuti jaket, kami memulai petualangan tepat di depan Universitas Pakuan. Untuk menghindari angkot yang ngetem, kami berjalan kaki sampai jembatan tol, lalu menumpang angkot 06 dan disambung angkot 01 menuju Ciawi, masing-masing bertarif Rp 2000. Sampai di Ciawi, suasana lalu-lintas sudah cukup ramai, padahal baru pukul tujuh kurang.

Dengan kekhawatiran terjebak macet, kami menyetop angkot 05 jurusan Ciawi-Cisarua. Ternyata kekhawatiran kami tidak terbukti, kecuali beberapa kemacetan kecil di beberapa titik. Perjalanan kami terasa menyenangkan walaupun jalan yang kami hadapi menanjak. Lebih dari setengah jam kami menunngu untuk sampai di Cisarua. Waktu itu tidak terasa karena sepanjang perjalanan kami mengobrol, bercanda, dan terkadang ‘memuji’ orang-orang yang kami temui. Akhirnya kami sampai di pertigaan menuju  TSI. Kami merogoh kocek Rp 5000 sebagai jasa angkot tersebut.

Untuk mencapai TSI kami kemudian memilih omprengan daripada ojeg yang tarifnya memang lebih mahal. Setelah membeli sedikit makanan dan minuman kami menumpang omprengan merah. Tidak lama kami menunggu karena  mobil itu segera dipenuhi penumpang, sebagian adalah pegawai TSI. Pukul delapan kurang kami sampai di depan TSI. Alangkah terkejutnya kami karena puluhan mobil sudah terparkir rapi menunggu pintu gerbang TSI dibuka. Kami segera menuju pusat informasi untuk menanyakan beberapa hal sambil melihat berbagai cenderamata yang dipajang di sana. Sekitar setengah jam kami menunggu sambil berfoto sejenak dan mempelajari peta TSI. Akhirnya tepat pukul 08.30 pintu gerbang TSI dibuka. Tiket dewasa dijual seharga Rp 75.000. Kami pun segera membayar dan menuju halte bus. Lima menit kemudian bus pertama pun tampak. Kami langsung naik dan memilih bangku paling belakang.

Memulai Petualangan

Bus itu masih baru, ber-AC, dan memiliki dua LCD  TV yang menayangkan iklan taman safari baru di Bali sepanjang perjalanan. Seperti biasa, kami diajak mengelilingi kandang-kandang,yang dibuat seolah-olah alami, untuk melihat kehidupan beberapa jenis hewan. Kami agak terkejut melihat keadaan binatang yang terawat baik dan dengan asupan makanan yang cukup. Ekologi habitat para satwa pun cukup terpelihara. Hampir satu jam kami menikmati suguhan itu, sambil mengobrol, menguyah makanan ringan, mengabadikan gambar satwa. Akhirnya kami pun sampai halte perhentian bus. Kami turun tepat di sebelah wahana Gajah. Setelah berjalan beberapa meter, kami memutuskan beristirahat sejenak sambil merencanakan akan mengunjungi beberapa wahana yang tersedia di sana.. Kami bersepakat bahwa destinasi utama di TSI  adalah sebuah air terjun, Curug Jaksa, yang letaknya paling jauh dan menanjak, sekitar 1,5 km dari pintu masuk.

Sekilas tidak banyak perubahan yang terjadi di TSI. Dalam ingatan kanak-kanak kami, bagian dalam TSI berisi wahana permainan, seperti taman hiburan di Jakarta.  Kami baru tersadar ketika ketika mulai beranjak dari istirahat kami. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah beberapa kandang singa dan macan yang terbuka. Seperti biasa, banyak orang yang berfoto di dekat binatang-binatang itu. Akan tetapi, ironisnya, hanya kami yang sadar bahwa binatang-binatang itu merasa tertekan bila dikelilingi segerombolan manusia. Selanjutnya kami menyempatkan diri mengunjungi saudara tua manusia , orangutan, kuda nil, rakun, dan kuda nil. Kemudian kami bergegas ke rumah hantu. Setelah membeli tiket masuk seharga sepuluh ribu rupiah, kami menaiki kereta yang mengantarkan kami ke dunia misteri. Saya duduk di gerbong paling depan, sendirian. Sedangkan kedua teman saya, duduk di belakang Saya. Kembali kami hanya ingin bernostalgia dengan ingatan masa kanak-kanak kami. Setelah keluar, kami bertanya-tanya, mengapa kami dulu ketakutan setengah mati? Padahal tidak ada yang pantas ditakutkan di dalam sana.

Perjalanan kami lanjutkan ke kandang burung. Di sana terdapat beragam jenis burung yang dilepas bebas. Mereka dengan bebas hinggap dari satu dahan ke dahan yang lain sambil menikmati makanan yang telah disediakan. Namun,  ada juga beberapa burung yang dikunci di dalam sangkar. Kami berjalan terus. Ada beberapa wahana yang akan kami kunjungi. Setelah melangkah beberapa lama, kami sampai di Taman Buaya. Sesuai dengan namanya, ada beberapa jenis buaya yang dipamerkan secara bebas. Tampak oleh kami, ada seorang petugas yang sedang membersihkan kandang buaya. Ia terlihat waspada ketika membersihkan kandang itu, walaupun pada saat itu sang buaya sedang tertidur pulas.

Kami juga singgah di sebuah wahana yang memamerkan binatang-binatang khas Papua. Ada beberapa binatang yang menarik untuk dilihat, seperti Burung Kasuari, kura-kura, kus-kus dan kanguru. Tidak lama kami di tempat itu. Kami bergegas ke persinggahan kami selanjutnya. Wahana Pingguin menarik minat kami. Ternyata cukup sulit untuk membedakan pingguin yang satu dengan pingguin yang lainnya. Untuk menyiasatinya, para petugas kemudian menempelkan cincin-cincin beranekawarna di dua kami bagian depan. Seorang teman juga sempat mengabadikan aktivitas menyelam pingguin di dalam air. Matahari semakin terik, medan yang kami lalui semakin menanjak. Dalam perjalanan itu, kami singgah di wahana yang memamerkan binatang-binatang malam. Ada beragam jenis reptil, seperti ular, kadal, burung dan lain-lain yang dipamerkan di tempat yang didesain berbentuk lorong gelap itu.

Perjalanan kami lanjutkan ke arah utara. Dulu daerah ini belum ada . Kami berjalan terenggah-enggah. Dalam hati, tekad untuk mencapai Curug Jaksa harus tercapai. Beberapa mobil dan kereta yang tersendat-sendat melewati kami. Sebuah tanda yang menunjukkan jarak satu sepertiga kilometer menuju air terjun itu membuat perjalanan terasa berat di tengah kondisi fisik yang mulai menurun. Tanjakan demi tanjakan yang kami lewati semakin menaik. Puluhan anak tangga kami lalui. Medan sama sekali tidak ada di benak kami sejak awal.

Di tengah keputusasaan, akhirnya kami sampai di Curug Jaksa, sebuah air terjun yang yang tidak besar, namun masih terpelihara dengan baik. Beruntung, tidak terlalu banyak orang yang singgah di tempat itu. Seorang teman, tanpa basa-basi menanggalkan ranselnya dan bergegas menuju air terjun itu. Tujuannya cuma satu, membuktikan kamera sakunya tahan air. Konyolnya, kamera itu memang tahan air, tetapi tidak bertahan lama karena rupanya teman saya itu lupa mengisi ulang baterainya. Karena malas melepaskan sepatu, saya tidak ikut bergabung dengan kedua teman saya. Tugas saya hanya mengabadikan foto teman-teman yang kadung bercengkrama di air terjun itu. Beruntung, sebelum meninggalkan curug itu, seorang ibu bersedia mengabadikan gambar kami bertiga dengan latar belakang air terjun itu.

Karena perut kami mulai keroncongan, kami singgah di sebuat tempat makanan ringan. Kami memesan mi instan. Dengan lahap dan dalam tempo singkat, kami menghabiskan makanan ringan itu. Lalu kami bergegas melanjutkan perjalanan. Destinasi kami adalah Wahana Wild Wild West, yang menampilkan cerita koboi dari Negeri Paman Sam. Cukup panjang antrian itu. Waktu tunggu sekitar tigapuluh menit pun terasa karena matahari begitu terik membakan para pengantri. Baru pukul satu pintu gerbang itu dibuka dan kami duduk di kursi panjang baggia depan. Karena kelelahan, pada awalnya saya terkantuk-kantuk menyaksikan pertunjukan itu. Akan tetapi lama-kelamaan, karena adegan demi adegan yang ditampilkan cukup menarik dan menegangkan, mata saya terbelalak. Saya pun mulai menikmati pertunjukkan itu bersama kedua teman saya. Selama setengah jam, kami cukup terhibur dan memberikan salut kepada para pemain pertunjukkan itu.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Karena sudah kelaparan, kami pun turun untuk mencari tempat makan dan ATM.  Setelah beberapa lama berjalan, kami mendapati sebuah wahana yang cukup menarik. Kami memutuskan untuk singgah di wahana itu. Tiket seharga sepuluh ribu kami tebus. Dalam benak kami, wahana flame ride, sebuah perahu air yang ditarik dan kemudian diterjunkan , tidak akan membasahi kami secara serius. Ternyata dalam praktiknya, dugaan itu salah. Setelah terjun, air yang tidak jelas dari mana sumbernya membasahi kami dengan sangat kuyupnya. Kami pun menjadi tontonan banyak orang karena saat itu matahari sedang teriknya.

Akhirnya, kami sampai juga di tempat makan. Kali ini, kami memutuskan untuk memesan makanan berat. Kami memilih masakan Sunda. Sepiring nasi, sepotong ayam, lalab, dan sambal saya habiskan dalam sekejap. Walaupun rasanya tidak terlalu seimbang dengan harganya, namun karena perut kami lapar, kami cukup menikmati makanan itu. Setelah setengah jam kami makan, kami memutuskan untuk meninggalkan TSI karena ada tujuan lain yang akan kami singgahi.

Perjalanan Pulang

Rencana itu tampaknya akan berjalan mulus sebelum angkot yang kami tumpanggi mengetem hampir empat puluh lima menit. Dalam jangka waktu itu, bolak-balik kami ditawari oleh calo untuk membayar ongkos lebih mahal agar omprengan itu segera berjalan. Secara perlahan tapi pasti, satu per satu penumpang mulai memadati kedaraan itu. Tinggal dua kursi yang tersisa. Calo itu datang lagi dan menawarkan membayar ongkos sebesar lima ribu rupiah, lebih mahal seribu rupiah dari harga normal. Para penumpang pun mengiyakan tanda setuju. Kendaraan itu segera meluncur. Kami pun segera sampai di pertigaan  TSI dan memutuskan untuk pulang ke Bogor karena hari sudah mulai gelap.

Beruntung, ada angkutan umum yang bersedia mengantarkan kami ke Sukasari. Jadi, kami dapat menghemat waktu dan ongkos. Lalu lintas di sepanjang jalan sangat padat. Lebih dari satu jam kami menumpang angkot tersebut. Perasaan kami cukup puas. Petualangan hari ini bukan saja membuat kami bernostalgia dengan ingataan masa lalu kami tentang TSI, tetapi juga membuat kami bersemangat kembali untuk melakukan berbagai rutinitas  melelahkan yang telah menunggu kami.

Kota Bogor, Nasibmu Kini

Kini, cukup sulit menemukan tempat yang tenang di kota Bogor. Padahal pada masa kolonial kota ini disebut Buitenzorg (Sans Souci), kota tanpa kesibukan. Gustaaf W. van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC (1741-1750) yang merasa tidak nyaman dengan kondisi lingkungan Batavia . Imhoff kemudian mencari tempat peristirahan yang relatif dekat Batavia, namun mempunyai lingkungan yang asri. Daerah bekas ibukota Pakuan-Padjadjaran ini ternyata memenuhi kualifikasi tersebut. Ia  kemudian mendirikan tempat peristirahatan yang diberi nama Vila Buitenzorg dan mulai dipakai pada 1745.  Setelah direnovasi pada 1819, Daendels (1808-1811) mengubah fungsi vila tersebut sebagai tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal. Sampai dengan akhir masa kolonial, praktis di kota ini sebagian besar waktu dihabiskan  dan segala kebijakan pemerintah diputuskan. Bahkan, setelah Indonesia merdeka, Soekarno pun banyak menghabiskan waktunya untuk tinggal di Istana Bogor.

Setelah Soekarno lengser dan digantikan oleh Soeharto, Bogor mulai kehilangan hegemoninya.  Jakarta bukan saja berfungsi sebagai daerah khusus ibukota, tetapi juga pusat perekonomian nasional.  Seperti peribahasa ada gula ada semut, begitulah keadaan Ibukota yang dijejali migran yang datang untuk mengadu nasib. Pemerintah kemudian menempuh segala cara untuk mengatasi kesemrawutan akibat kepadatan penduduk di Ibukota, namun belum berhasil. Akhirnya, pemerintah merealisasikan kebijakan kolonial yang belum sempat diterapakan.  Pada bulan Agustus 1950, sebenarnya telah dirampungkan konsep tata ruang metropolitan (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi) oleh Tim Studi Jabotabek. Konsep ini terutama memfokuskan pada masalah keluarga berencana, pengembangan daerah-daerah pedalaman, dan pertumbuhan kota-kota pinggiran.

Kota yang Semeraut

Kotamadya Bogor sebagai salah satu kota pinggiran merupakan tempat yang potensial untuk dijadikan daerah pemukiman. Hal ini  bukan saja karena letaknya yang relatif dekat dengan Ibukota tetapi juga udaranya yang sejuk karena berada di  kaki Gunung Gede dan Gunung Salak ketinggian 265 dpl dan curah hujannya yang tinggi. Sejak Jalan Tol Jagorawi dirampungkan pada 1978, praktis terjadi peningkatan penduduk yang signifikan di kota ini. Pada Sensus Penduduk 1930, jumlah penduduk gemeente Buitenzorg 31.818 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk terjadi cukup signifikan, yaitu 110.321 jiwa (1954), 196.815 jiwa (1971), 246.052 jiwa (1981), 635.772 jiwa dan 750.250 jiwa (2006). Dari tahun ke tahun jumlah penduduk yang tinggal di pusat kota terus meningkat. Pada tahun 1950 laju urbanisasi sebesar 17 %, kemudian meningkat menjadi 24,7 % pada 1970, dan terus melonjak sampai 37 % pada tahun 1990.

Sebagai konsekuensi dari peningkatan jumlah penduduk, Pemerintah Kotamadya Bogor pun berulangkali mengadakan pemekaran wilayah. Pada tahun 1984, luas kotamadya Bogor adalah 2.337,5 hektar dengan luas daerah yang terbangun mencapai radius 4 km. Adapun luas efektif kotamadya Bogor adalah 1.500 hektar dengan kepadatan penduduk 126 jiwa per hektar. Bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk ideal, yaitu 75 jiwa per hektar, kota ini dikategorikan berpenduduk padat. Oleh karena itu, pada bulan Maret 1992 disepakati sebuah persetujuan penyerahan 46 desa dari Kabupaten Bogor kepada Kotamadya Bogor. Sejak saat itu luas Kotamadya Bogor bertambah empat kali lipat dari luas sebelumnya, menjadi 11.850 hektar.  Sampai sekarang, Kota Bogor terbagi atas 6 kecamatan,31 kelurahan, dan 37 desa.

Sebagai satelit Ibukota, Bogor kemudian berbenah. Hal yang sangat jelas terlihat adalah pembangunan fisik kota. Sebagai daerah pemukiman, di Kota Bogor banyak dibangun perumahan. Mulai dari perumahan real estate, menengah, sampai perumahan rakyat. Lebih dari 90 perumahan   dengan alokasi 6.217 hektar dibangun di kota ini.  Selain itu berbagai fasilitas umum, seperti rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan terutama pusat dengan alasan kepraktisan dibangun berdekatan dengan pemukiman-pemukiman tersebut.   Sampai sekarang jalan utama di kota Bogor adalah warisan dari jalan kolonial yang sempit. Padahal  jumlah kendaraan pribadi yang terus meningkat, dan volume angkutan umum semakin membludak. Penataan kota yang buruk membuat Kota Bogor semakin hari terlihat semakin semeraut dan tidak nyaman untuk dihuni.

Belum selesai dengan masalah tersebut Kota Bogor terlanjur diproklamirkan sebagai kota tujuan wisata. Sejak masa kolonial memang wilayah Kota Bogor memang telah dijadikan daerah tujuan wisata terutama oleh orang-orang Eropa yang bekerja di Eropa. Naar Boven adalah ungkapan yang sering diucapkan apabila seorang Eropa ingin berkunjung ke Bogor. Pada masa itu, Bogor merupakan tempat persingahan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Puncak. Namun demikian, belakangan, Kota Bogor bukan saja menjadi daerah  persinggahan,tetapi menjadi daerah tujuan wisata utama mengeser kawasan Puncak. Memang setiap akhir pekan Kebun Raya Bogor masih ramai dikunjungi. Akan tetapi, tren wisata Kota Bogor tidak lagi bermuara pada wisata alam, tetapi wisata artifisial terutama wisata makanan dan wisata belanja. Bila kita perhatikan di sepanjang Jalan Pajajaran, dapat kita temukan lima pusat perbelanjaan, padahal pada awal tahun 1990 hanya terdapat sebuah pusat perbelanjaan, yaitu Internusa yang kini menjadi Pangrango Plaza. Selain itu pusat perbelanjaan lain yang diserbu wisatawan adalah  Factory Outlet (FO) yang berjejer di sepanjang jalan utama Kota Bogor. Begitu pula dengan restoran-restoran tradisional maupun moderen yang dibanjiri oleh para wisatawan pada akhir pekan.

Ibarat dua sisi mata uang, status Kota Bogor ini merupakan berkah sekaligus musibah. Dikatakan berkah karena sejak menjadi kota satelit, perekonomian kota Bogor meningkat pesat. Namun dapat dikatakan pula musibah karena akibat dari pembangunan ini kondisi fisik kota Bogor tidak tertata dengan baik. Padahal, berdasarkan Pola Dasar Pembangunan Kota Bogor yang berisi pedoman pembangunan Kota Bogor dari tahun 1974 sampai tahun 2000 peruntukan lahan kota secara proporsional terbagi atas perumahan penduduk, fasilitas kegiatan sosial, fasilitas kegiatan perekonomian dan kawasan perkantoran dan kelembagaan.  Adapun perkembagan fisik kota difokuskan di sebelah timur Sungai Ciliwung yang dijadikan kawasan Proyek Pembangunan Bogor Baru. Pada kenyataannya, pemerintah memiliki kecenderungan untuk mendahulukan kepentingan ekonomi daripada sisi kenyamanan kota. Penataan kota tidak direncanakan dengan baik. Berbagai pusat perbelanjaan, resotoran, Factory Outlet, dan  hotel tetap dibangun di pusat kota.  Akibatnya konsentrasi masa tumpah ruah di pusat kota.

Masyarakat pun andil memperkeruh permasalahan di kota ini.  Sebagian besar masyarakat, khususnya yang bekerja di Jakarta, beranggapan bahwa Kota Bogor hanya berfungsi sebagai tempat beristirahat.  Para komunter yang menghabiskan waktunya dari pagi hingga malam di Ibukota, dan baru pulang dan beristirahat pada malam hingga pagi hari untuk  kemudian memulai aktivitasnya kembali keesokan harinya. Sisanya adalah masyarakat yang tinggal dan bekerja di kota ini. Bagi mereka, Kota Bogor adalah lahan usaha yang sangat potensial. Bagi mereka yang mempunyai cukup modal kemudian banyak yang membuka usaha di sepanjang jalan protokol, sedangkan bagi mereka yang bermodal sedang cnderung menjadikan rumah pribadi  sebagai tempat usaha, seperti restoran, butik, dan Factory Outlet. Hal ini bukan semakin menambah titik konsentrasi massa, yang tidak saja terbatas di jalan-jalan utama tetapi juga jalan-jalan perumahan yang secara langsung maupun tidak langsung menganggu kenyamanan orang yang tinggal di sekitar daerah tersebut.

Konsep Kota Taman

Untuk mengatasi kesemerawutan Kota Bogor, pemerintah sebenarnya tidak perlu merumuskan kebijakan baru karena dalam Pola Dasar Pembangunan Kota Bogor telah diputuskan bahwa penetapan fungsi Kota Bogor dititikberatkan pada penerapannya sebagai “Kota Taman”.  Konsep in dikembangkan oleh Sir Ebenezer pada 1898 di Inggris, namun baru masuk Indonesia oleh para arsitek Belanda pada awal abad ke-20.  Di Kota Bogor sendiri, konsep ini secara eksplisit telah direncanakan sejak tahun 1980. Pada saat itu, dikhawatikan Bogor menjadi kota yang penuh sesak karena menjamurnya pemukiman padat, pertokoan, restoran, Factory Outlet (FO), dan tempat hiburan lainnya di pusat kota. Sekarang sebagian besar proyeksi tersebut telah menjadi realitas keseharian masyarakat Kota Bogor.

Jalan keluar untuk mengatasi kesemrawutan ini adalah menerapkan kebijakan yang telah disusun pemerintah secara konsisten.  Caranya adalah mengurangi beban pembangunan di pusat kota dan memindahkannya ke daerah-daerah pinggiran. Sebaliknya pembangunan di pusat kota difokuskan pada pembangunan taman-taman untuk menunjang Kebun Raya sebagai paru-paru kota. Dengan begitu, kenyaman Kota Bogor yang disebut “Een Indisch Paradijs”, sebuah surga di Hindia pada masa kolonial dapat dirasakan kembali oleh masyarakat yang tinggal di dalamnya.